The Creed
08.30 PM
Faxel menarik kopernya dengan semangat. Ia memasuki sebuah stasiun yang terlihat sepi dan kotor. Stasiun itu sudah tidak digunakan sejak kasus p*********n yang menyebabkan banyak orang tewas.
Pembataian itu dilakukan oleh orang-orang yang menganggap dirinya kuat, sehingga mereka bisa menindas siapa saja yang lemah dan tidak mempunyai peran penting di Valhalla.
Faxel berjalan menuju pintu berwarna hitam. Di pintu itu, terdapat angka-angka serta kamera kecil. Faxel menekan tombol angka itu dan menempatkan wajahnya tepat di depan kamera. Kamera itu membaca retina mata Faxel.
Pintu hitam terbuka. Udara dingin berhembus dari dalam. Faxel langsung menarik kopernya dan masuk ke dalam.
"Kak, aku pulang," ujar Faxel.
Faxel melangkahkan kakinya di sepanjang lorong dan berteriak bahwa dirinya sedang berada di sana.
Seorang pria dengan wajah datarnya keluar dari sebuah ruangan. Ia mengenakan pakaian serba putih dan berjalan mendekati Faxel.
"Wah, rupanya kau sudah pulang. Lihatlah, aku rasa tinggi badanmu bertambah dan kau terlihat semakin gemuk. Apa kau makan dengan baik di sana? Bagaimana dengan Midgard? Apa sesuai dengan ekspektasi yang kau bayangkan?" Alfarl memberi pertanyaan bertubi-tubi.
"Aih hentikan! Mana kakakku?" tanya Faxel.
Alfarl menyunggingkan senyumnya dan mengacak rambut Faxel sekilas.
"Aku rasa dia sedang keluar bersama dengan pacar barunya," ujar Alfarl.
Faxel menautkan alisnya saat mendengar bahwa kakaknya kini memiliki kekasih dan sedang pergi keluar. Tidak mudah bagi penghuni The Creed untuk berkeliaran di luar sana, kecuali jika mereka memiliki akses lebih dan sidik jari mereka sudah di setting dengan sistem rivane agar terlihat cocok dan seolah mereka adalah orang normal lainnya.
"Siapa?" tanya Faxel.
"Zilxo. Ia sekarat saat ditemukan tujuh bulan yang lalu dan merupakan buronan di Maple. Aku rasa dia playboy dan itu sebabnya kakakmu, Irebae, bisa tertarik dengannya," jelas Alfarl.
Zilxo adalah buronan dari Maple, ia memiliki kekasih yang tidak bisa dikatakan sedikit. Ia bahkan pernah menggoda Kimshin, yang sudah berstatus sebagai istri Grey.
Sejak saat itu, hidung belangnya terbongkar dan ia menjadi buronan di Maple. Ia kabur saat akan disuntikan dengan serum M14 dan berakhir di sebuah sungai dangkal. Detak jantungnya masih terdengar namun deru nafasnya sangat pelan dan bahkan tidak terdengar.
Menhir menemukannya dalam kondisi di tepi sungai dengan kondisi yang memprihatinkan. Ia langsung membawa Zilxo ke The Creed dan di rawat selama dua bulan di sana.
Setelah sadar, Zilxo langsung diurus oleh Irebae dan sejak saat itulah mereka dekat bahkan memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Xel," ujar Alfarl.
"Ah baiklah, di sana memang cukup menyenangkan, aku mendapat teman sekamar yang menyenangkan dan pelajaran di Midgard sangat menyenangkan," jelas Faxel.
"Apakah sangat menyenangkan sampai kau menyebut semuanya adalah hal yang menyenangkan?"
Faxel menganggukan kepalanya.
"Bahkan saat aku di Midgard dulu, semuanya terasa seperti mimpi buruk. Terutama dengan Grey, ia adalah guru olahraga m***m dan paling sempurna." Alfarl menggidikan bahunya saat mengingat pengalaman itu.
Faxel terkekeh mendengar penuturan cerita dari Alfarl.
"Tunggu, kenapa kau keluar dari Midgard? Kau kan belum ujian."
"Generasiku mendapat hadiah berupa pulang ke rumah."
Alfarl membulatkan matanya mendengar jawaban dari Faxel. Ia menatapnya seolah tidak percaya.
"Sudah, ya. Aku lelah. Aku ingin bersitirahat. Besok pagi akan aku ceritakan semuanya."
Faxel berjalan meninggalkan Alfarl dan pergi menuju kamarnya.
The Creed
07.00 AM
Penghuni The Creed terlihat memenuhi meja makan dengan makanan-makanan sebagai pengisi perut mereka pagi hari ini. Irebae yang membuat ide ini agar penghuni The Creed saling mengenal satu sama lainnya.
Meja itu terbentang sepanjang dua meter persegi, dan setiap sudutnya ditempati oleh penghuni The Creed. Irebae duduk di ujung meja itu, agar ia bisa melihat sisi kanan dan kiri nya yang diisi oleh yang lain.
Suasana hening menghampiri mereka. Tidak ada pembicaraan apapun selain suara sendok serta garpu yang beradu.
"Jadi, apakah kau tidak ketahuan oleh yang lainnya di Midgard, Xel?" tanya Irebae memecahkan keheningan.
Faxel meletakkan sendok serta garpunya, "Tidak. Terima kasih sudah membuatkan sidik jari buatan ini serta rivane yang berfungsi dengan baik. Awalnya aku takut karena tidak terdeteksi, tapi untungnya terdeteksi dan tidak ada yang mencurigaiku."
Irebae tersenyum menatap Faxel. Adik perempuan satu-satunya, yang keras kepala dan pemberani, kini tumbuh dengan baik. Setelah sebelas bulan berada di Midgard, ia bisa melihat kemampuan sesungguhnya yang dimiliki oleh Faxel.
Faxel saat itu memang memaksa Irebae untuk dibuatkan sidik jari buatan. Ia sangat menginginkan sekolah di Midgard dan mengenal dunia luar sejak usianya menginjak 10 tahun. Ia bahkan belajar dengan giat saat mengetahui bahwa Alfarl sudah lulus dari Midgard.
Faxel benar-benar memiliki darah pemberani seperti Ibunya, Renechu. Berbeda dengan Irebae, ia lebih memilih tetap bersembunyi dan mendukung adiknya dari belakang. Karena apapun caranya, tujuan hidupnya hanyalah mendukung Faxel dan membuat adiknya bahagia.
"Pilihlah path sesuai dengan keinginanmu, Xel. Aku tidak akan memaksakanmu untuk masuk ke dalam path tertentu," ujar Irebae.
"Aku akan masuk ke Matildas Intelegencie Familia."
Uhuk!
Irebae tersedak makanannya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Faxel. Ia meminum air putih yang ada di sebelah kanannya.
"Kau yakin? Di sana cukup berbahaya karena Horus benar-benar memonitor path itu."
Faxel menganggukan kepalanya semangat, "Aku sudah 1000000% yakin, Kak."
Irebae mengusap kepala Faxel dan tersenyum.
"Semoga kau bisa menjadi anggota path yang baik, Xel. Hanya kamu di The Creed yang benar-benar sekolah di Midgard dan mempunyai mimpi masuk path impian. Aku yakin kamu bisa," ujar Vinjex.
"Tentu saja."
Mereka kembali melanjutkan sarapan mereka yang tertunda dan suasana kembali hening.
Midgard Exam Room
07.00 AM
Para murid sudah duduk di kursi sesuai dengan urutan absen mereka. Mereka menunggu giliran sebelum masuk ke dalam kamar ujian. Terdapat 20 kamar di sana dan setiap kamar diisi oleh orang-orang yang sudah lulus dari Midgard untuk membantu mereka ujian.
Mereka akan masuk satu persatu dan diberi waktu tiga menit untuk setiap mata pelajaran. Mereka hanya perlu tidur di atas tempat tidur yang sudah disediakan dan meminum serum blue. Setelah itu kesadaran mereka berangsur menghilang dan mereka akan mengerjakan soal ujian di bawah alam bawah sadar mereka.
"Baiklah, aku harap kalian bisa melewati tantangan dan rintangan yang di uji. Setiap hasil dari ujian itu, aku yakin kalian akan mendapati satu atau dua hasil yang menyatakan bahwa kalian cocok masuk ke dalam path yang kalian pilih. Selamat ujian," ujar Leona.
Para murid masuk satu persatu. Ada yang keluar dengan wajah bahagia karena sesuai dengan pilihan yang mereka ambil dan tidak jarang ada yang menangis, entah karena gagal atau pilihan yang mereka ambil tidak sesuai dengan hasil ujian.
*****
Seluruh murid Midgard beserta orang tua mereka berkumpul di Styx, sebuah gedung yang akan menjadi tempat pengumuman hasil ujian mereka, sekaligus tempat saksi mereka mengabadikan diri pada path yang akan mereka pilih nantinya.
Mereka satu persatu masuk dan menduduki kursi yang sudah disediakan. Kursi itu berjajar dengan rapi dan mengelilingi sudut ruangan. Sedangkan pada tengah ruangan itu terdapat empat rivane, yang bertuliskan Matildas Intelegencie Familia, Maple, Slade h****n dan Golden Entertainment.
Mereka hanya perlu meletakkan telapak tangan mereka pada rivane path yang mereka pilih dan rivane itu akan menyimpan setiap data informasi serta path yang mereka pilih saat mereka meletakkan telapak tangan mereka.
Grey terlihat memasuki ruangan lengkap dengan pakaian serba hitamnya. Di tangan kanannya terdapat inrichter yang akan menampilkan informasi hasil dari ujian saat di Midgard.
Mereka memang tidak diharuskan masuk ke dalam path sesuai dengan hasil ujian, namun ujian itu hanya menjadi penentu dimana kemampuan mereka seharusnya.
"Abeth," panggil Grey.
Abeth bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan. Ia terlihat sangat gugup saat ia menjadi orang pertama yang dipanggil untuk maju ke depan.
Kimshin terus memperhatikan langkah kaki Abeth sampai ke depan. Kimshin terlihat sangat cemas karena takut jika Abeth memilih path yang berbeda dengan orang tuanya.
"Ini hasil ujianmu." Grey menunjukan tulisan yang terdapat pada inrichter itu.
Abeth menganggukan kepalanya. Ia berjalan mendekati rivane dan mulai mengarahkan telapak tangannya pada salah satu rivane.
"Welcome," ujar rivane itu.
Rivane itu langsung menyambut Abeth yang baru saja memilih Maple sebagai pathnya. Perasaan lega pun menghampiri Kimshin, karena kekhawatirannya tidak berlangsung lama.
"Kerja bagus, Nak," ujar Grey.
Abeth kembali ke kursinya dan disambut dengan pelukan hangat dari Kimshin.
"Faxel."
Faxel menjadi orang selanjutnya yang maju ke depan. Ia hanya ditemani oleh Renechu, sedangkan Irebae tidak dapat ikut karena terhambat oleh status mereka yang tidak terdeteksi oleh rivane.
Faxel maju ke depan dan melihat informasi yang ditampilkan oleh inrichter yang dipegang oleh Grey.
Senyum manis terukir di bibirnya saat melihat hasil dari ujiannya. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung mendekati rivane dan menempelkan telapak tangannya pada rivane itu.
"Welcome," ujar rivane itu.
Setiap rivane yang ditempelkan oleh telapak tangan, hanya akan menyambutnya dengan ucapan selamat datang tanpa penjelasan path mana yang mereka pilih. Hal ini untuk meminimalisir anggota baru MIF yang akan diketahui oleh umum.
"Selamat, ya," ujar Grey.
Faxel kembali ke kursinya.
"Delwish," panggil Grey.
Bangcox mengusap kepala Delwish dan berharap agar Delwish memilih MIF sebagai path nya. Yechi juga ikut memeluk Delwish sesaat sebelum Delwish ke depan.
Delwish menatap layar inrichter dengan fokus. Ia mengerenyitkan dahinya saat melihat hasil ujiannya.
"Kau bisa memilih salah satu," ujar Grey.
Hasil ujian Delwish adalah Matildas Intelgencie Familia dan Maple. Ia telihat cukup bingung karena hasil yang dibayangkan melebihi ekspektasinya. Cukup jarang orang dengan kondisi seperti Delwish, dimana ia memiliki hasil ujian lebih dari satu path yang disarankan.
Delwish berjalan mendekati rivane dan menempelkan telapak tangannya di sana.
"Bangcox pasti bangga denganmu, Del," ujar Grey.
Seluruh murid Midgard sudah menentukan path mereka masing-masing. Mulai sekarang mereka sudah bukan lagi anak di bawah umur yang belum memilih path. Kini mereka sudah mempunyai tujuan hidup masing-masing dan jalan yang mereka pilih.
Beberapa di antara mereka ada yang memilih path tidak sesuai dengan hasil ujian dan ada pula yang berpisah dari path asal orang tua mereka.
Path hanya akan menjadi tujuan hidup mereka, berbeda path bukan berarti ikatan mereka sebagai keluarga hilang.
Mereka tetap bisa berkumpul bersama keluarga mereka saat ada waktu senggang.
"Faxel," panggil Renechu.
"Ya, Bu?"
"Gunakan geld ini dengan baik. Ini cukup untukmu membeli rumah dan keperluan lainnya." Renechu memberikan sebuah tas hitam yang tidak terlalu besar pada Faxel.
"Tidak usah, Bu."
"Kau memerlukannya, dan jangan minta pada Irebae. Simpan saja, oke?" ujar Renechu.
"Baiklah." Faxel mengambil tas hitam itu dari tangan Renechu.
Faxel sudah harus memilih rumah untuk dirinya, karena tidak mungkin jika ia tetap tinggal di The Creed. Ia memilih Matildas Intelegencie Familia sebagai path nya, jika ia tetap tinggal di The Creed, besar kemungkinan The Creed akan diketahui oleh banyak orang, terutama anggota MIF.
Tidak mudah bagi Faxel, hidup di dunia yang cukup keras dengan identitas manipulasi seorang diri.
"Jaga dirimu baik-baik." Renechu mengusap kepala Faxel.
Mereka masuk ke dalam mobil dan mengantarkan Faxel ke The Creed untuk segera berkemas dan mempersiapkan diri sebelum tugasnya di path sudah di aktifkan.