2. Black to white. White to black.

3380 Words
                                                                                      *** Seperti biasanya Rey selalu mengantarkan Hyena pulang sekolah dengan mengendarai mobilnya. Jika bukan karena ada tugas kelompok atau janji bersama teman, Rey tidak pernah absen untuk mengantar Hyena pulang ke rumah. "Yuk cepetan. Aku pengen cepet sampai rumah," kata hyena sambil menaruh tasnya ke dalam mobil Rey. Namun tiba-tiba Rey melihat sosok yang ia kenal sedang berjalan keluar dari gedung sekolah. Rey menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas wajahnya. "Yang, itu kayaknya Lisa deh. Kamu gak mau ajak dia buat pulang bareng sama kita aja? Kan kalian serumah.". "Yah mau aja. Cuma dianya mau kaga. Takutnya dia bakalan ngerasa jadi nyamuk. Aku sih oke-oke aja," ucap Hyena. "Yaudah kita coba aja ajak dia. Siapa tau dia mau. Aku panggil ya." "Oke, yang," jawab Hyena singkat. Rey langsung melambaikan tangannya dan berteriak ke arah Lisa. "Lis! Pulang bareng kita yuk!" teriak Rey kearah teman sekelasnya itu. Lisa membalas lambaian tangan Rey. Ia berjalan menghampiri Rey dan Hyena. "Oh hai Rey! hai Heyn! Kenapa?" kata Lisa. "Lo pulang bareng sama kita aja. Toh tujuannya sama. Kita juga pengen langsung pulang, gak kemana-kemana. Yuk masuk," ajak Hyena. Lisa tinggal dirumah keluarga Hyena sejak umur 5 tahun. Karena ibunya bekerja menjadi pembantu dikeluarga Hyena. Selain Hyena dan Rey, tidak ada yang mengetahui fakta ini di sekolah. Satu sekolah hanya tau kalau Lisa adalah sepupu Hyena. Meskipun status sosial dan ekonomi Lisa seperti itu, Hyena tidak pernah memperlakukan Lisa semena-mena. Mereka seperti saudara dan sahabat dekat. Karena mereka tumbuh dan besar bersama. "Ehmmm... Gimana ya." Lisa tampak berpikir keras tentang tawaran Hyena ini. Ia terlihat segan berada diantara Hyena dan Rey. Takut keberadaannya menjadi pengganggu. "Udah masuk aja. Daripada lo naik angkot," ucap Hyena. "Iya udah masuk aja. Kayak sama siapa aja deh lo. Pake mikir segala. Hahaha," ucap Rey. "Ehmmm... yaudah deh." Lisa akhirnya menerima tawaran Hyena dan masuk kedalam mobil dan diikuti oleh Rey. Rey menyalakan musik agar perjalanan terasa tidak membosankan. Hyena terlihat sedang melihat i********: miliknya. Sementara Lisa memandangi pemandangan jalanan dari jendela mobil. Rey mencari topik pembicaraan agar suasana di mobil tidak hening. "Yang, gimana anak baru yang duduk disebelah kamu itu?" tanya Rey. "yah gitu deh. Ngeselin. Masa aku gak boleh ngobrol, gak boleh berisik. Setiap kali aku ngobrol, dia natap aku dengan sinis. Auranya itu lho, bikin aku kicep. Serem banget, yang. Dia tuh punya aura yang bisa bikin orang diam gak berkutik. Wah... Gila!" Hyena terlihat antusias menceritakan pengalamannya sebangku dengan Andrew. "Kamu semangat banget cerita nya, Hyen. Hahaha," kata Lisa dari bangku belakang. "Iya Lis. Lo udah tau dan liat orangnya belum sih, Lis?" tanya Hyena. "Sepintas sih udah liat. Ganteng yah, Hyen. Mungkin lebih ganteng dari Rey malah. Hahaha" Canda Lisa. "Enggak! Rey lebih ganteng lah. Dia memang lumayan ganteng, tapi gak lebih ganteng dari Rey!" Hyena terlihat tidak terima kekasihnya dibandingkan dengan Andrew. Rey tertawa melihat tingkah menggemaskan pacarnya itu. Meskipun ia tau kalau sebenarnya Hyena tidak bermaksud untuk bercanda. "Makasi ya sayang. Aku emang ganteng dari lahir. Hahaha kamu jangan terlalu emosi gitu ah kalo ngomongin Andrew," kata Rey sambil mengelus kepala Hyena. "Yah aku cuma bisa ngelampiasin kekesalanku itu disini. Gak mungkin juga aku nabok dia dikelas. Walau pengen sih. Hahaha." "Oh ya, tadi di kantin kenapa Linda manggil Andrew dengan sebutan waiter??" Tanya Rey tiba-tiba. Karena teringat insiden dikantin tadi siang. Dimana Linda bertengkar dengan Andrew di kantin. "Oh... Dia memang waiter, yang." "Hah?! Andrew waiter?! Kok bisa?!" Rey yang terlihat terkejut dengan informasi yang baru saja didengarnya. Walaupun Rey tau identitas Andrew sejak dulu tidak pernah dipublikasikan secara terang-terangan, atau bisa dikatakan ditutupi. Namun sepengetahuannya Andrew tetap menikmati fasilitas yang sama sepertinya, bahkan terkadang lebih mewah. Ia sangat heran mengapa sahabatnya itu bisa menjadi pelayan. "Emang kenapa gak bisa?" tanya Hyena yang mulai heran dengan reaksi Rey. "Iya Rey, gue aja yang anak pembantu bisa sekolah di SMA elit sama kayak kalian. Bisa aja ada orang kaya yang baik hati dan mau nyekolahin dia. Kayak keluarga Hyena nyekolahin aku," kata Lisa. Rey mulai terlihat bingung menjawab Hyena dan Lisa. Rey tidak bisa secara terang-terangan memberitahukan fakta sebenarnya bahwa ia mengetahui identitas asli Andrew. Selain karena itu rahasia, hubungannya dengan Andrew sedang tidak baik. Jadi menurut Rey tidak ada gunanya memberitahukan bahwa ia mengenal siapa Andrew. "Ehmmm... yah aku cuma kaget aja. Kan, gak banyak orang baik jaman sekarang yang bisa kayak gitu," ucap Rey. "Iya juga sih. Emang gak banyak keluarga yang kayak kamu, Hyen. Aku memang termasuk beruntung," ucap Lisa dengan tersenyum. "Iya sih. Ada benarnya," kata Hyena sambil menganggukan kepalanya tanda setuju. "Oh ya, Yang. Emang kamu yakin Andrew itu waiter? Tau dari mana?" tanya Rey penuh selidik. "Yakin kok. Jadi sebelum dia masuk ke sekolah kita hari ini, sebenarnya minggu kemarin aku ngeliat dia jadi waiter kafe gitu. Dia beradu mulut sama seorang pelanggan. Makanya aku inget muka dia," cerita Hyena. "Kafe mana?" tanya Rey. "Kafe Gledenys. Tempat nongkrong favorit ku itu lho. Aish, apa aku masih bisa kesana lagi ya. Ada makhluk rese itu sih. Padahal tempat itu asik banget buat minum milkshake sambil baca buku. Huft," kata Hyena sambil menghela nafas kesal. Rey terdiam dan mulai melamun. Pikirannya dipenuhi dengan segudang pertanyaan tentang Andrew. Akan tetapi ia memilih menyimpan kebingungannya itu didalam diam. "Yang... kok kamu tiba-tiba diam sih?" tanya Hyena heran. "Gak papa kok, Yang. Aku cuma lagi fokus nyetir." "Oh..." Tanpa terasa ternyata mereka telah tiba di rumah Hyena. Hyena dan Lisa keluar dari mobil sambil membawa tas sekolahnya. Namun Hyena terlihat heran, ketika melihat Rey tetap didalam mobil. Biasanya Rey akan ikut keluar mobil dan mampir sebentar ke rumahnya. "Yang, kamu gak mampir ke rumahku?" tanya Hyena dari jendela mobil. "Ehmm... kayaknya gak bisa deh, Yang. Aku tiba-tiba mau ketemu teman. Ada urusan," jawab Rey. "Urusan apa? Teman yang mana?" tanya Hyena. "Teman ku waktu kecil dulu. Teman SD aku. Cowok kok yang, tenang hahaha." "Aku gak cemburu. Cuma biasanya kamu langsung kasih tau mau ngapain dan sama siapa. Ini kok dadakan. Lagian semua teman kamu rata-rata aku kan tau," kata Hyena. "Kalo yang ini kamu gak tau, Yang. Soalnya aku juga udah tiga tahun gak ketemu. Kapan-kapan aku cerita ya. Aku buru-buru," pamit Rey. "Oh... yaudah deh kalo gitu. Hati-hati dijalan ya." Hyena melambaikan tangannya ke arah Rey. "Iya. Aku cabut ya." Rey tersenyum dan membalas lambaian tangan kekasihnya itu. Ia memutar balik mobilnya dan segera melaju menuju sebuah tempat yang terus berkecamuk didalam pikirannya. Kafe Gledenys...                                                                                             *** "Ndrew... kalo lo mau, kita bisa jadi partner bisnis lho. Lo gak perlu jadi waiter gini. Masa lo jadi pelayan kafe gue sih. Padahal kita udah sahabatan dari SD. Udahlah, ngapain sih lo jadi waiter. Lo mending bantuin gue gimana caranya mengembangkan kafe ini," bujuk Marco pemilik kafe Gledenys. "Thanks bro tawarannya. Tapi saat ini gue cuma bisa jadi waiter. Seumur hidup baru kali ini gue menghasilkan uang sendiri. Jadi gue belum punya tabungan yang cukup untuk jadi partner bisnis lo. Gue udah cukup bersyukur bisa jadi waiter ditempat lo ini kok," jawab Andrew sambil menepuk bahu Marco. "Ngelawak lo, Ndrew! Gak mungkin lo gak punya uang hahaha. Secara lo itu..." Kalimat Marco langsung dipotong oleh Andrew. "Ssstttt! Lo lupa apa kalo identitas gue itu rahasia. Ckckck Nanti kalo ada yang denger, bisa berabe gue. Bokap gue bisa datang ke kafe ini sambil bawa golok," kata Andrew dengan nada pelan. "Sorry... sorry, Ndrew. Gue lupa! Kalo sampai bokap lo tau, kalo gue tau... wah bisa digorok gue. Kelar hidup gue," kata marco sambil menepuk keningnya. "Iya. Kita gak taukan disini ada mata-mata bokap gue apa kaga. Jaga-jaga aja, Co." "Iya sih. Oh ya, jadi mau sampai kapan lo berakting jadi waiter gini?" "Gak tau sampai kapan hahaha. Co, ada pelanggan tuh. Gue kesana dulu." Andrew segera mengambil buku menu dan berjalan ke arah meja pelanggan yang baru masuk tadi. Ketika Andrew melihat wajah pelanggan itu, ia terlihat terkejut beberapa detik. Namun, dengan cepat ia segera memasang ekspresi biasa kembali dan menguasai dirinya. Andrew menyodorkan buku menu ke pelanggan itu. "Selamat siang, Mas. Ini buku menunya. Mau pesan sekarang atau mau liat-liat dafar menunya dulu?" tanya Andrew sopan. "Ndrew..." sapa Rey. "Iya, Mas. Jadi mau pesan apa? Menu favorit disini sih steak dan coffee Vietnam. Apa mau minum yang dingin aja? Milkshake misalnya," kata Andrew sambil tersenyum. Seolah tidak ada yang terjadi diantara mereka. "Ndrew, gue pengen ngomong sama lo," Pinta Rey. "Oh oke. Kalo mas gak mau pesan, silahkan menikmati waktunya di kafe ini. Kalo ada yang dibutuhkan, silahkan panggil saya aja," ucap Andrew sambil membungkuk tanda berpamitan. Namun Rey dengan sigap menarik tangan Andrew untuk menahannya. Rey benar-benar ingin berbicara serius dengan Andrew. Semua kesalah pahaman yang telah terjadi harus diluruskan saat ini juga. "Andrew! Please, listen to me... Sebentar aja," pinta Rey dengan nada memohon. Namun Andrew mengibaskan tangan Rey dengan kasar dan menghiraukan permintaannya. Andrew mulai berjalan meninggalkan Rey dan pergi ke meja pelanggan lain. Ia mulai melayani pesanan pelanggan lainnya. Rey hanya bisa diam dan berdiri terpaku karena terkejut dengan perlakuan yang diterimanya. Andrew tidak pernah sekasar itu padanya. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, bahkan sudah seperti saudara. Rey benar-benar tidak mengerti mengapa Andrew bisa semarah ini padanya. Bahkan untuk melihat wajahnya dan berbicara dengannya saja, Andrew terlihat tidak sudi. Rey memutuskan untuk menghampiri Marco yang juga teman baiknya. Menurut Rey, setidaknya Marco pasti tau kenapa Andrew bisa menjadi pelayan di kafe ini. Mungkin secara tidak langsung hal itu ada hubungannya dengan penyebab kebencian Andrew terharap dirinya. Rey kemudian berjalan menuju kantor Marco yang terletak didekat dapur. Ia mengetuk pintu kantornya dengan pelan. "Silahkan masuk," teriak Marco dari balik pintu. "Hei, Bro," Sapa Rey. Marco langsung berdiri dari kursinya dan menyapa Rey dengan rangkulan. Meskipun jarak sekolah Rey dengan kafe ini sebenarnya tidak jauh, Rey termasuk jarak datang dan menyapa Marco. "Hei Rey. Gila lo, Bro! sombong banget lo jadi orang! gak pernah mampir kesini. Parah lo!" ucap Marco sambil memukul ringan bahu Rey. "Biasalah, kalo punya pacar emang sibuk. Emangnya lo, gateng-ganteng tapi gak laku hahaha," canda Rey. "k*****t lo! Hahaha tapi walau begini, gue bukan siswa SMA biasa, Bro. Punya bisnis sendiri gue coy. Jadi gue itu high quality jomblo," ucap Marco sambil membusungkan dadanya. "Tetep aja jomblo. Mapan kalo jomblo buat apaan coba. Malam-malam lo tetap dingin hahaha," ledek Rey. "Suweekkk bener lo! Hahaha siapa sih pacar lo?! Belagu amat sih lo." Rey langsung mengeluarkan handphone dari saku celananya. Ia langsung menunjukkan foto Hyena ke Marco dan membanggakannya. "Nih cewek gue. HP itu buat chat sama pacar. Emangnya lo yang cuma bisa scroll menu doang kalo malam minggu hahahahaha," ledek Rey sambil tertawa keras. "Lo bener-bener k*****t, Rey! Sial!" Marco langung meninju pelan perut Rey karena kesal. Setelah mereka bercanda dan tertawa, Rey langsung teringat dengan tujuan sebenarnya mengapa ia menghampiri Marco. "Oh ya, kok si Andrew bisa jadi waiter ditempat lo sih, Bro? wah parah lo! Temen kita itu," ucap Rey. "Nah itu... pusing gue juga. Gue udah minta dia jadi partner bisnis gue, tapi dia malah gak mau dan minta jadi waiter. Masa temen minta pekerjaan, gue nolak sih. Tambah lebih jahat lagi gue. Cuma ngeliat dia jadi waiter gue juga gak tega. Serba salahkan gue." Marco terlihat bingung dengan situasi yang dihadapinya. "Terus dia gak cerita gitu kenapa tiba-tiba minta jadi waiter ditempat lo? Apa gitu pemicunya? Secara dia selalu terima fasilitas mewah dari bokapnya," tanya Rey dengan penuh heran. "Emph... kalo itu lo tanya dia sendiri aja, Bro. Gue gak punya hak buat cerita," jawab Marco. Meskipun Marco terlihat enggan untuk berbagi informasi dengannya, Rey tetap tidak menyerah. Ia melemparkan pertanyaan kembali tentang Andrew kepadanya. Berharap ada sedikit informasi tambahan tentang sahabatnya itu. "Terus dia tinggal dimana? Masih tinggal di rumah orang tuanya yang di Kemang, Kan?" Tanya Rey penuh selidik. "Emphhh. Dia tinggal di kafe ini. Untung nya kafe gue punya satu kamar dilantai atas. Jadi dia sekalian jaga kafe gue di malam hari," jawab Marco. "Serius?! Kok dia gak tinggal di rumahnya sih? Kenapa?!" Rey benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin seorang Andrew bisa keluar dari rumahnya, jadi pelayan pula! Benar-benar tidak masuk akal! "Emph... serius deh, Bro. Lo tanya sendiri aja. Lo tau Andrew, Kan. Kalo dia bilang jangan cerita, maka jangan cerita. Lo tau kalo dia marah kayak gimana. Gue juga serem." "Masalahnya dia gak mau ngomong sama gue, Co. Dia gak kontak gue sejak tiga tahun yang lalu. Gue juga gak nyangka kalo dia akan semarah ini. Gue pikir segalanya akan kembali jadi baik setelah dia balik ke Jakarta. Tapi taunya malah lebih parah," ucap Rey sedih. "Serius lo tiga tahun?! Kok bisa?!" "Kayaknya gara-gara masalah Devina deh. Andrew jadi salah paham sama gue." "Oh, Devina. Emang complicated sih kalo ada hubungannya sama Devina. Andrew emang sayang banget sama cewek itu. Sayang pake banget ckckck," "Andrew emang gak cerita sama lo kenapa dia benci gue?" "Kaga Rey. Andrew gak cerita apa-apa soal itu. Emphhh... yaudah gue bantu lo deh. Gue akan pastikan Andrew akan menghampiri lo dan dengerin lo sampai selesai," kata Marco dengan penuh keyakinan. "Lo serius bisa? Gue udah berkali-kali nyoba dan selalu ditolak." "Gue yakin kok. Udah sekarang lo balik duduk dikursi pelanggan aja. Lo liat aja nanti," ucap Marco sambil mendorong Rey pergi dari ruangannya. "Oke kalo gitu." Rey menuruti Marco dan keluar dari ruangannya. Meskipun Rey tidak tau bagaimana cara Marco akan membujuk Andrew. Namun, Rey memutuskan untuk duduk dan menunggu Marco menepati perkataannya untuk membuat Andrew duduk dihadapannya.                                                                                         *** Hyena melemparkan tasnya dengan asal dan merebahkan badannya di sofa. Hari ini benar-benar terasa melelahkan bagi Hyena. Lisa mengambil tas Hyena yang tergelak di lantai dan meletaknya dengan rapi disebelah sofa, kemudian ia ikut duduk  dan merilekskan punggungnya disofa. "Gila Capek banget gue, Lis! Untung hari ini gak ada ekskul dance. Panas juga soalnya hari ini," keluh Hyena. "Lo mau gue buatin juice, Hyen? Biar adem dan seger. Lo mau apa? Mangga? Alpukat? Atau jeruk? Di kulkas cuma ada buah itu aja sih." "yaelah. Lo juga capek kali. Udah santai aja. Kalo gue mau minum, tinggal ambil juice botolan di kulkas hahaha." Meskipun Lisa anak pembantu, Hyena tidak pernah memperlakukan Lisa seperti pembantu. Baginya Lisa adalah sahabat dan saudara. Bukan pembantu. Jadi Hyena tidak pernah sekalipun menyuruh Lisa atau meminta bantuannya di rumah. "Oke deh kalo gitu. Yaudah kita rebahan bentar disini." Lisa kembali merebahkan tubuhnya disofa dan beristirahan sejenak. "Kok si Rey tumben gak ngabarin ya. Biasanya dia kasih tau kalau udah nyampe. Dia hari ini aneh banget deh," gerutu Hyena sambil memandangi layar handphonenya. "Mungkin dia lagi dijalan kali, Hyen. Sabar aja." "Bener juga sih. Oh ya, Lis. Lo gak lagi deket sama siapa-siapa gitu? Gak mungkin banget kalo gak ada. Hayooo siapa. Cerita dong, Lis," goda Hyena sambil mengedipkan mata. "Apaan sih Hyena hahaha Gak ada kok. Gue mah cuma punya nasib mengagumi dalam diam," jawab Lisa dengan tersipu-sipu malu. "Bahasamu, Nak. Hahaha. Kagum kok diem doang. Utarain dong! Lo kudu percaya diri. Jaman sekarang itu, udah gak jaman cewek pasif, Lis. Tapi bukan berarti agressif juga, ntar cowok pada takut hahaha. lo modusin jadi temennya aja dulu. Teman dekatnya. Ntar juga lo nemu celah gimana jadi lebih dekat... lebih dekat... dan lebih dekat lagi hahahaha," kata Hyena sambil menggelitik pinggang Lisa dan menggodanya. "Hahahahahahaha... Aduh Hyena... Cukup... Geli tau... Hahaha." Lisa tertawa geli dan berusaha menjauhkan tangan Hyena dari pinggangnya. Area pinggang memang sensitif bagi Lisa. Jadi ulah Hyena yang menggelitik pinggangnya benar-benar membuatnya tidak berhenti tertawa. "Oke... Oke... gue stop. Tapi lo harus cerita ke gue, siapa cowok yang lo suka dalam diam itu. Kalo gak..." Hyena kembali bersiap untuk menggelitik pinggang Lisa. Namun Lisa sudah memasang posisi siaga akan serangan Hyena. Lisa menghadang tangan Hyena dengan sebuah bantal kursi. "Cukup Hyen. Oke... Oke... Aku cerita. Dia itu..." "Siapa, Lis?" tanya Hyena mulai penasaran. "Dia itu... Manusia, Hyen." Lisa langsung mengambil tasnya dan berlari kabur dengan cepat dari Hyena. Lisa berlari menuju kamarnya dan langsung menutup pintu dengan rapat-rapat. Sementara Hyena yang tidak mampu mengejar kecepatan lari Lisa hanya dapat berteriak. "LISAAAAAAAA!"                                                                                             *** Andrew masuk dengan sopan ke ruangan kantor Marco. Ia mendapat pesan kalo atasan sekaligus temannya itu ingin berbicara dengannya. "Lo kenapa manggil gue, Bos? Ada yang bisa gue bantu?" tanya Andrew yang masih memegang nampan. "Bro, tolong lo kasih Coffee ini ke Rey di meja 21. Lo layani dia dan dengarkan perkataan dia sampai selesai. Ingat sampai selesai," kata Marco dengan sangat serius. "Oke siap, Bro. Kalo perkataan dia terkait dengan pekerjaan, gue pasti ngedengerin dia sampai selesai," kata Andrew. "Sekalipun itu bukan tentang pekerjaan, lo tetap harus ngedengerin," pinta Marco. "Kok lo gitu sih. Dia yang nyuruh lo ngelakuin hal ini?!" Andrew mulai terlihat emosi. "Gue denger kalian udah tiga tahun berantem. Kenapa?" tanya Marco. "Bukan urusan lo," jawab Andrew ketus. Marco melihat Andrew ternyata benar-benar membenci Rey. Padahal menurut sepengetahuannya, dulu Andrew sangat dekat dengan Rey. Marco merasa pasti ada masalah serius yang terjadi diantara Rey dan Andrew. Hal ini makin menguatkan keinginannya untuk membuat mereka duduk bersama dan berbaikan. "Oke, Ndrew. Gue akan ulangi perkataan gue diawal tadi. Lo anterin kopi ini ke meja Rey. Kemudian lo duduk disana dan dengerin Rey sampai selesai. Ini perintah Ndrew, bukan permintaan. You know I mean, Ndrew," kata Marco serius. Marco menggunakan otoritasnya sebagai atasan untuk membuat Andrew mengikuti perkataannya. Marco sangat tau Andrew tidak akan membantah jika ia menekankan posisinya sebagai atasan saat ini, meskipun perintah itu merupakan hal yang sangat dibencinya. "Oke... oke... cukup satu kali ini aja gue ngedengerin perintah gak masuk akal lo ini. Karna lo boss gue, jadi gue ikutin perintah lo ini." Andrew langsung mengambil coffee yang ada diatas meja dan meninggalkan Marco dengan kesal. Sementara Marco duduk dikursinya dengan tersenyum puas karena berhasil membuat Andrew mengikuti permintaannya.                                                                                             *** Andrew berjalan menuju meja Rey sambil membawa nampan berisi coffee Vietnam. Ia meletakkan kopi itu ke hadapan Rey dengan perlahan. "Ini Coffee lo." "Thanks, Ndrew." Kemudian Andrew langsung duduk berhadapan dengan Rey. Ia menatap Rey dengan tajam dan kebencian yang begitu membara. Sangat terlihat Andrew tidak menyukai situasi dimana ia harus berbicara dan menatap Rey. "Sekarang lo mau ngomong apa? Cepetan. Kerjaan gue bukan cuma ngedengerin satu pelanggan doang," kata Andrew sambil menyilangkan tangannya. Dengan penuh kehati-hatian Rey mencoba untuk membuka percakapan dengan Andrew. Ia menyadari bahwa moment ini begitu sulit ia dapatkan kembali. Entah bagaimanapun caranya Rey bertekad untuk meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. "Ndrew... gue mau tau lo kenapa kayak gini ke gue? Apa salah gue?" tanya Rey. "Gue disini cuma ngikutin perintah Marco, boss gue. Dalam perintah itu gak ada yang menyebutkan gue harus menjawab pertanyaan lo. Gue cuma disuruh MENDENGARKAN penjelasan lo," kata Andrew dengan nada yang tajam. Andrew benar-benar terlihat terpaksa bertemu dan mendengarkan Rey.  "Oke, Ndrew. Gue gak paham kenapa lo marah sama gue. Gue juga gak ngerti kenapa lo dibawa pergi ke Bali. Lo pindah kesana dan sekolah disana. Lo juga gak bisa gue hubungi. Lo gak jawab telepon gue, chat gue, atau sms gue. Kenapa lo juga gak hubungin gue balik?" tanya Rey. "Oke. Ada lagi yang perlu gue dengarkan?" tanya Andrew dengan senyum sinis dan sikap acuh. "Ndrew.... kayaknya lo mulai berubah, sejak gue memberikan kertas itu ke bokap lo. Kemarahan dan kebencian lo ke gue ini, pasti ada hubungannya dengan Devina kan? Bener gak?" tanya Rey. Andrew terlihat mulai terusik ketika nama Devina terlontar dari mulut Rey. Emosi dan kebencian semakin terlihat dari tatapan mata Andrew. "Lo udah kelar belum sih? Gue muak dengerin lo terus berlama-lama. Sok polos dan gak tau apa-apa. Gue muak liat muka lo!" ucap Andrew sambil menunjuk Rey dengan penuh emosi. Andrew bangkit dari posisi duduknya dan hendak pergi meninggalkan Rey. Akan tetapi Rey berusaha sekuat tenaga menahannya dan mencoba menyelesaikan perkataannya. Ia tidak bisa membiarkan Andrew pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasannya. "Ndrew... surat itu bukan gue yang nulis! Itu Devina yang nulis! Gue juga gak tau apa isi surat itu. Devina ngelarang gue buat buka dan nyuruh langsung kasih surat itu ke bokap lo. Kemudian lo tiba-tiba lagsung pindah ke Bali dan lo sekarang bersikap kayak gini ke gue. Gue gak paham salah gue itu apa?! Gue gak paham, Ndrew!" teriak Rey sambil mencengkram bahu Andrew. "Apa lo bilang?!" Andrew syok dan terdiam beberapa saat. Matanya terbelalak menatap Rey tak percaya. Kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Rey terasa seperti petiryang sedang menyambar tubuhnya. CONTINUED  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD