2. Es Teh dan Sebuah Kebetulan

805 Words
Satu minggu berlalu sejak wawancara di Georgio Corp. Setiap kali ponsel Maya berdering, jantungnya berdebar kencang, berharap itu sebuah panggilan dari perusahaan impiannya. Namun, yang datang hanyalah pesan-pesan grup dari teman-teman atau promo diskon dari aplikasi belanja. Rasa cemas dan ketidakpastian mulai menggerogoti hati dan pikirannya. Ia selalu bertanya-tanya, apakah seorang Kenzo, CEO arogan dan angkuh itu akan benar-benar menganggapnya remeh dan menyingkirkannya begitu saja? Banyak pertanyaan yang membuatnya harus terus berpikir mengenai lamaran pekerjaan di perusahaan yang cukup bonafid itu. Untuk mengisi waktu dan juga menambah penghasilan, Ia memutuskan untuk kembali berjualan es teh di tepi jalan. Both portable yang dimilikinya dan cukup sederhana, ia dorong ke lokasi strategis di dekat sebuah persimpangan ramai. Aroma teh melati yang segar bercampur dengan wangi jeruk nipis dan manisnya gula, menarik perhatian para pengendara motor dan pejalan kaki. Setiap hari, dari siang hingga sore, ia pasti akan berdiri di samping gerobaknya, melayani pembeli dengan senyum ramah. Pekerjaan ini memang melelahkan, membuat kakinya pegal dan tenggorokannya kering karena sering berbicara. Namun, melihat gelas-gelas es tehnya ludes terjual memberikan kepuasan tersendiri. Ia juga bisa mengamati hiruk pikuk kota, melihat berbagai macam orang dengan kisahnya masing-masing. Siang itu, matahari bersinar terik. Beberapa pembeli sudah mengantre di depan gerobak Maya. Ia dengan cekatan meracik es teh sesuai pesanan. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti tidak jauh dari tempatnya berjualan. Jendela belakang mobil itu terbuka, dan seorang pria berjas rapi keluar. Maya tidak terlalu memperhatikan pada awalnya, sibuk dengan pesanan. Namun, saat pria itu mendekat, ia merasakan sesuatu yang familiar. Langkahnya tegap, auranya kuat, dan setelan jasnya tampak mahal. Ketika pria itu semakin dekat, jantung Maya serasa berhenti berdetak. Itu Kenzo Georgio. Pria pemilik perusahaan yang lamarannya entah diterima atau tidak. Pria itu begitu arogan yang meremehkannya seminggu lalu kini berdiri di depan gerobak es tehnya, memandang ke arahnya dengan ekspresi datar. Maya nyaris menjatuhkan gelas yang sedang ia pegang. Ia cepat-cepat menguasai diri, berusaha terlihat tenang meskipun di dalam hatinya sudah campur aduk. Apa yang dilakukan CEO arogan itu di tempat seperti ini? Kenzo melirik gerobak es teh Maya, lalu menatap Maya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tatapan itu terasa seperti memindai, seolah ia sedang menganalisis setiap detail kecil. Maya merasa risih, namun ia balas menatapnya dengan tatapan lurus. Ia tidak akan membiarkan pria itu melihatnya gentar. “Es teh?” Kenzo akhirnya bersuara, nadanya sama dinginnya seperti saat wawancara. “Ya, Tuan, Tuan Kenzo,” jawab Maya, suaranya sedikit serak karena terkejut. “Es teh melati, es teh lemon, es teh leci.” Kenzo mengernyitkan dahi. “Seorang sarjana berjualan es teh?” Pertanyaan itu adalah sebuah sindiran telak. Seolah dia adalah sarjana yang gagal, tapi memang benar sih, lagipula apa salahnya sih ya kalau ia berjualan es teh di pinggiran jalan. Maya mengepalkan tangan di balik gerobak. Ia merasa gemas, ingin marah, ingin menyuruhnya pergi dan memintanya tidak terlalu sombong meski ia dulu pernah melamar kerja dan direndahkan. “Tidak ada yang salah dengan berjualan es teh, Tuan. Ini pekerjaan halal dan aku melakukannya untuk menyambung hidup. Lagipula, mencari pekerjaan tidak semudah membalik telapak tangan, terutama jika harus berhadapan dengan orang yang selalu meremehkan orang lain." Sengaja ia tidak berkata secara formal, karena sekarang mereka berada di luar kantor dan bukan di gedung tinggi dan mewah milik pria itu. Kenzo hanya mengangkat sebelah alisnya, seolah tidak terpengaruh dengan sindirannya. “Aku ingin es teh melati.” Maya mengambil gelas plastik, memasukkan es batu, lalu menuangkan teh melati yang sudah diseduh. Tangannya sedikit gemetar, namun ia berusaha agar tidak terlihat. Saat ia menyerahkan gelas itu, tangan Kenzo mengambilnya dengan gerakan lambat. Jari-jari mereka sempat bersentuhan sedetik, dan sensasi listrik kecil menjalari lengan Maya. “Berapa?” Kenzo bertanya, mengeluarkan dompet kulit dari saku jasnya. “Lima ribu, Tuan,” jawab Maya. Kenzo mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu, lalu meletakkannya di nampan uang. “Ambil kembaliannya.” Ia tidak menunggu kembalian, langsung membalikkan badan dan berjalan kembali ke mobilnya. Maya hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. Beberapa detik kemudian, mobil hitam itu melaju pergi, meninggalkan Maya dalam keheningan yang canggung. Pembeli lain yang tadi mengantre menatapnya dengan rasa ingin tahu. “Wah, Mbak kenal orang ganteng tadi?” tanya seorang ibu-ibu. “Itu kayaknya orang kaya banget, ya?” Maya hanya tersenyum tipis, tidak menjawab. Ia masih memproses apa yang baru saja terjadi. Kenzo Dirgantara, CEO arogan itu, membeli es teh darinya. Sebuah kebetulan yang sangat aneh. Ia bahkan sampai tak bisa tidur saat malam harinya. Malam itu, ia tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah Kenzo saat interview dan wajahnya saat membeli es teh terus berkelebat di benaknya. Ia merasa campur aduk. Perasaan antara jengkel, sedikit malu, namun juga ada rasa penasaran yang aneh. Apakah pria itu juga mengingatnya, atau apakah memang sengaja mendekati gerobak es tehnya. Tidak mungkin dari jauh tidak kelihatan karena memang tempatnya cukup strategis dan ramai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD