12. Rey

2175 Words
                                                                                         *** Setelah menyelesaikan sarapan, Mereka bersiap-siap untuk pulang. Lisa dan Hyena tampak sudah mengangkut kedua tas nya menuju arah mobil. Sementara Rey dan Andrew berjalan santai dengan satu tas punggungnya. Posisi duduknya sama seperti saat mereka berangkat. Andrew menemani Rey di kursi depan, sementara Hyena memilih duduk bersama Lisa di belakang. "Oke. Semua sudah siap? Gak ada yang ketinggalan ya," teriak Rey dari bangku kemudi. "Sudah dong," jawab Hyena. "Oke deh. Sekarang kita jalan pulang ke Jakarta!" kata Rey yang langsung tancap gas memacu mobilnya pergi meninggalkan villa. Rey mengantarkan Hyena dan Lisa terlebih dahulu menuju ke rumahnya. Kemudian menghantarkan Andrew menuju kafe Gledenys, tempat kerja dan tempat tinggal Andrew sementara.                                                                                          *** Rey kembali memacu mobilnya menuju Rumahnya yang terletak di Kemang, setelah ia selesai mengantarkan Hyena, Lisa, dan Andrew ke tempat tinggal mereka masing-masing. Mungkin karena ini hari minggu, jalanan Jakarta terlihat tidak begitu macet. Rey telah sampai di rumahnya dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Dengan perlahan ia memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Garasi mobil itu cukup luas untuk menampung 10 mobil koleksi papanya dan mobil pribadi mamanya serta Rey. Rey berjalan masuk menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Namun tiba-tiba Bi Siti, pembantu di rumahnya berjalan menghampiri dirinya. "Tuan sudah makan? Bibi sudah siapkan ayam goreng kesukaan tuan," ucap Bibi Siti. "Bi, kan aku udah berapa kali bilang. Jangan panggil tuan. Bibi itu udah kayak ibu aku. Ngerawat aku dari kecil. Panggil nama aku aja, jangan tuan. Sekali lagi bibi panggil aku tuan, aku gak mau ngomong lagi sama bibi!" ancam Rey dengan wajah pura-pura galak. "Maaf tuan. Eh... Nak Rey. Iya, nanti bibi gak akan panggil tuan lagi. Sudah makan, Nak?" Tanya bibi sambil mengelus pundak Rey. "Sudah, Bi. Tadi di jalan beli fried chicken dulu. Makan di jalan deh. Aku ke kamar dulu ya, Bi. Capek banget," keluh Rey. "Yasudah kalo gitu. Selamat istirahat," ucap Bi Siti. Rey masuk ke kamarnya yang ukurannya lumayan luas untuk ditempati satu orang saja. Rey membaringkan tubuhnya yang tampak lelah karena menyetir dari Puncak ke Jakarta. Kasurnya yang empuk terasa begitu nyaman hingga melunturkan perlahan-lahan rasa lelahnya. Perjalanan tiga hari dua malam di Puncak, ternyata telah membangkitkan kenangannya satu setengah tahun yang lalu bersama Lisa. Kenangan dimana Lisa menghindarinya dan mengabaikannya, sehingga Rey menyerah untuk mendekati serta mendapatkan hati Lisa.                                                                                                  ***   Satu setengah tahun yang lalu... Rey berbaring dikasurnya sambil memandangi langit-langit kamarnya. Otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Lisa. Hatinya dilanda dengan kegelisahan. Rey merasa meragu dengan alasan Lisa yang meninggalkannya tadi siang bersama Hyena. Rey merasa janggal dengan kejadian tadi siang. Ia tidak melihat Lisa menerima panggilan atau melihat pesan dari handphone-nya. Setau Rey handphone Lisa selalu berada didalam tasnya dan jarang dikeluarkan. Jadi Rey merasa Lisa sedang berbohong ketika beralasan ibunya tiba-tiba memintanya untuk ditemani menjenguk orang sakit. Rey mengambil handphone-nya. Ia mencoba untuk menanyakan kecurigaannya ini secara langsung kepada Lisa. Ia tidak tahan terus menduga dan meragu. Lebih baik ia menanyakan daripada memendam kegelisahan ini lebih lama. Rey Hutomo Lis, kenapa tadi ninggalin gue sama Hyena? Beneran nyokap lo minta ditemenin? Setelah menunggu beberapa menit, Lisa ternyata hanya read pesan Rey tanpa membalasnya. Rey mulai terlihat bingung akan respon Lisa yang tidak biasa seperti ini. Biasanya Lisa selalu cepat merespon setiap pesan yang dikirimnya. Tidak ada hari tanpa bertukar pesan dengan Lisa. Namun sekarang Lisa seperti benar-benar mengabaikannya. Selama beberapa hari Lisa juga tidak pernah sekalipun membalas pesan Rey. Lisa juga selalu menghindar apabila Rey mendekatinya di sekolah. Lisa menjauhi dirinya tanpa sebab yang diketahui oleh Rey. Rey Hutomo Hai, Lis. Gimana kabar? Baik kah? Are you ok? Lisa tetap tidak membalas pesan tersebut. Rey menatap sedih layar handphonenya. Ia meratapi sedih jarak yang telah terbentang antara dirinya dengan Lisa. Lisa benar-benar seperti enggan untuk  berkomunikasi dengannya. Rey Hutomo Kalo gue punya salah, maafin gue. Gue gak ngerti kenapa lo seperti ini. Lo kayak menghindar dari gue di sekolah. Gak pernah balas pesan WA gue lagi. Gue sedih kalo lo cuma diam kayak gini. Coba bilang salah gue apa? Rey menatap layar handphone selama beberapa menit. Hanya terlihat checklist dua berwarna biru, tanda Lisa sudah membaca pesan itu. Namun selama apapun Rey menunggu, Lisa lagi-lagi tidak akan membalas pesannya itu. Rey menutup layar handphonenya dan berusaha untuk tidur. Berharap kesedihan dan pikirannya tentang Lisa akan lenyap ketika ia mulai terlelap dalam bunga tidur. Namun tiba-tiba handphone Rey bergetar, tanda sebuah pesan masuk. Rey dengan bersemangat mengambil handphonenya dan berharap bahwa Lisa yang mengirimkan pesan padanya. Hyena Marvine Malam Rey. Aku udah kelar baca buku yang direkomendasikan kamu. Ternyata bagus banget! Wah mau dong kamu anterin aku ke toko buku lagi. Biar aku gak salah beli buku. Kan sayang uangnya kalo ternyata aku baca buku yang jelek. Hihihi Kapan kamu ada waktu? Rey tampak kecewa melihat nama pengirim pesan tersebut ternyata bukan Lisa, tetapi Hyena. Rey terdiam beberapa saat ketika menatap pesan yang dikirim oleh Hyena. Ia sesaat bingung apakah harus membalasnya atau tidak. 'Apa gue bales pesan WA Hyena atau gak ya? Tapi mungkin kalo deket sama Hyena gue bisa tau alasan Lisa kenapa ngejauhin gue. Kan, mereka deket banget,' ucap Rey dalam hati. Rey akhirnya mulai menggerakkan jemari tangannya untuk mengetik balasan pesan ke Hyena. Rey Hutomo Hai, Hyen. Bagus deh kalo kamu suka buku yang aku rekomendasiin. Yaudah, kapan kamu ada waktu? Nanti aku temenin. Hyena Marvine Wah...   Thank you so much, Rey. Besok bisa gak? Rey Hutomo bisa kok  Hyena Marvine Ntaps See you Rey Selama sebulan Rey dan Hyena telah dekat dan sering jalan bersama. Meskipun Rey sudah selama itu berdekatan dengan Hyena, ia tetap tidak menemukan jawaban mengapa Lisa menjauhi dirinya. Ketika Rey mencoba menanyakan, Hyena mengaku tidak tau apa penyebab Lisa menjauhinya. Selain itu, setiap kali Rey mencoba mengajak Lisa untuk jalan bertiga dengan Hyena, ia juga selalu menolak. Rey akhirnya mulai putus asa untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan hatinya itu. Sekeras apapun ia mencoba, Lisa tidak akan pernah memberikannya sebuah jawaban.                                                                                              *** Sudah dua bulan Hyena dan Rey menjadi lebih dekat. Rey perlahan mulai menikmati kebersamaannya dengan Hyena. Ia mulai bisa nyaman berada disisinya dan membincangkan berbagai hal kepada Hyena. Secara perlahan Rey telah menerima kenyataan bahwa sesungguhnya Lisa menolak nya secara tidak langsung. Rey akhirnya memutuskan untuk berjuang melupakan Lisa, meskipun sebenarnya itu tidaklah mudah. Rey mencoba membuka dirinya dan hatinya kepada Hyena, walau Lisa sebenarnya masih belum terhapus disana. Saat ini Rey sedang makan malam bersama Hyena disebuah restoran sushi yang tak jauh dari rumah Hyena. Mereka menikmati setiap jenis hidangan sushi yang terhidang cantik dihadapan mereka. Tiba-tiba Hyena menghentikan aktivitas makannya dan menggenggam tangan Rey dengan lembut. "Rey, kita kan udah dekat beberapa bulan ini. Gue ngerasa nyaman dan semakin suka sama lo. Kalo kita pacaran aja gimana?" tanya Hyena sambil menatap dan tersenyum cantik ke arah Rey. Rey menunjukan ekspresi terkejut mendengar ucapan Hyena itu. Ia tidak pernah membayangkan akan mendapat pernyataan cinta dari Hyena secepat ini. Rey terdiam dan berpikir sejenak. Ia mencoba memikirkan matang-matang kalimat jawaban yang akan ia lontarkan kepada Hyena. 'Toh gue juga nyaman didekat dia dan gue juga udah mutusin buat ngelupain Lisa. Gak ada alasan buat gue tolak Hyena. Siapa tau dengan kehadiran Hyena, bisa buat gue cepet lupain Lisa,' kata Rey dalam hati. "Rey... gimana?" tanya Hyena yang terlihat mulai gugup. "Oke. Kita coba buat pacaran," jawab Rey sambil mencoba untuk tersenyum. Pipi Hyena menjadi merah merona mendengar jawaban Rey. Senyum merekah lebar dibibirnya. Sinar kebahagiaan terpancar dari tatapan mata Hyena. Apa yang selama ini ia khayalkan akhirnya menjadi kenyataan. "Berarti sekarang aku jadi pacar kamu?! Yeay kita pacaran!" teriak Hyena bahagia. Rey hanya tersenyum melihat tingkah kekasih barunya itu. Terlihat kekanakan, tapi juga menggemaskan. Rey juga melihat, betapa Hyena tulus menyayangi dan menginginkannya. Ia berharap dapat merasakan hal itu sama besarnya seperti yang Hyena rasakan. "Nanti kamu mampir ke rumah aku bentar ya. Aku mau ceritain kabar baik ini ke Lisa," ucap Hyena antusias. "Lisa di rumah kamu? Kenapa gak tinggal di rumah orang tuanya?" Rey terlihat bingung. "Sebelum aku jawab, kamu harus janji dulu. Jangan cerita ke siapa-siapa."  Hyena menatap Rey dengan tajam. "Iya, aku janji," jawab Rey. "Aku cerita ini karena aku tau kamu orang baik. Hak akan jahat sama Lisa. Tapi kalo anak-anak sekolah tau, belum tentu mereka akan tetap baik sama Lisa. Jadi Kamu haus jaga rahasia ini baik-baik. Lisa itu anak pembantu di rumahku. Dia di sekolahkan sama keluargaku. Jadi makanya kami satu rumah," cerita Hyena. "Apa?! Lisa anak pembantu di rumah kamu?" Rey terlihat benar-benar terkejut. Matanya terbelalak menatap Hyena. Fakta itu tak pernah terbayangkan dalam benak Rey. "Iya. Jangan kaget gitu dong. Yah emang wajar sih kamu kaget, secara aku emang sengaja tutupin fakta itu rapat-rapat." 'Apa karena hal itu makanya dia nolak gue? Karena status sosial ekonominya? Tapi awalnya dia gak gitu kok. Dia awalnya open pas gue deketin. Terus kenapa? Apa karena Hyena? Ah sudahlah. Toh gue juga udah jadian sama Hyena. Gue juga gak mungkin nanya hal ini ke Hyena atau Lisa. Jadi mendingan gak usah gue pikirin,' ucap Rey dalam hati. "Rey? Kamu kenapa? Kok bengong?" tanya Hyena heran. "Hah? Ehm... gak papa kok," kata Rey yang kemudian langsung kembali memakan sushinya. "Nanti kamu mampir ke rumahku bentar ya. Kita ceritain kabar baik ini ke Lisa. Sambil kenalin kamu sebagai pacar aku," ucap Hyena sambil bergelayut manja dilengan Rey. "Oke. Nanti aku mampir," kata Rey menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Setelah Rey dan Hyena menyelesaikan makan malamnya, mereka langsung meluncur ke rumah Hyena. Tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke rumah Hyena. Karena mereka memang memilih restoran di lingkungan rumah Hyena. Hyena menarik tangan Rey dengan penuh antusias. Hyena terlihat tidak sabar untuk bertemu dengan Lisa dan memperkenalkan Rey sebagai pacarnya. Rey memilih duduk di ruang tamu, ketika Hyena berlari masuk kedalam kamar Lisa. Hyena menerebos masuk kedalam kamar Lisa. Terihat Lisa sedang berbaring di kasurnya sambil mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Hyena langsung menarik tangan Lisa untuk menyuruhna segera bangkit dari tempat tidur. "Ada yang mau gue kenalin ke lo! Cepetan ke ruang tamu!" teriak Hyena penuh semangat. Lisa mengikuti permintaan Hyena dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan dibelakang Hyena, meski tidak mengerti siapa yang akan dikenalkan padanya. "Ada apa sih, Hyena? Lo kok semangat banget hahaha. Siapa sih emangnya?" tanya Lisa penasaran. "Taraaaaa! Kenalin ini Rey. Dia sekarang udah jadi pacar gue, Lis!" ucap Hyena dengan senyum bahagia dan bangga. Lisa seketika terdiam ketika memandangi wajah Rey yang ada dihadapannya. Rasa sakit seperti menohok hatinya. Namun sebisa mungkin harus ia tahan. Lisa menyunggingkan senyumnya dan berusaha menutupi kegundahan hatinya. Air mata yang terasa ingin keluar, sebisa mungkin ia tahan. Hyena dan Rey tidak boleh tau tentang kondisi hatinya yang sebenarnya. "wah selamat ya, Rey! Gue seneng banget dengernya! Kalian emang cocok dan serasi. Finally kalian pacaran. Semoga langgeng ya," ucap Lisa dengan senyuman yang dipaksakan. "Iya. Thanks ya. Semoga lo juga segera dapet pacar," ucap Rey sambil menatap Lisa lekat. "Amin. Yaudah gue mau balik ke kamar dulu ya. Terus happy kalian," Lisa melambaikan tangan ke arah Rey dan Hyena. "Iyaaa. Makasi ya Lis. Selamat tidur," ucap Hyena. Lisa tersenyum dan meninggalkan Hyena dan Rey di ruang tamu. Perlahan air matanya mulai jatuh ketika ia membalikkan badannya. Lisa menggigit bibirnya. Berusaha menahan isakan tangis dan rasa sakit yang memukul hebat hatinya.                                                                                                  *** Rey terbangun dari lamunannya. Ia berusaha bangkit dari kenangan lamanya yang muncul secara tiba-tiba. Kenangan tentang peristiwa satu setengah tahun yang lalu. Rey menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu. Bayangan peristiwa ketika Lisa hampir tenggelam di kolam renang kemarin tiba-tiba muncul dalam benaknya. Masih teringat jelas bagaimana perasaannya saat itu. Betapa ia penuh ketakutan dan kepanikan ketika melihat Lisa hampir tenggelam. Sekarang ia menyadari bahwa rasa sayang itu masih ada dan sesungguhnya tak pernah hilang. Jauh didalam lubuh hatinya, Rey masih menginginkan Lisa. Meskipun ia tau perasaannya ini terlarang untuk ada. "Aku menyayangimu Lis. Maafkan aku karena melewatkanmu. Seandainya dulu aku lebih berjuang untuk mendekatimu dan mendapatkanmu, mungkin alur ceritanya gak begini. Maafkan aku," kata Rey sambil menatap langit-langit kamarnya.                                                                                                  *** Lisa membaringkan tubuh nya di kasur. Ia teringat bagaimana Rey menyelamatkannya ketika ia tenggelam. Bagaimana ia menangis dan menumpahkan ketakutannya didalam rangkulan Rey. Lamunannya membawa ia kembali kepada angannya tentang Rey. Namun, Lisa tersadar dari lamunannya. Ia memukul pelan kepalanya, berusaha untuk mengusir angan terlarangnya tersebut. Ia tidak boleh menginginkan pacar sahabatnya. Apapun alasannya. "Lisa! Lo harus sadar! Dia pacar sahabat lo! Lo gak boleh punya perasaan apa-apa ke Rey! Lo harus ingat Hyena! Harus ingat Hyena!" ucap Lisa sambil memukul pelan kepalanya. Lisa berusaha menancapkan dihati dan pikirannya untuk menghapus angan tentang Rey. Menghapus perasaannya. Mengapus hasrat hatinya untuk memiliki Rey. Namun semakin keras ia bertekad, hatinya seolah memberontak ingin mengikuti egonya. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Lisa menangis mengingat posisinya. Berulang kali ia sekuat tenaga mencoba melupakan Rey. Namun berulang kali juga upayanya selalu gagal. Seandainya saja ia tidak tinggal di rumah Hyena. Seandainya ia tidak sebangku dengan Rey di kelas. Seandainya ia juga bukan sahabat Hyena. Mungkin upaya melupakan Rey akan jauh lebih mudah. Karena ia tidak perlu melihat dan mendengar kisah tentang Rey setiap hari. CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD