"Percobaan?" sahut Mark dengan kening mengkerut.
"Mungkin kalian lupa. Tapi sebelum ini kita sudah pernah juga di jebak di dunia berbeda, yang membuat kita harus menjalani kehidupan abnormal dan mengerikan. Dan itu semua itu dilakukan untuk tes. Menge tes siapa yang paling kuat, tangguh dan cerdas. Lalu otak kita akan diambil untuk percobaan para Profesor yang ingin membuat planet baru agar menghindari kiamat." Jelas River panjang lebar.
"Otak kita digunakan untuk percobaan apa?" tanya Chase.
"Membuat energi, obat dan robot." Balas River.
"Lalu apa Davis Leader orang yang bekerja sama dengan Profesor?" giliran Elliot yang bertanya.
"Aku rasa tidak." Sahut Ian.
"Ya, aku rasa tidak. Kalau Davis Leader bekerja sama dengan para Profesor, justru seharusnya dia menyuruh kita keluar melawan monster-monster itu, bukannya malah melindungi kita. Karna yang Profesor inginkan-kan menge-tes seberapa tangguh kita, dan seberapa cerdik kita untuk menghadapi monster-monster itu." Kata River.
Semua pun menganggukan kepala setuju mendengar penuturan River.
Edward tiba-tiba muncul.
"Ke kamar Leader, Daniel sudah sadar dan ingin menjelaskan sesuatu." Ujar Edward.
-- -- --
Daniel menceritakan apa yang ia dengar saat bersembunyi di sungai dengan Rosa semalam. Semua kening mengernyit mendengar cerita Daniel.
"Jadi mau itu zombie atau monster, semua itu buatan, untuk menge-tes kita. Dan yang mengontrol mereka adalah penjaga." Ucap Daniel meng-akhiri ceritanya.
"Sebenarnya, aku sudah menebak." Ujar Edward. "Tapi itu tandanya kita di uji dua kali. Kenapa?"
"Di uji dua kali? Apa maksudmu?" tanya Jeffrey.
"Kalian itu kan tidak tiba-tiba ada disini, kalian punya kehidupan sebelum disini, tapi kalian lupa. Dan sebelum ada disini, kita semua, sudah pernah di uji coba untuk misi yang sama. Dan pelaKevinya pun sudah pasti sama." Balas Edward. "Tapi untuk apa kita melakukan tes dua kali? Dan bagaimana mungkin para Profesor yang seharusnya sudah mati, masih hidup dan melanjutkan misi mereka?"
"Mereka menggunakan teleportasi." Sahut Tristan. "Davis Leader menceritakan mimpinya, dan aku rasa itu bukan sekedar mimpi, tapi kejadian yang pernah terjadi. Dia menceritakan ada satu orang Profesor, yang membawa orang-orang yang sudah mati atau menjadi zombie ke dalam sebuah lift yang menghilang sebelum gedung di bom." Ujar Tristan.
"Dan kita di uji dua kali, pasti untuk menumbuhkan sel-sel baru di otak kita. Kalian pasti tahu, setiap berpikir, menerima tekanan, atau otak menerima informasi-informasi baru, sel-sel otak akan terus diperbaharui atau bertambah. Dengan begitu, energi dari otak kita akan semakin kuat." Timpal Johnny.
"Lalu virus zombie yang ada di gedung waktu itu bagaimana? Apa itu nyata?" giliran Yuto buka suara.
"Aku rasa itu nyata, tapi pasti sebenarnya ada penawarnya." Ucap Kevin.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Jovin, yang mulai merasa pening dengan diskusi ini.
"Kita harus keluar di Tengah malam dan menghabisi para monster serta zombie tipuan itu. Lalu kita serang musuh yang sebenarnya." Kata Johnny.
Davis Leader menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak siap, itu mengerikan. Ak-aku pernah melihat bagaimana monster-monster dan zombie itu menghancurkan tubuh teman-temanku sebelumnya dan memakan dagingnya. Aku tidak bisa..." Davis berujar frustasi sembari menarik ke belakang rambutnya.
"Tidak saat ini. Sebelum kita bertindak, Tentu harus ada persiapan yang matang. Mental, keberanian, kesehatan fisik, senjata, latihan, dan rencana p*********n harus tersusun dengan rapih. Agar kita semua selamat, dan bisa meng akhiri semuanya." Kata Johnny berusaha menenangkan Davis.
Ten yang berdiri di samping Davis menepuki bahu pemuda itu, ikut membantu agar pemuda itu bisa lebih Tenang.
"Untuk beberapa waktu, kita jalani hidup seperti biasa. Tapi kita buat jadwal baru untuk berunding." Ucap Johnny.
"Lalu setelah semuanya berakhir kita akan kembali ke keluarga kita masing-masing?" tanya Evan sembari memasang senyum sumringah.
"Tentu saja." Balas Johnny sembari tersenyum simpul.
"Aku tidak tahu kenapa aku bahagia, tapi seperti ada yang menungguku di luar sana. Apa aku punya orang tua dan adik?" ujar Evan yang hanya di tanggapi gendikan bahu, dan senyuman kecil anak-anak baru, kecuali Rosa yang memang belum sadarkan diri.
Johnny jadi ingat titipan Evan untuk adik-adiknya sebelum anak laki-laki itu mati. Johnny masih menyimpannya di tasnya. Itu hanya sebuah gambar Evan dengan beberapa anak kecil, serta tulisan 'Aku merindukan kalian, tunggu aku pulang.'
"Tapi kalau kita sudah kembali, kita mungkin akan merasa berbeda dengan orang-orang lain." Kata Daniel.
"Kenapa?" tanya Hudson.
"Karna kita seTengah robot." Balas Daniel.
"Apa?" semua kening mengernyit.
"Kita bukan seratus persen manusia seperti anak-anak baru, ada beberapa bagian tubuh kita yang di ganti menggunakan mesin, mungkin karna sebelumnya sudah hancur atau rusak." Kata Daniel.
"Kalian itu semuanya sudah mati." Sahut Tristan tiba-tiba. "Di tes pertama, kalian sebenarnya sudah mati. Tapi dihidupkan kembali menggunakan bantuan mesin, hanya demi untuk menumbuhkan sel-sel baru di otak kalian." Kata Tristan.
"Jadi sebenarnya kita adalah mayat?" kata Ten sembari mengusap Tengkuknya.
"Hwa!" Nathan berteriak saat Chase tiba-tiba mengejutkannya dengan berlagak seperti zombie dan membuat suara-suara mengerikan, sembari berjalan mendekatinya.
"Aku adalah mayat hiduppp..." ujar Chase.
Nathan kemudian berlari keluar dari kamar Leader, dan Chase segera mengejarnya.
"Aku senang mereka tidak terlalu tertekan mendengar fakta ini. Tapi bagaimana dengan Gemma, Davis, Jeno, Mark, Elliot, Ian, Nolan, Jovin dan Evan? Bagaimana perasaan kalian?" tanya Davis Leader hati-hati.
Mata anak-anak itu mengerjap.
"Kami merasa baik-baik saja." Ucap Jeno.
"Hanya shock." Timpal Jovin.
"Yah yang penting kita masih hidup sekarang, jangan sampai mati untuk yang kedua kali. Kalau sampai mati lagi, yahh... berarti itu memang takdir kita." Kata Elliot sembari menggendikan bahunya.
"Bisakah sekarang kita tidur? Aku lelah." Ucap Edward sembari menguap.
"Ya sudah kalian tidurlah, nanti makan siang di bangunkan. Suruh Chase dan Nathan berhenti bermain ya?" ujar Davis Leader yang di balas anggukan.
Anak-anak pun mulai berhambur keluar dari kamar Leader, menyisakan Tristan, Ester, Kevin, Johnny, Yuto, Davis besar, Daniel dan Rosa.
Namun tak lama Davis pamit keluar, dan ia hendak tidur di sofa ruang Tengah.
"Apa kalian yakin kita semua bisa selamat keluar dari hutan dan melawan para penjaga serta Profesor?" ujar Yuto sembari menatap serius satu persatu orang yang tersisa di kamar, kecuali Rosa Tentu saja.
"Aku yakin." Ucap Johnny.
"Aku... aku... takut, jujur." Kata Yuto sembari menghela nafas berat.
"Kenapa takut? Kau selalu terlihat paling berani, tapi kenapa sekarang takut?" tanya Kevin.
Yuto menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa khawatir. Mungkin aku karna aku kelelahan dan mengantuk, aku tidur dulu." Yuto beranjak berdiri dan memilih bergegas keluar kamar.
"Kalian juga istirahatlah. Aku mau tidur dengan Davis di ruang Tengah." Kata Johnny dan ikut keluar kamar.
Ester dan Kevin pun akhirnya melakukan hal yang sama.
Akhirnya hanya tinggal Tristan, Daniel, dan Rosa di dalam kamar.
Tristan berjalan mendekati ranjang dimana Rosa berbaring, ia menarik kursi dan meletakannya di pinggir ranjang, kemudian duduk di sana.
Tristan meraih tangan Rosa kemudian menggenggamnya.
"Apa kalian sebenarnya sepasang kekasih?" Daniel tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat Tristan terhenyak.
"Mmh, bukan. Kami hanya sepasang sahabat." Ucap Tristan, tanpa merubah posisinya yang membelakangi Daniel.
"Benarkah?" tanya Daniel. "Kalian tampak mesra."
Tristan menundukan kepalanya sejenak, sebelum akhirnya membalikan tubuhnya menghadap ke arah Daniel.
"Aku memang menyukainya, lebih tepatnya mencintainya. Tapi... dia mencintai pria lain." Ucap Tristan. "Dan, sejujurnya aku sangat sedih kau tidak mengingat apapun, kehidupanmu sebelum disini. Dulu, aku, kau dan Rosa adalah sahabat, kita bertiga sahabat."
Daniel hanya diam menyimak apa yang Tristan katakan. Meskipun merasa aneh, tapi entah kenapa ia percaya dengan perkataan yang di lontarkan Tristan.
"Kitaaa... menyukai orang yang sama, sahabat kita sendiri, Rosa. Waktu itu kau pernah bertanya padaku untuk memastikan, apa aku menyukai Rosa? Tapi aku berbohong dengan menjawab tidak, karna kau menyukainya. Dan beruntung sekali, rupanya Rosa juga memiliki perasaan yang sama denganmu." Tristan berujar sembari tersenyum getir. "Aku... sedikit terluka sebenarnya. Tapi... aku rasa kebahagiaanmu dan Rosa lebih penting. Lagi pula, Rosa kan memang tidak memiliki perasaan yang sama denganku, jadi ya..." Tristan menggendikan bahunya dan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Kau tahu apa yang paling menakutkan bagi pria?" ujar Daniel, membuat Tristan mengangkat salah satu alisnya sembari menatap heran Daniel. Merasa perkataan pemuda itu tidak nyambung dengan apa yang sedang ia bicarakan sebelumnya.
"Wanita." Ucap Daniel. "Kalau pria sudah menyukai wanita, terkadang ia rela melakukan hal apapun demi wanita yang di sukainya, tidak peduli itu hal bodoh. Tapi aku senang, persahabatan kita rupanya masih utuh meskipun ada wanita diantara kita, yang mungkin saja bisa menghancurkan hubungan persahabatan kita. Aku senang, kkk... tapi... aku tidak ingin melukai perasaanmu juga." Daniel kemudian menghela nafas. "Bagaimana kalau tidak ada yang mendapatkan Rosa?"
"Yang mendapat rusa gemuk itu aku!" Daniel dan Tristan tersentak saat mendengar suara Elliot dari luar kamar.
"Tidak Gem, ini hasil buruanku! Jangan mengaku-ngaku!" suara Mark menyahuti.
"Kalian ini apa-apaan sih?! Aku mau tidur! Kalian tidur juga sana! Tidak penting rusa ini buruan siapa yang penting kita bisa makan!"
"Tapi Gem, kau harus lihat dulu hasil buruan kami, sebelum dikuliti. Agar kau percaya kami juga pintar berburu, bukan hanya William."
"Ayolah, aku mau tidur. Aish! Berhentilah menarikku!"
"Hei, biarkan Gemma tidur!" suara Lucas tiba-tiba terdengar.
"Gemma itu milikku loh, kemarin saat aku menjaganya saat sedang sakit, aku sudah meng-klaimnya." River menimpali.
"Hei buntalan! Jangan bicara macam-macam! Itu tidak benar!" seru Gemma.
"Apa kau bilang?! Aku buntalan?!"
"Iya!"
"ANAK-ANAK! BISA DIAM TIDAK?! ATAU KALIAN MAU AKU SERET DAN DIKEVINCI DI KAMAR KALIAN MASING-MASING?!" suara menggelegar Johnny sukses membuat suasana hening.
"Mark, ayo tidur saja." Suara Edward tiba-tiba tak lama terdengar.
"Apa Elliot dan Mark punya masalah seperti kita?" tanya Tristan.
"Mereka memang sangat menyukai Gemma, karna seumuran dan cantik. Sebenarnya Evelyn juga cantik, tapi dia berantakan, dingin dan terlalu tomboy. Lagi pula lebih tua jauh." Balas Daniel sembari tertawa kecil.
"Aku penasaran soal Angel, lebih tepatnya, bagaimana dia bisa menjadi kekasih Davis? Dia teman Rosa dulu." Ucap Tristan.
"Mereka berkencan begitu saja, aku juga tidak tahu bagaimana, karna aku belum ada disini waktu itu. Tapi Davis bercerita padaku, sebelum dia berkencan dengan Angel, dia sempat berTengkar dengan beberapa pria yang menyukainya juga, dan Davis mengaku menjadi egois karna wanita, dia tidak peduli perasaan temannya yang lain, asal mendapatkan Angel. Dan hubungan mereka sampai terlalu jauh. Angel sempat hamil dan itu membuat Davis dengan teman-temannya sebelum ini benar-benar terpecah belah. Sampai Angel lalu dibuat keguguran oleh seseorang yang cemburu, dan itu membuat Davis frustasi berat. Itu alasan Davis memberi peraturan yang sangat ketat, untuk tidak berebut gadis, tidak boleh sampai ada s*x, dan pemicunya pun harus di hindari, juga harus membangun solidaritas yang tinggi diantara kita. Dia tidak mau apa yang dialaminya dulu terulang." Kata Daniel panjang lebar.
"Aku jadi kasihan pada Davis, dia pasti sangat tertekan saat itu." Ucap Tristan.
"Dia selalu tertekan. Apa lagi kalau Carson sudah ikut bermain dengan Chase dan Nathan, atau menghadapi William yang tidak pernah nyambung saat diajak bicara." Kata Daniel diselingi kekehan.
"Tapi aku rasa dia lebih frustasi mendengarmu yang setiap saat tertawa tanpa alasan yang jelas." Timpal Tristan.
"Enak saja, tawaku ini renyah dan enak di dengar. Justru dia merasa terhibur." Tristan mencebikan bibirnya mendengar penuturan Daniel, sedangkan pemuda bermata kecil itu sibuk tertawa sendiri.
"Dasar bodoh." Gumam Tristan.
"Kau juga bodoh pendek."
"Kau yang bodoh gendut,"