***
Sejak hubungan Rey dan Andrew kembali pulih, sebuah kebiasaan baru tercipta. Hyena, Rey, Lisa, dan Andrew mulai terbiasa menghabiskan waktu istirahat bersama. Mereka akan otomatis berkumpul dan duduk dalam satu meja.
Lisa terlihat sudah mulai akrab dan terbiasa dengan kehadiran andrew. Sementara Hyena meskipun masih ada rasa kesal, tapi ia berusaha mengendalikan emosi dan ekspresi wajahnya. Hyena tidak mungkin mengusir sahabat pacarnya itu untuk menjauh dari mereka.
Hyena, Lisa, dan Rey berjalan bersama menuju kantin. Mereka menghela nafas ketika melihat Andrew sedang makan dengan lahap.
"Wah kok lo makan sendiri sih. Gak nungguin kita," protes Lisa.
"Emang ye gak setia kawan banget. Ckckck," ucap Hyena.
"Ah lama nungguin kalian. Bisa sekarat karna kelaperan gue hahaha kalian pesen gih sana," kata Andrew.
"Ah lo. Gak asik hahaha. Yaudah, yuk kita beli makanan dulu guys." ajak Lisa.
"Hyen, aku nitip kamu aja ya. Aku mau pesen mie goreng aja," pinta Rey.
"Oke deh, yang. Aku pesenin," kata Hyena yang kemudian langsung menarik Lisa membeli makanan.
Setelah Hyena dan Lisa pergi, Rey mendekati Andrew yang terlihat masih lahap mengunyah makanannya. "Ndrew, kita jalan yuk berempat. kemana kek. nongkrong di mall atau minimal nonton Film bareng. Pokoknya ngapain gitu," ajak Rey.
"Gue gak bisa, Rey. Gue harus kerja ditempat Marco. Lo kan tau kondisi gue kayak gimana," kata Andrew.
"Yah iya sih, Ndrew. Tapi masa gue ngeliat lo cuma pas istirahat gini doang sih. Lo langsung cabut pas pulang sekolah. Gue ajak nongkrong, lo selalu gak bisa. Kapan kita punya quality time, Ndrew?" protes Rey.
"Buset deh. Gue udah kayak pacar lo aja. harus diliat setiap saat hahaha. kan lo udah punya Hyena hahaha," canda Andrew
"IH, BUKAN GITU MAKSUD GUE!" teriak Rey yang mulai geram dengan Andrew.
"iya. Santai bro hahahaha,"
"Gue juga sedih liat aktivitas lo itu cuma sekolah dan kerja. Gak ada waktu buat nongkrong. Lo juga gak pernah main basket lagi atau kegiatan bela diri yang biasa lo ikutin pas SMP dulu."
Rey menatap Andrew khawatir. Rasanya Andrew yang sekarang benar-benar berbeda dengan dulu. Rey melihat Andrew membentuk dunianya sendiri dengan rutinitas yang monoton. Tempat yang dikunjunginya juga hanya sekolah dan kafe tempatnya bekerja.
"Ehm... yah pilihan hidup gue ini emang pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung sih, Rey. Yah salah satunya waktu main gue hampir gak ada," kata Andrew.
"Harus banget lo jadi waiter ya, Ndrew? " tanya Rey.
"Iya. Gue happy dengan keadaan sekarang kok. Tenang aja, gue juga cuma sementara kok kayak gini," jawab Andrew berusaha menenangkan Rey.
"Iya, tapi mau sampai kapan?"
"Sampai gue ngerasa itu momentum yang tepat buat gue balik ke rumah dan ke posisi yang seharusnya," jawab Andrew sambil menyeruput es kelapanya.
"Ah terserah lo lah." Rey mulai lelah mendengar respon jawaban Andrew yang santai. Padahal ia serius mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.
"Hahahaha abis gue masih nyaman hidup kayak gini, Rey. Udah santai aja," kata Andrew sambil menepuk bahu Rey.
Hyena dan Lisa membawa nampan berisi makanan yang kemudian ditaruhnya diatas meja. Rey dan Andrew pun akhirnya menghentikan obrolan karena kehadiran dua wanita ini diantara mereka.
"Kalian ngobrolin apaan sih? Serius banget," tanya Hyena heran.
"Kita gak ngomong apa-apa kok. Cuma obrolan ringan aja." jawab Rey.
"Oh gitu. Ndrew, bisa gak sih lo tuh gak galak-galak kalo duduk di sebelah gue. Rasanya pengen bilang Pak Rinaldo buat mindahin tempat duduk gue!" Protes Hyena.
"Lah. Emang gue galak apaan? Emang gue pernah marah-marah dan maki-maki lo apa?" Andrew heran dengan permintaan Hyena.
"Mulai lagi deh kalian," kata Lisa sambil menepuk keningnya.
"Lo tuh berbicara lewat ekspresi muka lo! Jadinya gue kan serem. Gue berasa ada kuntilanak versi cowok di sebelah gue!" kata Hyena dengan ekspresi kesal.
"Buset. Gue ganteng gini dibilang kuntilanak. Hahahaha Lo ke dokter mata gih. Siapa tau mata lo yang rusak." ledek Andrew
"Gak lucu lo." ucap Hyena ketus.
"Sudah... sudah... kalian ini... guys, gimana kalo sepulang sekolah kita nongkrong di kafe Glendenys? Ngeliatin si Andrew kerja," ajak Rey.
Andrew menatap aneh ke arah Rey. Ajakan Rey terdengar tidak masuk akal baginya. Bahkan terkesan konyol.
"Emangnya gue badut. Pake ditontonin segala. Gue kerja, bro. Masa diliatin sih gue kerja. Udah kayak gak ada film yang menarik aja buat ditonton," Protes Andrew.
"Yah kita bukan ngeliatin lo doang kali. Kita juga nongkrong disana. Atau ngapain kek," kata Rey.
"Yah cari kegiatan berfaedah ditempat lain lah. Ngapain ditempat kerja gue. Ckckck," ucap Andrew yang terlihat heran.
"Yaudah sih, Ndrew. Anggap aja kita pelanggan lo. Masa lo larang pelanggan buat masuk," ucap Rey.
"Sebenernya apa kata Andrew itu bener. Kita ngapain nontonin dia. Emang dia selebritis apa. Mending juga nonton film dah," keluh Hyena.
"Tapi aku pengen liat Andrew kerja, Yang." rengek Rey sambil merangkul lengan Hyena.
"Yaudah kita kesana nanti setelah pulang sekolah, tapi please... jangan sok imut. Aku gak tahan," kata Hyena dengan tatapan risih.
"Makasih sayang akuuuuuhhh," ucap Rey sambil memeluk Hyena.
"Dasar pasangan alay," ledek Andrew.
***
Rey menatap gerak-gerik Andrew sedang bekerja dengan ditemani segelas kopi Vietnam dan sepiring roti bakar keju. Hyena duduk disebelah Rey sambil menonton video youtube dari handphone miliknya sambil menikmati segelas strawberry Milkshake. Sementara Lisa terlihat sibuk mengerjakan tugas matematikanya dengan ditemani orange juice.
Setelah satu jam berada di kafe itu, Hyena terlihat mulai bosan berada disana. Minuman dan makanan yang dipesannya telah habis. Sementara perutnya sudah terlalu kenyang untuk memesan makanan lagi.
"Ngapain sih disini, Yang. Toh Andrewnya juga sibuk melayani customer. Kita pindah tempat aja yuk," ajak Hyena.
"Jangan dong sayang. Kamu gak kasian sama Andrew apa. Sepulang sekolah dia sibuk kerja. Gak ada waktu buat nongkrong sama teman. Bahkan dia gak punya teman selain kita. Kamu aja juga masih ogah-ogahan berteman sama dia. Kita harus disini sesekali buat nemenin dia," kata Rey dengan tatapan serius.
"Iya tuh, Hyen. Lo gak boleh jahat gitu sama Andrew hahaha," kata Lisa yang sengaja memanasi suasana.
"Dih siapa yang jahat. Gue gak ngapa-ngapain dia!" protes Hyena.
"ya ya ya. Percaya deh hahaha," kata Lisa.
Hyena memperhatikan Andrew yang sedang sibuk bekerja. Ia melihat betapa Andrew bersungguh-sungguh ketika melaksanakan pekerjaannya. Tersenyum ramah pada pelanggan dan mencatat pesanan dengan detail.
'Dia ternyata bisa ramah juga ya sama orang. Si Andrew ramah banget sama customer dan bisa senyum tulus gitu. Beda banget sama waktu di kelas. Gue akui sih, dia memang pekerja keras. Kalo gue jadi dia, belum tentu gue sanggup kerja sambil sekolah,' kata Hyena dalam hati sambil memandangi Andrew.
'Mau sampai kapan anak ini jadi waiter. Pewaris Hamston Group jadi waiter? Benar-benar gak masuk akal!' kata Rey dalam hati.
"WOY!" teriak Lisa.
Rey dan Hyena langsung tersadar dari lamunan mereka. Lisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua temannya itu.
"Buset deh. Ngapain kalian ngelamun?! Gue lagi fokus ngerjain tugas, tiba-tiba ngerasa aneh aja suasana jadi sepi gini," kata Lisa.
"Ehm. Gak kok lis. Gue cuma mikir aja, kapan si Andrew kelar," Kata Rey.
"Yah dia kan kerja. Kelarnya udah pasti pas nih kafe tutup lah. Jam 10 malam kali ya," kata Lisa.
"Gue punya cara sih, gimana si Andrew bisa kelar kerja sekarang juga. Bahkan kita bisa ajak dia buat holiday bareng kita. Hahaha" Kata Rey dengan senyum nakalnya.
"Hah?! Maksudnya?" tanya Hyena bingung.
"Kalian tunggu aja disini. Gue akan urus semuanya."
Rey langsung meninggalkan Lisa dan Hyena dengan cepat untuk menuju ruangan Marco. Ia akan meminta bantuan Marco untuk memberikan Andrew ijin agar dapat holiday bersama dengannya.
Rey mengetuk pintu ruangan Marco dan langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan. "Hai Bro," sapa Rey.
Marco yang terlihat sedang sibuk dengan setumpuk kertas laporan, langsung menghentikan aktivitas kerjanya dan menyambut kedatangan Rey dengan senyuman. "Oh hai, Rey. Tumben lo kesini. Ada yang bisa gue bantu?" tanya Marco.
"Bro, gue mau minta tolong nih sama lo," kata Rey.
"Minta tolong apa? Apa yang bisa gue bantu? jangan bilang lo mau jadi waiter juga? Pusing gue kalo sampai pewaris Hutomo Group juga kerja di tempat gue," kata Marco.
"Hahahah gak kok. Gue masih waras. Tenang aja. Gue mau minta ijin nih sama lo buat ambil Rey hari ini. Gue mau ajak dia jalan hari ini sampai hari Minggu. Gue mau bawa dia ke Villa gue yang di puncak deh. Kasian gue sama Andrew. Udah kayak gak punya kehidupan yang lain." Kata Rey dengan ekspressi memohon ke Marco.
"Oke gak papa. Anggap aja ini bonus buat si Andrew karna bekerja dengan baik dan rajin." Kata Marco sambil tersenyum.
"Thank you bro." Kata Rey sambil menepuk pundak Marco.
***
Marco menghampiri Andrew yang baru saja selesai mengantar pesanan ke pelanggan. "Ndrew, lo hari ini bisa pulang sekarang," kata Marco.
"Kenapa? Gue dipecat? Salah gue apa, Co?" tanya Andrew kaget.
"Bukan. Lo gak di pecat. Walau gue emang lebih seneng lo pulang ke rumah dan kembali ke posisi lo sih. Cuma kerja lo bagus kok. Gue gak punya alasan buat mecat lo. Gue yang malah gak nyangka ternyata pewaris Hamston Group bisa juga jadi waiter hahaha."
"Terus kenapa lo minta gue pulang?" Andrew malah tambah bingung.
"Tadi Rey nyamperin gue. Dia pengen lo ikut dia jalan-jalan. Udah main sana. Anggap aja ini bonus buat lo," kata Marco.
"Tapi gue gak enak sama lo. Gue kerja disini, kok malah pergi seneng-seneng. Jadi mending gue balik kerja aja ya." Andrew bersiap pergi untuk menghampiri pelanggan selanjutnya.
"Ini perintah Andrew! Lo pergi sana sama Rey." Marco menatap Andrew dengan tajam untuk menunjukkan keseriusannya.
"Oh... oke... gue pergi... thanks ya, Co." Andrew langsung pergi meninggalkan Marco. Ia sedikit takut ketika Marco menatapnya tajam sebagai seorang atasan.
Andrew akhirnya menghampiri meja Rey, Hyena, dan Lisa. Ia mendengus kesal menatap Rey dan memukul pelan lengannya. "Wah lo Rey. Ada-ada aja tingkah lo. Gue kan jadi gak enak sama Marco," keluh Andrew.
"Yaelah santai aja sih. Marco bilang gak papa kok," kata Rey.
"Kalian kenapa sih? Ngomongin apaan sih?" Hyena terlihat bingung.
"Aku tadi bilang Marco, buat ijinin Andrew pulang sekarang. Jadi si Andrew bisa main-main sama kita," jawab Rey.
"Emang kita mau main kemana sih?" tanya Lisa bingung.
"Gimana kalo malam ini kita ke villa gue yang di puncak?" usul Rey.
Lisa langsung kaget mendengar usulan Rey yang tiba-tiba itu. "What?! Gila lo Rey. Gue gak prepare apa-apa. Belum bilang sama ibu pula," kata Lisa kaget.
"Kumat lagi deh gilanya si Rey," kata Andrew sambil geleng-geleng kepala.
"Yah makanya gue bilang berangkatnya malam ini. Bukan sore ini. Kan ada rentang waktu buat kalian persiapan dan minta ijin ke orang tua. Pokoknya gue pengen kita berangkat liburan hari ini!" ucap Rey memaksa.
"Ehm. Boleh juga sih ide kamu, Yang. Aku ngerasa emang lagi butuh piknik. Yaudah, ayo kita liburan guys!" kata Hyena bersemangat.
"Serius nih malam ini?!" Lisa tampak masih tidak percaya.
"Iya malam ini. Kita cuma ke puncak doang kok. Gak jauh-jauh amat," kata Rey.
"Yaudah. Malam ini. Kalo gitu gue cabut ya. Gue mau mandi dan siap-siap." Andrew langsung pergi ke lantai dua karena kamarnya ada disana.
"Oke. Yuk, aku antar kalian pulang" kata Rey ke Hyena dan Lisa.
Lisa berjalan mengikuti Hyena dan Rey sambil menggarukkan kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu. Ia bingung bagaimana meminta ijin kepada ibunya. Apalagi memikirkan packing baju-bajunya dan keperluan lainnya untuk pergi ke puncak selama tiga hari dua malam itu.
'Aduh ada-ada aja emang si Rey!' keluh Lisa dalam hati.
CONTINUED