***
Andrew duduk dihadapan Rey. Wajahnya menunjukan keterkejutan yang luar biasa. Tangannya memegang kepalanya. Ia berusaha mengendalikan dirinya dari rasa syok yang dirasakannya. Selama beberapa menit Andrew masih duduk terdiam.
Rey mulai menyadarkan Andrew dengan menepuk bahunya. Ia mulai merasa khawatir melihat wajah pucat sahabatnya itu. "Ndrew... lo bisa cerita ke gue gak? Sebenernya apa yang terjadi tiga tahun lalu? Kenapa lo begitu terkejut ketika tau bukan gue yang nulis surat itu? Dan sebenarnya apa isi surat itu?" tanya Rey penasaran.
"Kalo bukan lo yang nulis dan ternyata itu Devina, berarti Devina ingin gue pergi dari sisinya. Bokap gue gak nunjukin isi surat itu. Dia cuma cerita dapet surat itu dari lo. Gue berasumsi lo yang nulis. Jadi gue benci sama lo bertahun-tahun. Karna surat itu, gue jadi hidup di Bali. Karna surat itu, gue gak bisa ketemu Devina lagi. Dan karena surat itu, gue gak ada disampingnya saat dia meninggal," kata Andrew sambil menghapus air mata yang mulai jatuh di pipinya.
Rey hanya terdiam melihat Andrew mulai menangis. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat sahabatnya itu menangis. Rey benar-benar dapat merasakan bahwa Devina adalah perempuan yang spesial bagi Andrew.
Rey akhirnya memahami apa yang sebenarnya telah terjadi. Alasan dibalik kepindahan Andrew yang mendadak dan kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka. Ada rasa penyesalan mengapa saat itu ia menuruti permintaan Devina. Seharusnya dulu ia mendiskusikan terlebih dahulu dengan Andrew sebelum meyerahkan surat itu.
"Ndrew, i'm so sorry. Seandainya gue tau surat itu akan berdampak besar buat lo. Gue pasti gak akan turuti permintaan Devina itu. Gue pasti gak akan kasih surat itu. I'm so sorry, Ndrew," kata Rey dengan penuh penyesalan.
"Iya. Gue juga minta maaf, Rey. Selama tiga tahun ini gue membenci lo dan gak ngedengerin penjelasan lo," kata Andrew penuh penyesalan.
"Iya. Gak papa, Ndrew. Dulu kita masih kecil. Wajar aja gak bisa berpikir jernih dan dewasa. Kita masih sangat kekanak-kanakan dulu." Andrew dan Rey akhirnya dapat kembali tersenyum bersama. Setelah tiga tahun ini bertengkar dan terjebak dalam kesalah pahaman.
"Lo tau kenapa Devina nulis surat buat bokap lo?" Tanya Rey.
"Mungkin supaya gue gak terluka. Devina gak mau gue mendonorkan ginjal buat dia. Mungkin dia juga gak mau gue sedih kalo terjadi apa-apa sama dia. Tapi gue juga justru tersiksa di Bali, Rey. Gue merasa bersalah ke dia karena gak bisa disampingnya. Padahal gue udah janji akan datang ke rumah sakit setiap hari buat menemani dan menghibur dia. Tapi ternyata gue gak bisa tepati janji itu. Apalagi ketika gue mendengar kabar dia meninggal, gue hancur Rey. Sakit banget rasanya denger kabar itu. Dan gue lagi-lagi gak bisa ada disana, bahkan disaat terakhirnya," kata Andrew sambil memukul meja dan menangis.
Andrew menyalahkan dirinya. Kesedihan begitu merasuki hatinya. Bayangan Devina masih teringat jelas diotaknya, begitu juga rasa bersalah masih mengakar kuat di hatinya. Wajah Devina yang masih terbayang kuat selalu membawa kesedihan dan penyesalan baginya.
Rey menepuk pundak Andrew. Ia tidak tau harus bagaimana menghibur sahabatnya ini. Hanya tepukan pundak yang dapat Rey berikan sebagai tanda empati akan apa yang dirasakan oleh Andrew. Ia baru tau kalo sahabatnya ini ternyata benar-benar begitu menyayangi Devina. Baru kali ini ia melihat air mata Andrew turun hanya karena seorang wanita.
"Gue harus ketemu bokap gue. Gue harus ambil surat itu kembali. Semoga bokap gue masih nyimpen surat itu," kata Andrew yang kemudian langsung beranjak pergi meninggalkan Rey menuju kantor papanya.
Rey terdiam melihat sahabatnya itu pergi. Ia tau tidak mungkin bisa menahan Andrew. Rasa kemarahan selalu tergambar jelas diwajah Andrew, setiap kali ia berbicara tentang surat Devina. Dan kemarahan itu sekarang tertuju kepada ayahnya.
***
Andrew telah sampai ke kantor papanya dengan menggunakan taksi. Dia menghampiri resepsionis dengan seragam waiter-nya. Tentu saja kehadirannya menarik banyak perhatian dari karyawan kantor papanya yang sedang berada di lobi. Namun Andrew mengabaikan tatapan aneh orang-orang dan tetap fokus pada tujuannya yaitu menemui papanya.
"Saya ingin bertemu dengan Bapak Royen Hatson," kata Andrew dengan tegas.
"Mas sudah punya janji sebelumnya?" tanya resepsionis yang kebingungan melihat remaja dengan berpakaian waiter ingin bertemu dengan CEO perusahaannya.
"Bilang saja anaknya ingin bertemu sekarang juga!" kata Andrew dengan nada emosi.
Resepsionis yang sangat kebingungan itu akhirnya menelepon Pak Royen. Ia sebaiknya menyerahkan keputusan kepada Pak Royen apakah menerima tamu aneh ini atau tidak.
"Selamat sore pak. Ada remaja dengan memakai seragam waiter mengaku anak bapak. Apakah bapak ingin bertemu dengan dia?" tanya Resepsionis tersebut dengan nada penuh kehati-hatian.
"Suruh dia ke ruangan saya sekarang. Pastikan dia tidak membuat keributan disini," perintah Royen.
"Baik, Pak," kata Resepsionis yang tambah kebingungan lagi mendengar respon pak Royen. Bagaimana mungkin CEO perusahaannya menerima seorang waiter masuk kedalam ruangannya.
"Silahkan mas ke ruangannya. Akan saya antarkan," kata Resepsionis.
"Gak perlu. Gue tau kok ruangan bokap gue dimana," tolak Andrew yang langsung pergi menuju ruangan ayahnya.
Sementara resepsionis itu masih berdiri terpaku memandang Andrew yang langsung melenggang pergi dengan bebasnya masuk kedalam.
***
BRAKK!!!
Andrew membuka pintu ruangan papanya dengan kasar. Royen yang sedang menandatangani dokumen tiba-tiba kaget melihat cara kedatangan Andrew yang begitu kasar dan tidak sopan. Terlebih hal itu dilakukan oleh anaknya sendiri.
"Mana surat Devina?! Aku minta surat devina sekarang!" teriak Andrew penuh amarah.
"Satu bulan kamu kabur dari rumah yang di Bali. Dan sekarang kamu muncul didepan papa cuma untuk Devina?!" ucap Royen yang mulai tampak marah melihat kelakuan anaknya.
"Karena papa aku meninggalkan Devina tiga tahun lalu. Dan satu bulan yang lalu aku meninggalkan Papa karena Devina. Apa papa gak paham kenapa aku pergi dari rumah?! Pa... Devina meninggal... Devina meninggal!" teriak Andrew sambil menangis dan memukul meja kantor papanya.
"Terus kenapa? Justru karna anak itu meninggal, kamu seharusnya kembali ke Rumah dan hidup seperti biasa." Royen makin tidak mengerti jalan pikiran anaknya.
"Papa benar-benar jahat! Tiga tahun aku merasa bersalah meninggalkan dia sendirian disana. Tiga tahun aku tersiksa karena perasaan bersalah. Aku menyayangi dia, Pa... dan ketika dia meninggal, aku sakit... hatiku sakit... aku tetap meninggalkan dia disana sendirian bahkan disaat terakhirnya. Papa mengurungku di rumah itu dengan puluhan bodyguard. Padahal aku cuma mau bilang maaf ke dia. Kenapa papa gak pernah mengabulkan permintaanku? Permintaan kecil, aku hanya ingin bilang maaf dipemakamannya." Andrew menangis terisak didepan papanya.
"Karna papa gak ingin kamu terluka, Nak. Papa gak ingin kamu sedih." Royen mulai luluh melihat anaknya itu menangis terisak didepannya. Ia bisa melihat kesedihan yang teramat dalam dari mata Andrew. Kesedihan yang selama ini diabaikannya.
"Aku sedih! Aku terluka! Sakit disini, Pa!" kata Andrew sambil memukul dadanya. Apapun yang dilakukan oleh papanya tetap menyakiti hatinya.
"Hatiku sakit. Dan kenapa papa gak pernah paham. Kenapa aku harus sampai kabur dari rumah itu. Bersusah payah menghindari puluhan bodyguard itu. Aku hanya ingin ketemu Devina pa. Aku hanya bisa bilang maaf di kuburannya." Kata Andrew dengan air mata yang masih terus mengalir.
Melihat anaknya seperti itu, Royen akhirnya mau meminta maaf. Ia tidak pernah melihat anaknya menangis dengan keras seperti ini dan berbicara dengan kasar padanya. Ia baru mengerti bahwa Devina memiliki arti yang besar untuk Andrew.
"Maafkan papa. Kalau ternyata apa yang papa anggap baik itu, ternyata melukaimu begitu dalam," kata Royen sambil memegang tangan Andrew.
Andrew mengibaskan tangannya dan menolak dipegang papanya. Penyesalan dan kata maaf dari ayahnya tidak akan pernah memutar waktu dan mengembalikan Devina hidup. "Dimana surat Devina? Dimana suratnya!" teriak Andrew sambil memukul meja kerja papanya.
"Ini suratnya. Papa masih simpan. Ketika papa membaca surat ini, papa merasakan ketulusan anak itu. Anak itu yang menginginkan kamu berhenti menemuinya. Dia juga seperti papa, gak ingin kamu terluka dan bersedih. Maafkan papa, Ndrew." Royen mengambil sebuah surat yang tampak telah lusuh dari dalam laci kantornya. Kemudian menyerahkan surat itu kepada Andrew.
Andrew mengambil dengan kasar surat dari tangan papanya. Ia pergi meninggalkan papanya seorang diri diruangan itu. Dipikirannya saat ini adalah ia ingin membaca surat Devina itu secepatnya. Andrew berjalan dan menemukan sebuah kursi di taman yang tidak jauh dari kantor papanya. Andrew duduk di kursi taman itu dan mengeluarkan surat yang ditulis Devina untuk orang tuanya. Dengan penuh kehati-hatian ia membuka dan membaca surat itu.
Air matanya semakin deras ketika membaca kata demi kata dalam surat itu. Dan seketika ia merindukan Devina. Ia merindukan senyumnya dan tawanya. Ia merindukan semuanya. Ia merindukan Devina. Andrew melipat surat itu dan menyimpannya dalam saku nya. Ada sebuah tempat yang terus terngiang dikepalanya. Ia berniat untuk mengunjungi tempat itu.
***
Waktu menunjukkan pukul 18.00 ketika Andrew tiba di rumah Devina. Ia berjalan masuk dan menekan bel yang terletak disamping pintu. Satu menit kemudian tampak pintu terbuka dengan ibu angkat Devina yang menyapa dirinya.
"Andrew? Kamu Andrew temannya Devina di rumah sakitkan?" Tanya Melisa, Ibu angkat Devina.
"Iya, tante. Maaf baru datang dan menyapa tante," kata Andrew dengan sopan.
"Tidak apa-apa. Silahkan masuk," kata Melisa.
Andrew berjalan mengikuti mamanya Devina menuju ruang tamu dan duduk disofa yang ada disana. Segelas teh hangan disajikan dihadapan Andrew oleh Melisa. Andrew menerimanya dengan baik dan minum seteguk hanya untuk formalitas. Andrew ingin sekali cepat-cepat menyampaikan maksud kedatangannya.
"Saya merindukan Devina tante. Mungkinkah ada yang Devina titipkan untuk saya ke tante?" tanya Andrew.
Sebenarnya Andrew hanya menebaknya saja. Ia merasa tidak mungkin Devina pergi dari dunia ini tanpa meninggalkan sepatah katapun untuknya. Pasti ada yang dititipan untuknya.
"Iya. Sebenarnya ada surat yang Devina tulis untuk kamu. Devina bilang, kalau dia telah membuat kamu tidak akan pernah melihatnya lagi. Tante sebenarnya gak paham maksud dari apa yang dia bilang. Sebentar ya, tante ambil suratnya,"kata Melisa.
Melisa masuk ke dalam kamarnya dan mengambil surat Devina untuk Andrew, lalu memberikannya kepada Andrew. Andrew menyimpannya dan memasukannya ke dalam kantong bajunya dengan hati-hati.
Melisa yang duduk dihadapan Andrew mulai terlihat sedih ketika mengingat Devina. Kehadiran Andrew dirumahnya tentu mengingatkannya kembali akan Devina dan kehilangan yang dirasakannya.
"Seandainya waktu bisa berputar, Ndrew. Tante tidak akan terlalu sibuk bekerja dan lebih banyak menemani Devina. Bahkan sampai saat terkahirnya, Devina masih saja sendirian. Tante mendengar kabar Devina meninggal ketika tante baru selesai meeting," ucap Melisa sambil menitikan air mata.
Setelah menghapus air matanya, Melisa melanjutkan cerita tentang Devina. Andrew hanya bisa diam dan mendengarkan curhatan hati Melisa. Mungkin selama ini tidak ada yang mendengarkan suara kesedihan yang dirasakan Melisa. Jadi Andrew memilih untuk menjadi pendengar yang baik.
"Ketika Devina sakit dan membutuhkan biaya yang banyak, tante setiap hari bekerja lebih keras. Tante berusaha untuk membiayai semua pengobatan Devina. Karena itu, tante sering meninggalkan Devina sendirian di rumah sakit. Tante terima kasih ke kamu, karena sempat menemani Devina. Terima kasih Ndrew," kata Melisa tulus.
"Iya tante," kata Andrew. Didalam hati Andrew sebenarnya juga masih merasa bersalah. Tiga tahun yang lalu, karena papanya, ia juga meninggalkan Devina. Andrew merasa tidak ada bedanya dengan Melisa, sehingga ia juga tidak merasa pantas untuk menerima ucapan terima kasih dari Melisa.
"Tante... Andrew pamit ya. Ada tempat yang ingin Andrew kunjungi sehabis dari sini," kata Andrew berpamitan.
"Oh yaudah kalo gitu. Terima kasih ya dan hati-hati di jalan, Ndrew." Melisa bangkit berdiri dan mengantar kepergian Andrew menuju pintu.
"Iya tante," kata Andrew sambil mencium tangan Melisa dengan sopan sebagai salam perpisahan.
***
Andrew berjalan perlahan sambil membawa surat Devina ditangannya. Sinar rembulan menerangi langkah kakinya untuk mencari sebuah nisan bertuliskan 'Devina Priciliana'. Setelah menemukan tempat peristirahatan abadi Devina, Andrew duduk disebelahnya.
"Jangan menyuruh aku pergi, Dev. Aku tau ini sudah malam dan kamu pasti khawatir kalau aku duduk disini terlalu lama. Khawatir aku akan sakit. Aku ingin disini sebentar dan menemanimu sesaat," kata Andrew yang seolah berbicara dengan Devina.
Andrew memejamkan matanya dan membayangkan Devina ada di sebelahnya. Ia mengingat kembali kenangannya bersama Devina dulu. Mengingat senyum dan tawanya.
"Aku merindukan kamu, Dev. Maaf, tiga tahun lalu aku meninggalkanmu tanpa kata apapun. Maaf aku sempat tidak menemani keseharianmu. Tidak mengunjungimu di rumah sakit dan tidak menghiburmu. Maafkan aku. Seandainya aku bisa lebih cepat berhasil kabur dari rumah itu, maka aku mungkin bisa melihatmu dan bilang ini secara langsung dihadapanmu. Aku menyayangi mu, Dev. Aku merindukanmu. Maafkan aku," kata Andrew sambil membelai rumput di makam Devina sambil menangis.
Rasa kesedihan mulai menguasai hatinya. Air mata terus mengalir dan mebasahi pipinya. Rasa sakit terus bertambah ketika ia menyadari sekeras apapun tangisan penyesalannya, tidak akan mengembalikan Devina untuk hidup.
Andrew mengeluarkan surat yang ditulis Devina untuknya. Ia mulai membacanya dengan pelan didalam hati. Dengan air mata yang terus mengalir, Andrew membaca setiap kalimat yang ditulis langsung oleh Devina.
From : Devina
To : Andrew
Hai ndrew.
long time no see...
I miss you so much. Hari-hariku sepi gak ada kamu. Tapi aku tidak pernah menyesal mengirimkan surat itu ke orang tua mu. Aku tidak ingin kamu terluka dan bersedih. Ini cara ku menyayangimu, membiarkan kamu pergi...
Maafkan aku karena aku mengambil keputusan sepihak tanpa menanyakan pendapat mu. Aku harap kamu mengerti.
Aku tau kamu ingin aku hidup dan selalu ada disamping mu. Akan tetapi hidup tidak selalu menyajikan apa yang kita inginkan. Mungkin ketika kamu membaca surat ini, aku sudah tidak bersamamu secara fisik.
Jangan menangis, Ndrew. Jangan menangis, karena aku sudah tidak ada disamping mu.
Sesungguhnya aku tidak benar-benar meninggalkanmu. Aku di samping mu seperti malaikat yang menjagamu. Aku hidup dalam kenanganmu.
Terima kasih pernah membuat ku tertawa dan bahagia.
I love you too.
I also miss you so much.
See you in heaven in God's time.
Regards,
Devina Priciliana
Andrew terdiam dan menghapus air mata nya setelah membaca surat itu. Kalimat yang ditulis oleh Devina dapat menenangkan hatinya dan menghapus sedikit kerinduannya. Tulisan tangan itu terasa seperti kata-kata yang diucapkan langsung oleh Devina.
"I love you too, Dev. I also miss you so much. See you in heaven in God's time, Dev," kata Andrew disamping makam Devina.
Andrew mendekap surat itu di dadanya, menatap langit, dan masih duduk di sebelah makam Devina. Ia menatap batu nisan Devina dengan lekat dan berbicara dengannya dalam hati.
CONTINUED