15. You in My Eyes

1938 Words
*** Semua anak di sekolah mengenal Andrew bukan sebagai anak orang kaya. Meskipun begitu, tidak ada yang berani mengusik Andrew. Biasanya siswa yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah akan dibully dan diganggu. Namun hal itu tidak terjadi pada Andrew. Semua orang merasakan aura Andrew begitu menakutkan. Kepandaian bela dirinya juga sudah sudah diketahui tidak ada yang biasa mengalahkannya.  Andrew juga bukan tipe orang yang mudah diintimidasi. Siapa saja yang mengganggunya pasti akan dihadapi dan dilawan dengan gentle. Bahkan sekarang tidak ada yang berani membicarakan Andrew dibelakang, jika mereka  melihat ada Andrew diruangan itu. Linda, Cassey, dan Audrey mulai meresahkan pengaruh genk Andrew cs yang mulai mengusik popularitas mereka di sekolah. Anak-anak terus membicarakan tentang Andrew. Meskipun Andrew bukan tipe orang yang ramah pada orang lain, tapi wajah tampan dan kharismanya tetap saja membuat para gadis terpesona. Apalagi ditambah dengan pesona Rey yang juga tampan dan dikenal sangat kaya. Genk Andrew cs benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh anak disekolah. "Gue bingung deh. Gimana caranya menyingkirkan mereka. Sejak ada si Andrew itu, genk kita eksisnya makin terus berkurang. Kehadiran Andrew justru membuat genk Rey Cs jadi lebih kuat," keluh Linda sambil menyeruput orange juice miliknya. "Iya, padahal dia cuma waiter aja. Kok kita gak bisa nyolek dia ya," tanya Cassey bingung. "Ada yang berani ngerjain si Andrew gak?" tantang Audrey. Linda dan Cassey langsung terkejut mendengar tantangan yang dilontarkan oleh Audrey. "What?! Gila lo! Cowok-cowok di sekolah kita aja, gak berani nyolek dia. Apalagi kita yang cuma kaum cewek feminim ini," kata Linda. "Kalo gitu lo buat si Andrew ngejar-ngejar lo. Jadi pamor genk kita naik. Coba deh lo pikir, seorang Andrew yang cool dan ditakuti di sekolah ini bisa tergila-gila dengan Linda. Kece gak tuh?" usul Audrey. "Ah gila lo... apa bangganya punya fans waiter ?!" kata Linda. "Eh... tapi ada benernya juga ide Audrey. Kalo dia ngejar-ngejar lo, pamor kita bakalan meningkat. Udah gitu kita bisa masuk ke genk Rey CS. Yah setidaknya bisa hang out bareng mereka dan foto bareng. Abis itu upload deh di i********:. Tambah famous kan kita," kata Cassey antusias. Linda mengerutkan dahi nya, sejenak ia mulai berpikir tentang usul kedua sahabatnya.'Iya juga sih. Gue kan gak mungkin ngedeketin si Rey, secara dia pacarnya Hyena. Andrew juga gak jelek-jelek amat sih sebenarnya. Walau dia waiter, tapi dia punya Wajah ganteng. Lebih ganteng dari Rey malah menurut gue.'  kata Linda dalam hati. "Oke. Gue setuju dengan ide kalian. Gue akan buat dia takluk sama gue," kata Linda dengan senyum liciknya. "Nah gitu dong, Lin," kata Audrey. "Tapi menurut kalian si Andrew itu suka sama Lisa gak sih?" tanya Cassey. "Kok gitu?" tanya Audrey heran. "Yah sekarang coba aja lo pikir. Rey kan jadian sama Hyena. Masa Andrew gak punya pikiran buat jadian sama Lisa sih? Atau si Andrew setidaknya nih ya, ngelirik si Lisa. Kan, mereka sering ngumpul berempat,." kata Cassey. "Ehmph... iya juga sih. Bener kata lo," ucap Audrey sambil mengerutkan keningnya. "Berarti lo harus hati-hati sama Lisa, Lin. Kalo sampai Andrew beneran jadian sama Lisa... wah tamat. Kelar udah. Cerita nya kelar." Kata Cassey. "Emph... Lisa ya... tapi gue lebih cantik kok dari Lisa. Jadi kalian tenang aja," ucap Linda percaya diri. "Yah ini gak ada hubungannya sama siapa yang lebih cantik. Kalo kata orang, cinta ada karna terbiasa. Nah intensitas kebersamaan lo dengan Andrew itu kalah jauh, jika dibandingkan dengan Lisa," kata Cassey dengan tatapan yang serius. "Emph.. iya juga sih ya.. terus gue harus gimana dong?" tanya Linda polos. "Yah lo harus menemukan alasan buat bisa lebih sering ketemu dan nempel sama si Andrew itu," kata Audrey. "Ehmm... gitu ya. Oke akan gue pikirkan," kata Linda sambil menatap Andrew dari jauh. Sementara itu Rey, Andrew, Hyena, dan Lisa juga sedang sibuk membahas tugas kesenian dari Pak Juno. Mereka semua mendapat tugas yang sama yaitu melukis wajah teman sebangkunya. "Aihhh.. masa gue harus ngelukis wajah dia sih," keluh Hyena. "Yah lo harusnya bersyukur dong, Hyen. Bisa ngelukis wajah tampan gue ini. Coba kalo misalnya lo harus ngelukis si Murdin, kan burem mata lo jadinya hahaha," canda Andrew. "Setidaknya si Murdin itu gak rese kayak lo," kata Hyena ketus. "Sudah... sudah... kalian ini berantem terus kerjanya. Gak capek apa," kata Lisa menengahi. "Jadi nanti sepulang sekolah, kita ngerjain tugas keseniannya terpisah yah. Lisa di rumah aku dan Andrew di rumah kamu, Yang. Biar cepet kelar. Kalo ngerjainnya berempat, pasti banyak bercandanya. Gak kelar-kelar," kata Rey. "Emang lo gak kerja, Ndrew?" tanya Hyena. "Gue bisa minta ijin ke Marco sih. Dia pasti paham kalo urusan tugas sekolah," jawab Andrew. "Yaudah sepakat kalo gitu. Hari ini harus kelar ya tugasnya. Males banget gue natap wajah si Andrew lama-lama. Dilukis pula," kata Hyena sambil memegang kepalanya, tanda frustasi. "Awas aja kalo lo malah mimpiin wajah gue yak. Gak terima gue!" canda Andrew. "Dih... pede gila lo! Amit-amit deh gue mimpiin lo!" kata Hyena ketus. *** Sepulang sekolah Rey langsung mengajak Lisa untuk ke rumahnya, agar bisa mengerjakan tugas kesenian bersama. Meskipun suasananya terasa canggung diantara mereka, tapi Rey berusaha untuk bersikap seperti biasa. "Yuk Lis. Kita naik mobil buat ke rumah gue," ajak Rey. "Iya Rey," jawab Lisa sambil membuka pintu mobil Rey. Selama diperjalanan Rey dan Lisa hanya diam saja. Diantara mereka tidak ada yang berinisiatif untuk membuka obrolan atau mencairkan suasana. Lisa memilih untuk menyibukkan diri dengan handphonenya dan memperhatikan media sosialnya. Sementara Rey hanya fokus menyetir dan memperhatikan jalan. Rey sengaja menyalakan radio agar setidaknya suasana tidak terlalu sunyi. Mobil Rey telah memasuki gerbang rumahnya. Rey menurunkan Lisa didepan pintu Rumahnya, karena ia harus memakirkan mobilnya didalam garasi yang terletak dibelakang rumahnya. Lisa berdiri depan rumah Rey sambil memandangi taman yang ada disana.  Ia memandangi air mancur dan tanaman mawar merah yang ada di taman itu. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat cantik "Kakak siapa?" tanya seorang anak kecil  yang tiba-tiba ada dibelakang Lisa. "Hai... aku Lisa. Kamu?" tanya Lisa sambil tersenyum. "Aku Reginald. Kakak cari siapa?" tanya anak itu penasaran. "Kakak temannya Rey. Kamu adiknya Rey ya?" tanya Lisa sambil membelai kepala Reginald. Reginald hanya mengangguk dan tersipu malu dihadapan Lisa.  "Kamu kok lucu dan ganteng banget sih," kata Lisa sambil mencubit gemas pipi Reginald. Reginald semakin tersipu malu diperlakukan Lisa seperti itu. "Kakak usianya berapa?" tanya Reginald tiba-tiba. "Aku 17 tahun. Kamu?" ucapLisa dengan tersenyum. "Oh. Berarti kita hanya beda 8 tahun. Gak masalah kalo gitu," kata Reginald sambil mengedipkan mata. "Hah? Maksudnya? hahaha," Lisa tertawa geli melihat kelakuan bocah dihadapannya.  "Reginald. Kamu apain teman kakak? Sana main robot-robotan," kata Rey sambil berjalan menghampiri Lisa dan Reginald. "Maaf kak. Aku bukan anak kecil lagi. Robot-robotan hanya permainan anak TK. Aku mau baca novel sastra aja," jawab Reginald dengan gaya sok cool dan sok dewasa. "Hah? Kamu lagi kenapa si? Aneh bener," tanya Rey yang heran dengan kelakuan adiknya. "Pasti Kak Rey mau ngerjain tugas bareng Kak Lisa, Kan? Nanti setelah selesai ngerjainnya, aku tunggu diruang makan. Kita makan malam bareng Kak Lisa. Pantang membiarkan tamu pulang dengan perut lapar. Oke? See you," kata Reginald sambil melambaikan tangan. Kemudian langsung masuk ke dalam rumah dab meninggalkan Rey serta Lisa. Rey  tampak bingung dengan ucapan dan kelakuan Reginald. Namun, Lisa hanya tertawa cekikikan karena menganggap tikah Reginald begitu menggemaskan. "Dia kenapa sih? Adek gue sakit kali ya," kata Rey masih kebingungan. "Adik lo lucu ya. Ganteng pula hahaha," kata Lisa dengan tertawa. "Oh... paham gue sekarang. Lo ngerayu dia, Kan? Makanya tuh bocah jadi terpesona sama lo. hahaha," kata Rey sambil geleng-gelengkan kepala. "Gue emang punya pesona yang bisa memikat siapa saja Rey, tanpa harus gue rayu hahahaha," canda Lisa. 'Iya sih emang,' kata Rey dalam hati. "Yaudah. Kita masuk ke ruang keluarga. Kita ngerjain tugasnya disana aja," ajak Rey. Rey membawa Lisa ke ruang keluarga yang terletak dilantai dua. Ia mempersilahkan Lisa duduk di sofa yang ada diruangan itu. Kemudian Rey masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian dan mengambil peralatan melukis.  "Gue ganti baju dulu ya. Sekalian ambil peralatan melukis. Gue udah minta Bi Siti bawain kita makanan dan minuman," kata Rey sambil berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang keluarga. "Oke Rey," jawab Lisa singkat. Beberapa menit kemudian Bi Siti muncul sambil membawa nampan yang berisi dua gelas orange juice dingin dan beberapa snack.  Kemudian menaruhnya diatas meja yang ada didepan Lisa. "Terima kasih ya, Bi," ucap Lisa sopan. "Sama-sama, Neng. Neng cantik sekali," puji Bi Siti. "Ah bibi bisa aja," kata Lisa sambil tersenyum. "Hahaha bener kok, Neng. Yaudah, nikmati aja hidangannya," kata Bi Siti. "Iya, Bi. Sekali lagi makasi ya," kata Lisa. Setelah Bi Siti pergi, tak berapa lama Rey keluar dari kamarnya dengan pakaian rumah yang santai. Ia terlihat memegang buku gambar, dua pensil tulis, dan satu kotak pensil warna. "Peralatan melukisnya cuma ini aja kan ya?" kanya Rey sambil menunjukan kertas gambar dan pensil yang iya bawa. "Iya cuma itu aja. Sebenernya tugas melukisnya itu cuma di arsir. Jadi gak perlu pensil warna," kata Lisa. "Oh gitu. Yah udah terlanjur gue keluarin. Yaudahlah biarin aja. Kita mulai ngerjain sekarang aja ya. Biar cepet selesai," kata Rey sambil duduk disebelah Lisa dan membuka buku gambarnya. "Oke. Berarti kita saling melukis ya. Biar cepet," kata Lisa sambil mulai menggambar. Ketika mereka sedang mulai melukis, tiba-tiba Reginald muncul dengan membawa buku sastra ayahnya. Reginald duduk di sebelah Lisa dan mulai membaca buku ayahnya. Sepertinya ia ingin memikat Lisa dengan tampilan sebagai pria dewasa. "Kamu ngapain disini, De?" tanya Rey heran. Lisa hanya tertawa melihat tingkah Reginald yang tampak lucu dan menggemaskan dimatanya. "Aku hanya duduk dan baca buku. Kenapa? Gak boleh? Kalian cuma mau berduaan doang?" kata Reginald sambil menaikan satu alisnya. "Yah gak gitu. Cuma aneh aja. Ngapain kamu baca buku sastra papa? Kayak ngerti aja. Baca aja belum bener," ledek Rey. "Sorry Kak Rey. Jangan anggap dan perlakukan aku kayak anak kecil," kata Reginald dengan tatapan tajam. "Emang kamu anak kecil. Gimana sih," kata Rey heran. "Kedewasaan itu bukan tentang umur, Bang. Umur boleh kecil, tapi aku memiliki sikap yang dewasa," kata Reginald sambil mengangkat dagunya. Rey terperangah mendengar jawaban adiknya. 'Darimana dia nemu jawaban kayak gitu,' kata Rey dalam hati sambil geleng-geleng kepala. "Aduh. Kamu lucu banget sih," kata Lisa sambil mencubit dan membelai kepala Reginald. Seketika pipi Reginald menjadi merah merona karena tersipu malu. Rey yang melihat gelagat aneh dari adiknya, langsung menarik Lisa. Ia berusaha menghentikan drama aneh yang sedang berlangsung didepan matanya. "Lis. Udah ayo selasaiin tugas lukisnya. Kapan kelarnya coba, Kalo kita perhatiin si Ginald mulu," kata Rey ketus. Reginald langsung menatap sinis abangnya itu. "Iya. Oke Rey hahahaha," kata Lisa. Rey dan Lisa mulai kembali mengalihkan pandangan mata ke arah kertas gambar yang ada ditangan mereka. Mereka mulai tenggelam dalam lukisannya. Pandangan mata mereka saling melekat. Memperhatikan setiap lekukan wajah satu sama lain dan menuangkannya dalam guratan pensil di buku gambar. Tanpa berbicara mereka saling mengobservasi wajah masing-masing. Detak jantung Rey berdegup dengan kencang. Rey merasakan perasaan tidak biasa saat itu. Ia harus menatap mata, bibir, dan semua lekukan wajah Lisa. Wanita yang pernah atau mungkin masih ia sukai. Menatap wajahnya seperti menguatkan kenangan tentang Lisa dalam otaknya. Namun, ia tetap harus menatapnya sampai lukisan ditangannya selesai. Sebisa mungkin ia mengontrol perasaan dan dirinya. "Uhu.k.. uhuk..." Reginald berpura-pura batuk. "Suasananya kok aneh yah," kata bocah berumur 9 tahun itu.  "Berisik kamu. Udah sana belajar baca," kata Rey ketus. "Dih... gitu amat sih." Reginald mendengus kesal dan menatap sinis abangnya itu. 'Reginald benar. Suasana ini memang aneh. Seandainya tugas ini tidak pernah ada. Aku tidak perlu ada disini dan menatap wajahnya begitu lekat. Sangat sulit menghapusnya dari hatiku, tapi saat ini aku malah memperjelas gambaran wajahnya dalam pikiranku.'  kata Lisa dalam hati sambil melukis wajah Rey di buku gambar nya. CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD