Dalam mimpinya …
Kenzo melihat Maya. Gadis itu tidak lagi berada di ruang rapat atau di gerobak es teh.
Maya berdiri di sebuah taman bunga, mengenakan gaun sederhana berwarna putih.
Rambutnya tergerai indah, dan senyumnya sangat berbeda dari yang pernah ia lihat. Senyum yang tulus, cerah, dan tanpa beban.
Maya berbalik, menatap Kenzo. Tatapan matanya lembut, bukan lagi penuh amarah atau tekad. Ia mengulurkan tangannya, seolah mengundangnya untuk mendekat.
Kenzo mencoba meraih tangan itu, namun Maya tiba-tiba menghilang, seperti kabut pagi.
Kenzo terbangun dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang. Mimpi itu terasa begitu nyata. Ia mengerjapkan mata, melihat kegelapan kamar.
Ia duduk di tepi ranjang, merenungi apa yang baru saja ia alami.
Mimpi itu aneh. Sangat aneh bagi seorang Kenzo.
Sementara keesokan harinya, ketika karyawan sibuk dengan banyaknya pekerjaan mereka.
Saat Maya membereskan laptopnya, hendak meninggalkan ruangan, pintu ruangan yang baru saja ia tutup kembali terbuka.
Seorang pria muda masuk, langkahnya tenang dan tatapan matanya bijaksana. Usianya kira-kira sebaya dengannya, dengan rambut hitam rapi dan senyum tipis yang menenangkan.
Maya belum pernah melihatnya sebelumnya. Ia merasa asing dengan pria itu.
“Maaf, aku terlambat,” ujar pria itu dengan suara lembut namun tegas. “Ada masalah teknis di lab desain.”
Pak Rafi yang tengah bersamanya mengangguk. “Tidak apa-apa, Danu. Kamu bisa lihat hasilnya nanti. Kita sudah selesai presentasi.”
Danu? Apakah Danu Prayoga? Maya teringat, ia memang pernah mendengar nama itu.
Danu Prayoga adalah desainer grafis senior di tim lain yang sering memenangkan penghargaan.
Maya terpana melihat ketenangan pria itu di tengah aura sisa ketegangan yang kemarin terasa sangat menekan dirinya.
Danu melirik ke arah Maya, yang masih berdiri mematung. Matanya menangkap raut sedih dan frustasi di wajah Maya.
Tanpa ragu, ia mendekati meja presentasi.
“Ada apa, Pak Rafi?” tanya Danu, matanya beralih ke layar. “Apa ada masalah dengan konsep ini?”
“Tuan Kenzo tidak setuju dengan konsepnya,” jawab Pak Rafi singkat. “Terlalu… klise, katanya.”
Danu mengangguk perlahan, lalu menatap desain Maya dengan saksama. Ia tidak berkomentar apa-apa, hanya memandangnya dalam diam.
Maya merasa canggung di bawah tatapan Danu, namun ada sesuatu yang berbeda.
Tatapan pria itu tidak menghakimi, melainkan menganalisis, seolah ia mencoba memahami.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Kemudian, Danu menoleh ke arah Maya. Senyum tipisnya mengembang. Pria itu mencoba untuk mencairkan suasana.
“Menurutku, konsep ini sangat bagus, Maya,” ucap Danu, suaranya tenang dan penuh keyakinan.
“Aku bisa melihat potensi besar di sini. Mungkin perlu beberapa penyesuaian sedikit, tapi idenya brilian. Modern, segar, dan ada sentuhan personal yang kuat.”
Kata-kata Danu bagai embun penyejuk bagi Maya. Ia merasa ada secercah cahaya yang menyelinap masuk ke dalam hatinya yang tadi gelap.
Dipuji oleh desainer senior seperti Danu, apalagi di hadapan Pak Rafi, rasanya luar biasa.
Mata Maya berbinar, menatap Damar dengan takjub. Pria ini tidak hanya tampan, tapi juga bijaksana dan empatik.
“Terima kasih, Dan,” ucap Maya, suaranya tulus. Ada rona merah tipis di pipinya. Ia merasakan gejolak aneh di dalam dadanya. Sebuah ketertarikan yang tiba-tiba muncul.
Danu tersenyum lagi. “Kita bisa mendiskusikannya nanti, Maya. Aku yakin kita bisa menyempurnakannya bersama.”
Maya mengangguk semangat. “Tentu saja!”
Sejak saat itu, ia mulai sering mencari perhatian pria itu. Dengan sering berkunjung ke meja Danu di ruang kerjanya.
Ia akan berpura-pura menanyakan hal-hal terkait desain atau sekadar bertukar pikiran.
Danu sendiri selalu menyambutnya dengan ramah, memberikan masukan yang begitu positif, dan sesekali melemparkan lelucon ringan yang membuatnya tertawa.
Maya merasa nyaman di dekat pria itu. Pria itu merupakan kebalikan sifat dari seorang Kenzo.
Pria itu sangat lembut, pengertian, dan selalu memberinya semangat. Ia benar-benar pria yang penuh kasih.
Tanpa ia sadari, ia mulai merasa nyaman. Bekerja dengan Danu sangat tenang dan tidak ada yang bisa mengalahkan sifat baiknya Danu di kantor ini.
**
“May, kamu belum makan siang?” tanya Danu saat Maya sedang sibuk.
Maya tersenyum, lalu menghentikan aksinya saat akan menyimpan berkas. Ia lebih mementingkan menjawab pertanyaan seorang Danu.
Di saat itulah Kenzo melihat keduanya tengah berbicara dalam posisi yang sangat dekat. Kenzo mulai merasa dirinya aneh setiap kali melihat Maya.
Kini ia melihat Maya seperti seorang yang paling spesial di hatinya. Jika tidak ada gadis itu, serasa kurang dan ruangan terasa hampa.
Sejak mimpi aneh bersama gadis itu ia jadi begini. Ia seringkali gelisah. Pikiran tentang Maya terus menghantuinya.
Ia mencoba untuk bersikap dingin seperti biasa, namun ada sesuatu yang terus mendorongnya untuk mendekati gadis itu.
Dia, yang biasanya hanya sibuk di ruangannya, kini sesekali berjalan melewati area tim desain.
Ia akan berhenti sejenak, mengamati aktivitas Maya dari jauh. Jika Maya sedang kesulitan dengan perangkat lunak atau bingung mencari referensi, ia akan menyuruh sekretarisnya, Tiara, untuk “kebetulan” menawarkan bantuan atau memberikan panduan.
“Tiara, bantu Maya untuk mengatasi itu,” ucapnya seraya berlalu dengan cuek.
Bagi Tiara, itu merupakan hal yang tak biasa tapi dia tidak merasakan itu. Dan bagi Maya, seorang gadis baik seperti Tiara sangat membantunya.