3. Konflik Batin Maya

847 Words
Esok harinya, di hari yang cukup cerah dan sangat terik, seperti biasa, ia kembali berjualan es teh. Ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkan kejadian kemarin. Ia melayani pembeli seperti biasa, senyumnya tetap merekah. Sekitar pukul tiga sore, saat pembeli mulai sepi, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Dengan jantung berdebar, Maya mengangkatnya. “Halo?” “Dengan Saudari Maya Rukmana?” suara seorang wanita terdengar formal di seberang sana. “Ya, saya sendiri.” “Saya dari Georgio Corp. Kami ingin memberitahukan bahwa Anda diterima untuk posisi Desainer Grafis. Bisakah Anda datang untuk penandatanganan kontrak besok pagi jam sembilan?” Maya terdiam, nyaris tidak bisa bernapas. Ia diterima? Setelah semua itu? Rasa tidak percaya bercampur dengan kelegaan luar biasa membanjiri dirinya. Ini berarti Kenzo tidak sepenuhnya meremehkannya. Atau mungkin… ia hanya ingin melihat seberapa kuat dirinya bisa bertahan? “Halo? Saudari Maya?” suara di telepon kembali terdengar. “Ya! Ya, tentu! Saya bisa datang besok pagi!” Maya menjawab dengan semangat membara, senyum lebar terukir di wajahnya. Ia menutup telepon, merasakan kebahagiaan yang meluap-luap. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impiannya. Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip sebuah pertanyaan besar. ia bingung, karena memikirkan bagaimana hubungannya dengan CEO arogan itu akan terjalin di lingkungan kerja nanti. Dan pertemuan di pinggir jalan itu, dengan segelas es teh di tangan CEO itu, terasa seperti awal dari sebuah babak baru yang penuh misteri. “Ya Allah, terima kasih, buah kesabaran selama ini. Semoga kamu betah kerja disana dan lancar kerjanya,” Ibunya sangat bersyukur, hingga Ayahnya juga merasa senang dan sampai melakukan sujud syukur. Berita ini begitu menggembirakan hati kedua orang tuanya. “Yah, untuk sementara, Maya diantar saja dulu. Nanti kalau sudah ada rejeki, kita beli motor yang sekon lagi,” ucap Ibunya dengan penuh semangat. “Beli sepeda listrik saja, Bu. Kan murah juga bisa lewat jalan alternatif saja jadi tak perlu pakai motor,” Maya merasa terharu, pengorbanan ibunya dan juga Ayahnya dalam memberikan yang terbaik untuknya sangat ia hargai, Ibunya berniat akan menjual cincin emasnya untuk bisa membeli sepeda listrik. Namun, besok ia masih tetap harus diantar, Ayahnya bahkan sangat siap katanya. ** Hari pertama Maya di Georgio Corp terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan, sekaligus mimpi buruk yang menghantui. Kantornya sangat modern, rekan-rekannya ramah, dan pekerjaannya sesuai dengan apa yang menjadi keahliannya. Ia ditempatkan di tim desain kreatif, sebuah tim yang dinamis dan penuh ide. Maya beruntung bisa masuk ke dalam pekerjaan yang selama ini ilmunya ia geluti dalam perkuliahan yang ia ambil. Semuanya terasa sempurna, kecuali satu hal, keberadaan sang CEO, Kenzo Georgio. Pria itu bagai angin puyuh yang tak terduga. Ia jarang terlihat di area karyawan, namun setiap kali muncul, auranya yang dingin dan tatapan tajamnya selalu membuat semua orang tegang. Maya mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, fokus pada tugas-tugasnya yang menumpuk. Ia ingin membuktikan dirinya, bukan hanya pada tim dan rekan kerjanya, tapi juga pada sang CEO, Kenzo. “May, kamu bisa ke ruanganku sebentar!” “Baik, Bu,” Rima, wanita itu tampak bersahaja, kadang membantunya dalam mengatasi pekerjaan dan memberitahu tentang sikap arogan sang CEO yang katanya tidak suka pekerjaannya selalu di revisi. Ia dan wanita itu sekarang jadi rekan yang baik, Rima ternyata kerap menahan kesabarannya karena kearoganan Kenzo. Suatu hari, ia tanpa sengaja menjatuhkan sebuah berkas yang akan diberikan pada sang CEO. Kenzo, sang CEO yang sedang melamun, merasa kaget dan memarahinya dengan banyaknya rentetan kata-kata menyakitkan. Ia bahkan diminta lembur jika melakukan kesalahan. Untungnya, Rima selalu menolongnya dengan mengatakan kalau ia masih belum bisa diajak lembur karena pekerjaannya membutuhkan konsentrasi tinggi dan diminta istirahat yang cukup. Saat ia keluar dari ruangan pria itu, ia mendengar cemoohan. “Dia bisa apa, sih? Berkas penting saja dijatuhkan, aku pokoknya nggak mau tahu, jangan ada revisi untuk pekerjaan ini, mengerti?” Ia mendengar jawaban Rima ternyata sangat sopan dan jauh dari kata kesal. Ia merasa Rima adalah wanita yang kuat. Di rumah, ia memandangi sepeda listrik yang berwarna ungu yang dibelikan orang tuanya dari hasil penjualan cincin emas ibunya. Ia merasa sedih jika harus resign hanya gara-gara punya atasan yang arogan dan menyebalkan. "May, kamu kok melamun?" Suara ibunya mengagetkannya dan membuatnya sedikit menghela napas. ia sadar kalau selama beberapa menit ibunya pasti telah melihatnya sedang melamun. "Kamu kenapa? Mikirin pekerjaan? Jangan terlalu dipikirkan, apa atasanmu galak, ya?" Maya menoleh ke arah ibunya. "Ibu, kok ngomong begitu, doain Maya biar kerjaan lancar, atasan Maya nggak galak sih, tapi ..." ".... menyebalkan?" tanya ibunya. Maya tersenyum, lalu memeluk tubuh ibunya dan menceritakan hal lain yang lebih menarik. Ia tidak mau membahas tentang Kenzo yang baginya memang menyebalkan dan teramat membebani pikirannya. Ia berpikir jika nanti terbiasa kerja disana mungkin jika ia memiliki ide-ide yang cemerlang, seorang Kenzo pasti akan tercengang dan merubah pola pikirnya pada seseorang seperti dirinya. "May, Ayah bilang kantor kamu cukup megah dan perusahaannya bonafid," "Iya, Bu. Lumayan bagus, bahkan terbilang sangat keren. Doakan saja Maya betah kerja disana, jangan sampai atasan Maya nantinya semena-mena," "Kamu ngomong gitu pasti atasanmu galak, ya kan?" Maya diam saja, ia tetap bergelayut manja pada ibunya. Masalah di kantor ia tidak akan bercerita banyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD