07

974 Words
Daniel mengernyitkan keningnya, merasakan monster dan para zombie yang sudah tidak lagi berlalu lalang, atau terdengar suaranya, padahal masih menjelang subuh. Itu membuat Daniel akhirnya memberanikan diri keluar dari sungai, dengan masih mendekap erat Rosa yang Tengah tertidur, atau mungkin pingsan. Karna ia tidak terusik sama sekali saat Daniel bergerak. Daniel meraih baju Rosa yang berada di tanah, kemudian mengenakannya pada Rosa dengan posisi memeluk, dan kepala berada di samping kepala Rosa. Sebisa mungkin tidak melihat bagian depan tubuh Rosa. Setelah selesai mengenakan Rosa pakaian, Daniel membaringkan Rosa di tanah, sebelum akhirnya ia ikut mengenakan kaosnya juga. Daniel memperhatikan Rosa yang tampak membeku, bibirnya membiru, dan naik-turun dadanya terlihat samar, membuat Daniel khawatir. Daniel meraih kedua tangan Rosa, kemudian menggenggamnya. Tangan Rosa sangat dingin. Daniel menge cek nadi dan nafasnya, masih berdecak dan ia masih bernafas. Namun detakannya lemah, dan nafasnya terdengar berat. Daniel menarik ke bawah dan ke atas bibir Rosa, sebelum akhirnya memberinya nafas buatan. Tak lama Rosa terbatuk dan ia mengeluarkan sedikit air dari mulutnya. "Kau baik-baik saja Rosa?" tanya Daniel saat mata Rosa mulai terbuka sedikit. "Dingin... pusing," ucap Rosa lirih.                                   "Ayo kita pulang." Daniel meraih tubuh Rosa kemudian menggendongnya, dengan memegangi pinggang dan b****g Rosa. Sedangkan gadis itu secara otomatis melingkarkan kedua tangan dan kakinya, pada leher dan pinggang Daniel. Daniel kemudian mengambil tombaknya yang berada di tanah, sebelum akhirnya mulai berjalan menjauhi sungai. Meskipun perasaannya mengatakan monster dan zombie sudah tidak ada, tapi Daniel tetap was-was dan berjaga-jaga karna hutan masih gelap. -- -- -- Tidak ada yang bisa tidur malam itu, semuanya memikirkan keadaan Daniel dan Rosa di luar sana. "Aku benar-benar tidak bisa diam begini, aku rasa kita harus mencari mereka. Tidak peduli yang kita temukan nanti adalah mayat." Carson dan Joseph seketika berteriak mendengar penuturan Yuto, dan melihat pemuda itu langsung beranjak berdiri. "Jangan nekat." Ucap Joseph. "Sekarang sudah hampir subuh, apa monster dan zombie masih ada huh?" ujar Yuto. "Mereka masih ada. Mereka akan pergi kalau sudah fajar." Balas Carson. Yuto mendengus dan memilih keluar dari kamar, tapi Carson dan Joseph segera menahannya dengan menarik kedua tangan Yuto. "Nanti kau dipukul Liam seperti Tristan," kata Joseph. "Aku tidak takut. Kelinci kurang gizi itu akan mudah aku buat patah kakinya." Sahut Yuto. "Ingat peraturan!" seru Carson. "Peraturan ada untuk di langgar!" timpal Yuto. Lucas tiba-tiba berlari keluar dari kamar membuat Joseph, Carson dan Joseph terkejut. Apa lagi saat melihat ke arah mana Lucas berlari, ke ruang tamu, yang jelas terdapat pintu keluar. Johnny, Kevin dan Edward pun tak lama keluar dari kamar masing-masing, dan membuat ricuh asrama karna teman-teman se kamar mereka, mencoba memberhentikan aksi mereka. "Diam!" teriak Johnny sembari menepis tangan yang sedari tadi menjegalnya. "Kalian semua khawatirkan? Sampai tidak bisa tidur. Lalu apa mungkin kita tetap akan disini?" ujar Johnny. Ia kemudian melirik Tristan yang masih sesenggukan, setelah semalaman menangis tiada henti, saat punggung-punggung tangannya terluka karna terus ia remas dan gigiti. Tristan mencoba menahan isakan tangisnya, yang terus semakin membesar, saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi pada Rosa dan Daniel. Johnny menarik bahu Tristan untuk berada di dekatnya. "Ayo Tristan." Ucap Johnny sembari mengajak Tristan untuk pergi, diikuti Edward dan Kevin dari belakang. "Kalian sungguh tidak mengerti bagaimana berbahayanya di luar sana!" teriak Leader Davis frustasi. Hingga membuat langkah Johnny, Kevin, Tristan dan Edward terhenti. "Tidak ada yang lebih berbahaya, selain orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri." Kata Edward anarkis dengan mata yang memicing tajam. Semua orang seketika menatap sengit dan tak suka pada Edward, kecuali anak-anak baru. "Kami bukannya mementingkan diri kami sendiri. Kami hanya mau menjaga yang sekarang masih ada. Davis sudah mengatakannya kan?" ujar Jeno. "Hal paling memalukan bagiku, adalah membiarkan diriku sendiri masih bernafas sedangkan temanku mati." Ucap Edward. "Lalu maksudmu kau mau bunuh diri?" sahut Jovin dengan salah satu alis terangkat, dan tangan terlipat di depan d**a. "Kalau masih ada kesempatan untuk menyelamatkan teman kita apa salahnya dicoba? Meskipun situasinya sangat berbahaya. Kalau pun kita nanti mati, kita bukan mati sebagai pengecut." Kata Edward. Semuanya terdiam. Namun sebuah ketukan pintu lebih membuat mereka tercengang sekaligus meremang. Terutama Lucas yang berdiri paling dekat dengan pintu. "Tolong buka pintunya! Ini aku Daniel!" seru suara di luar sana. Davis Leader segera berlari ke arah pintu, untuk membukakan pintu. Begitu pintu dibuka, Daniel langsung ambruk ke lantai, bersama dengan Rosa yang berada di dalam gendongannya. -- -- -- Miles, Ester dan Kevin sibuk meracik obat di dapur untuk Rosa dan Daniel. Kondisi mereka cukup kritis, terutama Rosa. Ia kedinginan, perutnya kosong dan dehidrasi. Rosa dan Daniel juga terpaksa diletakan di kamar yang sama, agar Miles, Ester dan Kevin lebih mudah untuk merawat mereka. Dan mereka menggunakan kamar para Leader. "Ini... mustahil. Bagaimana bisa mereka masih hidup?" gumam Ian. "Jadi maksudmu kau tidak suka mereka masih hidup?" timpal River. "Bukan begitu. Hanya saja ini aneh." Balas Ian. "Aku rasa tidak aneh, Daniel cukup hebat dalam bertarung." Kata Elliot. "Lalu teman-teman Davis Leader sebelumnya tidak hebat?" sahut Nolan sebelum meneguk air mineral dari botol. "Mungkin." Ucap Elliot. "Atau jangan-jangan selama ini Davis Leader hanya mengada-ngada soal sebetapa mengerikannya monster-monster dan zombie-zombie itu? Buktinya, Daniel dan Rosa masih tetap hidup setelah semalaman ada di hutan." Kata Nathan yang membuat semua anak yang berkumpul di ruang Tengah seketika menatapnya. Sebenarnya hanya anak di bawah umur yang berkumpul di sana, kecuali Lucas, Edward dan Gemma. "Untuk apa?" sahut Evan. "Iya, untuk apa?" timpal Chase. "Ada benarnya juga tapi." Gumam Jeno sembari menyandarkan punggungnya pada sofa. "Mungkin saja, Davis Leader salah satu dari komplotan orang-orang menculik kita. Dia berkata seperti itu, agar kita terus terjebak disini." "Ya tapi untuk apa kita di culik dan di tempatkan disini?" Davis kecil yang sedari tadi diam akhirnya buka suara. "Mungkin untuk sesuatu..." Haehan menggantungkan kalimatnya karna tidak tahu apa yang sebenarnya hendak ia katakan. "Aku tahu," ucap River sembari mengangkat tangannya, agar mereka semua terfokus padanya. "Untuk percobaan konyol."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD