Alaina bergelung di dalam kantung tidur sedangkan Kaila menatap punggung Alaina. “Na?” panggil sahabatnya itu pelan. Alaina bergumam menjawab, “kamu kenapa?” Alaina menggeleng. “Kalau mau cerita, aku mendengarkan, Na.” “Aku enggak apa-apa, La.” Jawab Alaina dengan suara bergetar menahan tangis. Alaina tidak mengerti pada dirinya sendiri. Sekejap dia senang melihat Langit dan sekejap dia merasa dirinya tidak berharga lagi, lalu sekejap saja dia merasa bersalah pada Kaila karena hari mereka sudah kacau. “Mamaku pernah bilang, Na, ketika kamu merasa harimu sangat buruk dan beranggapan bahwa mati adalah jalan terbaik,” bisik Kaila. Dia menatap langit-langit tenda, “ketahuilah bahwa diluar sana ada yang lebih buruk lagi. Ada orang-orang yang mencoba bertahan ditengah kelaparan mereka, d

