Secepat itu si ular muncul, secepat itu juga dia menghilang. Perlahan aku membuka mata. Sebuah tangan besar ada di depan wajahku. Oh, ternyata Alex yang menghalaunya pergi. "Dia mengikuti sejak kita keluar dari rumah sakit," ucapnya. "Kok aku nggak tahu?" "Kamu sedang kelelahan, Cantik." Aku memandang sekeliling, "Dia masih ada?" "Tidak. Tidurlah." Oke. Kalau suamiku berkata demikian maka keadaan pasti sudah aman. Aku pun kembali menyamankan diri di jok mobil dan memejamkan mata. Aku menggeliat sampai tulang punggungku berbunyi. Hmm ... nyaman sekali rasanya. Hidungku menangkap aroma yang sangat akrab dan aku beringsut mendekat. Hangat. "Selamat pagi, Cantik." Suara berat yang sedikit parau itu membuatku tersenyum. Aku melingkarkan lengan di tubuh besar nan hangat di depanku. Eh,

