11. Holiday (3)

1946 Words
                                                                                         *** Waktu telah menunjukan pukul 19.00. Rey dan Andrew telah mempersiapkan peralatan barbekyu untuk memanggang di taman. Sementara Lisa mempersiapkan daging sapi yang telah di beli Hyena dan Andrew tadi di pasar. Hyena hanya bisa menonton aktivitas mereka dari kursi taman, karena kakinya masih terasa sedikit sakit akibat tadi siang terjatuh ketika membeli daging di pasar bersama Andrew. "Rey ini dagingnya udah gue bersihin dan dipotong," kata Lisa sambil menyerahkan piring berisi potongan daging ke Rey. "Oh ya. Terima kasih, Lis. Lo temenin Hyena aja. Gue sama Andrew bisa ngerjainnya kok. Kasian itu Hyena melongo sendirian hahaha," kata Rey yang mulai memasak daging. "Oke deh kalo gitu. Kalian masak yang enak ya," kata Lisa. Lisa menghampiri Hyena yang tampaknya sudah mulai bosan hanya menjadi penonton. Ia sedang sibuk melihat i********: dengan dagu yang tertumpu pada tangannya. "Lo lagi liatin apaan, Hyen?" tanya Lisa. "Gue lagi liatin i********: anak-anak kelas. Abis gue bosen disini sendirian," keluh hyena. "Kita belum foto sih ya. Nanti kita harus foto bareng-bareng!" kata Lisa. "Lo gak bantuin tuh cowok-cowok masak? Udah bantuin mereka aja. Gak percaya gue masakan mereka enak," kata Hyena. "Niatnya sih gitu, Hyen. Cuma mereka ngusir gue dan nyuruh nemenin lo disini. Kasian lo sendirian disini. Yaudah lah. Kita percaya aja sama mereka. Semoga hasil masakan mereka setidaknya masih bisa dimakan hahaha," kata Lisa. Sementara Lisa dan Hyena mengobrol, Andrew dan Rey sibuk menyiapkan hidangan barbekyu. Mereka bekerja sama dalam memanggang daging. Kemudian tiba-tiba Andrew mendekatkan tubuhnya ke arah Rey dan mulai berbicara dengan nada pelan, agar Hyena dan Lisa tidak mendengar. "Kita bersahabat dari kecil, Rey," bisik Andrew. "Iya gue tau," jawab Rey. "Gue tau lo. Gue kenal lo." "Apaan sih, Ndrew. Ya lo pasti tau dan kenal gue lah. Terus kenapa?" tanya Rey heran. "Lo sama Lisa itu gak biasa... ada sesuatu..." bisik Andrew. "Gak biasa gimana? Gak jelas deh lo, Ndrew. Ngomong tuh langsung ke intinya aja. Jadi gue gak bingung," ucap Rey. "Lo sebenernya suka sama Lisa, Kan?" tanya Andrew dengan nada pelan tapi tajam. "Kenapa lo bisa ngira gitu? Kan gue punya pacar. Dan lo liat gimana gue ke Hyena. Gimana gaya pacaran gue," jawab Rey sambil memanggang daging. "Gue liat reaksi lo ketika Lisa tenggelam. Reaksi kepanikan lo itu melebihi gue. Reaksi lo itu kayak orang yang bener-bener gak mau kehilangan orang yang lo sayang." "Ya iyalah, Ndrew. Gue sayang dia sebagai teman dan gue gak mau kehilangan dia sebagai teman. Cuma itu," jawab Rey tegas. "Enggak. Itu gak biasa. Gue kenal lo Rey. Lisa juga aneh. Kayaknya dia suka lo deh," kata Andrew dengan tatapan curiga. "Dia gak suka gue. Tenang aja," jawab Rey yakin. "Kok lo yakin amat?" "Yakin aja." Kata Rey. 'Karena kalo dia suka sama gue, dia gak akan pergi menghindari dan meninggalkan gue dulu ketika gue sedang PDKT sama dia,'  kata Rey dalam hati. Andrew terdiam dan mengerutkan keningnya. Dia masih yakin akan prediksinya. Kalau ada sesuatu  diantara Rey dengan Lisa. Satu jam telah berlalu. Andrew dan Rey tampak sudah selesai memanggang daging barbekyu. Kemudian Andrew menata daging tersebut diatas piring dengan dibantu oleh Rey. "Ndrew, udah kelar nih. Sekarang kita hidangkan diatas meja," kata Rey. "Yaudah." Mereka berjalan ke arah Lisa dan Hyena sambil membawa piring hasil masakan ditangan mereka. Kemudian menatanya dengan cantik diatas meja. "Wah udah jadi. Wah..." kata Lisa sambil bertepuk tangan. "Taraaa.. Barbekyu ala Rey dan Andrew," kata Rey dengan penuh percaya diri. "Bisa dipercaya gak nih hasil masakannya?" tanya Hyena ragu. "Weitssss. Jangan salah, Yang. Ini lebih enak dari pada masakan di resto. Cheff Juna aja kalah, Yang hahahaha," canda Rey. "Yaudah. Ayok kita coba masakan kalian," kata Hyena. Kemudian ia langsung memotong daging dan memakannya. "Tuh... Mulai lagikan... Langsung mangap aje mulutnya. Yang lain aje belum mulai ckckck," ledek Andrew. "Wah enak banget! Keren kalian... ini bener-bener enak!" kata Hyena. "Yaudah mulai makan yuk. Si Hyena udah mulai asik makan sendiri aja hahahaha. Dasar!" kata Lisa. Mereka pun mulai asik menyantap barbekyu. Mereka makan dengan lahap sambil sesekali mulai bercanda dan mengobrol. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.  Namun rasa kantuk belum melanda mereka. Mata mereka masih belum menunjukan tanda-tanda terjaga. "Bagaimana kalo kita bermain turth or dare?" usul Andrew. "Gue setuju. Ayok kita main!" kata Hyena yang mulai bersemangat. "Gimana cara memainkannya?" tanya Lisa. "Ini ada botol, kita putar. Ketika botol itu berhenti mengarah ke salah satu diantara kita, maka dia harus memilih mau truth or dare. Gimana?" tanya Andrew antusias. "Kita ngapain sih memainkan permainan kekanak-kanakan gini," protes Rey yang tampak tidak tertarik mengikuti permainan Andrew. "Yah gak papa dong, Yang. Kayaknya sih ini seru," kata Hyena. "Iya Rey. Lagian kita juga gak ngantuk. Itung-itung kita isi waktu sampai berasa ngantuk," kata Lisa. "Atau jangan-jangan lo takut Rey?" Andrew menatap Rey sambil menaikan alisnya, tanda curiga. "Ih. Takut apaan gue. Yaudah ayo kita main. Sini botolnya, biar gue aja yang puterin," kata Rey sambil mengambil botol dari tangan Andrew. Rey menaruh botol diatas meja dan mulai memutarnya dengan cepat. Kini semua mata berfokus pada botol yang sedang berputar dan memperhatikan kemana arah botol berhenti. "Yes! Andrew kena! Sekarang lo pilih truth or dare?" tanya Hyena kegirangan. "Truth dong hahaha," jawab Andrew dengan percaya diri. "Oke. Gue yang nanya. Ceritain latar belakang keluarga lo dong? Terus kenapa lo harus jadi waiter?" tanya Hyena. "Itu dua pertanyaan. Satu aja dong harusnya," protes Andrew. "Ih. Itu kan pertanyaan yang saling berkaitan," kata Hyena. "Yah tetep aja harus satu," kata Andrew. "Yaudah. Ceritain latar belakang keluarga lo," perintah Hyena. Andrew terdiam membisu sambil melirik Rey, meminta pertolongan. Namun Rey memalingkan pandangannya dan tersenyum. 'Siapa suruh nyaranin permainan kayak gini. Udah tau yang paling banyak rahasia itu dia,' kata Rey dalam hati. 'Aduh sial. Jawab apa ya gue. Gue ngusulin permainan ini maksudnya buat Rey. Kenapa jadi senjata makan tuan,' keluh Andrew dalam hati. "Woy! Jawab dong. Lama amat. Pertanyaan simpel juga." Hyena memukul pundak Andrew yang duduk di sebelahnya. "Okeee bawel. Gue anak tunggal. Orang tua gue buka usaha kecil di Bali. Kemudian gue pindah ke sini. Sebisa mungkin biayain hidup gue sendiri disini," cerita Andrew. "Usaha apa?" tanya Hyena penasaran. "Weits... Itu pertanyaan ke dua. Sekarang kita putar lagi botol nya," kata Andrew yang mulai memutar botol nya dengan cepat. Dan ternyata botolnya berhenti ke arah Hyena. "Oke. Aku yang tanya. Truth or dare?" Kata Lisa. "Truth dong." Kata Hyena. "Seberapa kamu cinta, Rey ?" tanya Lisa yang langsung disambut tatapan Rey dan Andrew. "Ya ampun, Lis. Pertanyaannya gampang amat. Susah dikit dong, Lis. Gak menarik ah," keluh Hyena. "Gak papa, Hyen. Cuma mau tau aja hahaha," kata Lisa. "Yaudah gue jawab. Tentu sayang banget. gue gak tau sih apa ini bisa disebut cinta, karna gue belum menemukan definisi yang tepat tentang cinta, tapi yang jelas kalo gue kehilangan Rey pasti rasanya sakit banget," jawab Hyena sambil menatap Rey dengan lekat. "Terima kasih sayang," kata Rey sambil tersenyum. "Okee. sekarang kita putar lagi," kata Andrew yang malas melihat suasana berubah menjadi romantis. Botol pun kembali berputar. Semua mata kembali mengawasi laju perputaran botol itu. Sekarang ternyata botol berhenti pada Lisa. "Gue yang tanya sekarang. Truth or Dare?" tanya Rey. "Truth dong," jawab Lisa yakin. "Kalo lo pernah nolak cowok, alasannya apa?" tanya Rey. "Emang Lisa pernah nolak cowok? Kok lo gak pernah cerita sih Lis. Parah! Siapa tuh orang nya?" tanya Hyena penasaran. "Kan misalnya, Hyen. Kalo misalnya Lisa pernah nolak cowok," kata Rey. "Ooooooo" kata Hyena. Lisa Terdiam, dia bingung apa harus jujur atau tidak. Sementara Andrew menatap ekspresi Lisa dan Rey dengan penuh kecurigaan. 'Ehmmm... Ada yang aneh,'  Kata Andrew dalam hati. 'Aduh tau gitu gue pilih dare aja tadi,' gerutu Lisa dalam hati. "Lis... lama amat jawabnya," kata Rey. "Mungkin karena gue gak cukup baik kali ya buat dia. Ada yang lebih baik dari gue untuk dia. Ada yang lebih pas. Ada yang lebih cocok dan lebih serasi sama dia," jawab Lisa sambil menatap Rey. Rey terdiam. Dia merasa alasan itu yang digunakan oleh Lisa ketika dulu menolaknya. Saat masa Rey mendekati Lisa dulu, komunikasi dengan Lisa terputus selama beberapa lama sampai ia jadian dengan Hyena. Lisa menolak kehadirannya dan menghindarinya. "Tuhkan kayaknya ada deh orang nya," kata Hyena dengan tatapan curiga. "Kan ada kata mungkin, Hyen," kata Lisa. "Ah gitu lo ya. Gak mau cerita-cerita," kata Hyena sambil mencubit Lisa. "Awwww. Sakit Hyen. Yaudah ayo kita putar lagi," kata Lisa sambil memutarkan botol. Dan kemudian botol berhenti kembali pada Andrew. "Kok gue lagi sih. Sial! Kok si Rey gak kena sih," protes Andrew. "Niat lo jelek sih sama gue hahaha," sindir Rey. "Yaudah. Lo pilih truth or dare?" tanya Lisa. "Gw pilih dare aja hahaha," kata Andrew. "Dih... berarti banyak rahasia yang lo gak boleh ungkapin. Lo emang mencurigakan sih," kata Hyena. "Yah suka-suka gue dong. Kan pilihannya ada dua. Ya gue pilih dare lah," kata Andrew. "Oke. Kalo gitu lo telpon mantan atau gebetan lo sekarang dan bilang 'I Love You'  ke dia. Berani gak?" tantang Lisa. Andrew seketika langsung terdiam dan ekspresinya berubah. Sorot kesedihan langsung terpancar dari mata Andrew. Rey langsung khawatir ketika melihat ekspresi wajah Andrew. Rey tau Lisa telah menyinggung hal yang sangat sensitif bagi Andrew. "Gue berani bilang itu dan sangat ingin bilang kalimat itu ke dia, tapi gue gak bisa," kata Andrew dengan wajah sedih. "Lo dicampakin, Ndrew? Makanya dia gak mau lo hubungi? Atau dia udah punya cowok lain?" tanya Hyena penasaran. Rey terdiam dan bertanya dalam hati, apakah Andrew akan berani menceritakan tentang Devina. Satu-satunya perempuan yang spesial untuk Andrew dan masih belum tergantikan.  "Dia meninggal dua tahun yang lalu," jawab Andrew dengan nada yang penuh kesedihan. Hyena dan Lisa terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa jawaban dari pertanyaan mereka seperti itu. Mereka dapat melihat betapa Andrew sedih dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya. "Sorry, Ndrew. Gue gak tau," kata Lisa. "Gak papa kok, Lis. Walau gue masih sedih, tapi gak papa kok," kata Andrew dengan tersenyum. "Dia meninggal kenapa, Ndrew? Terus berapa lama lo jadian sama dia?" tanya Hyena penasaran. "Ih Hyena! Jangan ngungkit tentang hal itu. Lo gak liat wajah Andrew sedih gitu. Peka dong," tegurLisa sambil memukul lengan Hyena. "Yah gue kan cuma mau lebih kenal Andrew aja. Gue juga gak keberatan cerita tentang kisah gue kok sama Rey," kata Hyena. "Yah lo sama Rey gak ada cerita sedihnya, Hyen." Lisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Hyena. "Yaudah gue cerita secara singkat aja. Dia punya kelainan ginjal dari kecil. Ketemu dia tiga tahun yang lalu ketika gue juga lagi di rawat di rumah sakit yang sama. Dia sahabat dan orang yang gue sayang. Dia cantik bahkan ketika dia sedang sakit. Penyesalan terbesar gue adalah gak bisa disampingnya ketika dia meninggal. Saat menghembuskan nafas terakhir, dia bener-bener sendirian, karna ibunya pun juga lagi kerja. Gue benar-benar menyesal gak bisa menemani dia saat itu," cerita Andrew. "Kenapa lo gak bisa nemenin dia?" tanya Hyena. "Sudah... sudah. Kita hentikan saja permainan ini. Gue gak mau ngeliat wajah sahabat gue ini kembali sedih. Bro, dia udah bahagia di surga," kata Rey sambil merangkul Andrew. "Yes, i believe she is happy in heaven," kata Andrew sambil tersenyum. Rey menepuk pundak Andrew sebagai tanda untuk menguatkannya. "Besok kita balik jam 8 yah. Bangun tidur, abis itu sarapan, dan cusss kita pulang. Biar ada waktu istirahat sebelum hari Senin kita balik ke sekolah," kata Rey memberikan instruksi. "Oke siap, Yang. Malam ini kita packing aja. Jadi besok gak perlu lama-lama buat cabut," kata Hyena. "Eh... tapi sebelum itu kita foto-foto, yuk. Terus upload di i********:. Ini sesuatu yg perlu kita abadikan," kata Lisa dengan tersenyum. "Oke ayo kita foto," kata Rey. Mereka mengambil beberapa foto selama lima menit dengan berbagai gaya dan ekspresi. Dan akhirnya kembali ke kamar dan terlelap untuk tidur. CONTINUED         
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD