3. Memories (1)

2765 Words
                                                                                *** 3 Tahun yang lalu... Andrew membuka mata dan melihat pemandangan yang sangat jarang terjadi didalam hidupnya. Kedua orang tuanya kini ada dihadapannya sedang Melihat dirinya yang sedang terbaring lemas. Terlihat kekhawatiran dari wajah Clarissa Hamston, mamanya Andrew. Kepala Andrew dibelai dengan penuh kasih sayang dan tangannya digenggam oleh mamanya. Sementara Royen Hatson, papanya Andrew masih dengan sikap dinginnya. Meskipun begitu, Andrew dapat melihat kecemasan dari sorot mata papanya. "Andrew, kamu tidak apa-apa, Nak? Apa yang dirasain sekarang?" tanya Clarissa penuh khawatir. "Ini dimana? Rumah sakit?" tanya Andrew bingung. Andrew tidak ingat apa yang telah terjadi padanya. Seingatnya, terakhir kali ia sedang berjalan keluar dari gedung sekolah, lalu mendadak pandangannya menjadi gelap dan tak sadarkan diri. Kemudian sekarang ia melihat dirinya terbaring diranjang dengan jarum infus ditangannya. "Kamu sedang di rumah sakit Permata Hati, Nak. Kata dokter kamu kena tifus dan anemia. Sepertinya kamu kecapekan dan juga suka jajan sembarangan. Mama pikir kamu harus menghentikan sementara kegiatan kamu yang gak penting itu. Basket, taekwondo, dan tinju. Kamu juga mulai sekarang harus bawa bekal. Pokoknya kamu fokus ke sekolah dulu aja," perintah Clarissa dengan tegas. "Tapi, Ma...." "Tidak ada kata tapi Andrew. Kamu harus menuruti semua perkataan mama kamu!" ucap Royen tegas. Ketika kedua orang tuanya telah bersepakat, Andrew tau tidak ada pilihan lain baginya selain hanya bisa menuruti perkataan mereka. Andrew merasa sedih harus kehilangan aktivitas yang sangat disukainya itu. Padahal hanya kegiatan-kegiatan itu yang mampu menghilangkan kesepiannya. Orang tua Andrew terlalu sibuk mengurus perusahaan yang diwarisan oleh kakeknya, Hamston Group. Dalam sebulan Andrew hanya bisa melihat orang tuanya di rumah kurang dari sepuluh kali. Keberadaan Andrew sebagai pewaris Hamston Group juga dirahasiakan oleh orang tuanya. Terutama oleh papanya, Royen Hatson. Papanya tidak ingin musuh bisnisnya mencelakakannya. Oleh karena itu, nama 'Hatson' bahkan dihilangkan dari akte kelahirannya. Bahkan ketika ia masuk dan keluar rumah, Andrew selalu menutup wajahnya dengan masker. Hanya supaya tidak ada musuh bisnis orang tuanya yang dapat mengetahui wajahnya dan mencelakakan dirinya. Karena itu Andrew lebih suka berada diluar rumah dan menikmati aktivitas bela diri serta olah raganya. Ia lebih bebas dan tidak perlu takut jati dirinya terbongkar. Membayangkan kedua orang tuanya kini menyuruhnya untuk belajar dan dirumah, sungguh menyiksa batinnya. Meskipun wajah Andrew menunjukkan kesedihan, akan tetapi kedua orang tuanya tidak menanggapinya dan malah mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain. "Andrew, mama juga minta maaf kalau ruangan yang tersedia di RS ini hanya tinggal kelas 1. Kamu juga punya teman kamar disebelah. Dia anak perempuan dan seusia kamu juga," ucap Clarissa. "Anak perempuan? Kok bisa satu kamar, Ma?" Tanya Andrew bingung. Karena biasanya jika berbeda jenis kelamin, tidak bisa berada dalam satu kamar rumah sakit. "Iya. Cuma kamar ini yang tersisa. Mama kenal dekat dengan direktur dan pemilik rumah sakit ini. Jadi mama minta ijin supaya kamu bisa dirawat sementara disini. Mereka oke-oke aja asalkan wali pasien yang lainnya gak keberatan. Ya hasilnya kamu diperbolehkan untuk ada di kamar ini. Nanti kalau ada kamar VVIP atau VIP yang kosong, kamu pasti akan dipindahkan ke sana." "Oh gitu." Andrew menatap tirai yang menjadi pemisah ranjangnya dengan ranjang anak perempuan yang diceritakan mamanya itu. Ia mulai penasaran akan sosok pasien perempuan yang ada disebelahnya. "Andrew, mama dan papa sudah membatalkan dua meeting penting supaya kami bisa menemani kamu sampai sekarang. Tapi ada satu meeting yang gak bisa kami batalkan. Klien ini besok sudah harus kembali ke UK, sementara kita harus tanda tangan kontrak dengan mereka. Klien ini........." Andrew memotong perkataan mama nya, "Sudah ma. Aku paham. Mama dan papa harus pergi kan. Yaudah pergi aja. Kepala ku tambah pusing ngedengerin penjelasan mama. Toh aku juga udah biasa sendiri." "Maafkan kami ya sayang." Clarissa merasa bersalah harus meninggalkan anaknya seorang diri. "Iya. Gak papa," Jawab Andrew. "Jangan lupa minum obatnya. Bibi surti akan menemani kamu disini. Oh ya, dilemari ini sudah mama masukkan mainan dan buku-buku komik kamu. Biar kamu gak bosan." Clarissa membuka lemari kecil yang ada disebelah ranjang Andrew dan menunjukkan isinya. "Iya, Ma," jawab Andrew. "Yaudah kalo gitu mama pergi ya," pamit Clarissa sambil mengecup kening anaknya. "Papa juga pergi. Kamu jaga diri," ucap Royen singkat sambil menepuk pundak anaknya. "Iya, Pa... ma..." Setelah kedua orang tuanya keluar dari ruangan, Andrew menatap langit-langit kamar rumah sakitnya dengan sedih. Ia meratapi kesendirian dan kesepian yang dirasakannya saat ini. Sebenarnya Andrew menginginkan hal yang biasa dirasakan pasien pada umumnya yaitu dirawat oleh keluarga. Namun ia juga menyadari bahwa hal itu terlihat sangat mustahil baginya. Status orang tuanya sebagai pemilik dan pengelola Hamston Group tentu menjadi penghalang terbesar untuk mewujudkan keinginannya itu. Kehadiran orang tuanya terasa benar-benar mewah baginya. Hamston Group terdiri dari perusahaan bidang televisi, retail, ekspedisi, elektronik, dan memiliki banyak mall/pusat perbelajaan di Indonesia. Orang tuanya tentu saja akan lebih memilih mengikuti rapat dan meeting dengan klien, dibandingkan harus menghabiskan waktu bersamanya diruangan ini. "SRRREEEKKKK!" Tiba-tiba terdengar suara tirai yang bergeser dan terbuka. Seorang anak perempuan dengan rambut panjang sepinggang,  menyapanya dengan senyum yang cantik. "Hai, nama kamu siapa?" "Aaa... Andrew," jawab Andrew gugup.  Beberapa detik Andrew diam terpaku dan menatap wajah anak perempuan itu. Andrew akhirnya dapat melihat anak perempuan yang diceritakan oleh mamanya tadi. "Oh. Hai Andrew. Aku Devina Priciliana. Kamu bisa panggil aku Devina. Aku seneng deh kamu ada disini. Jadi aku gak akan ngerasa bosan di kamar ini," kata Devina sambil tersenyum dengan cantik. Andrew memandang kagum anak perempuan yang ada dihadapannya kini. Rambut Devina panjang sepinggang bewarna cokelat tua yang terurai dengan cantik . Ia juga memiliki kulit putih dengan bibir bewarna pink. Wajahnya tetap cantik alami meskipun sedang sakit. "Heloo... kamu kenapa ngelamun? Hahahaha." Devina tertawa melihat tingkah aneh Andrew yang tiba-tiba diam mematung. "Eh... ehmm... gak papa kok. Oh ya, kamu usia berapa?" tanya Andrew. Memakai kata aku-kamu terasa aneh bagi Andrew. Disekolah ia terbiasa memakai gue-lo ketika sedang bercakap dengan teman. Tetapi karena Devina yang memulai, Andrew hanya mengikutinya. "14 tahun. Kamu?" tanya Devina balik. "Sama. Kita seumuran kalo gitu. Kamu sakit apa?" Tanya Andrew penasaran. "Aku punya gangguan ginjal. Mungkin sebentar lagi akan gagal ginjal," cerita Devina sambil tetap mempertahankan senyumnya. Seolah itu bukan masalah besar baginya. Andrew terdiam mendengar jawaban perempuan manis yang ada dihadapannya. Ada rasa kekaguman dari tatapan mata Andrew ketika melihat Devina tetap tersenyum walaupun sedang menceritakan penyakitnya. "Kamu enteng banget ceritanya," kata Andrew. "Aku udah sakit ini dari kecil. I have accepted myself and my situation. Jadi aku bisa cerita dengan santai." Andrew kembali terdiam. Detik itu ia dapat merasakan ketegaran yang Devina miliki ditengah cobaan hidup yang ia alami. Kecantikan hatinya dapat ditangkap oleh mata Andrew, sehingga menambah kekaguman yang ia rasakan pada gadis cantik itu. "Kenapa jadi kamu yang terlihat sedih hahaha. Kamu sakit tifus? Wah kalo gak makan sembarangan, ya berarti kamu kecapekan." Devina menatap dan tersenyum kearah Andrew. "Iya nih. Tapi ada bagusnya juga ternyata. Kita jadi ketemu dan kenalan, Kan. Hahaha," goda Andrew. Devina tersenyum. "Kamu mau apel?" Devina menyodorkan sebuah apel merah ke Andrew. "Gak, Dev. Aku lagi gak nafsu makan. Gimana kalo kita main stacko uno aja?" ajak Andrew. "Hah? Mainan apa itu? Aku gak pernah main itu. Yah karna aku home schooling, jadi gak punya teman untuk diajak main. So aku kudet deh hahaha." "Nah yaudah kita main. Mama aku taruh stacko uno dilemari ini." Andrew membuka lemari yang ada disebelah ranjangnya dan mengeluarkan kotak permainan stacko uno miliknya. "Kata seorang teman, uno itu seperti penyelamat suasana hahaha. daripada krik... krik..." ucap Andrew. Andrew duduk dan memposisikan bed table diantara ranjangnya dan ranjang Devina. Kemudian mengeluarkan balok-balok stacko uno dari bungkusnya dan menyusunnya diatas meja. "Jadi devina... kita berdua harus ambil satu persatu balok. Nah siapa yang pas ngambil balok terus bangunannya jadi rubuh, maka dia yang kalah. Aku tunjukkin cara mainnya ya." Andrew kemudian menjelaskan cara dan peraturan bermain dengan detail kepada Devina. Devina terlihat memperhatikan penjelasan Andrew dengan serius. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang mengajaknya bermain. Devina terlihat benar-benar sangat antusias untuk segera bermain. Setelah Devina memahami cara dan peraturan permainannya, mereka akhirnya memulai permainan. Beberapa menit permainan telah berlangsung, bangunan balok stacko uno itu mulai goyang dan sekarang giliran Andrew untuk menarik balok. "Hayoooo lho, Ndrew. Udah goyang banget itu. Tanda-tanda roboh itu." Devina tertawa melihat muka Andrew yang tegang saat menarik balok. "Bentar, Dev. Ini bisa kok. Pasti bisa," ucap Andrew optimis. BRUUUUUKKKK! Bangunan balok stacko seketika rubuh, Ketika Andrew menarik salah satu balok. Devina tertawa terbahak-bahak merayakan kemenangannya. Sementara Andrew memukul pelan meja dan meratapi kekalahannya. "Terima kasih ya Andrew. Aku udah lama banget gak tertawa keras seperti ini. Aku bener-bener sangat happy," kata Devina sambil tersenyum dan menatap Andrew. "Sama-sama, Dev. Aku juga happy kok. Besok kita jalan-jalan ke atap rumah sakit yuk, sambil liat matahari terbenam. Kamu juga butuh udara segarkan. Ngendap di ruangan ini terus juga gak bagus sebenarnya," ajak Andrew. "Tapi aku masih belum kuat untuk jalan kesana, aku harus pakai kursi roda. Sementara kamu juga masih sakit," kata Devina. "Udah tenang aja. Aku pasti kuat dorong kursi roda wanita cantik hahaha. Tinggal liat kamu, otot ditanganku pasti muncul hahaha," canda Andrew sambil menunjukan otot tangannya. "Apaan sih, Ndrew hahaha." Devina tertawa melihat tingkah Andrew yang dimatanya lucu dan manis.                                                                                         *** Andrew mendorong kursi roda Devina dan membawanya ke taman atap rumah sakit. Sungguh susah membuat Devina mau untuk menerima tawarannya ini. Ia harus merengek sepanjang hari untuk berhasil membujuknya. Andrew merasa usaha kerasnya membujuk Devina tidak sia-sia. Devina terlihat menikmati pemandangan dan udara sore hari yang terasa segar. Taman diatap rumah sakit juga terlihat cukup indah. Terdapat beberapa pohon cemara dan bunga-bunga yang memanjakan mata. Devina mengelus beberapa bunga mawar merah yang bermekaran cantik disana. "Akhirnya kita menemukan udara bebas ya, Dev. Aku bener-bener sumpek di kamar terus. Kamu happy gak aku bawa kesini?" tanya Andrew. "Iya aku happy. Disini memang enak dan menyegarkan. Apalagi bersama dengan teman sepertimu," kata Devina  Detik itu Devina merasa bersyukur dan beruntung Andrew ada disisinya. Menemani hari-hari sepinya dan membuatnya selalu tersenyum. Devina dapat merasakan usaha tulus Andrew untuk terus menghiburnya. "Dev, coba rasain angin segarnya deh." Andrew menutup matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. "Dev ikutin aku. Hirup udara yang segar ini. Nanti ketika kita balik ke kamar, kita akan menghirup udara pengap lagi," ucap Andrew. Devina akhirnya mulai menutup matanya dan merasakan terpaan angin sore. Cahaya sinar matahari yang mulai terbenam menyinari wajah cantiknya. Perlahan air mata Devina mulai menetes. Rasa syukur dan kesedihan berkecamuk didalam hatinya. Devina bersyukur ia dapat menikmati hari ini. Ia dapat merasakan nafas dan jantungnya yang masih berdetak. "Tuhan aku ingin sembuh." Tiba-tiba kalimat itu terucap dari bibir Devina. Andrew yang mendengar kalimat Devina itu, menjadi terkejut dan lagsung menatap Devina. Ia terdiam ketika melihat Devina ternyata menangis dengan mata terpejam. Devina perlahan membuka matanya dan menatap Andrew. "Ndrew, hujan pasti akan berakhir dan pelangi akan datang. Badai juga pasti ada akhirnya dan berganti dengan kedamaian. Tangisan juga akan berakhir dan berganti dengan senyuman. Begitu juga dengan kesakitan juga pasti akan berakhir dan berganti dengan kesembuhan. Semua yang kita alami pasti ada akhirnya," ucap Devina dengan menatap Andrew begitu lekat. Andrew sebenarnya tidak sepenuhnya paham akan ucapan Devina. Akan tetapi ia juga tidak ingin membuat Devina menjadi bersedih jika ia bertanya lebih mendalam. Oleh karena itu, Andrew menyimpan kebingungannya dalam diam. "Iya, kamu pasti sembuh kok Dev. Aku percaya itu," kata Andrew. "Aku pengen kamu dengerin lagu ini. Lagu 'berserah' dari Gamaliel dan Audrey." Devina memasangkan earphone ke telinganya dan telinga Andrew. Mereka mulai mendengarkan lagu itu dan menghayati setiap syair lagunya. Seolah setiap kalimatnya melambangkan perasaan Devina.                                                                                        *** Lima hari kemudian Andrew dinyatakan dokter sudah boleh pulang. Sementara Devina masih harus dirawat, entah sampai kapan. Kondisi kesehatan Devina tidak semakin baik. Fungsi ginjalnya semakin menurun dan mengharuskannya rutin untuk cuci darah. Meskipun kondisi Devina semakin parah, sama sekali tidak terpancar dari wajahnya kesedihan. Wajah Devina dimata Andrew tetap cantik. Mungkin karena ia dapat melihat ketabahan dan ketangguhan untuk bertahan, selalu terpancar di wajah Devina. Andrew menghampiri ranjang Devina dan menggenggam tangannya dengan lembut. Ia bersiap untuk mengucapkan kalimat yang sangat dibencinya. Karena perkataannya akan membuat Devina menjadi sedih. "Dev... maaf aku disuruh pulang sama dokter. Aku sebenernya mau temenin kamu disini," kata Andrew dengan tatapan sedih. "Gak papa, Ndrew. Makasi ya udah jadi teman yang baik. Makasi ketawa-ketawanya. Makasi udah nemenin aku. Semoga kamu bisa terus sehat, jadi gak perlu balik kesini lagi," kata Devina dengan tersenyum. "Apaan sih. Udah kayak mau perpisahan aja. Nanti aku bakal tetep kesini. Tetep main-main sama kamu. Tapi mungkin kita ketemunya gak sesering waktu aku di rawat disini. Pas aku dirawat, kita bisa ketemu dari aku buka mata untuk bangun sampai tutup mata untuk tidur. Tapi mulai besok aku ketemu kamu cuma setelah aku pulang sekolah. Nanti kita juga bisa saling chat. Ini bukan perpisahan kok Devina," ucap Andrew sambil membelai kepala Devina. "Makasih ya, Ndrew," ucap Devina yang menahan air mata karena rasa haru.                                                                                      *** Setiap istirahat, Andrew mengirimkan pesan Line kepada Devina. Sebisa mungkin Andrew menemani Devina setiap saat meskipun hanya lewat chat. Hal ini dilakukannya semata-mata hanya supaya Devina tidak merasa kesepian. Andrew Dev, lagi apa? Udah makan? Devina Lagi makan. Yah seperti biasa, makanan RS. Kamu? Andrew  Aku baru mau makan. Ini lagi mau jalan ke kantin. Nanti pulang sekolah aku ke RS ya seperti biasa. Devina  nanti kamu kecapekan pula. Sakit lagi, nanti dirawat lagi. Sesekali kamu langsung pulang aja. Aku gpp kok. Aku paham. Andrew Kalau aku sakit bagus dong. Jadi kita bisa lebih sering ketemu. Devina  Aku gak mengharapkan ditemani dengan cara seperti itu. Jaga kesehatan. Jangan sakit! Andrew  Iya, makasih ya. kamu juga jangan lupa minum obat. semangat ! Andrew tersenyum melihat layar handphonenya. Meskipun niat awal Andrew ingin menemani Devina, akan tetapi sebenarnya justru ia yang terhibur dengan kehadiran Devina dalam hidupnya. Semula Andrew merasa hidupnya membosankan dan hanya menjani siklus aktivitasnya seperti biasa. Namun sejak ada Devina, Andrew merasa lebih semangat dalam menjalani hidup. Devina memberinya sudut pandang baru tentang kehidupan. Rey yang sejak tadi memperhatikan tingkah Andrew dari belakang merasakan sesuatu yang aneh pada sahabatnya itu. Rey melihat Andrew tersenyum dan tertawa sendiri ketika menatap layar handphone. Tingkah Andrew dilihat Rey benar-benar seperti orang yang sedang kasmaran. Rey menghampiri Andrew dan menepuk bahunya dengan kencang. "Woy! Lo ngapain sih? Gue liat lo kayak orang gila tau gak. Senyam-senyum sendiri. Mesam-mesem ngeliatian HP. Chat-an sama siapa sih?" tanya Rey sambil merampas HP Andrew. "Woy! Apaan sih. Balikin HP gue Rey!!" Teriak Andrew sambil berusaha merembut kembali HP nya. "Eiitttsss. Ntrar dulu. Gue penasaran hahaha. Devina? Siapa itu Devina? Ciiieeee Andrew punya pacar," goda Rey yang kemudian mengembalikan HP tersebut ke Andrew. "Ah rese emang lo Rey. Dia belum jadi pacar kok. Masih temen." "Berarti bakalan jadi pacar dong?" tanya Rey penuh selidik. "Emph... Maybe... Yang jelas gue pengen ada disamping dia setiap hari. Sebisa mungkin setiap hari," ucap Andrew penuh keyakinan. "Cie ilah. Emang lo jalan kemana aja sama dia?" tanya Rey penasaran. "Gak kemana-mana Rey. Dia sakit. Jadi gue hampir setiap hari mampir ke rumah sakitnyanya. Udah enam bulan gue melakukan rutinitas itu. Tapi anehnya gue gak ngerasa bosan atau capek," cerita Andrew sambil tersenyum. "Enam bulan?! Gila lo. Pantesan aja lo jarang gue liat akhir-akhir ini. pulang sekolah langsung ngacir aja kaki lo. Emang ya pesona perempuan itu mengalahkan pesona lapangan basket, taekwondo, dan tinju ckckck. Oh ya, Enam bulan di rumah sakit? Lama amat bro. emang sakit apaan doi?" tanya Rey dengan penuh heran. "Ginjalnya punya gangguan. Gue juga gak begitu tau nama medis sakitnya apa. Tapi katanya ada komplikasi juga. Gue gak enak nanya-nanya mendalam. Takut dia nanti sedih." cerita Andrew. "Ndrew, lo serius suka sama cewek yang kayak gitu? Di sekolah kita banyak cewek cantik kok. Kenapa lo gak ngegebet mereka aja? Kenapa harus cewek itu? kita masih SMP, Ndrew. Pacaran mah buat main-main aja dulu. Gak usah terlalu serius. Gak usah yang ribet-ribet. Apalagi sama cewek yang lagi sakit parah gitu," kata Rey dengan ekspresi sangat serius. "Gue juga gak tau kenapa bisa suka dia, Rey. Pertama kalinya gue kayak gini. Dia cantik. Semuanya cantik. Bahkan ketika dia sedang mengalami sakit seperti sekarang, dia semakin cantik. Kesabaran, ketangguhan, kebaikan hatinya, dan senyumnya seakan meluluhkan gue setiap hari. Gue pengen menghibur dia setiap hari, agar dia gak pernah sedih," kata Andrew sambil membayangkan Devina. "Bro... Wah gila lo! Lo beneran suka kayaknya. Wah... gue jadi penasaran kayak apa tuh cewek. Kapan lo pertemukan gue sama dia? Gue penasaran. Pengen kenalan," pinta Rey. "Boleh kok. Besok ikut gue ke rumah sakit aja. Nanti gue kenalin," kata Andrew. "Oke siap. Besok gue ikut." Didalam hati, Andrew benar-benar tidak sabar menunggu waktunya jam pulang sekolah. Ia ingin segera bertemu dengan Devina. CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD