4. Memories (2)

2693 Words
                                                                                    *** Seperti rutinitas biasanya, sepulang sekolah Andrew selalu melangkahkan kakinya menuju rumah sakit. Andrew sekarang tau betul seluk beluk tempat rumah sakit itu terutama jalan menuju kamar Devina. Karena setiap hari ia selalu singgah kesana. Sesampainya didepan pintu kamar Devina, Andrew berhenti sejenak. Ia melihat pintu kamar ruang rawat Devina tidak tertutup sepenuhnya. Andrew mengintip dari celah pintu untuk melihat keadaan didalam kamar. Didalam kamar ternyata ada dokter dan Rita, mama angkatnya Devina. Devina memang bukan anak kandung. Rita menemukan Devina ketika bayi didepan pintu rumahnya. Entah siapa yang menaruhnya. Andrew mendekatkan telinganya ke celah pintu untuk mendengarkan obrolan mamanya Devina dan dokter. Meskipun apa yang dilakukan oleh Andrew ini bisa dikatakan menguping, namun ia tidak peduli. Rasa sayangnya pada Devina yang begitu besar membuat rasa ingin tau juga menjadi besar akan kondisi Devina. "Ibu... kondisi Devina terus memburuk. Obat-obatan tidak membawa pengaruh yang signifikan untuk perbaikan kondisi kesehatan Devina. Satu-satunya cara agar Devina dapat bertahan lebih lama adalah transplatasi ginjal. Tapi tidak ada satupun keluarga yang cocok ginjalnya dengan Devina. Apakah ibu dan keluarga kandung Devina sudah berhasil ditemukan?" tanya dokter. "Belum, Dok. Saya sudah mencari ke mana-mana dan mengerahkan semua jaringan yang saya punya. Tapi saya tidak menemukan keluarga kandungnya, Dok. Apakah ada cara lain untuk menyelamatkan anak saya ini, Dok? Saya mohon, Dok," tanya Ibu angkat Devina sambil berurai air mata. "Maaf, Bu. Tidak ada cara lain. Mari kita berharap pada mukjizat Tuhan saja. Saya permisi dulu, saya harap ibu kuat, agar Devina juga tetap kuat," kata Dokter sambil menepuk bahu Ibu angkat Devina. Kemudian dokter keluar dari kamar Devina dan tidak berapa lama Ibu Devina juga keluar dari kamar sambil masih terus menangis. Mungkin Rita tidak ingin Devina melihat air mata dan suara tangisannya, sehingga ia memilih untuk melampiaskan kesedihannya diluar kamar anaknya itu. Andrew hanya terdiam di pintu. Dia begitu terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia tidak menyangka bahwa Devina sedang dalam kondisi yang begitu buruk dan penuh kesakitan. Selama ini Devina hanya menunjukkan senyum dan keceriaannya kepada Andrew. Dengan langkah yang perlahan Andrew memasuki kamar rumah sakit Devina. Devina terlihat sedang tidur. Andrew duduk disebelah ranjangnya dan memegang tangan Devina. Andrew menatapnya sambil membelai kepalanya dengan lembut. "Kalau kamu menatap aku terus, ntar bisa suka lho hahaha," kata Devina tiba-tiba. Ternyata Devina tidak tidur. Ia hanya berpura-pura tidur didepan mamanya tadi. "Udah kok," jawab Andrew sambil tersenyum dan dibalas senyuman oleh Devina. "Kamu tadi denger kata dokter ya?" tanya Andrew. "Iya aku dengar kok. Tadi cuma pura-pura tidur aja. aku pikir mama akan lebih nyaman mendengar perkataan dokter, ketika aku sedang tidur. Jadi mama tidak akan berpura pura kuat didepanku," kata Devina. "Kamu juga sedang berpura-pura kuat didepanku. Sometimes it's ok to not be ok, Dev." Andrew menatap Devina dengan lekat. Seolah tatapannya bisa menembus masuk kedalam hati Devina. Perkataan Andrew itu seakan meruntuhkan benteng pertahanan Devina. Air mata Devina mulai mengalir dan membasahi pipinya. Andrew yang melihat Devina menangis, langsung memeluknya dengan penuh kasih dan membelai kepalanya. Namun dalam rangkulan Andrew justru tangisannya semakin keras. Ketangguhan Devina seakan runtuh saat itu. Selama sepuluh menit Devina menangis dalam pelukan Andrew. Matanya mulai bengkak karena terlalu banyak menangis. Setelah Devina mulai bisa menenangkan diri dan tangisannya mulai mereda, ia mulai melepaskan rangkulan Andrew dan menatapnya dengan lekat. "Terima kasih ya telah ada dan masih ada disisiku sampai sekarang. I'm so grateful to have you, Ndrew." "I am also very grateful to know you and have you Dev," kata Andrew sambil membelai kepala Devina dan menghapus sisa air mata dipipinya. Devina mulai bisa kembali tersenyum meskipun matanya masih sembab karena menangis. Kehadiran Andrew benar-benar menguatkan dan menghiburnya. Sebuah ide terlintas dipikiran Andrew untuk menolong dan menyelamatkan Devina. Meskipun ia ragu apakah idenya akan berhasil, tapi ia ingin mencobanya. Menurutnya gagal lebih baik ketimbang tidak berbuat apapun. "Dev, bagaimana jika aku juga menjalani tes kecocokan ginjal? Siapa tau ginjal aku cocok dengan kamu," kata Andrew dengan tatapan yang serius. Devina cukup terkejut mendengar tawaran Andrew. Meskipun ia mengharapkan donor ginjal yang cocok untuknya, tapi tidak dari Andrew. Ia tidak akan pernah mau menerimanya dari Andrew. "Enggak! Aku gak mau ginjal kamu! Ndrew, gak ada jaminan semua akan berjalan lancar setelah aku mendapat transplantasi ginjal. Bagaimana jika aku mati? Aku akan bawa mati ginjal kamu. Dan kamu hanya hidup dengan satu ginjal. Lalu bagaimana jika satu ginjal itu kenapa-kenapa. Aku gak mau! Aku gak mau ginjal kamu!" tolak Devina dengan tegas. . "Tapi Dev, kalo ginjal ku cocok. Kamu memiliki kemungkinan untuk terus hidup. Kamu dan aku bisa sama-sama hidup. Aku masih bisa hidup dengan normal walau hanya dengan satu ginjal kok, Dev. Kamu gak perlu khawatir." Andrew berusaha meyakinkan Devina. "Enggak, Ndrew. Aku pokok nya gak mau! Aku gak mau ginjal kamu. Jangan sekali-kali kamu berani menjalani tes kecocokan ginjal itu! Aku gak mau!" Devina terlihat emosi dan marah ke Andrew. Andrew terdiam melihat kemarahan Devina. Namun tekadnya untuk membantu Devina jauh lebih besar. Didalam hati Andrew berjanji akan menjalani test kecocokan ginjal tanpa sepengetahuan Devina. "Baiklah. Aku tidak akan menjalani test itu. Bagaimana kalau kita main stacko uno lagi aja? Supaya kamu gak usah marah-marah sama aku." Andrew yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Oke baiklah. Ayo kita main." Kata Devina. Namun Devina juga sesunggunya masih curiga Andrew tidak akan menuruti permintaannya. Devina sangat mengenal Andrew. Ia dapat memperkirakan apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Andrew.                                                                                  *** Keeseokan harinya sepulang sekolah. Rey menghampiri Andrew dan merangkulnya dengan keras. Ia ingin menagih janji Andrew kemarin untuk mengenalkannya pada Devina. "Woy bro! Jadi gak lo kenalin cewek lo ke gue? penasaran gue nih. Hahaha." Tanya Rey. "Boleh. Kalo gitu lo nebeng mobil gue aja. kita ke rumah sakitnya bareng. Nanti gue bilang ke supir buat anterin lo pulang," kata Andrew. "Oke deh! Mantap! Ayo kita jalan," kata Rey dengan bersemangat. Rey segera berjalan bersama Andrew menuju parkiran mobil. Disana supir Andrew telah menunggu mereka dan siap mengantar menuju rumah sakit. Hanya perlu waktu tiga puluh menit untuk sampai ke rumah sakit. Rey dengan penuh semangat berjalan masuk ke dalam gedung. Sementara Andrew hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Rey berdiri dibelakang Andrew ketika mereka mulai masuk ke kamar Devina. Andrew dengan lembut menyapa Devina dan mengenalkan Rey padanya. "Dev, kenalin nih sahabat aku dari kecil. Namanya Rey. Kami satu sekolah juga," Kata Andrew. "Hai, Dev! Wah ternyata lo cantik juga ya hahaha," Goda Rey. Andrew menatap sinis Rey yang terlihat ingin menggoda Devina. Ia sangat paham betul keisengan sahabatnya itu pada gadis-gadis cantik. "Woy! Jangan macem-macem lo!" ucap Andrew sambil menyikut pelan pinggang Rey. "Santai, Bro! Gue cuma bercanda. Gak bakalan gue tikung kok hahaha. Tenang. Santai aja," canda Rey. "Hai Rey. Senang bisa kenal kamu." Kata Devina sambil tersenyum. "Iya Dev. Gue juga senang," jawab Rey. Untuk mencairkan suasana agar mereka bertiga dapat lebih akrab, Andrew mengeluarkan stacko uno yang ia bawa didalam tasnya. "Gimana kalo kita main stacko uno aja?" Andrew menunjukan permainan stacko uno yang dibawanya. "Ndrew, aku boleh minta tolong gak? Air mineral disini habis. Aku mau minta kamu untuk membelinya dikantin rumah sakit," kata Devina tiba-tiba dengan tatapan memohon. "Yaudah. Aku beliin. Tapi kalian jangan main tanpa gue ya. Awas lo Rey!" Andrew mengepalkan tangannya ke arah Rey untuk memperingatkannya supaya tidak mengganggu Devina. "Iya. Oke. Santai, Bro hahaha. Gak bakal gue apa-apain cewek lo," kata Rey sambil tertawa. Setelah Andrew pergi, Devina tampak mengeluarkan sebuah amplop dari bawah bantalnya. Devina langsung menatap Rey serius seolah ingin membincangkan hal yang penting padanya. "Rey, kamu sahabatan dari kecil sama Andrew, Kan? Berarti kamu kenal dong sama orang tua Andrew?" tanya Devina. "Kenal dong, Dev. Orang Tua kami sahabatan. Gue juga udah bermain dengan Andrew sejak kami masih bayi. Kenapa emangnya, Dev?" tanya Rey bingung. "Aku pengen minta tolong sama kamu, Rey. Tapi jangan kasih tau Andrew. Aku mau minta kamu untuk kasih surat ini ke papa atau mamanya Andrew. Aku mohon ke kamu untuk kasih surat ini," pinta Devina sambil memegang tangan Rey. Rey mulai bingung dengan tingkah Devina, terlebih permintaannya yang tidak masuk akal menurutnya. Rey tidak mengerti mengapa Devina ingin memberikan surat kepada orang tua Andrew. "Memang apa isi surat itu?" tanya Rey. "Aku gak bisa cerita isi surat ini dan aku juga mohon ke kamu jangan buka surat ini. Aku minta tolong banget Rey. Tolong kasih ke orang tua Andrew," pinta Devina dengan tatapan memohon. Melihat ekspresi Devina yang sangat memohon bantuannya, Rey mulai terlihat luluh. Ia tidak tega untuk menolak permintaan Devina. Lagipula menurutnya Devina tidak mungkin melakukan hal jahat kepada Andrew. "Oke. permintaan lo gak susah sih sebenernya. Cuma kasih surat doang kan?" tanya Rey memastikan. "Iya. Cuma kasih surat doang kok. Makasi banyak ya, Rey," kata Devina sambil tersenyum.                                                                                     *** Selama tiga jam Rey, Andrew, dan Devina bermain bersama. Andrew dan Rey memutuskan untuk pulang ke rumah. Andrew diminta mamanya menemui guru les barunya. Sementara Rey ingin menemui papa Andrew untuk memberikan surat Devina. Tentu saja hal ini dirahasiakan oleh Rey, sesuai dengan permintaan Devina. "Ndrew... si Paul minta gue temenin beli sepatu. Kayaknya gue gak bisa pulang bareng lo deh," kata Rey. "Lo pacaran sama Paul? Romantis amat dia minta lo nemenin beli sepatu berdua hahaha," Ledek Andrew. "Bukan gitu hahaha. Ah tau lah, emang aneh sih nih anak. Kenapa juga harus gue?" kata Rey berusaha menutupi kebohongannya. "Yaudah.. gak papa. Hati-hati dijalan ya, Bro." kata Andrew. "Iya. Thanks ya," kata Rey. Andrew segera masuk kedalam mobilnya. Sementara Rey segera berjalan mencari taksi untuk pergi ke kantor papanya Andrew. Sesampainya di kantor Papa Andrew, Rey segera pergi ke resepsionis untuk meminta ijin menemui Royen Hatson, ayahnya Andrew. Setelah memberitahukan identitasnya, resepsionis dan petugas keamanan mempersilahkan Rey untuk menemui CEO perusahaan itu di ruang kantornya. Rey benar-benar beruntung kali ini, papanya Andrew sedang tidak ada jadwal meeting dan bisa memiliki waktu untuk menemuinya. Dengan sopan, Rey mulai masuk ke kantor Royen Hatson. Royen Hatson terlihat menghentikan sementara aktivitas kerjanya ketika melihat Rey masuk. Ia tersenyum menyambut kehadiran Rey diruangannya. "Hai, Rey. Tumben kamu ke kantor om. Ada yang bisa om bantu?" tanya Royen. "Hai, Om. Aku cuma mau memberikan surat ini ke Om. Itu titipan dari temannya Andrew. Om baca sendiri aja," kata Rey sopan. Kemudian ia memberikan surat dari Devina dan meletakkannya diatas meja kantor papanya Andrew. "Oke. Nanti om akan baca. Oh ya, gimana kabar papa dan mama kamu. Rey?" Tanya Royen. "Mereka baik kok, Om. Om dan tante sendiri gimana? Sehat kan? Jangan terlalu sibuk om hehehe," kata Rey. "Iya, Rey. Walau dengan kesibukan seperti ini, puji Tuhan om sehat." jawab Royen. "Om, maaf banget nih. Aku harus pamit. Soal nya ada makan malam keluarga. Aku harus hadir disana. Nanti kalau telat aku kena marah hahaha." "Oh gitu, oke deh. Kamu hati-hati di jalan ya. Salam untuk papa dan mama kamu," kata Royen. "Oke om," kata Rey sambil mencium tangan Royen tanda berpamitan. Royen terlihat tersenyum menatap kepergian Rey dari ruangannya.  Setelah Rey pergi, Royen mulai memperhatikan amplop yang ditaruh Rey diatas mejanya. Rasa penasaran mulai dirasakan oleh Royen. Karena baru pertama kali Royen menerima sepucuk surat dari teman anaknya itu. Perlahan ia mulai membuka surat itu dan membaca isinya.          From : Devina To : Mama dan Papa Andrew Selamat sore om dan tante, Perkenalkan nama saya Devina. Saya mengenal Andrew sejak 6 bulan yang lalu, ketika Andrew dirawat di kamar yang sama dengan saya karena sakit tifus. Om dan Tante sangat beruntung memiliki anak seperti Andrew. Dia sangat baik, sangat sabar, sangat lembut, dan perhatian kepada saya yang sedang sakit. Andrew setiap hari menjenguk saya di RS tanpa satu hari pun absen. Dia menemani saya, menghibur saya, dan memperhatikan saya. Saya memiliki kelainan ginjal sejak dari kecil dan sekarang sudah sampai ke tahap gagal ginjal. Karena sakit ginjal ini, kemampuan tubuh saya untuk membuang kalium sangatlah rendah. Hal ini menyebabkan kalium di darah saya sangatlah tinggi, sehingga saya juga mengalami gangguan jantung. Saya bisa saja meninggal secara mendadak. Satu-satunya cara agar saya dapat bertahan lebih lama adalah dengan transplantasi ginjal. Saya harus menemukan pendonor yang memiliki ginjal yang cocok dengan saya. Karena Andrew mengetahui kondisi saya ini, dia menawarkan dirinya untuk menjadi pendonor bagi saya. Saya sangat terharu mendengar hal ini. Andrew memang sangat baik. Saya mengenal Andrew dengan baik. Ketika dia mengajukan dirinya untuk menjadi pendonor bagi saya, saya tau kalau dia memutuskan hal tersebut tanpa pikir panjang dan tidak dengan kondisi kepala yang dingin. Dia tidak memikirkan perasaan orang tua nya dan tidak memikirkan dirinya. Dia hanya ingin saya hidup dan menemaninya setiap hari. Karena saya sangat mengenal anak om dan tante dengan sangat baik, saya juga tau meskipun saya sudah menolak dengan keras tawarannya, dia tetap akan mengajukan dirinya untuk menjalani tes kecocokan ginjal tersebut tanpa sepengetahuan saya. Dan mungkin juga tanpa sepengetahuan om dan tante. Saya menulis surat ini untuk memberitahukan hal ini kepada om dan tante. Saya tidak ingin ginjal Andrew. Saya sangat menyayangi Andrew, saya juga tidak ingin Andrew terluka karena saya. Mungkin memang lebih baik Andrew tidak bertemu dengan saya lagi. Ini yang terbaik untuknya. Jadi dia tidak akan melakukan tindakan bodoh karena saya. Dia juga tidak akan merasakan sakit kehilangan saya dikemudian hari. Andrew tidak akan mendengarkan saya jika saya menyuruhnya pergi. Mungkin om dan tante dapat membuat Andrew berhenti menemui saya. Terima kasih om dan tante telah menghadirkan Andrew di dunia ini, sehingga saya dapat mengenal laki-laki yang baik sepertinya. Regards, Devina Priciliana Setelah selesai membaca surat itu, Royen mulai menelepon istrinya dan menyuruhnya segera pulang ke rumah secepatnya. Emosi Royen seketika memuncak hingga terasa sampai ubun-ubun kepalanya. Ia merasa baru mengetahui hal yang paling konyol didalam hidupnya.                                                                                   *** Sesampainya di rumah, Orang tua Andrew berbicara serius dengan Andrew. Mereka berbicara bertiga di ruang tamu. Royen menatap tajam anaknya itu, ia berusaha mengendalikan amarahnya. Sementara Clarissa duduk dengan penuh ketakutan. Clarissa tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. "Andrew! Siapa itu Devina?!" Bentak Royen. "Papa tau dari mana?!" Andrew tekejut mengetahui fakta bahwa papanya mengetahui tentang Devina. "Untung Rey kasih surat ini ke papa. Papa jadi tau niat kamu yang gak masuk akal itu! Buat apa kamu donor ginjal kamu buat orang lain?! Kamu... wah... papa gak habis pikir sama jalan pikiran kamu!" kata Royen sambil memegang kepalanya tanda frustasi. "Dia bukan orang lain, Pa. Aku sayang dia. Aku ingin dia hidup. Kalo ginjalku cocok, aku dan dia bisa sama-sama hidup," ucap Andrew. "Kamu masih 14 tahun, Nak. Ngerti apa kamu tentang cinta. Ini gak masuk akal! Buat papa ini benar-benar gak masuk akal! Diluaran sana masih banyak anak perempuan cantik yang sehat," ucap Royen dengan nada yang mulai meninggi. "Aku ingin dia hidup, Pa... papa gak akan paham aku. Karna papa lebih paham sama pekerjaan papa. Lebih paham klien papa. Lebih ada waktu buat mereka ketimbang aku. Buat papa mereka lebih penting ketimbang aku. Sama... buat aku, Devina lebih penting dari semuanya! " kata Andrew. PLAKKK!!! Royen menampar dengan sangat keras pipi anaknya. Ia sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. Jalan pikiran anaknya itu benar-benar diluar logikanya. "Mulai besok. Kamu gak usah masuk sekolah! Gak usah ketemu Devina. Kamu akan hidup di Bali! Sekolah dan tinggal di Bali! Papa gak mau ngeliat kamu ketemu Devina itu!" perintah Royen. "Aku gak mau! Aku gak mau!" Teriak Andrew sambil memegang pipinya yang kesakitan. Namun Andrew langsung ditarik dengan kasar oleh Royen masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Sekeras apapun Andrew berteriak dan menangis, tidak akan menggoyangkan keputusan Royen. Royen telah bulat mengambil keputusan untuk memindahkan kehidupan Andrew secepatnya ke Bali. Hal ini dilakukan semata-mata hanya untuk kebaikan anaknya. "Kamu tidak akan keluar dari kamar itu sampai waktunya kamu berangkat ke Bali. HP kamu papa sita!" Teriak Royen didepan pintu kamar anaknya. "Pa... Andrew mohon... Andrew gak mau ke Bali. Andrew mohon, Pa. Andrew gak pernah minta apa-apa ke papa dari kecil. Kabulkan permohonan Andrew, Pa. Andrew cuma pengen disamping Devina. Andrew cuma mau Devina hidup," pinta Andrew sambil menangis dan mendorong pintu kamarnya dengan sekuat tenaga. Namun Royen tetap menghiraukan teriakan permintaan dan tangisan Andrew. Ia tetap berdiri teguh pada keputusan yang diambilnya. Sementara Clarissa hanya bisa menangis dan terdiam menyaksikan anaknya dikurung. Clarissa hanya dapat mengikuti perintah suaminya, meskipun jauh didalam hatinya ia tidak tega membiarkan Andrew hidup seorang diri di Bali. CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD