Austin segera berdiri, dia menatap marah Langit. “Apa pun yang kamu dan Kaila rencanakan, aku enggak setuju!” Kaila berhenti melangkah saat melihat Austin. Dia lupa bahwa Austin adalah temannya Langit dan Alaina juga. Mata Kaila berkedip. Dia menatap Langit. “Kamu kenapa, Austin?” Langit menatap heran pada Austin yang sepertinya siap menerkam. “Kamu dan Kaila sedang apa tadi di toko kue? Kalian berbuat apa di sana?” Austin kembali meradang. Dia melirik Alaina yang wajahnya seketika berubah pucat pasi. Langit mengangkat alisnya lalu kemudian dia terbahak-bahak. “Langit?” Alaina kali ini memanggil suaminya. “Ya, Sayang?” Langit masih tertawa. “Kok ketawa? Kamu—” “Aku minta pendapat Kaila dan Bram,” sela Langit. Diulurkan tangannya mencubit pipi Alaina gemas. Istrinya lucu jika s

