Ponsel mahal dengan harga puluhan juta rupiah itu disuruh dia yang memegang. Apakah memang seperti itu seorang asisten pribadi? Sampai-sampai, gawai Sang Bos pun dipegangnya? Mata Alaina berkedip yang membuat Langit berdecak lagi. Pria itu gemas dengan wajah terkejut Alaina. Ingin sekali dia mencubit pipi Alaina. Langit menghela napas pelan. Segera, batinnya. Segera kamu akan kutaklukkan di bawah kakiku. Saat itu tiba, kamu tidak akan berkutik pada pesonaku. “Mulai sekarang, kamu yang terima semua panggilan masuk dari gawai itu. Membalas pesan masuk juga. Mencatat hal-hal penting karena gawai itu saya gunakan untuk urusan bisnis.” Alaina mengangguk. Dia meletakkan hati-hati gawai mahal harga puluhan juta di sisinya. “Anda sendiri enggak ada gawai?” Langit mengeluarkan satu lagi gawain

