4. Menekanmu

850 Words
Bekerja di Georgio Corp ternyata tidak mudah. Konflik pertama tak terhindarkan. Seminggu setelah bergabung di perusahaan itu, timnya diberi proyek besar, mendesain ulang logo dan branding untuk salah satu anak perusahaan Georgio Corp yang akan segera diluncurkan. Maya, memiliki beberapa ide, ia mengungkapkannya dengan beberapa ide segar yang dimilikinya. Ia mengajukan konsep yang ia yakini sangat inovatif dan sesuai dengan tren pasar. “Sepertinya akan segera dilakukan rapat, nanti kamu yang maju ya, May. Mengingat ini kan ide dari kamu,” Rekan timnya menyerahkan sepenuhnya padanya. Sejujurnya, Maya sangat gugup tapi ia ingin membuktikan pada seorang Kenzo kalau ia bekerja dengan sepenuh hati. Presentasi konsep kemudian dilakukan di ruang rapat utama. Kenzo sudah menyuruh beberapa karyawan untuk menyiapkan apa yang harus diberikan dalam rapat nanti. Katanya rapat itu akan dihadiri oleh kepala departemen, tim kreatif, dan tentu saja, sang CEO, Kenzo Georgio. Sejak awal, Kenzo sudah terlihat tidak senang. Ia duduk di ujung meja, menyilangkan tangan di d**a, dengan ekspresi yang tak terbaca. “Baiklah, Maya, silakan presentasikan konsep mu,” kata kepala departemen pemasaran, Bapak Rafi, mencoba mencairkan suasana. Maya menarik napas dalam, memproyeksikan desainnya di layar lebar. Ia menjelaskan setiap detail, filosofi di baliknya, dan bagaimana konsep itu akan menarik target pasar. Ia berbicara dengan keyakinan penuh, menunjukkan dedikasi yang ia miliki. Saat ia selesai, Kenzo bertepuk tangan pelan, satu kali, dengan nada sarkas. Suara itu menggema di ruangan yang hening. “Itu semua… klise,” Kenzo berucap datar, tatapannya menembus Maya. “Aku ingin sesuatu yang revolusioner, yang belum pernah ada. Bukan desain yang bisa ditemukan di internet dengan sedikit modifikasi.” Darah Maya berdesir panas. Ia merasa direndahkan. “Maaf, Tuan Kenzo tapi saya sudah melakukan riset mendalam. Konsep ini memadukan estetika modern dengan sentuhan lokal yang….” “Sentuhan lokal? Ini perusahaan teknologi, bukan toko kerajinan tangan!” potong Kenzo, suaranya sedikit meninggi. “Aku tidak membayar mu untuk menghasilkan sesuatu yang biasa-biasa saja. Apa kamu lupa apa yang aku katakan saat wawancara? Aku butuh orang yang tahan banting, bukan yang hasil kerjanya ‘biasa-biasa saja’.” Rasa marah membuncah di d**a Maya. Ia berusaha keras menahan diri agar tidak meledak. Ia tahu ini adalah tes, atau mungkin, Kenzo memang sengaja ingin melihat reaksinya. “Saya mengerti ekspektasi Tuan Kenzo sangat tinggi,” balas Maya, berusaha menjaga intonasi suaranya tetap tenang meskipun hatinya bergemuruh. “Namun, saya yakin konsep ini memiliki potensi besar. Jika Tuan memberikan kesempatan untuk revisi, saya bisa….” “Kesempatan?” Kenzo tertawa sinis. “Waktu adalah uang, Nona. Aku tidak punya waktu untuk ‘revisi’ sesuatu yang dari awal sudah salah konsep.” Kata-kata itu bagai tamparan keras bagi Maya. Ia merasa air matanya akan tumpah, namun ia menahannya. Matanya berkaca-kaca, namun ia menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria arogan itu. “Baiklah, Tuan Kenzo,” Maya berucap pelan, suaranya tercekat. “Jika itu keputusan Tuan.” Kenzo menatapnya tajam, seolah mencari celah kekecewaan di mata Maya. Namun, Maya berhasil menyembunyikannya di balik tatapan penuh tekad. Kenzo mendengus, lalu bangkit dari kursinya. “Siapkan konsep baru. Yang benar-benar revolusioner. Besok pagi, aku ingin melihatnya,” perintah Kenzo, lalu berbalik dan meninggalkan ruang rapat tanpa sepatah kata lagi. Suasana hening menyelimuti ruangan. Pak Rafi mendekati Maya, menepuk bahunya pelan. “Jangan diambil hati, Maya. Tuan Kenzo memang begitu. Dia hanya ingin yang terbaik.” Maya hanya mengangguk, hatinya hancur. Ia sudah berusaha keras, dan hasilnya malah dianggap klise. Rasa marah bercampur kecewa membanjiri dirinya. ** Malam itu, di kediaman Kenzo, suasana terasa sepi dan dingin. Pria itu baru saja selesai dengan rutinitas kerjanya yang padat. Ia duduk di sofa, memegang segelas whiskey, namun pikirannya melayang entah kemana. Ia sedang berpikir , tentang seseorang. Seseorang yang tidak biasanya sampai membuatnya berpikir hingga ia harus membutuhkan minuman hangat. Ia tidak bisa melupakan tatapan mata karyawan barunya saat di ruang rapat. Tatapan itu, tatapan dari gadis yang baginya penuh perjuangan untuk hidup … penuh kemarahan, kekecewaan, namun juga ada sesuatu yang berkobar. Sebuah tekad yang tak mau menyerah. Kenzo mengakui, ia memang sengaja bersikap keras pada gadis itu. Ia ingin melihat sejauh mana gadis itu bisa bertahan. Ia yakin gadis itu akan mengeluh nantinya. Namun, ada yang berbeda dengan Maya. Gadis itu tidak menangis, tidak merengek, meskipun jelas ia terluka. Gadis itu ternyata bisa melawan, dengan caranya sendiri. Yang dipikirkannya sampai sekarang adalah kenapa dia bisa bertahan dengan tekanan yang dilakukannya. Ia teringat pertemuan tak sengaja mereka di pinggir jalan. Gadis yang ia remehkan saat wawancara, yang memiliki usaha sampingan dengan berjualan es teh. Ada rasa… aneh yang muncul saat itu. Sebuah rasa ingin tahu yang tak biasa. Dan cara Maya membalas sindirannya tentang sarjana yang berjualan es teh, sungguh di luar dugaan. Gadis itu tidak hanya berani, tapi juga memiliki harga diri yang tinggi. Ia meneguk whiskey-nya, mencoba mengenyahkan pikiran tentang Maya, namun sulit. Tatapan mata itu, suara yang sedikit serak karena menahan emosi, bahkan senyuman tulusnya saat menyerahkan es teh… semua itu terus berputar di benaknya. Ia pergi tidur, berbaring ingin menenangkan diri, berharap bisa melupakan semua itu. Namun, alam bawah sadarnya bekerja sebaliknya. Ia malah bermimpi, sebuah mimpi yang aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD