6. Can I Trust You?

2505 Words
                                                                                 *** Dengan langkah kaki yang santai Andrew memasuki gedung sekolah. Andrew datang ke sekolah setengah jam lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Mungkin karena hidupnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, dimana sudah tidak ada lagi semua fasilitas yang ia nikmati dulu. Dulu ia hanya tinggal duduk santai di mobil untuk sampai ke sekolah. Sekarang ia harus bersusah payah menaiki sepeda dari kafe Glendenys menuju ke sekolah. Andrew menolak untuk kembali ke rumah orang tuanya. Dia ingin merasakan kebebasan sebentar. Menikmati kondisi dimana setiap keputusan dalam hidupnya ia ambil sendiri dan dipertanggung jawabkannya sendiri. Tanpa bayang-bayang orang tuanya dan statusnya sebagai pewaris Hamston Group. Andrew menaruh tas dan duduk di kursinya. Ia melihat ke sampingnya, Hyena teman sebangkunya masih belum datang. Andrew melihat kesekeliling kelasnya, hanya beberapa murid yang baru datang. Andrew sama sekali tidak tertarik berbincang-bincang dengan teman sekelasnya, apalagi mengakrabkan diri. Ia lebih ingin menikmati kesendiriannya. Andrew mengeluarkan buku matematika dari dalam tasnya. Kemudian ia mulai menghitung dan menjawab soal matematika di buku itu, sampai bunyi bel tanda masuk sekolah berbunyi. Hyena seperti biasanya, selalu datang tepat waktu. Benar-benar tepat pukul 07.00. Ia segera berlari menuju kelasnya, sebelum Bu Jenner guru matematikanya masuk ke kelas. Hyena duduk di kursinya dengan terburu-buru. Ia menghela nafas karna bisa masuk kelas tepat waktu. Hyena mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlari terlalu cepat. Sementara Andrew hanya menggelengkan kepalanya memperhatikan kelakuan Hyena. "Apa lo liat-liat?! Ntar suka lo kelamaan liat gue," kata Hyena ketus. Andrew hanya tertawa mencibir tanpa membalas ucapan Hyena. Andrew langsung mengalihkan kembali perhatiannya pada buku matematika yang ada dihadapannya. Respon Andrew yang seperti itu justru membuat Hyena semakin kesal. 'Ini orang kayaknya berbakat bikin gue emosi deh pagi-pagi. Heran!' Keluh Hyena dalam hati. Beberapa saat kemudian Bu Jenner masuk ke dalam kelas dan pelajaran pun dimulai. Hyena seperti biasanya menikmati pelajarannya tanpa menimbulkan suara apapun. Ia sudah hafal dengan kebiasaan teman sebangkunya itu. Salah satunya tidak suka jika suasana kelas berisik. Jadi Hyena mengunci mulutnya rapat-rapat tanpa suara.                                                                                *** "Kringgg!!!" Bunyi bel tanda istirahatpun akhirnya terdengar. Hyena langsung pergi menuju kelas Rey yang berada di lantai dua, sementara kelas Hyena terlentak di lantai tiga. Hyena meninggalkan Andrew yang masih membereskan buku-bukunya di kelas. Hyena melirik kedalam kelas Rey. Kekasihnya itu ternyata sudah berganti posisi duduk. Mungkin terjadi perubahan tempat yang dilakukan wali kelas Rey. Hyena melihat Rey dan Lisa berada disatu meja bersama dibarisan depan. "Hai, Yang. Kalian satu tempat duduk?" tanya Hyena ke Rey dan Lisa "Iya nih. Entah kenapa wali kelas kita tiba-tiba ngerubah posisi tempat duduk. Eh malah ternyata dapat teman sebangkunya si Lisa hahaha," kata Rey sambil melirik Lisa. "Iya, untung gue bukan sama si Jacob yang bau badan itu. Gak kebayang deh sebangku sama dia hahahaha," canda Lisa "Yah bagus sih. Kalo sama Lisa gue percaya Rey gak akan macam-macam. Kalo sama cewek lain, siapa tau mata dia bakalan kegatelan. Terus imannya goyah hahaha," kata Hyena sambil mengedipkan mata ke Rey. "Garukin dong kalo gatel hahaha," canda Rey. "Yaudah kita makan yuk. Aku laper banget," ajak Hyena. "Yaudah yuk. Lis, ikut aja sama kita. Daripada lo makan sendiri," ajak Rey. "Ehmph... yaudah deh." Rey, Hyena, dan Lisa berjalan menuju kantin. Hyena memeluk manja lengan Rey sepanjang perjalanan menuju ke kantin yang terletak di lantai 1. Sementara Lisa berjalan di belakang bagaikan nyamuk ditengah-tengah dua sejoli yang dimabuk asmara. Ketika sampai kantin. Mereka melihat Andrew sedang makan seorang diri. Andrew menikmati spagheti dan juice orange, sambil memakai earphone untuk mendengarkan musik. Andrew seakan menikmati makanan dengan kesendiriannya. Rey yang melihat pemandangan itu, langsung mengajak Hyena dan Lisa untuk makan satu meja dengan Andrew. Rey tidak tega melihat sahabat dari masa kecilnya itu sendirian tanpa seorang teman. "Hyen... Lisa... Kita makan di meja Andrew yuk," ajak Rey. Tentu saja Hyena langsung terkejut dengan usul kekasihnya itu. Bagaimana mungkin ia bisa makan dengan nyaman jika wajah orang yang menyebalkan itu ada didekatnya. "Hah?! Gak mau ah! Aku mau refreshing, Yang. Udah dikelas suntuk ngeliat dia, masa istirahat juga liat muka dia sih," keluh Hyena. "Ayolah, Hyen. Ada yang mau aku sampaikan juga ke kalian," pinta Rey memaksa. "Yuk Hyen. Gak papa lah. Cuma makan aja. Gak tiap hari juga kok, Hyen," kata Lisa. Karena merasa terpojok dengan bujukan Rey dan Lisa, mau tidak mau Hyena mengiyakan permintaan itu. Meskipun dengan muka kesal dan cemberut. "Yaudah deh," kata Hyena sambil menghentakan kakinya tanda kesal. Mereka bertiga menghampiri Andrew yang sedang asik makan dan mendengarkan musik. Andrew terlihat kaget dengan kehadiran mereka bertiga. Ia tidak menyangka akan dihampiri oleh Rey dan Lisa, terlebih lagi Hyena. "Oh Rey. Kenapa?" tanya Andrew. "Gak papa. Gue cuma mau nemenin lo aja. Ngapain sih lo sendirian disini. Udah kayak gak punya temen aja hahaha," ledek Rey sambil tertawa. "Yah lo kan juga beda lantai sama gue. Masa gue nyamperin ke kelas lo tiba-tiba. Udah kayak pasangan aja kita hahaha," canda Andrew. "Santai aja kali. Lo nyamperin gue juga gak masalah. Wong dulu kita bahkan mandi bareng hahahahahaha," kata Rey sambil menyikut pelan pinggang Andrew. Andrew pun tersenyum dan tertawa singkat mendengar Rey yang mengungkit kenangan masa kecil mereka. Andrew dan Rey dari kecil memang sering bersama. Karena rumah mereka dulu tidak begitu jauh. Terlebih lagi orang tua mereka berteman akrab. Hyena dan Lisa terkejut melihat relasi Rey dan Andrew yang tampak akrab. Seolah mereka sudah berteman sejak lama. Rey tidak pernah bercerita padanya tentang hubungannya dengan Andrew. Tentu saja Hyena terlihat sangat kaget dengan apa yang dilihatnya sekarang. "Kok kalian akrab banget sih? Tadi ngomong apa? Kalian mandi bareng sejak kecil? Kok bisa?!" tanya Hyena kebingungan. "Oh iya. Aku belum kasih tau kalian ya. Ini Andrew. Dia sahabatku dari kecil. Udah tiga tahun aku gak ketemu dia, karena dia pindah ke Bali. Kita juga sempat ada perselisihan selama 3 tahun ini, karena sebuah kesalah pahaman. Kemarin baru aja kita berbaikan dan ngelurusin kesalah pahaman itu. Jadi maafin aku ya gak kasih tau kamu sebelumnya," kata Rey. Hyena benar-benar syok dan terkejut dengan fakta yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin makhluk menyebalkan ini adalah sahabat pacarnya. "Jadi ini teman yang kamu maksud kemarin? Kata kamu aku gak kenal?!" Hyena terlihat marah dengan kebohongan Rey padanya. "Iya maaf. Kemarin aku bohong. Abis ribet juga kalo ngejelasinnya. Terlalu panjang. Sementara aku buru-buru banget kemarin," kata Rey dengan nada menyesal. Hyena masih terdiam. Ia bingung harus berespon seperti apa. Seharusnya Hyena menyapa Andrew dengan sopan, akan tetapi ia tidak sudi untuk melakukannya. Jika sahabat Rey adalah orang lain, Hyena pasti akan menyambutnya dengan riang dan ramah. "Oh ya, Ndrew. Ini Hyena. Yah lo mungkin udah kenal sih. Secara kalian semeja di kelas. Tapi yang mau gue kasih tau, Hyena itu pacar gue hahaha. Oh ya, ini Lisa. Dia sepupu Hyena," kata Rey. "Hai Andrew," kata Lisa sambil tersenyum sopan. "Hai, Lis. Rey, lo gak salah? cewek aneh kayak gini jadi cewek lo? Disekolah ini banyak cewek cantik dan baik, kenapa lo gak pacaran sama mereka aja. Kenapa harus sama cewek aneh ini sih. Kita masih tujuh belas tahun, Rey. Pacaran mah cuma buat main-main aja. jangan terlalu serius hahaha." Andrew mengembalikan perkataan Rey yang diterimanya tiga tahun lalu ketika ia mengenalkan Devina dulu. "Sial lo, Ndrew. Balikin kata-kata gue tiga tahun lalu hahahaha. Perkataan itu gak relevan buat gue. Itu cuma relevan sama kasus lo dulu hahaha. Itu juga omongan anak bocah, Ndrew. Gak usah dianggep hahaha," kata Rey. Andrew dan Rey tertawa mengingat masa lalu mereka. Sementara Hyena dan Lisa masih tampak kebingungan dengan topik obrolan Andrew dan Rey. "Lis, gue gak paham sama mereka. Mereka kayak punya dunia sendiri. Kita kayak nyamuk disini. Kita pesen makanan aja yuk, Lis," ajak Hyena yang mulai kesal. "Iya, Hyen. Aku juga gak paham. Kita pesen ayam teriyaki aja yuk," kata Lisa sambil beranjak pergi untukmemesan makanan. Rey dan Andrew hanya tertawa melihat kekesalan Lisa dan Hyena. Untuk sementara mereka bisa menikmati kebersamaan tanpa kehadiran wanita-wanita itu. "Ndrew, kemarin gimana? Lo dapet surat Devina?" tanya Rey. "Dapet kok. Untung bokap masih nyimpen. Kemarin gue juga ke rumah Devina. Dan firasat gue bener. Kalo Devina pasti nulis surat buat gue. Jadi ibunya kasih surat itu ke gue. Gue baca suratnya di makam Devina tadi malam," cerita Andrew sambil menyeruput Juice nya. "Gila lo, Ndrew! Masa ke kuburan malam-malam. Ntar kalo hantu nongol gimana?!" Rey menggelengkan kepalanya membayangkan tingkah sahabatnya itu. "Yaelah. Makam Devina ini. Gak mungkin kan Devina tiba-tiba muncul gangguin gue. Dan kalopun ada hantu yang lain, harusnya tuh hantu yang takut sama gue! Bukan sebaliknya. Masa manusia takut sama hantu," kata Andrew. "Yah tetep aja serem, Ndrew. Oh ya, terus kok lo gak pulang ke rumah bokap lo? Mau ngapain sih lo jadi waiter gitu. Tinggal di kafe marco pula. Kenapa lo gak nginep di hotel aja, kalo emang masih belum mau tidur di rumah." "Gue gak mau terlalu banyak pake fasilitas bokap gue, Rey. Gue akui sih, gue masih belum sanggup buat bayar uang sekolah sendiri. Lo tau kan, uang sekolah disini mahal. Gaji waiter mana sanggup buat bayar uang sekolah. Tapi setidaknya untuk tempat tinggal, makan, dan transportasi gue gak mengandalkan bokap. Gue pengen lepas sejenak dari mereka. Gue sadar gak mungkin putus hubungan dari mereka. Karna gue anak tunggal dan mereka orangtua gue. Cuma kejadian Devina kemarin ngebuat gue pengen lepas sementara dari mereka," jawab Andrew. "Yaudah. Kalo lo emang mutusin gitu. Bakalan gue dukung. Asal lo jangan kelamaan banget jadi waiter, kayak orang kerjaan aja," kata Rey sambil menepuk pundak Andrew. "Dan gue mau minta sama lo nih. Lo tetep rahasiain background keluarga gue, ya. Selain karena bokap gue nyuruh ngerahasiain, gue juga lebih nyaman gini. Mendingan sendiri, daripada punya banyak temen tapi gak tulus," kata Andrew dengan serius. "Iya, tenang aja. Dari dulu gue juga keep rahasia lo ini. Tapi apa Lisa dan Hyena juga gak boleh tau?" tanya Rey. "Termasuk mereka. Gue masih belum bisa percaya ke mereka. Karna gue belum kenal mereka," jawab Andrew. "Lo bisa percaya mereka kok, Ndrew. Mereka orang baik kok dan setia kawan." Rey yang berusaha meyakinkan Andrew. "Yah itu kan menurut lo. Wajar lo nilai gitu, karna lo udah kenal mereka lama. Lah gue? Kenal mereka aja baru beberapa hari," kata Andrew. "Ehm... iya juga sih." Sementara itu Hyena sudah memesan dua nasi ayam teriyaki dan dua minuman soda, untuk Rey dan dirinya. Sedangkan Lisa mengubah pilihan menu makanannya menjadi Fried Chicken dan orange juice. Ketika mereka menuju meja sambil membawa nampan berisi makanan, tiba-tiba Hyena dan Lisa mendengar obrolan Linda dengan teman-temannya. "Eh guys. Liat deh si Rey. Akrab banget sama si pelayan itu. Kok bisa ya. Kalo gue sih gak tahan sama bau amisnya," sindir Linda heran. "Mungkin si Rey pengen berbuat amal sama kaum miskin kali hahaha. Si Rey lagi nanya si pelayan mau di sumbangin apaan hahaha," ledek Audrey dengan tawa mengejek. "Ish. Gak jijik apa ya berlama-lama ngobrol dengan si pelayan. Aduh. Sekolah kita lama-lama jadi panti asuhan ini. Memelihara kaum tak mampu disini. Paling dua bulan uang sekolahnya nunggak. Mana mungkin gaji waiter bisa bayar uang sekolah disini," kata Cassey. Lisa mendengar obrolan group Linda langsung merinding. Ia membayangkan kalo dirinya yang sedang di ejek oleh Linda dan teman-temannya. Sungguh menyeramkan! 'Aduh apa kabar sama gue, kalo mereka tau gue hanya seorang anak pembantu?' kata Lisa dalam hati. Hyena yang mendengar obrolan itu mulai geram dan tak tahan. Ia memang tidak suka dengan Andrew, tapi bukan karna status sosial ekonominya. Jadi Hyena tidak tahan apabila ada yang merendahkan dan menghina orang lain karena status sosial ekonominya. Apalagi Rey pacarnya dibawa-bawa dalam obrolan mereka. Hyena menghampiri Linda dan melabraknya dengan lantang, sehingga seluruh mata yang ada di kantin itu menatapnya. "Heh nenek lampir! Lo ngapain sih ngurusin hidup orang! Kayak hidup lo udah bener aja ckckck Harusnya lo itu malu sama cowok gue. Cowok gue aja berteman sama siapa aja, lah lo masa ngerendahin orang cuma karena dia miskin. Emang lo semua itu lebih kaya dari gue dan cowok gue?!" sindir Hyena dengan nada marah. Linda, Audrey, dan Cassey kaget dilabrak oleh Hyena seperti Itu. Mereka terdiam tak berkutik dengan ucapan Hyena. Karena apa yang dibilang Hyena itu betul. Mereka tidak lebih kaya dari Hyena maupun Rey. Jadi Linda cs tidak menemukan senjata untuk menyerang balik ucapan Hyena. "Jadi kalo kita yang lebih kaya dari lo semua aja, gak mandang status sosial ekonomi orang lain. Harusnya lo semua itu malu kalo sampai menghina orang lain hanya karna dia miskin. MALU!" teriak Hyena dengan nada tajam. Linda hanya bisa menggigit bibirnya menahan rasa amarah dan malu yang dirasakannya. Sementara Hyena yang masih menatap sinis Linda cs langsung menarik tangan Lisa untuk pergi dari sana. "Ayok Lis. Kita tinggalin mereka." Hyena dan Lisa langsung menghampiri Rey serta Andrew sambil membawa nampan berisi makanan. Rey bertepuk tangan memuji sikap pacarnya yang telah berani melabrak Linda. "Kamu keren juga, Yang. Tadi aku denger kamu ngelabrak Linda Cs. Hahahaha suara kamu kencang banget! Parah! Malu banget tuh mereka. Aku sampai gak perlu turun tangan bela kamu. Hahahaha," puji Rey sambil membelai kepala Hyena. "Ya iyalah. Cewek siapa dulu. Hahaha," kata Hyena dengan bangga. "Thanks ya, Hyen. Sebenernya sih gue gak perlu lo bela gitu. Tapi makasilah ya. Soalnya lo udah capek-capek gitu. Ternyata lo oke juga," kata Andrew. "Gue ngelakuin itu buat Rey. Bukan buat lo! Gue gak suka aja nama Rey di bawa-bawa," kata Hyena sambil melotot. Ia masih gengsi mengakui kalau telah membela Andrew. "Ya ya ya ya... terserahlah hahaha," kata Andrew sambil tertawa. Lisa hanya terdiam dari tadi. Dia masih membayangkan bagaimana jika satu sekolah tau kalo dia hanya anak pembantu. Mungkin ia akan menerima perlakuan yang sama seperti Andrew atau bahkan lebih buruk. Bagi Lisa kemungkinan itu terasa begitu menyeramkan. Lisa merasa tidak akan kuat menghadapi serangan hinaan seperti itu. "Lis... Are you ok?" Hyena yang merasa aneh dengan Lisa yang daritadi hanya terdiam. "Oke kok, Hyen. Yaudah ayo makan. Nanti waktu istirahatnya habis," kata Lisa mengalihkan pembicaraan. "Wah bener juga sih Lis. Tinggal lima belas menit lagi ini istirahat bakal abis," ucap Hyena melirik jam tangannya. Merekapun akhirnya makan dengan lahap dan fokus menikmati makanannya. Sementara Andrew sejak tadi tersenyum melihat situasi yang sedang terjadi padanya. Sudah lama ia tidak merasakan makan bersama teman-teman di kantin seperti ini. Rasanya cukup menyenangkan bagi Andrew.                                                                                  *** Ketika kelas Fisika sedang berlangsung. Lisa menulis disebuah kertas memo untuk Rey. Lisa mengajak Rey untuk bertukar pesan melalui kertas itu. Lisa Rey, gue khawatir nih kalo misalnya anak-anak bakalan tau background keluarga gue. Rey kenapa lo tiba-tiba khawatir? Lisa  Soalnya tadi gue denger langsung gimana Linda CS mengejek dan menghina Andrew. Gimana kalo misalnya itu menimpa gue? Gue takut Rey. Rey  Udah tenang aja. Hyena yang kesel banget sama Andrew aja dia belain. Apalagi lo yang udah dianggap kayak saudaranya, pasti lebih parah di belainnya. Gue juga bakal ngebelain lo kok. Tenang aja. Gak ada yang perlu lo khawatirkan. Lisa  Serius lo bakal belain gue? :) Rey  Ya iya lah. Gak mungkin gue diam aja kalo lo digangguin :) Lisa tersenyum membaca pesan terakhir yang ditulis oleh Rey. Kemudian Lisa melipat kertas memo itu dan menyimpannya dengan menyelipkan didalam buku pelajarannya. CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD