Aku memotong kecil-kecil steak salmon yang tersaji cantik di piring sebelum memasukkannya ke mulut. Hasil masakan personal chef jelas enak, kalau tidak mereka pasti sudah dipecat Alex. Sesekali aku melirik lelaki yang duduk di hadapanku. Saat tatapan kami bertemu aku kembali menatap piring. Bagi orang lain mungkin kelihatannya kami makan dengan hening. Huh. Mereka tidak tahu saja pikiran kami sesibuk jalan raya di jam pulang kantor. 'Percepat makanmu, Cantik, supaya aku bisa cepat menyuruh mereka pergi.' Bibir Alex tersenyum tipis. Ada yang pernah bilang makan harus dinikmati. Santai saja lah. Kamu yang bilang 'kan, kita punya waktu seumur hidup untuk bermesraan? 'Hmm. Daya ingatmu bagus.' Iya lah. Otakku 'kan masih muda. 'Aku menangkap maksud terselubung di balik kata-kata itu. Mau

