"Ap-apa?" gumam Rosa sembari menatap Daniel tidak percaya.
Daniel tiba-tiba malah membuka bajunya.
"Aku tidak akan mengintip. Kau buka bajumu di dalam air dan langsung memelukku. Kalau kulit saling bersentuhan itu akan menciptakan rasa hangat." Kata Daniel.
"Tapi aku malu." Gumam Rosa.
"Aku janji tidak akan melakukan apapun. Ini hanya agar kita merasa hangat, aku juga kedinginan." Kata Daniel.
Rosa akhirnya menenggelamkan diri untuk membuka bajunya, sebelum akhirnya berenang mendekati Daniel dan langsung memeluk pinggang pemuda itu, dengan wajah berada tepat di atas d**a Daniel. Daniel pun membalas pelukan Rosa dengan erat, berharap bisa menciptakan rasa hangat.
Suara monster dan zombie tak lama terdengar lagi, membuat Daniel dan Rosa terpaksa harus menenggelamkan diri mereka lagi. Rosa semakin mengeratkan pelukannya dengan mat terpejam erat, merasa takut sekaligus kedinginan.
Langkah kaki monster-monster dan zombie terdengar untuk waktu yang cukup lama. Rosa menggembungkan pipinya, dan merasa benar-benar akan kehabisan nafas. Daniel mencoba membuatnya bertahan dengan menepuk-nepuk pipi Rosa, agar gadis itu tetap sadar.
Sampai akhirnya suara itu menghilang, Daniel segera mengangkat kepalanya keluar dari air bersama Rosa. Mereka segera meraup oksigen sebanyak-banyaknya, namun terasa sulit bagi Rosa, ia merasa sesak nafas, dan seolah banyak air menggenang di paru-parunya. Mulutnya terbuka mencoba meraih oksigen lebih banyak namun itu tidak berhasil.
Daniel meraih pipi kanan Rosa, mendekatkan bibirnya pada bibir Rosa, sebelum akhirnya memberi gadis itu asupan oksigen melalui mulutnya, juga sedikit kehangatan. Kesadaran Rosa sedang di awang-awang saat Daniel melakukan itu, sehingga Rosa tidak menunjukan reaksi apapun, selain mencoba menghirup udara.
Daniel tak lama melepas tautan bibirnya dengan Rosa, ia kemudian menatap gadis itu, yang nafasnya tampak mulai stabil.
''Kau merasa baik-baik saja?'' tanya Daniel.
''Aku merasa buruk.'' Ucap Rosa. ''Apa kita akan berada disini semalaman?''
''Mau bagaimana lagi? Monster dan zombie ada dimana-mana, kita tidak bisa keluar dari sini.'' Balas Daniel.
''Kita akan mati kedinginan.'' Kata Rosa.
''Tidak akan, bukankah dengan begini kita lebih hangat?'' Ujar Daniel sembari mengeratkan pelukannya.
''Tapi aku tidak yakin kita masih bisa bertahan sampai besok. Memangnya kau tidak mengantuk? Dan kita tidak mungkin sedikit-sedikit Tenggelam ke air karna monster dan zombie yang lewat.'' Kata Rosa.
''Percaya padaku kita masih bisa hidup sampai besok.'' Ucap Daniel.
''Aku mencoba percaya.'' Timpal Rosa.
''Kau bisa tidur, dan aku akan berjaga. Saat ada monster aku akan membangunkanmu.'' Kata Daniel.
Rosa tampak ragu untuk melakukannya, namun Daniel sudah lebih dulu menarik kepalanya ke arah dadanya. Rosa tidak yakin ia bisa tidur dalam kondisi seperti ini, meskipun jujur, pelukan Daniel terasa hangat. Namun tidur di dalam air, dengan monster dan zombie di sekitarmu, apa mungkin kau bisa terlelap dalam kondisi seperti itu?
Lambat laun, Rosa baru menyadari jika terdapat suara seperti mesin yang bekerja di dalam tubuh Daniel, suaranya samar. Namun sepertinya berasal dari d**a Daniel.
''Ada apa di dadamu? Aku seperti mendengar suara mesin.'' Ujar Rosa.
Daniel tersentak untuk beberapa saat, saat mendengar pertanyaan Rosa.
''SeTengah jantungku terbuat dari mesin.'' Ucap Daniel.
''Apa?'' Rosa seketika mendongakan kepalanya agar bisa melihat wajah Daniel.
''Apa kau tidak lihat? Ada bekas luka tusukan pisau dan jahitan di dadaku?'' Kata Daniel sembari menunjuk bagian Tengah dadanya. ''Sepertinya aku pernah terluka dulu, dan mengalami masalah pada jantungku, sehingga sebagian dari jantungku di ganti. Awalnya aku pikir, seluruh jantungku terbuat dari mesin, tapi aku masih bisa mendengar detakan jantung yang alami. Sulit di percaya ya?''
''Jadi kau seTengah robot?'' tanya Rosa.
Daniel menggendikan bahunya.
''Mungkin. Tapi aku bukan robot, hanya sebagian kecil dari tubuhku yang memang terbuat dari mesin.'' Kata Daniel.
''Bagaimana kau tahu kalau sebagian jantungmu terbuat dari mesin?'' tanya Rosa lagi.
''Aku bertanya pada Davis besar, karna aku merasa ada yang aneh pada tubuhku, dan dia menjelaskan, mungkin memang ada mesin di tubuhku, dan semua anak termasuk Davis sendiri, sepertinya kondisi yang sama sepertiku. Ada sebagian kecil dari tubuhnya yang terbuat dari mesin. Yah kecuali kau dan anak-anak baru lain mungkin. Tapi yang tahu Tentang ini hanya aku dan Davis.'' Jelas Daniel.
''Tapi apa kau merasa baik-baik saja dengan tubuh yang terdapat mesin?''
''Aku merasa baik-baik saja, bahkan aku masih bisa merasakan cinta, hehe. Hanya saja mungkin aku dan yang lain jadi lebih kebal, tidak mudah kedinginan, kepanasan, mudah lelah, atau mengantuk. Itu sebabnya kau jangan khawatir aku berjaga. Sekarang tidurlah.''
-- -- --
Davis menarik bahu Tristan yang hendak keluar asrama.
''Kita tidak bisa membiarkan Daniel dan Rosa berada di luar semalaman!'' teriak Tristan yang merasa tidak terima, karna sedari tadi langkahnya terus di tahan untuk keluar.
''Di luar berbahaya! Kau bisa mati!'' seru Davis.
''Lebih baik aku mati bersama mereka, dari pada diam disini seperti pengecut!'' timpal Tristan.
''Jadi maksudmu kami pengecut?!'' sahut Carson tiba-tiba.
''Iya! Kalian pengecut! Disaat ada teman yang tertinggal di luar, kalian malah memilih diam disini!'' kata Tristan dengan emosi membuncah.
''Kau tidak mengerti bagaimana bahayanya di luar sana.'' Jeffrey ikut menimpali.
''Ya, kalian tahu bagaimana bahayanya di luar sana, dan malah memilih diam disini, meninggalkan dua orang di luar sana.'' Kata Tristan.
''Tapi percuma kalau kita keluar dan mencari mereka, kita tetap akan mati.'' Ten ikut angkat bicara.
''Kenapa kalian begitu pesimis dan takut huh? Orang disini banyak, kita pasti bisa mengalahkan monster-monster dan zombie itu.'' Kata Tristan.
''Kau tidak mengerti Tristan,'' ucap Evelyn.
''Apa yang tidak dimengerti?! Kalian semua disini hanya pengecut!-'' Buk!
Semua orang terkejut saat Liam tiba-tiba maju dan menghajar Tristan tanpa berkata apapun sebelumnya. Bahkan kini ia yang tampak paling marah diantara yang lain.
''Kalau kau mau pergi, pergilah. Pergi sendiri. Dan siap-siap saja tubuhmu jadi daging giling keesokan harinya.'' Ucap Liam, ia kemudian meraih kerah baju Tristan sembari menatap pemuda itu tajam. ''Kami semua disini hanya mencoba melindungi dan mempertahankan yang ada. Kalau sudah ada yang terjebak di luar di malam hari, kita hanya bisa pasrah mereka jadi mayat. Inilah hidup barumu. Jangan merasa sok jagoan!'' setelah mengucapkan kalimat tersebut, Liam mendorong tubuh Tristan hingga mundur.
''Aku hanya tidak mau kehilangan Daniel untuk yang kedua kalinya, ditambah Rosa.'' Gumam Tristan lirih dengan mata memerah dan berkaca-kaca, kedua tangannya mengepal.
''Kami mengerti perasaanmu, tapi jangan nekat.'' Ucap Davis.
Sekujur tubuh Tristan lemas, memikirkan Daniel dan Rosa yang berada di luar sana, ia menekuk lututnya sembari mengusap kasar wajahnya. Johnny, Edward dan Yuto menghampirinya untuk menepuk bahunya. Sedangkan Lucas dan Kevin memilih menyendiri. Kening-kening mereka mengkerut dan raut wajahnya menunjukan ke khawatiran, yang tidak bisa disembunyikan.
-- -- --
Daniel menenggelamkan dirinya bersama Rosa, namun ia tetap menyisakan matanya untuk tetap berada di luar air. Matanya memicing, mengamati monster yang berada tak jauh dari mereka, namun jaraknya juga tidak bisa dibilang dekat. Sehingga Daniel merasa aman untuk mengintip. Daniel merasa heran dengan perut monster itu yang sesekali mengeluarkan cahaya biru, seolah mereka adalah mesin atau robot.
Dua orang penjaga tiba-tiba mendekati monster itu, dan secara bersamaan monster itu tiba-tiba berhenti bergerak layaknya patung.
''Kapan anak-anak pengecut itu akan mencoba keluar dari asrama? Mereka hanya berani keluar di siang hari. Apa sama sekali tidak ada keinginan bagi mereka untuk keluar? Kalau begini terus percobaan ini kapan selesai? Aku bisa mati bosan menunggu mereka keluar.''
''Aku yakin ada saatnya mereka akan jengah dan mencoba keluar dari sini.''
''Sampai kapan? Ahh... aku punya ide. Bagaimana kalau kita tiba-tiba melepas monster di siang hari?''
''Itu agak kejam menurutku. Mereka tidak punya persiapan jika tiba-tiba diserang, yang ada tubuh mereka hanya akan hancur, seotaknya. Sedangkan yang para Profesor butuhkan, kan otaknya.''
''Kau benar. Tapi kalau sampai seminggu mereka tetap tidak berani keluar dan melawan monster-monster ini, aku rasa terpaksa, kita harus melepas monster-monster ini di siang hari, tidak peduli mereka siap atau tidak, mau tubuh mereka hancur sampai ke otaknya. Kan kita memang membutuhkan otak yang kuat. Bukan otak pengecut. Percobaan inikan untuk semakin menyaring otak-otak yang paling berkualitas.''