bc

Taruhan Terlarang Sang Tuan Besar

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
family
HE
age gap
badboy
goodgirl
mafia
gangster
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
war
like
intro-logo
Blurb

Dunia Rizky Pradana yang bekerja keras sebagai orang kepercayaan Alessandro De Vito, seorang pengusaha berpengaruh berdarah campuran Italia-Indonesia, runtuh seketika. Di ruangan mewah itu, di hadapan para rekan bisnis dan anak buahnya, Alessandro melontarkan tawaran yang sangat mengerikan namun menggoda: "Aku akan naikkan jabatanmu menjadi direktur utama, kekayaan berlimpah pun akan kau dapatkan, asalkan kau mengijinkan aku mencicipi istrimu langsung di hadapanmu!" Darah Rizky mendidih, namun ia tak berdaya melawan kuasa tuannya. Ia menatap tajam, berusaha memberi peringatan: "Istriku sedang hamil, Tuan! Ia mengandung darah dagingku!" Namun jawaban dingin Alessandro mematikan harapannya: "Aku tidak keberatan sedikit pun. Segera siapkan dia di kamar sebelah sekarang juga!" Amara Lestari, wanita cantik, lembut, dan sedang mengandung itu, tak pernah menyangka akan menjadi taruhan kejam di antara ambisi suaminya dan nafsu sang Tuan Besar. Alessandro mengira Amara hanyalah mangsa mudah yang akan ia nikmati lalu ia buang begitu saja, sama seperti wanita-wanita lainnya. Namun, ketenangan dan ketegaran Amara perlahan membuat hati pria angkuh itu terguncang. Di tengah aib, ancaman, dan posisinya yang hancur, mampukah Amara tetap bertahan? Atau justru dialah satu-satunya wanita yang mampu menaklukkan hati keras dan gelap milik Alessandro De Vito?

chap-preview
Free preview
Rahasia Terkutuk Sang Penguasa
"Bu-burungmu ada dua...? Bagaimana caranya memuaskan keduanya sekaligus?" Pernahkah kau mendengar tentang pria yang memiliki dua anugerah sekaligus? Sebuah kelainan langka yang nyaris mustahil dipercaya, namun nyata adanya. ⚠️ PERINGATAN: KHUSUS DEWASA 21++ Cerita ini mengandung adegan yang menggugah gairah, penuh gairah yang membara, dan bahaya yang menyala di setiap sentuhannya. "Jika kau sanggup memuaskan keduanya... kau akan kubiarkan hidup lebih lama dari yang lain!" Inilah kisah Alessandro De Vito — mafia paling berkuasa, ditakuti di seantero Eropa, dan memiliki rahasia kelam yang nyaris merenggut nyawanya setiap malam. Ia menderita kondisi langka bernama Diphallia: memiliki dua kejantanan yang sama-sama aktif, perkasa, dan tak pernah lelah. Rahasia ini dijaga mati-matian, bahkan disembunyikan dari orang-orang terdekatnya sekalipun. Sebab, setiap wanita yang pernah ia miliki dan mengetahui kebenaran tubuhnya... tak pernah ada yang selamat. Semuanya berakhir dingin di dalam peti mati. Bukan karena ia kejam tanpa alasan, melainkan satu-satunya cara baginya untuk melindungi harga diri dan kehormatannya yang mutlak. Hingga akhirnya ia bertemu satu-satunya wanita yang berani menerima, memuaskan, dan membuatnya ingin berhenti membantai demi menjaga rahasianya... * * "Jika salah satunya dioperasi, keduanya tidak akan berfungsi! Anda tidak akan bisa menikmati hidup sebagai lelaki, juga tidak akan memiliki keturunan!" Kalimat itu terus terngiang di kepala Alessandro De Vito. Sudah belasan dokter ia temui di berbagai penjuru dunia, namun jawabannya selalu sama. Tak ada jalan lain—ia terpaksa menerima kelainan langka yang membebaninya seumur hidup. "Argghhh...!" Bahkan saat pasangannya sudah terkapar tak berdaya di bawah tubuhnya, Alessandro masih bergerak liar dengan gairah yang tak tertahankan. Ia adalah pria dengan anugerah sekaligus kutukan yang nyaris tak pernah terdengar di dunia: Diphallia. Namun di balik kondisi fisiknya yang luar biasa itu, tersimpan kecerdasan yang tak terukur, daya ingat yang tajam dan "terkutuk", serta kelincahan bertempur yang membuatnya bisa menghindar dan bermain senjata lebih cepat dari kedipan mata. Sangat misterius, dingin, dan tak tersentuh. Apa yang ia inginkan pasti ia dapatkan, dan apa yang sudah pernah ia cicipi... tak akan pernah ia sentuh kembali. "Tiga puluh empat tahun aku hidup, dan tak sekalipun aku menemukan seorang gadis yang masih suci!" Hening kembali menyelimuti ruangan mewah itu. Di lantai, tubuh seorang wanita tergeletak tanpa daya setelah ia jungkirbalikkan dari atas ranjang. Alessandro mengikat dua kantong berisi benda buatan pengganti, lalu membuangnya begitu saja ke tempat sampah. Mereka baru saja menunaikan percintaan yang membakar nafas. Namun baginya, sesaat setelah menjadi "pejantan" yang memuaskan, ia otomatis berubah menjadi malaikat maut bagi pasangannya. "Sudah kuperingatkan," ucapnya dingin tanpa setitik pun rasa bersalah. "Berani tidur denganku artinya berani menerima kematian. Dan kau tak keberatan, bukan?" Ia mengambil jarum suntik dari dalam laci, lalu menusukkannya perlahan ke pergelangan tangan wanita itu. Ibu jarinya mendorong pelan, membiarkan cairan kekuningan mengalir masuk ke dalam pembuluh darah. Tak lama kemudian tubuh wanita itu mengejang sejenak, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya selamanya. Alessandro mengenakan jubah mandi untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, lalu menekan nomor panggilan. Tak lama berselang, seseorang datang menghadap dengan kepala tertunduk dalam, tak berani menatap tuannya maupun sosok yang kini sudah dingin tak bernyawa di sana. "Ya Tuanku, aku ada di sini." "Farhan..." suara Alessandro berat dan datar. "Lenyapkan dia! Hilangkan setiap jejak yang ada. Atur kematiannya agar tampak seperti kecelakaan, atau penyebab apa saja yang masuk akal." Alessandro mengikat tali jubahnya di pinggang, lalu menyalakan sebatang rokok menggunakan korek ukiran naga yang mahal. Kepulan asapnya perlahan membumbung pekat, menyatu dengan aroma hawa nafsu yang belum sepenuhnya hilang. Selembar selimut ia lempar sembarangan menutupi tubuh gadis malang itu—akhir yang singkat, gelap, dan pasti di tangan iblis berwajah manusia. Tak ada penyesalan, tak ada rasa bersalah di matanya. Hanya kekosongan yang dingin dan seringai tipis khas iblis yang puas. Namun kali ini, Farhan tidak langsung bergerak melaksanakan perintah itu. Sudah hampir setiap minggu ia harus merekayasa kematian seorang wanita. Dan ini tidaklah mudah. Wanita-wanita yang naik ke ranjang tuannya bukanlah sembarang gadis jalanan—mereka adalah wanita kelas atas, cantik, dan berasal dari kalangan terpandang. Tuannya memang selalu memilih wanita berkualitas untuk dipuaskan, sebelum akhirnya dimusnahkan. "Sampai kapan Tuan akan terus begini?" tanya Farhan dengan hati-hati, tak mampu lagi menahan rasa tak nyaman. "Apa maksudmu?" nada Alessandro mengancam. "Dua... bahkan hingga enam wanita Tuan lenyapkan setiap bulannya. Tanpa satu pun dari mereka bersalah nyata." Alessandro tertawa dingin, suaranya menggelegar menegaskan otoritasnya. "Kau pikir berani tidur denganku itu bukan sebuah kesalahan, Farhan? Aku normal, aku butuh pelepasan. Aku kaya, aku berkuasa, dan aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan!" Farhan mendekat, memeriksa denyut nadi gadis itu dengan dua jarinya. Sudah tiada. Meski tubuhnya belum sepenuhnya dingin, nyawanya sudah melayang jauh. Ia tahu asal gadis ini: dikirim oleh agensi khusus yang menjanjikan gadis-gadis yang bersih. Namun lagi-lagi, gadis itu gagal dan harus menanggung akibatnya. "Tuan kembali melenyapkannya... karena dia tidak suci lagi, bukan?" "Tentu saja! Kau hafal sumpahku, bukan? Aku hanya akan membiarkan hidup wanita yang kutiduri jika dia masih murni dan belum tersentuh orang lain." Farhan paham benar. Selama bertahun-tahun, belum ada satu pun yang lolos. "Tapi sampai kapan, Tuan? Bagaimana jika inspektur atau pihak berwenang mulai mencium kejanggalan dari rentetan kematian ini?" "Untuk apa aku membayarmu? Mengurus hal sepele saja kau tak becus!" hardik Alessandro, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit melunak namun tetap tegas. "Kecuali ada rencanamu lain?" Farhan memberanikan diri memberi saran. "Bagaimana jika Tuan menikah? Menjalin ikatan resmi, berkomitmen... apa saja yang bisa menjaga rahasia Tuan tetap aman tanpa harus mencabut nyawa mereka?" Seringai mencemooh melintas di wajah Alessandro. "Maksudmu, kau ingin aku hidup dalam penghinaan, Farhan? Membiarkan salah satu dari mereka hidup sama saja dengan menyebarkan aibku sendiri. Setelah tubuhnya merasakan kedua milikku yang tak lazim itu, mulutnya tak akan bisa diam. Rahasia terbesarku akan menjadi tontonan orang banyak! Kau tak paham, kan? Menjadi pria dengan dua kejantanan yang sama-sama aktif adalah hal yang dianggap lebih hina daripada dosa terbesar yang pernah ada." Hanya Farhan yang tahu kebenaran ini selain dirinya. Jika ada orang lain yang mengetahui fakta tentang Diphallia itu, Alessandro tak akan segan-segan memusnahkan seluruh isi dunia demi membungkamnya. Alessandro menghembuskan asap terakhir dengan kasar, lalu perintah baru meluncur dengan nada mutlak yang tak bisa dibantah. "Panggil beberapa orang untuk membereskan kekacauan ini. Dan panggil juga prajurit bernama Rizky—anak buah yang berada di Kesatuan Angkatan Darat, menantu dari Perdana Menteri Julio." Farhan terkejut, segera mengingatkan. "Tapi dia baru saja menikah siang ini, Tuanku! Menikah dengan Nona Amara Lestari, putri Perdana Menteri itu sendiri. Kita bahkan menerima undangannya, meski Tuan memilih tak hadir." "Aku tahu. Tetap panggil dia kemari sekarang!" ketusnya tegas. Farhan menunduk patuh. "Baik, Tuanku." * * "Pulanglah! Tugasmu bagi Tuanku sudah selesai. Kembalilah pada istrimu, tunaikan malam pertama kalian yang sempat tertunda karena panggilan tugas!" Asisten Farhan menyerahkan segepok uang tunai yang terbungkus rapi dalam amplop cokelat kepada seorang perwira tentara—pengantin baru yang baru saja menyelesaikan tugas berbahaya atas perintah mafia terkuat di negeri ini. Di mata publik, Presidenlah sosok nomor satu pemegang kendali negara. Namun, di balik layar kekuasaan, ada Alessandro De Vito: penguasa gelap yang memiliki wewenang mutlak untuk menaikkan jabatan maupun mencopot pejabat pemerintah sesuka hati. "Sampaikan pada Tuan Alessandro De Vito—aku bersedia diperintah dan diberi tugas lagi," ujar pria berseragam loreng itu. Ia tampak enggan melangkah pulang. Di balik kaca tebal yang memantulkan bayangannya, sosok jangkung berpostur tegap itu menoleh perlahan. Di luar kaca, mesin-mesin canggih beroperasi tanpa henti—memproduksi dan mengemas serbuk mahal yang telah ditakar otomatis. Tak hanya itu; beberapa kilometer jauhnya, tersembunyi pabrik kedua yang menggali kekayaan dari kedalaman perut bumi. "Jika aku butuh orang, anak buahku yang akan memanggil. Jangan kau menawarkan diri untuk menjadi kacungku!" Nada bicaranya dingin, arogan, dan mengerikan—lebih menggelegar dibanding suara raungan mesin yang mendengung di sekelilingnya. Sosok yang menutupi wajah dengan masker hitam itu berbicara dengan wibawa yang membuat udara terasa lebih berat. Aroma kimia yang tajam dari serbuk yang dikemas itu menembus kaca pembatas, tercium menyengat oleh siapa saja yang berada di sana. "Tuan... aku bersedia melakukan apa saja, mengerjakan apa pun agar bisa menjadi anak buahmu. Aku lulusan terbaik tahun lalu, Tuan." Pria itu tampak memohon—siap ditempatkan di mana saja, entah di kediaman mewah, perusahaan, atau tempat lain. Baginya, mengabdi pada sang mafia yang kedudukannya setara kekuatan pemerintah jauh lebih menarik daripada sekadar menjadi abdi negara. "Pulang! Sebelum aku mengirimmu pulang dengan peti mati! Pelatuk senjataku bisa kapan saja memuntahkan timah panas tepat di tengkorakmu." Dalam sekejap, Rizky terdiam seribu bahasa. Tak ada lagi yang berani dibantahnya. Ia menyambar amplop cokelat itu, lalu mundur perlahan dengan rasa hormat yang bercampur ngeri. Akhirnya ia membungkuk dalam-dalam, berpamitan, dan pergi meninggalkan sosok yang paras tampannya tersembunyi di balik masker kelam itu. "Apakah dia menantu Perdana Menteri Julio?" tanya Alessandro pelan. "Benar, Tuanku. Ia suami dari Putri Amara Lestari—wanita malang yang ditinggalkan suaminya tepat di malam pertama mereka," jawab Farhan. "Malang? Tidak juga. Saat jamuan pertunangan dulu, Amara sendiri yang memohon padaku agar aku merekomendasikan kekasihnya untuk menjadi anak buahku. Dan aku mengabulkan permintaannya—setelah mereka resmi menikah." Tawa rendah yang penuh sindir meledak dari bibir sang penguasa gelap. Di balik pesonanya yang tak tersentuh, Alessandro menyimpan satu rahasia besar: sebuah cacat yang tak diketahui siapa pun di dunia ini—kecuali asistennya yang setia. * * "Kalau aku tahu akhirnya begini, seharusnya aku menolak saat Perdana Menteri Julio memintaku menikahi Amara!" Dalam hati, Rizky mengumpat kasar. Amara dulu berjanji akan membantunya mendapatkan promosi dari Tuan Alessandro agar bisa masuk ke dalam lingkaran The Dragon Fiends Syndicate—klan mafia terbesar se-Asia yang bahkan menjadi pilar keamanan terkuat bagi negaranya. Namun, nyatanya tugas yang ia dapatkan kemarin hanyalah hal remeh belaka. "Sialan..." Menjadi anggota klan itu adalah mimpi terbesar Rizky, seorang perwira biasa. Banyak tentara berbakat yang bergabung di sana, hidup mewah, dan memiliki kuasa tak terbendung. Dua rekannya sendiri kini hidup bergelimang harta: rumah megah, mobil mewah, dan hidup tanpa hambatan. "Kusangka dengan menerima lamaran dari ayah Amara, jabatan di The Dragon Fiends Syndicate sudah ada di tanganku. Nyatanya? Aku tetap saja jadi tentara biasa! Bagaimana aku bisa kaya kalau begini terus?" Sudah dua puluh menit Rizky duduk diam di dalam mobil, memandangi rumah mewah pemberian mertuanya itu dari kejauhan. Rasa malas selalu menyerang setiap kali ia harus melangkahkan kaki ke sana—masuk ke dalam rumah yang dihuni oleh wanita yang sama sekali tidak ia inginkan. Ia menyetujui pernikahan ini semata-mata menjadikan Amara sebagai pion untuk melesatkan karirnya. Dua bulan berlalu, namun tak ada satu pun pangkat yang naik. Bruk! Suara pintu mobil tertutup kasar memecah keheningan. Rizky melangkah gontai menuju rumah yang jauh lebih megah dibandingkan rumah dinasnya. Di dalam sana, sang nyonya rumah sudah lama menanti: Amara Lestari, putri tunggal Perdana Menteri, wanita yang sudah resmi menjadi istrinya selama dua bulan terakhir—dan sudah bertunangan dengannya selama dua tahun lamanya. Rizky tahu betul, Amara sudah tergila-gila padanya sejak masa remaja, saat ayahnya masih bekerja sebagai sopir di keluarga Julio yang kaya raya itu. Rizky memutar kunci dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Amara langsung menyambutnya dengan hangat, terbang memeluk tubuh kekar suaminya yang masih mengenakan kaos hijau lumut dan seragam loreng lengkap dengan sepatu boot. "Aku kangen banget... sumpah, aku rindu!" seru Amara sambil mencoba mengecup wajah Rizky. Namun Rizky dengan dingin memalingkan wajah, menghindar. Meski begitu, penampilan Amara yang memikat tetap membuat darahnya mendidih sebagai pria normal. Ia tergugah, namun hatinya menolak untuk menyukai wanita ini—walau logikanya mendukung sepenuhnya. Rizky menatapnya lama, lalu membuang muka dengan jijik. "Kau pembohong, Amara! Kau berjanji akan bicara pada ayahmu agar aku bisa dipekerjakan oleh Tuan Alessandro. Tapi lihat nyatanya? Ia justru menyuruhku pulang dengan bayaran seribu dolar saja setelah membanting tulang selama dua bulan!" "Itu jumlah yang sangat besar, Rizky..." jawab Amara lembut. "Aku tak butuh uang receh! Aku ingin bekerja tetap bersamanya!" potongnya tajam. "Nanti aku bicarakan lagi sama Papa, ya? Aku janji akan usahakan lagi." Amara tak sempat bertanya lebih jauh soal uang itu, Rizky malah terus menyuarakan kekesalannya. "Uang pemberian Tuan Alessandro itu sudah kuserahkan ke Mama Niken." Niken, ibu tiri Rizky—istri mendiang ayahnya yang usianya hanya berselisih satu tahun saja dengan Rizky sendiri. "Kau serahkan semuanya... pada Mama Niken?" Ada rasa getir yang tajam dalam nada bicara Amara. Sebanyak itu uang langsung diserahkan semuanya kepada wanita itu, sementara Amara sendiri tak pernah melihat sepeser pun nafkah dari Rizky selama dua bulan ini. Meski Amara masih mendapat uang bulanan dari orang tuanya, ia tetap mendambakan pemberian dari tangan suaminya. "Ya, benar." jawab Rizky datar tanpa rasa bersalah. Pikirannya mulai penuh kecurigaan. Mengapa dulu, dua bulan lalu, Perdana Menteri Julio sempat mendesaknya untuk menikah dengan Niken, bukan Amara? Ada sesuatu yang janggal... jangan-jangan ada maksud tersembunyi di sana. "Untuk apa kau berdandan seperti itu? Ini rumah, bukan rumah bordil!" hardik Rizky menatap gaun malam merah menyala yang dikenakan istrinya. "Aku menyambutmu pulang. Mama bilang, pria dewasa pasti suka melihat wanitanya tampil seksi begini." Amara bahkan memutar tubuhnya perlahan, memamerkan penampilannya. Namun yang didapatnya bukan kekaguman, melainkan dengusan dingin yang menyakitkan. "Cih! Kau malah terlihat seperti gundik yang murahan dengan penampilan seperti itu." "Tega sekali kau bicara begitu? Aku menungguimu dua bulan lamanya dengan penuh rindu, tapi kenapa kau malah begini?" "Lagian siapa yang menyuruhmu menyambutku begini? Seharusnya kau siapkan makanan hangat dan air mandi, bukan berpakaian sembarangan menyambutku seperti p*****r yang menanti pelanggan!" "Tapi kitakan belum melakukan malam pertama... Kupikir wajar kalau aku menyambut kepulangan suamiku dengan begini," elak Amara, tetap berusaha tersenyum meski hatinya teriris. "Menggelikan." Singkat, datar, sadis, dan tanpa saringan sedikit pun. Hati Amara hancur seketika. Ia tak menyangka Rizky berubah sekejam ini. Padahal selama empat tahun masa pertunangan, pria itu adalah sosok yang lembut dan penuh kata-kata manis. Pesta pernikahan megah yang digelar ayahnya dua bulan lalu ternyata hanyalah sebuah kepura-puraan belaka. "Makanan sudah kusiapkan di meja, juga air hangat, handuk, dan pakaian ganti sudah kusiapkan. Kau mau mandi dulu, atau makan?" tanyanya lirih, menelan sakit hati yang luar biasa. Rizky sama sekali tak menjawab. Ia melewati Amara begitu saja, menaiki tangga dengan wajah tanpa ekspresi. Namun sesaat kemudian, suara teriakan meledak dari lantai atas, memanggil nama istrinya dengan kemurkaan yang tak terbendung. "AMARAAAAA!!!" Amara berlari secepat kilat menaiki anak tangga, terkejut bukan main mendengar suara menggelegar itu. "Ada apa?! Kenapa kau berteriak begitu?" Puk! Sebuah alat tes kehamilan mendarat keras dan menghantam tepat di wajah Amara. "SIAPA BAPAK PEMILIK ANAK HARAM ITU, AMARAAAA?!!" "KAU MENUDUHKU BERBUAT DOSA, RIZKYYY?!!" jerit Amara tak percaya, matanya segera membanjir air mata.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
713.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
951.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
342.9K
bc

Not just, the Beta

read
339.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook