Apalah Arti Sebuah Nama

1624 Words
Malam ini adalah akhir pekan. Suasana klub malam ramai pengunjung. Austin dan Langit memiliih duduk di kursi VIP. Langit tidak suka duduk di kursi biasa dekat bartender. Dia sebenarnya tidak suka keramaian namun karena Austin mengajaknya, dia hanya ikut saja. Austin sedang tersenyum-senyum seraya berbicara dengan wanita cantik yang menawarkan diri untuk menemaninya malam itu. Namun tidak dengan Langit. Wanita cantik yang menemaninya tadi memilih untuk pergi. Wanita itu tidak ingin hanya duduk dan memerhatikan Langit yang diam tidak bergerak seperti patung. Langit mengangkat minumannya lalu meneguknya dengan sekali teguk. Baginya sudah biasa untuk minum. Dia belum minum dua atau tiga botol, jadi dia belum mabuk hanya dengan dua gelas minuman. Irama musik mulai menghentak-hentak. Lantai dansa mulai dipenuhi oleh orang yang ingin menari. Dilihatnya Austin mengangguk-angguk pada apapun yang wanita itu bisikkan. Selanjutnya, Austin menurut saat ditarik paksa menuju lantai dansa. “Bos, saya mau joget dulu.” Seru Austin pada Langit. Langit hanya mengangguk. Dia membiarkan Austin menikmati malam itu. Austin sudah banyak membantunya. Minggu depan dia sudah mulai bekerja membantunya sebagai direktur perusahaan. Alis Langit berkerut memikirkan permintaan Kakeknya mengenai calon istri. Sebenarnya, dengan keuangan dan kekuasaan yang dimilikinya sebagai pemegang kendali perusahaan besar, Langit hanya tinggal menunjuk saja dengan siapa dia menikah. Akan tetapi dia tidak bisa seperti itu. Dia tidak merasa cocok dengan wanita yang dia temui. Langit menghela napas. Dia memilih untuk berdiri. Sebaiknya dia mencari angin. Dia merasa penat duduk di dalam klub yang mulai dipadati pengunjung. Dia mulai risih dengan tatapan tiap wanita yang ada di klub itu yang seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup. Seorang wanita menghentikan langkahnya. Dandanannya begitu tebal. Wanita itu dengan berani mengusap dagu Langit. “Halo, tampan. Mau ke mana?” Langit mengangkat alisnya namun tidak mengatakan apapun. Dia menepis tangan wanita itu lalu kembali berjalan pergi. Langit memerhatikan jam yang ada dipergelangan tangan kanannya. Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas tengah malam. Dia sudah menghabiskan beberapa waktu di klub itu. Langkah kaki Langit terhenti saat melihat wanita yang menaiki jasa transportasinya tadi. Dia yakin wanita itu bernama Alaina. Kaki Langit berbelok menuju meja bartender. Dia duduk di samping wanita itu yang sepertinya sendirian. Sementara itu, Alaina menggerutu. Dia ditinggalkan oleh Kaila dan Jessica entah ke mana. Alaina meminum minuman yang dipesannya tadi pada bartender. Dia meneguk sedikit lalu tersenyum. Minumannya enak dan dia menyukainya. “Masa bodoh dengan mereka berdua.” Gerutu Alaina lagi. “Nanti juga mereka datang lagi.” Katanya lagi menghibur diri. “Mas, satu lagi.” Kata Alaina pada bartender yang hanya mengangguk. Alaina mengedip-ngedipkan matanya yang mulai mengabur. “Nanti saya bayar.” Jawab Alaina lagi dengan pandangan yang mulai berkunang. “Saya yang bayar untuk seluruh minuman wanita ini.” Suara itu membuat Alaina menoleh. Seorang pria duduk di sampingnya. Di tangan pria itu terdapat gelas berisi minuman. Pria itu memberikan satu gelas pada Alaina. Alaina tersenyum lalu menerima minuman itu. “Buat saya ‘kan?” tanyanya memastikan. Pria itu mengangguk. Saat hendak diminum, Alaina teringat sesuatu. Dia mengurungkan minumnya. “Kamu kasih obat tidur, enggak?” Pria itu menggeleng. Ada senyum yang tersungging di bibir pria itu walau sedikit yang membuat Alaina tertawa. Dia menyukai senyum itu. “Senyummu bagus. Lebih bagus dari Sandi.” Katanya lalu merengut. Pria itu diam. Tidak mengatakan apapun lagi. “Namamu siapa?” tanya Alaina. “Namamu?” pria itu bertanya kembali. “Aku Alaina.” Kata Alaina lalu menenggak habis minumannya. “Ah iya, kamu mau belikan aku minuman lagi?” tanya Alaina yang diangguki pria itu. “Silakan. Saya bayar semuanya.” Alaina tertawa. “Sama bartendernya juga kamu bayar?” dia tertawa geli yang membuat bartender yang sedang menyiapkan minuman untuknya berjengit mendengar ucapan itu. “Mas, wanita ini sudah mulai mabuk.” Bisik bartender pada pria yang mentraktir minum Alaina. Pria itu mengangguk. “Saya tahu.” Katanya lalu mengeluarkan kartu pada dalam saku jas kerjanya. “Ini, jangan khawatir saya enggak bayar.” Bartender mengangguk. “Atas nama?” “Langit.” Langit kembali mengalihkan pandangannya pada wanita yang duduk di sampingnya. “Alaina.” Ucapnya pelan namun ternyata didengar oleh yang punya nama. “Kamu panggil aku?” Langit menggeleng. Dia memberikan pada Alaina minumannya yang belum diminum. “Silakan.” Kata Langit sopan. Alaina mengangguk lalu meminum sedikit. Alaina bergumam menanggapi enaknya minuman itu. “Ini enak.” Ucap Alaina lalu meletakkan minuman yang belum habis itu. “Oya?” gumam Langit yang diangguki Alaina. “Aku coba.” Katanya lalu mengambil gelas tersebut. Dia meminum tepat di bekas bibir Alaina minum yang membuat wanita itu tersenyum-senyum malu. Secara tidak langsung pria itu menciumnya dan itu membuat Alaina begitu malu. Pria itu sangat tampan menurut Alaina. Tatapan matanya yang tajam. Warna rambutnya yang berkilat diterpa lampu klub. Seketika dia lupa sudah memiliki Sandi. Alaina berdehem demi mengendalikan gejolak yang ada di dalam dadanya untuk mencium pria itu. “Enak?” tanyanya. Pria itu menjilat bibirnya lalu mengangguk. “Bartendernya pintar memilih minuman.” Alaina tertawa setuju. Dia merebut minuman itu lalu meneguknya sekali teguk lalu mengerang. Minumannya enak dan dia ingin lagi. “Mas!” teriak Alaina yang membuat bartender berjengit kaget. “Satu lagi yang diminum Mas ganteng ini.” Bartender mengangguk lalu memberikan minuman pada Alaina. Minuman mahal yang hanya diberikan khusus oleh tamu VIP. Setelah menghabiskan satu minuman, dia turun dari kursi bar. Ditariknya paksa Langit. “Ayo, Mas ganteng, kita joget.” Langit berdehem. “Saya enggak bisa nari.” Alaina tertawa senang. Ini pertama kalinya dia senang sekali mendengar ucapan pria itu. “Kita dansa saja.” Katanya memberikan ide. “Musiknya enggak sesuai.” Alaina tidak mendengarkan. Dia terus menarik Langit ke tengah-tengah lantai dansa. Alaina mengalungkan tangannya di leher Langit. “Siapa peduli dengan musiknya?” kata Alaina yang membuat Langit tersenyum. Mata Alaina mengerjap melihat senyum itu. Di mata mabuknya, dia suka senyum pria itu. “Senyummu bagus. Aku suka.” “Hanya untukmu.” Gumam Langit pada Alaina. Tangan Langit bergerak menuju pinggang Alaina. Dia memeluk Alaina lalu meletakkan dagunya di puncak kepala Alaina seraya memejamkan mata. Entah mengapa bersama dengan wanita ini dia merasa sangat pas. Alaina begitu sangat cocok dipelukannya. Mereka berdansa tidak sesuai dengan irama musik yang menghentak. Ide Alaina yang mabuk itu membuatnya kembali tersenyum. Tanpa dia sadari, dia sudah mencium puncak kepala Alaina. Kemudian bibirnya bergerak menuju telinga Alaina. “Mau pulang?” Alaina bergumam menanggapi ucapan Langit. Alaina mendongak. “Ke hotel?” Alis Langit naik. Dia tidak menyangka ucapan Alaina yang seperti itu. Maksud Langit adalah menawarkan diri untuk mengantarkan pulang bukan untuk tidur bersama. Langit menelan ludah. Ditatapnya Alaina yang menatapnya kembali. Mata Alaina yang lebar ini menatapnya penuh minat. Tanpa berpikir panjang, Langit mencium Alaina dalam. Dia mencecapi seluruh bibir Alaina. Dia tidak ragu lagi, wanita itu adalah Alaina Clarissa yang berhasil mengobrak-abrik pertahanan dirinya yang telah dibangun bertahun-tahun. Wanita yang telah membuatnya berani mencium dua kali. Bahkan mungkin lebih. Alaina mengerang merasa ciuman yang menuntut itu. Ciumannya lebih lembut daripada Sandi. Ciumannya itu sama dengan ciuman pria yang dia lakukan pada permainan Truth or Dare. Erangan itu sampai pula ke telinga Langit. Pria itu memperdalam ciumannya. Dengan masih mencium Alaina, dia membawa wanita itu ke kursi VIP tadi. Dia mendudukkan Alaina di pangkuannya. Tangan Alaina menelusuri d**a Langit yang tertutup pakaian. Bunyi cecap bibir beradu dan erangan keduanya. Alaina dan Langit sedang dibakar api nafsu dan tanpa mereka berdua tahu, Austin menatap Langit dengan tersenyum. Sudah lama sekali dia tidak melihat temannya itu berbicara dan tersenyum dengan siapapun termasuk dengan wanita. Terlebih lagi berciuman. “Alaina.” Langit mengerang. Dia mencium leher wanita itu lalu menggigitnya hingga meninggalkan bekas. “Itu namaku. Dan aku belum tahu namamu.” Alaina menjawab. Dia mengusap rambut pria itu yang begitu lembut sementara dirinya memberikan akses lebih dalam di lehernya. Langit menghentikan ciumannya lalu menatap Alaina. “Apalah arti sebuah nama.” Alaina yang masih duduk di pangkuan Langit tertawa. “Penting bagiku.” Lalu didekatkan bibirnya di telinga Langit. “Bagaimana aku bisa meneriakkan namamu ketika kita mencapai puncak?” Mata Langit melotot. Alaina yang mabuk ternyata lebih ganas dan seksi daripada Alaina yang tidak mabuk dan bersedih. “Kamu ingin kita pergi ke Puncak Bogor?” tanya Langit. Alaina yang mendengar itu malah tertawa. “Kamu lucu.” Katanya lalu mencium bibir Langit sekilas yang ditanggapi Langit dengan senyuman. Diperhatikannya Langit. Walau baru bertemu, dia seolah sudah mengenal pria itu begitu lama. Lebih lama dari yang dia kira. “Ada apa?” tanya Langit. Dia mengusap pinggang Alaina dengan kedua ibu jarinya. Bibir Alaina mengerucut. “Kenapa seolah aku dan kamu pernah kenal sebelumnya? Sebelum ini, semasa remaja. Apakah kamu temanku atau mantanku?” Langit tertawa. Tawa yang membuat Austin yang duduk tidak jauh darinya mengalihkan pandangannya. Temannya itu tertawa dan Austin tidak bisa mengendalikan keterkejutannya. “Kuyakin bukan.” Jawab Langit kemudian tangannya terulur mengusap pipi Alaina yang lembut. “Aku tumbuh besar di Los Angeles. Aku mengetahui Indonesia baru dua tahun ini.” Alaina mengangguk. “Aku sendiri tinggal di Bekasi dan—“ seperti teringat sesuatu, Alaina memekik yang membuat Langit hampir berjengit. “Ini pukul berapa? Ya ampun, bagaimana aku bisa pulang ke rumah? ah, Kaila! Jessica!” Alaina bergerak-gerak gelisah dalam pangkuan Langit yang membuat pria itu menarik napas panjang. Dia tidak ingin menyerang Alaina lagi. Dia tidak ingin menerjang Alaina yang mabuk. Tidak. Dia bukan pria yang memanfaatkan keadaan. “Hey … hey ….” Langit berusaha menenangkan Alaina yang masih menggerutu. Mengatai Kaila dan Jessica teman sialan. “Tenang.” Kata Langit lagi. Mendengar itu, Alaina merebahkan tubuhnya lunglai di d**a Langit. “Aku bagaimana pulangnya?” Alaina ingin menangis. Dia tidak ingin Sandi marah. Dia tidak ingin Sandi memergokinya bersama dengan pria lain. Alaina ingin turun dari pangkuan Langit namun dia tidak sanggup. Pria itu begitu nyaman diduduki. “Kuantar.” Ucap Langit di telinga Alaina yang membuat wanita itu duduk tegak. “Sungguh?” Pria itu mengangguk yang membuat Alaina berseru senang. Saking senangnya, dia mencium pria itu lagi. Sebagai rasa terima kasih yang ditanggapi Langit dengan senang hati. Langit mengerang, “bisakah kita seperti ini selamanya?” bisiknya di bibir Alaina. Alaina mengangguk tanpa memedulikan apa maksud ucapan Langit, dia terus mencium Langit tanpa memedulikan sekitar. Mau tidak mau Langit melepaskan ciuman dan pelukannya. Dia menatap Alaina. “Sudah mau pagi. Aku antar kamu pulang. Oke?” Alaina mengangguk pasrah. “Bolehkah aku tinggal bersamamu?” tanyanya kemudian tertawa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD