Langit tersenyum. “Jangan. Nanti pacarmu marah.” Ucapnya yang terdengar begitu kecewa. Langit sadar, Alaina sudah punya pacar atau bahkan tunangan. Itu terbukti dari cincin yang melingkari jari Alaina.
Alaina mengangguk. Dia merebahkan kembali tubuhnya di d**a Langit. “Sandi pemarah.” Alaina mulai bercerita yang membuat Langit memeluk wanita itu. “Sandi selalu marah dan cemburuan. Tetapi dia baik. Penyayang. Itu yang membuat aku enggak bisa berpaling dari dia.”
Langit memejamkan mata mendengar itu. Dia tahu itu karena dia melihat sendiri. Pria bernama Sandi itu tidak main-main jika sudah marah. Bisa memukul Alaina bahkan melemparkannya dengan barang apapun yang berada di dekatnya.
Langit menghela napas. “Kita pulang, ya?” bisik Langit di telinga Alaina. “Aku enggak mau kamu kena masalah.”
Alaina mengangguk. Dia turun dari pangkuan Langit kemudian berdiri goyah. Dia melihat Langit lalu mengerjapkan mata. “Kenapa kamu ada dua?” ucapnya yang membuat Langit tertawa.
“Kamu mabuk, Alaina.”
“Oh, ya, mabuk. Dan kamu ganteng.” Katanya lalu ikut tertawa. Dia bergelayut manja di lengan Langit.
“Rumahmu di mana?”
Alis Alaina berkerut. “Lupa.” Gumamnya masih bergelayut manja.
“Coba, mana kartu pengenalmu.” Kalau dia b***t, dia akan membawa Alaina ke rumahnya dan mencumbuinya sampai pagi. Namun dia masih waras. Dia tidak ingin memanfaatkan keadaan Alaina yang mabuk.
“Ah iya.” Alaina berseru. “Kamu hebat.” Serunya lalu mengeluarkan kartu pengenalnya dan memberikan pada Langit.
Langit membaca alamat yang tertera. “Austin!” panggilnya pada Austin yang berdiri tidak jauh darinya. Austin menghampirinya. Langit memberikan alamat itu pada Austin.
Alis Alaina berkerut. “Siapa Austin?” tanyanya seraya menyentuh ujung hidung Langit dengan jari telunjuknya. Dia memiliki hidung mancung, batin Alaina.
Langit melirik Alaina. “Temanku.”
“Austin itu?”
Langit mengangguk.
“Jangan hiraukan aku, Nona.” Austin bersuara di sampingnya. “Anggap saja aku rumput. Jangan hiraukan. Silakan nikmati pemandangan indah Anda.”
Alaina tertawa pada ucapan Austin. “Ya. Aku setuju.” Katanya lalu tertawa lagi.
“Besok-besok kamu jangan minum sendiri. Untung saja aku yang datang.”
Austin mengangkat alisnya pada kepedulian Langit terhadap Alaina. Temannya itu tidak pernah peduli pada apapun kecuali uang. Dan kepedulian Langit pada Alaina adalah hal baru.
Austin membiarkan Langit dan Alaina berjalan terlebih dahulu. Dia mengeluarkan gawainya lalu memotret langit yang sedang menatap Alaina dari samping kemudian dikirimkannya potret itu pada piimpinan utama perusahaan Bierhoff Company.
***
Dering telepon membuatnya mengerang. “Uh,” Alaina membenamkan kepalanya pada bantal. Dia tidak menghiraukan dering telepon yang terus berbunyi. Kepala pusing bukan main dan itu mengganggunya.
Dok! Dok! Dok!
Suara gedoran pintu berganti dengan suara dering telepon. Alaina menggeram lalu melemparkan bantalnya ke sudut ruangan. Dikerjapkan matanya berulang kali.
Dok! Dok! Dok!
Kembali suara gedoran pintu rumahnya terdengar lalu dibarengi teriakan Jessica memanggil namanya.
Seraya memegangi kepalanya yang masih pusing tujuh keliling, Alaina turun dari tempat tidur. Rumah kontrakannya termasuk sederhana. Hanya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur serta dapur. Kamar mandi bersebalahan dengan dapur yang memiliki ukuran kecil. Kamar mandi tersebut pun digunakan Alaina untuk mencuci pakaian. Dia belum memiliki mesin cuci karena dia hanya tinggal seorang diri dan menurutnya barang seperti itu belum dibutuhkan.
Alaina menyeret kakinya menuju ruang tamu. Masih setengah memejamkan mata berusaha meredam sakit kepalanya, Alaina membukakan pintu.
Jessica berdiri di hadapan Alaina dengan jengkel. “Kenapa, Jess?” tanya Alaina tidak bersemangat, “ganggu orang tidur.”
Jessica berdecak lalu berkacak pinggang. “Na, semalam kamu ke mana, sih? Dicari enggak ketemu.”
Alaina cemberut. “Kamu yang ke mana. Aku ditinggal.” Masih jengkel, dia membuka pintu lebar, “masuk, Jess.” Katanya lagi mempersilakan Jessica masuk ke rumah kontrakannya.
Alaina duduk di lantai yang beralaskan karpet biasa. Dia bersandar pada dinding. Kedua tangannya mengetuk-ngetuk kepalanya yang masih pusing.
“Kenapa, Na?”
“Pusing.” Alaina mengerang.
Alis Jessica bertaut. “Na, semalam pulang sama siapa?”
“Hah?” Alaina yang belum berpikir jernih, terbengong mendengar pertanyaan Jessica.
Jessica tersenyum, “kalau kamu diantar Sandi, sih, enggak masalah, Na.”
Mata Alaina mengerjap. Dia tidak ingat Sandi mengantarnya ke rumah kontrakannya. Sandi pasti membawanya ke rumahnya yang ada di Jakarta. Jarak rumah Sandi dan kantor Alana hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Sedangkan lokasi klub malam yang Alaina dan temannya datangi berjaran empat puluh lima menit dari kantornya. Keefisienan waktu membuat Sandi pasti membawanya ke rumahnya bukan ke rumah kontrakannya di Bekasi.
“Na? jangan bilang kamu—”
“Apa?” Alaina menatap Jessica ngeri. Pikirannya melantur ke mana-mana. “Jess, tetangga bilang enggak kalau aku diantar orang?” tanyanya lagi. Tidak mungkin dia pulang sendiri. Seingatnya, dia semalam mabuk.
Jessica menggeleng. “Enggak ada orang tadi, Na.” katanya. “Na, serius, kamu semalam sama siapa?”Jessica menuntut lagi. Dia hanya khawatir pada Alaina yang memiliki jarak rumah jauh dengan lokasi klub. Bisa sampai pagi Alaina pulang.
Alaina mencoba mengulang kembali ingatannya namun dia belum mengingat apapun selain duduk minum dan menggerutui Jessica dan Kaila. Mengingat itu membuat Alaina menendang pelan Jessica yang duduk di hadapannya.
“Heh,” Alaina melotot menatap Jessica kesal. “Kalian berdua ke mana semalam? Sialan kalian. Aku ditinggal.”
Jessica tertawa pelan. “Aku ketemu teman baru, Na. Lupa sama kamu.”
Alaina memutar mata. “Jangan bilang kalau kamu dan Kaila jadi sugarbaby lagi?”
Jessica terkikik. “Enak, Na, jadi sugarbaby. Tinggal minta, nanti keluar uangnya.”
“Terserah deh, Jess.” Alaina menyerah lalu merebahkan badannya. Dia masih harus mengingat dengan siapa dia pulang semalam.
“Kamu serius enggak ingat, Na? Kamu pulang naik taksi atau diantar kenalan?”
Alaina memejamkan matanya. “Enggak ingat, Jess. Aku mabuk berat semalam.”
Dia mulai merunut kejadian semalam. Dia, Kaila dan Jessica datang ke klub. Mereka minum-minum lalu bergosip. Seingatnya, Kaila bertemu dengan temannya di sana lalu memisahkan diri. Tidak lama kemudian Jessica mengajaknya melantai namun dia menolak karena tidak bisa. Setelahnya dia minum-minum sendiri, lalu ingatannya tertuju pada pria yang membawa gelas dan duduk di sampingnya.
Mata Alaina terbuka kemudian duduk tiba-tiba. Dia menatap Jessica yang sedang sibuk dengan gawainya. “Jess.” Panggil Alaina.
“Hm?”
“Jess.” Panggilan Alaina mulai mengecil.
Alaina menutup wajahnya. Samar-samar dia ingat bahwa ada seorang pria berpostur tubuh tinggi serta tegap duduk di sampingnya kemudian mengajaknya mengobrol lalu dia dan pria itu berciuman. Alaina berteriak tertahan. Dia benar-benar gila jika sudah mabuk. Dia tidak melihat jelas bagaimana wajah pria itu. Yang dia ingat hanya bibir pria itu yang begitu sangat menggoda imannya.
“Na? Kenapa?” Jessica mengguncang bahu Alaina.
“Jess,” Alaina menurunkan tangannya dari wajahnya. Dia menatap Jessica nelangsa. “Semalam aku diantar orang.”
“Siapa, Na?” Jessica menatap Alaina penasaran. “Ganteng? Kaya?”
Alaina menggeleng. “Aku enggak ingat, Jess. Aku enggak tahu siapa namanya. Lupa.”
Dia tidak ingin membahas mengenai ciuman menggairahkan itu. Ciuman yang membuat dia mengatakan hal yang tidak senonoh pada pria itu. Pria yang dia tidak ingat bagaimana rupanya. Alaina mengusap wajahnya. Seingatnya, dia mencium pria itu di klub malam kemudian pria tersebut menanyakan alamat rumahnya lalu dia tidak ingat apapun lagi. Mungkin pria itu yang mengantarkannya pulang.
Alaina membayangkan lagi ciuman itu. Ciuman pria itu hebat dan membuatnya terngiang. Alaina menggeleng lagi. Dia tidak ingin membandingkan ciuman pria itu dengan Sandi. Tentulah Sandi masih diatas rata-rata. Dia mencintai Sandi dan dia tidak ingin berpaling dari Sandi. Walau pria itu mudah marah, akan tetapi Sandi tetap yang terbaik baginya.
Alaina menghela napas. Dia menatap Jessica. “Ada apa akhir pekan mampir? Enggak biasanya.”
Jessica yang sedang mengetik sesuatu di layar gawainya, akhirnya meletakkan gawainya di atas pangkuannya. “Aku khawatir, Na. Kamu ditelepon enggak diangkat.”
“Sandi kamu telepon juga?” Alaina malah khawatir jika Jessica menelepon Sandi. Pria itu bisa murka padanya.
“Enggak, Na,” Jessica menggeleng yang membuat Alaina menghela napas. “Aku ke sini dulu. Kalau di sini enggak ada, aku baru telepon Sandi.”
Alaina ingin sekali memberitahukan sahabatnya itu mengenai kejadian semalam tetapi masih ditahannya diujung lidahnya.
“Na, kalian semalam enggak berbuat macam-macam ‘kan?”
Pertanyaan Jessica membuat Alaina serta merta menggeleng cepat-cepat. Dia tidak ingin memberitahukan ciuman hebat itu pada Jessica. Dia khawatir Jessica akan mengadu pada Sandi. Hati orang siapa yang tahu.
Dia pernah mengalami kejadian tidak enak semasa sekolah menengah dahulu. Dia pernah bercerita dengan teman satu bangkunya mengenai ungkapan cinta seorang lelaki kelas sebelah dan mereka sempat makan bersama. Malang bagi Alaina ternyata lelaki itu sudah punya kekasih. Teman satu bangkunya menyebarkan cerita dengan bumbu pedas bahwa Alaina mencoba merebut pacar orang. Sejak saat itu, dirinya lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman.
Sejauh ini, Jessica jauh dari teman seperti itu. Akan tetapi, Alaina masih takut kejadian tersebut terulang. Dia tidak ingin bertengkar hebat dengan Sandi hanya karena sebuah ciuman saja. Ciuman yang mungkin tidak dapat terulang lagi. Tindakan mabuknya memang memalukan. Dia berjanji tidak akan mabuk lagi.
“Enggak, Jess.” Kata Alaina saat Jessica masih saja menatapnya penasaran.
“Enggak ada hal menarik antara kalian berdua?” Jessica bertanya yang membuat Alaina menendang pelan temannya itu.
“Jess,” Alaina mengerang. “Aku enggak ingat apa yang kami lakukan.”
Mata Jessica berkedip lalu dia terkikik. “Ganteng? Sudah tua apa masih muda? Jadikan sugar daddy saja, Na.”
Kali ini Alaina melempar boneka lebah ukuran sedang pada Jessica. Tidak ada dalam kamusnya ingain menjadi sugarbaby. “Heh, aku masih punya Sandi, ya. Dia sudah cukup bagiku.”
Jessica tertawa. Sedetik kemudian dia mengusap perutnya. “Na, kamu masak apa? Aku lapar, Na.”
Alaina berdecak. Dia mana sempat masak. Dia saja baru bangun dan kesiangan. “Kamu memangnya belum sarapan?”
“Heh!” Jessica melemparkan kembali boneka lebah berwarna kuning pada Alaina. “Lihat pukul berapa sekarang?” Jessica menunjuk jam yang terrgantung di dinding, “sudah siang, Na. Mau pukul dua belas siang. Bagaimana, sih? Anak perawan bangunnya siang.”
Alaina hanya tertawa pada ucapan Jessica. Dia ingin menyanggah bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi. Tetapi ucapan itu hanya sampai di ujung lidahnya. Alaina yang begitu mencintai Sandi, rela memberikan segalanya pada pria itu termasuk kegadisannya. Dia yakin bahwa Sandi yang terakhir baginya jadi dia mau saja memberikan itu pada kekasih hati. Baginya, tidak akan ada yang lain lagi selain Sandi. Pria yang semalam bersamanya hanyalah selingan semata. Dan Alaina yakin, dia tidak akan bertemu lagi dengan pria yang memiliki bibir menggoda itu.
Alaina sadar, dia bukanlah gadis baik-baik. Dia senang pergi ke klub malam. Dia senang minum-minum. Terkadang dia pun merokok namun bisa dihitung jari. Dia merokok jika ingin saja. Dan saat ini, dia ingin sekali merokok.
“Jess, bawa rokok?” tanya Alaina seraya mengulurkan tangannya pada Jessica.
Sahabatnya itu menggeleng kemudian berdecak. “Rokok itu enggak bagus buat paru-paru, Na.”
Alaina merengut. “Bulan kemarin aku enggak merokok, ya. Bulan ini baru sekali.”
Jessica bersidekap kemudian menggeleng. “Sandi bawa hal buruk buat kamu, Na.” katanya menatap Alaina kasihan. Yang ditatap hanya mengangkat bahu. Tidak ada sahutan lagi dari Alaina, Jessica mengulurkan tangannya lalu menarik sahabatnya berdiri. “Ayo, beli makanan. Aku lapar.”
“Sebentar.” Alaina menarik kembali lengannya. Jessica menatap Alaina seraya mengangkat alisnya. “aku mau cuci muka. Ganti baju.” tambahnya menunjuk pakaian yang semalam masih dipakainya. Dalam hati, dia lega karena dia tidak melakukan hal apapun bersama pria dengan bibir menggoda itu.
Jessica memutar mata dan kembali duduk. “Sana cepat.” Katanya setengah jengkel.
Alaina tertawa lalu mengangguk. Jessica adalah sahabatnya dan dia tahu, Jessica tidak benar-benar kesal padanya. Dia segera mencuci muka dan berganti pakaian. Dipilihnya celana jins ketat warna biru dengan kaus oblong putih bergambar wajah kartun Doraemon. Dia tidak ingin mandi. Jika hari libur seperti ini, dia memilih mandi sehari sekali. Diraihnya minyak wangi dari meja kecil lalu disemprotkannya diberbagai tempat di tubuhnya. Serasa cukup wangi, segera dia menemui Jessica.
“Ayo, Jess.” Ajak Alaina seraya menyandang tas selempangnya.
Jessica yang sedang menelepon seseorang dari gawainya terburu-buru menutup telepon. Dia tersenyum pada Alaina yang sudah siap.
“Telepon siapa, Jess?” Alaina mulai penasaran. Tidak biasanya sahabatnya itu menelepon dengan suara pelan.
Jessica tertawa. “Telepon Ibuku. Enggak diangkat.”
Alaina mengangguk tanpa berniat untuk menanyakan lebih lanjut. Menurutnya, Jessica akan bercerita sendiri nantinya. Diajaknya Jessica keluar dari rumah kontrakannya kemudian dikunci pintu rumah kontrakannya lalu mengikuti Jessica yang sudah berada di atas motor matiknya.
“Makan di mana kita, Jess?” tanya Alaina seraya naik ke atas motor matik Jessica.
“Hm,” Jessica berpikir sejenak, “makan bakso, mau?”
Alaina mengangguk. Bakso adalah makanan favorit yang dapat menghilangkan pening di kepalanya. Dicampur dengan sambal pasti nikmat sekali. Alaina menjilat bibirnya membayangkan betapa nikmatnya bakso. Perutnya mulai berbunyi yang membuat dia mengusap pelan perutnya.
***
“Na, aku ketoilet sebentar ya.”
Alaina mengangguk pada Jessica yang terburu-buru. Diperhatikannya Jessica yang menanyakan pada penjual bakso di mana letak toiletnya. Alis Alaina berkerut ketika Jessica mengantongi gawai. Jessica tidak pernah membawa gawai ke toilet. Alaina mengangkat bahu. Dia tidak ingin mau tahu. Mungkin saja sahabatnya itu tidak ingin gawainya hilang. Setahunya, Jessica membeli lagi gawai baru tersebut dua minggu lalu karena gawai yang lama hilang diambil maling.
Alaina kembali menikmati bakso pedasnya. Keringatnya bercucuran. Baksonya sangat enak hingga dia tidak peduli sekitar. Dia bahkan tidak memedulikan ada orang yang memerhatikannya. Orang itu adalah Langit.
***