“Aku kangen kantormu.” Kata Alaina saat suaminya mendorong kursi roda menuju ruangannya. Lalu matanya tertuju pada meja yang biasanya ada dua orang karyawan yang akan menyambut Langit jika datang. “Loh, orangnya beda?” “Siapa?” “Yang ada di meja itu.” Tunjuk Alaina pada meja yang biasa diisi dua orang yang dia kenal. “Entah. Mereka pindah mungkin.” Langit hanya mengangkat bahu. Alaina mengangguk. “Kamu baik sekali, Lang.” “Apanya?” Langit menunduk menatap puncak kepala istrinya masih mendorongnya perlahan. “Kamu menyediakan pintu khusus difabel.” Langit tersenyum, “itu ide kakek. Karena menurut kakek, setiap orang berhak bekerja dan juga mengabdi pada perusahaan. Ilham salah satunya. Dia baik dan sopan.” Alaina setuju. Tadi saja saat Langit menjelaskan keadaannya, pria itu tidak m

