9. Holiday (1)

2290 Words
                                                                                       *** Rey telah selesai packing. Ia hanya membawa baju seperlunya untuk keperluan menginap tiga hari dua malam. Ia memasukan tasnya ke dalam mobil dan mulai meluncur ke kafe Gledenys untuk menjemput Andrew. Rey memacu mobilnya dengan cepat karena setelah menjemput Andrew, ia harus menjemput Hyena serta Lisa. Sesampainya di kafe Gledenys, Rey segera menelpon Andrew untuk keluar dari kafe dan masuk ke mobilnya.  Setelah lima menit menunggu, tampak Andrew keluar sambil membawa tas ransel hitamnya dan tersenyum ke arah Rey. "Ndrew, ayo cepat masuk mobil gue. Kita masih harus jemput Hyena dan Lisa," kata Rey. "Oke. Siap bos hahaha," kata Andrew yang langsung buru-buru masuk ke mobil Rey. Mobil Rey kembali melaju  dengan cepat menuju Rumah Hyena. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Rey dan Andrew telah tiba di rumah Hyena. Rey mengirimkan pesan ke Hyena agar segera keluar dari rumah. Rey Hutomo Aku udah sampe. Kamu cepetan keluar. Biar bisa langsung cabut ke puncak. Sepuluh menit kemudian terlihat Hyena dan Lisa keluar dari pintu gerbang dengan masing-masing membawa dua tas. Rey dan Andrew terlihat takjub dengan banyaknya barang bawaan dua wanita itu. "Buset! Kalian banyak amat bawa tas. Ini cuma tiga hari dua malam," kata Rey melongo takjub. "Aduh, Yang. Kamu kayak gak tau cewek aja deh. Kita bawa baju selama tiga hari, alat make up, pembalut, snack, jaket, syall,..." kata Hyena yang kemudian dipotong Andrew. "Sudah... sudah... daripada gue ngedengerin apa aja isi koper lo, mending lo cepetan masuk. Kita mau berangkat jam brapa ini," kata Andrew sambil menunjuk jam tangannya. "Ish... oke. Yaudah ayok kita berangkat!" kata Hyena sambil masuk ke dalam mobil. Kemudian diikuti oleh Lisa. Andrew duduk di kursi depan menemani Rey, sementara Hyena dan Lisa duduk di kursi belakang. Rey mulai mengendarai mobilnya menuju villanya di Puncak, Bogor. Selama diperjalanan, mereka berempat mengobrol untuk mengisi waktu dan membuat suasana tidak membosankan. Namun tiba-tiba terdengar suara yang berpotensi memecahkan gendang telinga dari bangku belakang. "Naik... naik... kepuncak gunung... tinggi... tinggi sekali..." Hyena mulai bernyanyi dengan suara melengkingnya. "Woy! Buset deh lo! Kuping gue pengang nih dengerin lo nyanyi," keluh Andrew sambil menutup telinganya. "Hyen... sakit kuping gue," protes Lisa. "Iiihhh.. gue mau nyanyi! Kiri... kanan... kulihat saja... banyak pohon cemara..." Hyena terus bernyanyi dan mengabaikan reaksi teman-temannya yang terlihat terganggu. "Sayang... tobat sayang... tolong... hahaha," kata Rey sambil tertawa. "Ih... kalian ini gak tau seni ckckck," kata Hyena. "Lagian Hyen ini gelap. Gue mau liat gunung-gunung juga gak keliatan. Pagi-pagi dah kalo mau nyanyi," kata Andrew. "Bener ya? Besok pagi gue nyanyi?" goda Hyena dengan tatapan licik. "Iya nyanyi, tapi diatas gunung. Nyanyi lo sendirian disana," kata Andrew dengan tertawa terbahak-bahak. "Awas lo ya..." kata Hyena sambil menjambak rambut Andrew. "Aw! Sakit gila. Rey lo pacaran sama pegulat amatir ya. aw! udah kek. Sakit tau!" teriak Andrew kesakitan sambil memegang rambutnya. "Makanya jadi orang jangan ngeselin!" Hyena mencubit Andrew dari belakang kursi. "Sudah. Sudah. Kita bentar lagi mau sampai tuh. Villanya udah kelihatan," kata Lisa. "Wah makin bagus aja ni villa. Abis di renovasi ya Rey?" tanya Andrew. "Iya. Dua tahun lalu direnovasi bokap. Kolam Renangnya di bagusin, terus ditambahkan ruang untuk barbekyu. Abis itu gue gak tau lagi apa yang di tambahin. Soalnya jarang ke sini juga," jawab Rey. "Keren-keren," kata Andrew sambil melihat bangunan villa Rey dengan kagum. "Kapan-kapan kita main ke Rumah lo yang di Bali dong," pinta Rey "Lo punya rumah di Bali, Ndrew?" tanya Lisa. "Ehm... Rumah sederhana kok," jawab Andrew sambil melotot ke arah Rey. Hampir saja sahabatnya itu tidak sengaja membocorkan background keluarganya. "wah kalo kita ke Bali berarti gak usah nyewa hotel nih," kata Hyena "kalian pasti lebih nyaman nginep di hotel sih guys. Bener dah. Rumah gue kecil. Gak sebanding sama villa Rey," kata Andrew. "Iya. mending di hotel deh hahaha. Guys, udah nyampe nih. yuk turun ke mobil." Rey mengalihkan topik pembicaraan. Andrew, Hyena, dan Lisa langsung keluar mobil. Mereka langsung menikmati udara malam di puncak. Terasa sangat berbeda dengan udara Jakarta yang terkontaminasi dengan polusi. "wah... udaranya seger banget," kata Hyena sambil menghirup nafas dalam-dalam. "Villanya bagus, Rey. Besok kita berenang yuk," ajak Lisa "Yah tapi jangan berenang pagi-pagi juga, pasti dingin. Cuma kalo siang, takut hitam juga. serba salah hahaha," kata Hyena. "Yaudah liat situasi besok aja," kata Andrew. Mereka mulai membawa tas dan memasuki villa yang terdiri dari dua lantai itu. Kemudian mereka merebahkan tubuhnya diatas sofa yang terletak di ruang tamu. Villa itu terdapat delapan kamar. Empat kamar dilantai satu dan empat kamar di lantai dua. Setiap kamar terdapat kamar mandi dalam, TV, kulkas, dan fasilitas lainnya. Villa ini bisa dikatakan tergolong sangat mewah. "Jadi kalian mau kamar yang mana?" tanya Rey. "Gue mau tidur bareng Lisa!" teriak Hyena. "Sama, Hyen... Gue juga gak mau tidur sendiri disini. Kamarnya terlalu besar," kata Lisa. "Iya. Biar kita bisa saling ngobrol juga. suram amat kita di puncak, terus tidur sendirian," kata Hyena. "Aku tidur sama kamu ya..." pinta Rey yang langsung memeluk Andrew dengan manja. "Ih apaan sih lo. Gak mau ah. serem kalo lo kayak gini. Lepasin gak Rey!" kata Andrew sambil melotot galak. "Ah kamu mah gitu hahaha. Tidur di kamar lantai itu aja yuk, Ndrew," Kata Rey sambil menunjuk kamar yang dekat dengan kolam renang. "Ogah! Itu kamar buat gue aja. Lo tidur sendirian di kamar pojokan sana." Andrew menyingkirkan lengan Rey dari pinggangnya. "Kalo kita yang itu aja," kata Hyena sambil menunjuk kamar yang tidak jauh dari ruang tamu. "Oke kalo gitu kita ke kamar yuk. Udah capek banget nih. udah malam juga," kata Lisa "Oke. besok pagi ketemu buat sarapan ya. Abis itu kita berenang. yeah!" Rey terlihat antusias. "Sip. See you tomorrow!" ucap Andrew. Mereka akhirnya mulai  masuk ke kamar masing-masing, meletakan tas, dan berganti dengan baju tidur. Kemudian berusaha mulai melelapkan diri dalam tidur.                                                                                      *** Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Lisa yang baru bangun, melihat Hyena yang masih tidur disebelahnya. Ia enggan untuk mengusik tidur Hyena yang terlihat sangat pulas. Lisa memilih bangkit dari posisi tidurnya dan mulai berjalan sendirian ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Kemudian ia pergi ke dapur dan melihat apa yang tersedia kulkas. Di kulkas ternyata tersedia  roti, telur, mayones, dan bahan lain yang cukup untuk membuat sandwich. Lisa memutuskan untuk membuat sandwich sebagai sarapan. Dengan keterampilan memasak Lisa yang baik, tidak sulit untuk membuat sandwich. Hanya memerlukan waktu sepuluh menit saja untuk membuat  empat piring sandwich. Lisa kemudian menatanya dengan cantik diatas meja makan. Lisa kembali ke dapur dan membuat jus tomat sebagai minuman sarapan mereka. Kemudian meletakan Juice tomat itu disebelah piring berisi sandwich tadi. Setelah selesai menata, Lisa kembali ke kamar dan membangunkan Hyena yang masih terlelap tidur untuk menyuruhnya sarapan. "Hyen... bangun! Ini udah mau jam delapan!" ucap Lisa sambil menggoyangkan tubuh Hyena. "Iya, Lis..." jawab Hyena yang masih setengah tertidur. "Cepat cuci muka dan gosok gigi!" perintah Lisa. Lisa kemudian pergi ke kamar Rey dan Andrew. Kedua kamar itu bersebelahan, sehingga memudahkan Lisa membangunkan kedua orang itu. Lisa mulai mengetuk pintu kamar Rey dan Andrew secara bersamaan. "Reyyyyy! Andrewww! Cepat bangun! Udah mau jam 8 ini. Buset deh!" teriak Lisa. "Iyaaaaaaaa," jawab Andrew dari dalam kamar. "Reeeeyyyyy! Bangunnnnn!" teriak Lisa sambil mengetuk kamar Rey dengan keras. "Iya... Lis..." jawab Rey yang terdengar masih mengantuk. Lisa duduk di ruang makan sambil menunggu ketiga temannya keluar dari kamar. Dua puluh menit kemudian Hyena, Rey, dan Andrew terlihat keluar kamar secara bersamaan. Mereka terlihat takjub ketika melihat meja makan yang sudah terisi dengan makanan. "Wah siapa yang nyiapin ini? Bibi Sarti?" tanya Rey dengan ekspresi takjub. "Bukanlah. Ini gue yang nyiapin. Gue bangun paling pagi dari kalian semua. Gue udah kelar masak sementara kalian ternyata masih molor ckckckck," ucap Lisa sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan tiga temannya itu. "Wah thanks ya, Lis. Keren lo!" kata Andrew. "Iya, Lis. Makasi ya!" kata Hyena yang langsung melahap sandwich-nya. "Wah ini cewek langsung mangap aja mulutnya ckckck," kata Andrew sambil geleng-geleng kepala. "Lapar cuy.. udah mending makan aja. Mau sampai kapan lo berdiri," kata Hyena masih sibuk mengunyah. "Hahahaha yaudah. Yuk makan," ajak Lisa. Mereka berempat mulai makan bersama dengan lahap. Tiga puluh menit dihabiskan untuk  mereka selesai menikmati sarapan. Tidak tampak ada sisa makanan dipiring. Semuanya dimakan dengan lahap, tak bersisa. "Berenang yuk," ajak Rey tiba-tiba. "Yuk. Berarti ganti baju renang dulu nih?" tanya Lisa. "Gak usah. Berenang pakai baju tidur aja hahaha," ucap Andrew. "Yah percuma dong gue bawa baju renang. Ganti dulu ah," kata Hyena yang mulai beranjak ke kamarnya untuk berganti baju renang. Namun Andrew dengan sigap menarik Hyena ke arah kolam renang dengan dibantu oleh Rey. Meskipun Hyena berontak, tenaganya tetap kalah dengan kedua pria itu. Dengan mudah, Hyena berhasil diceburkan ke kolam renang. "ANDREEEWWWWW!!!!!!" teriak Hyena kesal. "Enakkan Hyen berenang pagi-pagi," ledek Andrew. "AWAS lo ya! Liat aja ntar!" teriak Hyena. Lisa yang berdiri di pinggir kolam renang pun didorong oleh Rey dari belakang,  Lisa pun akhirnya ikut tercebur ke dalam kolam renang dengan masih memakai pakaian tidur. "REY! Ya ampun iseng banget sih! Jadi basahkan nih!" ucap Lisa yang kesal. "Hahahaha sorry, Lis. Abis posisi lo itu enak banget buat didorong hahahaha," kata Rey sambil mengedipkan matanya. Rey dan Andrew pun mulai meloncat ke kolam renang. Mereka berenang dengan senang sambil menikmati suasana pegunungan yang menjadi latar belakang pemandangan kolam renang tersebut. "Guys, lomba berenang yuk," ajak Hyena. "Ngapain lomba. Udah jelas lo bakalan kalah. Udah santai aja berenangnya hahaha," sindir Andrew. "Halah... Bilang aja lo takut, Ndrew." Hyena menatap remeh Andrew. "Enak aja! Mana pernah gue takut sama cewek. Yaudah, ayok kita lomba. Siapa takut," tantang Andrew. "Oke-oke. Berarti dari sini sampai ujung kolam renang ya. Siapa yang sampai sana, dia yang menang," kata Rey. "Sepakat!" jawab Hyena. Mereka berempat langsung mengambil posisi start untuk berlomba. Andrew terlihat sangat bernafsu untuk memenangkan lomba kali ini. Begitu juga dengan Hyena yang sangat ingin mengalahkan Andrew, musuh abadinya. Lisa bertugas untuk memberikan aba-aba. "Oke. Berarti hitungan ke tiga, kita langsung mulai ya. Siap? Satu... dua... tiga..."  Mereka berempat langsung memacu laju renang dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin. Termasuk dengan Andrew yang mengerahkan semua otot tubuhnya untuk bisa melaju lebih cepat. Rey juga terlihat berusaha menyusul Andrew dan berenang sekuat tenaga. Sementara Hyena berada diurutan ke tiga. Dia belum mampu menyusul Andrew dan Rey, meskipun ia sudah berusaha keras menambah kecepatan renangnya. Sedangkan Lisa berada diurutan terakhir. Baru seperempat jalur yang harus di tempuh Lisa untuk berenang, Lisa merasa kakinya tiba-tiba keram. Otot betisnya seketika menjadi sangat tegang dan terasa begitu sakit. Lisa mulai tidak dapat mengapung dan berenang akibat keram yang menyerang betis kaki kanannya. Namun Hyena, Rey, dan Andrew tidak dapat melihat karena mereka masih sibuk melaju ke depan untuk menyelesaikan lomba renang. Setengah menit kemudian Andrew berhasil memenangkan lomba renang itu, lalu disusul dengan Rey. Sementara Hyena masih berenang menuju titik finish. Rey tampak mencari keberadaan Lisa. Kemudian matanya langsung menemukan Lisa yang  sedang berusaha mengapung dan terlihat hampir tenggelam. Rey kemudian berenang dengan sangat cepat untuk menolong Lisa. Ia melawan rasa lelahnya dan berjuang mengerahkan sisa tenaganya.  Setelah melihat arah renang Rey, Andrew akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi. Andrew juga akhirnya melihat Lisa yang hampir tenggelam. Kemudian Andrew juga ikut berenang untuk menolong Lisa. Rey berenang sangat cepat, sampai Andrew bahkan tidak bisa menyusulnya. Rey menyelam untuk dapat mencari posisi Lisa. Kemudian Rey melihat Lisa pingsan didalam air. Dengan sekuat tenaga Rey meraih tangan Lisa, memeluknya dan menariknya ke tepi kolam renang. Rey menaruh tubuh Lisa ditepi kolam renang dengan bantuan Rey. Kemudian Rey memeluk tubuh Lisa yang terbujur lemas tak sadarkan diri. Sementara Hyena dan Andrew hanya dapat berdiri menyaksikan kejadian yang menakutkan ini. "Lisa! Bangun Lisa!" teriak Rey ketakutan sambil menepuk pelan pipi Lisa. Melihat Lisa belum bangun, Rey mengecek nadi Lisa. Ia merasakan denyut nadi Lisa melemah. Kemudian Rey langsung melakukan CPR dan nafas buatan untuk menolong Lisa. Meskipun ia tidak tau apakah ini tindakan yang tepat untuk pertolongan pertama pada kondisi Lisa saat ini. Dipikirannya hanya ingin menolong Lisa, entah bagaimanapun caranya. Setelah beberapa menit, Lisa mulai sadar dan memuntahkan air yang tertelan olehnya. ketika kesadarannya telah mulai pulih, Lisa mulai menangis terisak dan sangat ketakutan. Rey langsung menenangkan Lisa dengan memeluknya dan membelai lembut kepalanya. "Sudah, Lis. Sekarang kamu aman," ucap Rey dengan nada lembut. Setelah beberapa menit berada didalam pelukan Rey, Lisa merasa kembali tenang dan tangisannya menjadi berhenti. Setelah bisa mengedalikan dirinya, Lisa melepaskan pelukan Rey dan menatapnya dengan lekat. "Makasi ya, Rey." Sementara Hyena sejak tadi hanya terdiam dan menyaksikan bagaimana Rey menolong Lisa. Ada perasaan cemburu ketika melihat kekasihnya itu menolong Lisa, apalagi melihatnya memberikan nafas buatan. Akan tetapi ia berusaha mengesampingkan perasaannya itu. Karena ia tau apa yang dilakukan Rey semata-mata hanya untuk menolong Lisa. Hyena menghampiri Lisa dan menarik tangannya dengan lembut. "Sepertinya lo sekarang butuh istirahat deh, Lis. Yuk ganti baju. Nanti gue bikinin teh hangat," kata Hyena tersenyum. "Makasi ya Hyena. Maaf ngerepotin," kata Lisa dengan kepala tertunduk sedih. "Iya.. santai aja. Gue yang harusnya minta maaf. Harusnya gue gak usulin lomba berenang tadi tanpa pemanasan dulu. Yaudah ,yuk kita masuk ke dalam." Hyena membawa Lisa kembali  ke dalam kamar. Sementara Rey dan Andrew duduk di tepi kolam renang sambil mengobrol. Mereka ingin beristirahat sejenak setelah insiden mengejutkan tadi. "Wah gila lo. Tadi gue menang lomba berenang. Nah kenapa pas nyelamatin Lisa, gue jadi gak bisa ngalahin kecepatan lo?" tanya Andrew heran. "The power of panik, Ndrew," jawab Rey. "Iya. Lo emang keliatan panik dan takut banget sih. Apalagi pas adegan CPR dan nafas buatan. Itu kayak..." kata Andrew yang langsung di potong Rey. "Apaan sih lo. Udah ah. Gue mau mandi dan ganti baju," kata Rey sambil memukul Andrew dengan air kolam. Melihat respon Rey, kecurigaan mulai timbul di mata Andrew. Sahabatnya itu terkesan menyembunyikan sesuatu darinya. Sepertinya Rey menolak dan menghindari membicarakan Lisa lebih jauh.  CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD