Tristan membantu Rosa untuk mengajarkannya memanah, karna sedari tadi saat Rosa mencoba memanah, anak panahnya terjatuh, kalau tidak melukai wajahnya, dan tombak yang ia lempar tidak pernah tepat sasaran.
Tristan berdiri di belakang Rosa, dan menuntun gadis itu untuk melempar anak panahnya dengan benar.
"Seperti ini," ucap Tristan sembari menggenggam tangan Rosa yang berada di ujung anak panah sekaligus tali busur. "Pegang yang kuat busurnya, dan fokuskan sasaran. Seperti saat kau menembak."
Rosa mengikuti intruksi Tristan, dan mencoba memfokuskan panah pada sasarannya. Seekor babi hutan yang jaraknya cukup jauh dari mereka. Rosa pun akhirnya mulai melemparkan anak panahnya saat merasa sudah siap. Slap.
Rosa tersenyum lebar saat anak panahnya akhirnya terlempar dengan baik bahkan tepat sasaran.
"Yash!" seru Rosa dengan raut wajah sumringah sembari melompat-lompat kecil. Tristan tersenyum melihatnya, sembari mencondongkan wajahnya ke depan hingga wajahnya sejajar dengan Rosa.
Rosa tiba-tiba menolehkan kepalanya ke arah kanan, dimana terdapat wajah Tristan disana, membuat pucuk hidung mereka bertemu, dengan pandangan yang saling bertemu.
Tristan pun akhirnya segera menjauhkan dirinya dari Rosa, sembari berdehem kikuk.
Daniel memakani berry sembari menatap sengit Tristan dan Rosa.
"Dia tidak perlu berada di belakangnya dan menggenggam tangannya, dia pasti hanya cari-cari kesempatan." Sungut Daniel.
"Bukankah caranya memang begitu untuk mengajarkan memanah?" tanya Yuto sembari mendongakan kepalanya agar bisa melihat wajah Daniel, karna posisinya sedang berjongkok dan sedang memilih-milih berry yang masih bagus dan mana yang sudah kurang bagus atau busuk.
"Tidak perlu seperti itu. Itu namanya bukan mengajarkan memanah. Masak mengajarkan memanah harus sampai dekat-dekatan begitu wajahnya?" Protes Daniel yang dibalas gendikan bahu oleh Yuto.
Merasa keranjangnya sudah penuh, Yuto pun beranjak berdiri dan menghampiri Evelyn yang sedang sibuk memasukan hasil buruan serta sayur dan buah ke dalam gerobak.
Yuto memasukan keranjang bawaannya ke dalam gerobak, menumpuknya dengan keranjang yang lain. Kemudian memperhatikan Evelyn yang sedang mengikat-ngikat kaki-kaki hasil buruan. Rambut tebal hitam legam gadis itu, tampak benar-benar tidak pernah disisir. Yuto jadi sedikit risih melihatnya, ia tanpa sadar mengulurkan tangannya ke arah rambut Evelyn, dan menyisirnya dengan lembut, membuat Evelyn terkejut dan otomatis menolehkan kepalanya ke arah Yuto.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Evelyn yang membuat Yuto langsung menarik tangannya dari rambut Evelyn.
"Maaf, aku hanya berpikir... seharusnya kau menyisir rambutmu. Kau cantik, tapi kalau rambutmu tersisir rapih pasti akan jadi jauh lebih cantik." Kata Yuto sembari tersenyum tipis.
Evelyn tampak kikuk dan secara otomatis menyisir rambutnya menggunakan jari-jarinya yang padahal berlumuran darah binatang.
"Aish jangan seperti itu." Kata Yuto sembari menepis tangan Evelyn dari rambutnya. "Pakai sisir saja, tanganmu kotor." Ucap Yuto.
"Baiklah. Tapi sebenarnya aku tidak punya sisir." Kata Evelyn.
"Apa Gemma tidak memilikinya?" tanya Yuto.
Evelyn menggelengkan kepalanya.
"Biasanya yang mau menyisir rambut akan datang ke kamar Hudson atau Davis Leader. Hanya mereka yang punya sisir." Kata Evelyn.
"Begitukah?" gumam Yuto sembari terkekeh pelan. "Omong-omong kau berasal dari Negara mana?" tanya Yuto.
"Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu nama-nama Negara." Kata Evelyn. "Kalau menurutmu aku dari Negara apa?"
"Eum... entahlah, wajahmu tampak campur," balas Yuto. "Kalau aku dari Jepang."
"Seperti pernah dengar." Gumam Evelyn.
Mereka kemudian mulai berbincang hal lain.
"Kau ternyata menyenangkan, aku kira hanya Carson pria yang paling menyenangkan di dunia ini."
-- -- --
Rosa mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan, ia penasaran dari mana asal monster dan para zombie muncul. Kenapa mereka hanya keluar di malam hari? Bukankah seharusnya zombie aktif di siang hari? Kecuali jika mereka ada di ruangan yang terang. Rosa ingin mencari jejak mereka, pasti ada, tidak perlu menunggu sampai petang rasanya untuk mengetahui mereka muncul dari mana.
Rosa pun akhirnya merangsek menjauhi teman-temannya, pergi lebih dalam ke hutan, tanpa disadari oleh yang lain, karna sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Namun Daniel menyadari itu, keningnya mengernyit melihat Rosa yang berlari ke belakang hutan. Daniel mengedarkan sejenak pandangannya, hendak memastikan Tristan tidak melihat kepergian Rosa. Dan rupanya pemuda itu Tengah sibuk membantu Johnny, Ian dan Jeno yang sedang menguliti hasil buruan. Daniel akhirnya segera menjatuhkan buah-buahan yang berada di pelukannya ke tanah, kemudian mengejar Rosa.
"Rosa!" panggil Daniel sembari meraih pergelangan tangan gadis itu.
Rosa tersentak dan menolehkan kepalanya ke belakang dengan mata melebar.
"Daniel?" gumam Rosa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Daniel.
"Eum aku..." Rosa tampak gugup.
"Tidak berpikir untuk mencari jalan keluarkan?" tebak Daniel dengan mata memicing.
Rosa segera menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin mencari tahu, dari mana monster-monster dan zombie muncul." Ucap Rosa.
"Kau gila?" sahut Daniel.
"Terdengar gila memang, tapi aku merasa penasaran. Mungkin saja dengan kita tahu dari mana monster-monster itu muncul, kita jadi bisa menutup pintu mereka masuk hutan, atau menghancurkannya, membakarnya. Iyakan? Agar monster-monster itu tidak muncul lagi."
Daniel mengerjapkan matanya mendengar penuturan Rosa. Apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya juga.
"Tapi bagaimana caranya kita menemukannya? Menunggu sampai petang, dan mengamati para monster sampai keluar di atas pohon? Tidak, tidak." Kata Daniel.
"Bukan begitu rencanaku, mereka pasti meninggalkan jejak, mungkin seperti darah atau nanahnya. Kita bisa mengikuti jejak itu." Kata Rosa.
"Kalau tidak ada?" tanya Daniel pesimis.
"Kita tidak akan tahu kalau belum mencarinya." Balas Rosa.
"Baiklah, aku akan membantu. Dan semoga kita tidak terjebak disini sampai petang." Kata Daniel.
Rosa dan Daniel pun mulai menyusuri hutan, tapi rasanya tidak ada yang spesial. Mereka hanya menemukan pohon-pohon yang menjulang, daun-daun kering dan ranting berserakan, serta binatang liar yang sesekali hilir mudik.
Namun semakin ke dalam, mereka mulai menemukan banyak pohon yang rusak, dan hancur pucuknya, beberapa bagian di tanah, keluar asap kecil yang membumbung.
Daniel berjongkok untuk mengecek asap-asap tersebut. Rupanya dari nanah dan darah yang berada di tanah. Daniel bergidik sekaligus meringis, membayangkan nanah dan darah itu jika mengenai dirinya.
"Jadi kita berhasil menemukan jejak mereka?" gumam Rosa.
"Aku rasa." Ucap Daniel sembari beranjak berdiri, kemudian meraih tangan Rosa, menggenggamnya, membawanya berjalan mengikuti setiap titik nanah dan darah yang berada di tanah.
Tanpa mereka sadari, mereka telah berjalan terlalu jauh. Daniel menghentikan langkahnya, saat mendengar suara burung-burung di langit. Ia mendongakan kepalanya dan melihat sekawanan burung yang terbang hendak kembali ke rumah.
"Sudah mulai petang. Kita harus kembali." Ucap Daniel, dan menarik tangan Rosa untuk kembali.
"Tapi-"
"Rosa, dengarkan aku. Kita harus kembali." Kata Daniel dengas tegas.
Ia kemudian mengajak Rosa berlari secara tiba-tiba membuat Rosa terkejut, dan sulit untuk mengimbangi langkahnya dengan Daniel yang lebar.
"Dan, pelan-pelan." Keluh Rosa karna laju lari Daniel yang semakin cepat.
"Kita harus cepat. Para monster sebentar lagi akan keluar! Lihat! Langit mulai jingga!" Seru Daniel.
Suara geraman tiba-tiba terdengar dari belakang, disertai bunyi gemeretak, serta langkah kaki yang besar. Rosa merinding mendengarnya, sekujur tubuhnya menegang dan meremang.
Bruk! Daniel tersentak merasakan Rosa yang terjatuh di belakangnya. Ia segera menolehkan kepalanya ke belakang, dan menemukan Rosa yang terduduk di tanah sembari meringis.
Daniel segera berjongkok dengan posisi membelakangi Rosa.
"Cepat naik!" seru Daniel.
Rosa pun dengan susah payah beranjak berdiri, dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas punggung Daniel.
Setelah memastikan Rosa nyaman di punggungnya, tanpa membuang waktu, Daniel segera beranjak berdiri dan berlari sekuat yang ia bisa.
"Apa monster itu tidak punya kelemahan sama sekali?!" tanya Rosa dengan nada tinggi.
"Ada, dia tidak bisa mencium dan melihat keberadaan seseorang jika di dalam air." Balas Daniel.
Ia semakin panik, saat mendengar suara langkah monster itu yang semakin mendekat, di tambah suara-suara geraman zombie.
Daniel tiba-tiba berlari ke arah kiri, membuat Rosa mengernyitkan keningnya, dan rupanya tak lama mereka menemukan sungai yang alirannya tampak Tenang di sana.
Daniel segera melompat dan menjeburkan dirinya beserta Rosa ke dalam sungai. Rosa terkejut dan otomatis hendak mengangkat kepalanya dari air, namun Daniel dengan sigap menekan kepala Rosa agar kembali Tenggelam di dalam air.
Daniel kemudian meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Mereka dapat mendengar suara monster disekeliling mereka. Rosa dan Daniel pun memandang ke atas. Jantung Rosa seketika berdegub dengan kencang melihat makhluk aneh dengan bentuk layaknya manusia namun besar, berwarna hitam, berlumur darah dan nanah, sera memiliki cakar-cakar yang besar. Monster itu sepertinya berdiri di pinggir sungai.
Lehernya tampak berputar-putar seperti mencari sesuatu, sebelum akhirnya pergi, diikuti dengan beberapa zombie di belakangnya.
Merasa kondisi sudah aman karna tidak lagi mendengar suara-suara aneh khas yang dikeluarkan monster-monster itu. Daniel pun segera mengangkat kepalanya dari air, diikuti oleh Rosa.
Rosa seketika menggigil, sampai bibirnya bergetar serta gigi-giginya bergemeletuk.
"Mereka sangat mengerikan," ucap Rosa.
"Sekarang kau percaya?" tanya Daniel yang diangguki oleh Rosa. "Cakar itu jika sekali meraupmu, tubuhmu akan langsung hancur." Ujar Daniel.
"Eum, ya." Balas Rosa singkat, karna ia merasa semakin kedinginan, kedua tangannya mengepal untuk menahan rasa dingin yang menjalari sekujur tubuhnya. Entah kenapa air terasa semakin dingin, seiring langit yang semakin gelap perlahan.
"Buka bajumu Rosa."