Langit berjalan menghampiri Alaina lalu berhenti di hadapan wanita itu. Alaina semakin menunduk yang membuat Langit tidak tega untuk mengerjainya. Dihela napasnya pelan kemudian mendudukkan sebagian bokongnya di meja. “Saya membutuhkan asisten pribadi. Lamaran kerjamu memenuhi kriteria yang saya mau.” Mendengar itu membuat Alaina mendongak. “Jadi, Bapak enggak tuntut saya?” Langit menggeleng. Dia melihat mata wanita itu berkaca-kaca dan hampir menangis. “Saya bukan pemilik restoran. Saya hanya enggak suka lihat wanita dikasari.” Alaina menghela napas lega. Dikedipkan matanya lalu sebulir air mata jatuh membasahi pipinya. Cepat-cepat dia mengusap pipinya. “Terima kasih, Pak Langit.” “Panggil saya Langit.” “Hah?” Langit mengangguk. Ada sedikit senyum di bibirnya. “Saat kita hanya be

