Bram tertawa dan Kaila hanya mengangkat alisnya. Menunggu jawaban dari Bram. Pria itu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. “Bagiku, dua orang yang berpacaran pasti akan menikah.” Katanya lalu meringis pada perkataannya sendiri. Asumsi dari mana itu, batin Bram. Dasar mulut tidak berguna, makinya pada diri sendiri. Sejurus kemudian Bram tersenyum, “namaku Bramastya, nama kamu siapa?” dia mencoba memperkenalkan dirinya lagi. berharap Kaila lupa pada ucapan bodohnya tadi “Kaila.” Jawab Kaila berusaha tidak memutar matanya. Bram mengangguk, “Kaila.” Ulangnya lalu mengangguk lagi. “eh, kalian sedang apa?” “kemah.” Bram tertawa pelan, “saya bisa melihat itu. Ada tenda,” katanya, “maksud saya tadi sebelum kami datang.” “Berenang.” Bram mengangguk. Dia senang mel

