***
Di sekolah kini semua orang sudah mulai terbiasa melihat pemandangan Andrew, Rey, Hyena, dan Lisa berada didalam satu meja makan. Bahkan semua orang cukup enggap untuk menempati meja yang biasa dipakai oleh mereka. Rey, Hyena, Andrew, dan Lisa kini sedang menikmati hidangan kantin sambil berbincang dan bercanda.
"Ndrew, muka lo kenapa penuh memar gitu? tanya Lisa sambil menyantap bakso nya.
"Tau tuh, Lis. Gue tanya gak dijawab. Malah rambut gue diberantakin sama dia. Rese dia," keluh Hyena.
"Gak kenapa-kenapa kok. Wajar aja kali kalo cowok berantem-berantem. Namanya juga laki. b*****g tuh yang kulitnya mulus tanpa goresan hahaha," canda Andrew.
"Gue b*****g dong, Bro. Kulit gue mulus tau. Mulus kan?" canda Rey sambil memasang muka sok imut ke arah Andrew.
"Hahahhaa iya b*****g lo," ledek Andrew.
"Enak aja cowok gw b*****g! Kamu ganteng kok sayang. Laki banget!" kata Hyena sambil memeluk lengan Rey dan mengelus pipi nya.
"Makasi sayang. Kamu mengerti aku banget," Kkta Rey sambil memasang ekspresi sok imutnya.
"Drama banget deh lo ah berdua. Males gue liatnya," sindir Andrew.
"Hahaha jadi alasan sebenarnya wajah lo itu babak belur apa, Ndrew?" tanya Lisa penasaran.
"Ehm... jadi ada dua preman rese yang menghadang gue. Nah gue hajar aja mereka. Tapi ya, gak segampang itu juga ternyata. Jadi beberapa kali gue juga kena pukulan. Yah pada akhirnya, seorang Andrew gak mungkin dikalahkan dong. Gue berhasil melumpuhkan mereka," kata Andrew sambil mengangkat dagunya, tanda sombong.
"Tapi lo babak belur juga kan akhirnya," ledek Lisa sambil geleng-geleng kepala.
"Lagian lo ngapain coba berantem sama preman. Dua orang pula. Kalo mereka bawa pisau gimana?! Ditusuk elo, langsung mati. Pikir sebelum berantem ! Gak usah sok jago!" Hyena memarahi Andrew.
"Lo bawelnya udah kayak emak gue aje. Nyokap gue aja gak sebawel lo," kata Andrew.
"Ih di bilangin juga. Malah ngeyel. Mending tuh lo pake jurus kaki seribu. Kabur aja. Hindari tuh preman. Jadi wajah lo tetep mulus kan kayak Rey," Kata Hyena sambil mengelus pipi Rey dengan ekspresi sok imutnya. Rey hanya tertawa geli melihat tingkah pacarnya itu.
"Rey, hati-hati tuh. Cewek lo mau selingkuh hati sama gue. Mulai khawatirin gue," canda Andrew.
"Gue juga ngerasa dia gitu sih. Kayaknya hatinya udah gak di gue lagi," canda Rey dengan.
"Udah lo putusin aja. Cari cewek normal aja."
"Ah bilang aja lo mau ngambil dia kan?"
"Ih apaan sih kalian berdua. Lisa ayok kita pergi tinggalin mereka berdua. Males ah." Hyena menarik tangan Lisa untuk pergi meninggalkan kantin.
"Iya... iya... Sabar dong, Hyen. Jangan tarik-tarik," protes Lisa.
Andrew dan Rey hanya tertawa saja melihat ekspresi wajah Hyena yang ngambek. Setelah Rey melihat kedua perpempuan itu pergi dan menghilang dari pandangannya, ia mulai menatap Andrew dengan serius.
"Jadi apa penyebab muka lo penuh memar gitu?" tanya Rey.
"Kemarin gue makan malam di rumah. Gue bilang ke bokap supaya jangan nyewa orang buat ngawasin gue. Karena selama ini gue tau ada beberapa orang mengintai gue. Terus pas gue pengen cabut dari rumah, bodyguard bokap ngehadang gue. Kayaknya gue mau dikurung lagi sama bokap di rumah, kayak peristiwa tiga tahun yang lalu. Yah gue melakukan perlawanan dan berusaha menghajar mereka. Ya akhirnya gue berhasil melumpuhkan mereka, cuma muka gue ya jadi nya gini," cerita Andrew.
"Apa lo gak sebaiknya beneran pulang ke rumah? Lo hidup kayak gini juga bahaya, Ndrew. Sendirian tanpa proteksi. Mungkin bokap lo cuma mau ngejagain lo aja," kata Rey.
"Biarkan gue mengambil segala konsekuensi atas pilihan hidup gue Rey," kata Andrew tegas.
"Tapi lo mau sampai kapan jadi waiter dan tinggal di luar, Ndrew?" tanya Rey.
"Gue juga gak tau. Mungkin sampai gue rasa itu momentum yang tepat buat gue balik ke rumah," kata Andrew.
"Pilihan hidup lo gak jelas kalo gitu, Ndrew. Kecuali lo udah punya perencanaan yang jelas buat hidup lo, baru gue bisa menghargai keputusan lo." Kata Rey.
"Entahlah Rey. Sebenarnya gue cuma hanya ingin keluar dari rumah itu. Gue ingin lepas dari orang tua gue sejenak. Gue masih menyimpan amarah ke mereka karna Devina. Gue masih belum bisa lupain Devina, Rey," kata Andrew dengan kepala tertunduk dan tatapan sedih.
"Lo belum menerima kepergian Devina, Ndrew. Makanya lo melampiaskan kemarahaan lo akan situasi ini ke orang tua lo. Walau gue gak bisa bilang apa yang dilakukan orang tua lo itu sepenuhnya benar sih. Cuma lo juga gak bisa gini terus. Devina udah pergi. Devina udah bahagia di surga. Lo mau sampai kapan gini terus. Mau sampai kapan lo jadi waiter? Mau sampai kapan lo tinggal di kafe itu, Ndrew. Bagaimanapun mereka itu orang tua lo." Rey berusaha menyadarkan Andrew untuk kembali ke posisi dan rumahnya.
"Entahlah Rey... Gue gak tau," kata Andrew sambil memegang kepalanya.
"Lo pewaris Hamston Group, Ndrew. Lo akan mewarisi tanggung jawab yang bokap lo tanggung sekarang. Nasib ratusan ribu karyawan akan ada di pundak lo nantinya. Lo gak bisa egois hanya memikirkan emosi lo ke bokap. Lo harus balik ke rumah dan ngebantuin dia menangani perusahaan nantinya. Lo gak bisa lama-lama jadi waiter, Ndrew," kata Rey.
"Iya, Rey. Gue tau. Gue memang akan balik ke sana. Tapi gue gak tau kapan. Gue masih nyaman kayak gini, Rey. Mungkin gue memang egois. Tapi gue butuh waktu. Gue gak bisa mengampuni mereka secepat itu. Gue masih menyimpan amarah. Gue..." Andrew tiba-tiba terdiam dan tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Oke, Ndrew. Gue minta maaf kalo ngungkit luka lo lagi. Gue gak maksa lo harus balik ke rumah bokap hari ini. Gue bisa paham psikis lo. Cuma gue saranin... jangan lama-lama, Ndrew," kata Rey menasehati Andrew dengan serius.
"KRINGGG !!!!!" Bel tanda waktu istirahat telah habis sudah berbunyi.
"Yaudah, yuk kita balik ke kelas. Istirahat udah kelar," kata Andrew sambil bangkit dan beranjak dari kursi kantinnya.
"Lo pikirin omongan gue hari ini, Ndrew." kata Rey.
***
Sudah tiga bulan Rey dan Lisa lebih banyak diam di kelas. Kalau bukan karena urusan sekolah atau pelajaran, mereka tidak akan berbicara satu sama lain. Rey merasa kondisi seperti ini lebih baik, sehingga ia bisa menjaga hatinya untuk Hyena. Begitu juga dengan apa yang Lisa rasakan. Lisa pun juga enggan berbicara dengan Rey, jika itu tidak dirasa penting. Lisa ingin terus mencoba melupakan Rey.
Namun, kondisi canggung seperti ini benar-benar tidak nyaman sebenarnya untuk mereka. Bagaimanapun juga mereka berada satu meja di kelas. Suasana belajar juga menjadi tidak nyaman. Bamun, mau tidak mau Rey dan Lisa harus bertahan disituasi yang tidak mengenakkan ini.
Tiba-Tiba Pak Juno guru kesenian memberikan sebuah tugas, "jadi kalian sudah mempelajari bagaimana cara nya melukis wajah. Nah saya mau memberikan tugas kepada kalian, untuk melukis wajah teman sebangku kalian. Tugas di kumpulkan dua minggu lagi."
Suasana di kelas menjadi ribut karena tugas yang di berikan oleh Pak Juno itu termasuk susah. Apalagi banyak tugas pelajaran lain yang menanti. Pelajaran kesenian sesungguhnya dianggap tidak terlalu penting jika di bandingkan mata pelajaran yang lain. Namun, tidak mungkin juga jika harus mengabaikan tugas kesenian itu.
Sementara untuk Lisa tugas Pak Juno ini bagaikan sebuah malapetaka. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Rey, kalo justru ia malah mendapat tugas melukis wajahnya? Hal itu justru membuatnya semakin mengingat wajah Rey dalam benaknya.
"Lis, gimana nih. Tugasnya susah banget. Gue gak pinter melukis," keluh Rey sambil garuk-garuk kepala.
"Gak tau nih. Tugasnya susah amat," kata Lisa sambil menghela nafas.
"Yah tapi mau gak mau harus kita kerjain. Gak mungkin kan nilai kesenian kita jelek. Yaudah lusa, lo ke rumah gue ya. Nanti pulang bareng. Karena kalo ada Hyena, pasti itu tugas lukis gak akan kelar-kelar. Gue pengen cepat selesai," kata Rey.
'Tugas ini harus cepat selesai. Supaya gue gak make alasan tugas buat ketemu Lisa berlama lama. Gue harus ingat Hyena.' kata Rey dalam hati.
"Oh oke. Nanti Lusa gue ke rumah lo," kata Lisa singkat dan kembali tenggelam dalam tugas keseniannya saat itu.
***
Sepulang sekolah Rey, Hyena, dan Lisa mampir ke Cafe Gledenys. Mereka berencana menemani Andrew bekerja. Lebih tepatnya sih menonton Andrew kerja. Hal ini dilakukan seminggu sekali. Karena Andrew pasti akan marah-marah kalau mereka datang terlalu sering.
"Yang, bagi chocolate milk kamu dong," pinta Hyena. Kemudian ia langsung menarik gelas Rey dan meminumnya.
"Jiah... langsung diminum. Belum juga aku bilang iya," protes Rey.
"Kalau mau jadi pacar aku gak boleh pelit," canda Hyena.
"Kamu tuh ya hahaha," kata Rey sambil mencubit pipi Hyena.
"Guys... Itu kenapa Andrew tiba-tiba keluar ruangan?" tanya Lisa heran.
Mereka melihat Andrew keluar dari Cafe itu dengan berlari dan terlihat terburu-buru. Tatapan matanya menunjukan emosi dan amarah yang luar biasa. Rey tau ada sesuatu yang tidak beres menimpa Andrew.
"Kalian tunggu disini sebentar ya. Biar gue coba liat dulu," kata Rey sambil pergi meninggalkan Hyena dan Lisa.
***
Andrew menyeret seorang pria ke tembok dibelakang kafe Gledenys. Ia mengunci tubuh pria tersebut. Lengan kanannya menekan bahu pria itu sehingga pria itu benar-benar tidak bisa berkutik.
"Lo pasti suruhan bokap gue kan?! Ngaku lo!" kata Andrew dengan nada penuh kegeraman dan emosi.
Namun, pria itu hanya diam saja dan tidak menjawab. Melihat respon pria itu yang hanya diam justru membuat emosi Andrew semakin naik. Ia melontarkan satu pukulan keras di pipi pria itu secara bertubi-tubi.
"Jawab pertanyaan gue! Siapa yang nyuruh lo mengintai gue?!" kata Andrew dengan penuh amarah.
Pria itu masih tetap tidak menjawab. "Oke kalo lo gak jawab. Sampaikan ini ke bokap gue. Kalo sampai gue menangkap lagi orang sewaan dia buat mengintai gue, maka akan gue pastikan dia akan menjadi ayah seorang pembunuh!" teriak Andrew sambil memukul Pria itu secara bertubi-tubi. Pria itu hanya menerima pukulan Andrew tanpa melakukan perlawanan.
"ANDREW!" teriak Rey. Rey berlari dengan cepat menghampiri Andrew yang masih terlihat terus memukul. Ia menarik tangan Andrew dan berusaha untuk menghentikan pukulannya. Jika terus dibiarkan, pria itu mungkin bisa saja mati.
"ANDREW CUKUP! Tenangin diri lo. Oke?!" kata Rey.
Andrew seketika menjadi tenang setelah Rey menahannya dan merangkulnya. Sementara pria itu menyadari bahwa ini merupakan kesempatan yang tepat untuk dirinya kabur. Ia mendorong tubuh Andrew dan Rey menjauh, lalu kemudian berlari sekencang-kencangnya untuk melarikan diri.
"Udah biarkan dia, Ndrew," Kata Rey sambil menepuk bahu Andrew.
"Ini semua gara-gara bokap gue," lata Andrew dengan penuh kegeraman.
"Ini caranya untuk melindungi lo, Ndrew. Berusahalah memahami bokap lo sedikit aja," kata Rey.
"Padahal gue udah bilang ke dia kalo gue gak suka diginiin. Hidup gue jadi gak tenang, jika terus diintai kayak gini Rey. Gue itu cuma mau istirahat sejenak. Gue cuma mau menenangkan diri dan menikmati hidup gue sebentar. Kenapa bokap gue juga gak berusaha memahami keinginan gue!" kata Andrew. Sangat terlihat jelas Andrew sedang menahan emosinya.
"Hal ini gak akan berhenti sampai lo balik ke rumah lo, Ndrew. Kalo lo gak mau diintai, ya lo balik ke rumah," kata Rey.
"Entah lah, Rey. Yaudah gue masuk dulu. Gue ngelanjutin kerja," kata Andrew dan pergi meninggalkan Rey.
'Selalu seperti ini. Dia selalu mengalihkan pembicaraan, setiap kali gue suruh dia pulang ke rumahnya' keluh Rey dalam hati.
CONTINUED