6, Kamu bukan siapa-siapa.

1053 Words
Arya menatap datar ke arah pintu. setelah memandang orang itu beberapa saat, ia kembali fokus ke ,Angelina.. Cindy yang ada disana akhirnya merasa kesal bukan main. Ia merasa, ia tak jauh lebih istimewa dari seorang maid. Hal itu terjadi tentu karena Arya sangat mencintai Angelina. Angelina seketika lupa pada orang yang datang dan melihat apa yang tengah mereka lakukan di saat jari-jemari Arya mulai menyentuh lengannya yang tampak sudah lebam. Kulitnya yang putih bersih itu memang akan cepat meninggalkan lebam bila saja terbentur benda keras. "Pasti ini sakit. Sebentar, kita obati dulu." Dengan cepat, Arya mengoleskan salep pereda nyeri yang ia temukan di kotak P3K yang ada di dapur. Pria itu mengoleskannya perlahan dan berusaha untuk tak menimbulkan rasa sakit di kulit Angelina. Cindy benar-benar di abaikan di kala itu. Gadis angkuh itu mulai mengepalkan kedua tangannya di saat ia menyaksikan bagaimana sikap Arya pada seorang wanita cantik yang ada di sana. *** Sementara itu, di tempat lain... Lebih tepatnya di ruang makan. Suriana merasa sedikit resah di kala ia tak melihat putri kesayangannya segera kembali ke ruang makan. Cindy memang tadi pamit permisi ke toilet, dan Ningrum tentu memberi arahan padanya untuk menuju ke toilet yang ada di dapur karena toilet itu lebih dekat dari ruang makan. Tapi sebenarnya, ia tidak benar-benar hendak kesana. Gadis itu sebenarnya tengah membuntuti Arya. Sudah sedari lama gadis angkuh itu mengagumi sosok Arya. Sikap Arya yang acuh dan dingin pada siapapun membuatnya makin menginginkan pria itu. Tapi siapa sangka, dibalik semua itu – Arya adalah pria sejati yang mencintai satu wanita sejak lama. Kali ini, Cindy dapat melihat sendiri bagaimana sikap hangat Arya yang baru pertamakali ia lihat. Namun, sayangnya semua itu bukan untuknya. Melainkan untuk seorang gadis yang notabennya adalah maid di kediaman Keluarga Besar Santoso. "Mah, kok kamu terlihat resah?" tanya Bagaskara di saat ia melihat istrinya tampak resah dan gelisah. "Putri kita, Pah... Kok lama banget ke toilet. Takutnya dia kenapa-napa di sana." balas Suriana dengan resah. "Jeng, tadi Arya kan juga pergi ke dapur, kalau ada apa-apa, ada Arya kok di sana." Ningrum mulai bicara, ia mencoba menenangkan temannya yang mulai resah hanya karena putrinya terlalu lama berada di toilet. "Kalau memang khawatir coba kamu cek adik kamu, Dika...," timpal Rafli. Pada saat itu, hanya Dika lah orang yang lebih muda yang ada di sana. Tentu ia yang akan menjadi bahan suruhan, sedangkan kala itu – para maid tidak ada di sana. Semua itu sengaja Rafli lakukan, karena ia tidak ingin segala percakapan mereka di ketahui para maid. Baginya, setiap urusan pribadinya, maupun kehidupannya, orang lain tidak perlu tahu. Dika menghela nafas, rasanya ia enggan pergi. Tapi, dia juga tak bisa menolak. Dengan gelagat malas, Dika mulia bangkit dari kursi dan tanpa bicara apapun, dirinya segera menuju ke arah dapur. Sesampainya di sana, suatu hal mengherankan juga dapat ia tangkap. Dika melihat adiknya berdiri di ambang pintu dapur, dan tampaknya sang adik juga terpaku di sana. Gadis itu menatap ke arah dalam ruangan tanpa berkata apapun, dan tampaknya ia juga malah terpaku di sana. "Cindy, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah berdiri mematung di sini? Mama mengkhawatirkan kamu, kamu malah —" ucapan Dika terjeda di saat ia melihat ke dalam dapur. Di dalam dapur yang cukup luas itu, dirinya dapat melihat Arya yang tampak bersama seorang gadis cantik. Seketika, Dika serasa terbius oleh kecantikan wajah wanita itu. Wajah cantik tanpa riasan, hidung mancung, bibir mungil, dan tubuh yang tinggi semampai, tampak begitu menawan. "Siapa dia?" tanya Dika tanpa sadar. Arya dan Angelina langsung menatap ke arah Dika. Arya menatap pria itu dengan tatapan datar, sedangkan Angelina sendiri – ia kembali menelan ludah kasar. Entah mimpi apa dia semalam, yang jelas – ia merasa tengah berada di sebuah masalah besar. "Te-terimakasih, Tuan. Saya permisi." gumam Angelina pada Arya. Arya tidak menahan Angelina pergi, namun, ia juga tak menjawab pamit dari Angelina. Arya seakan tahu makna dibalik tatapan Dika, itu sebabnya ia membiarkan Angelina pergi. "Wah, Tuan Muda Santoso. Apa yang tengah dia lakukan di sini?" tanya Dika sembari masuk ke dalam dapur. Arya tidak langsung menjawab, i masih terlihat tenang, tapi – tatapan matanya terlihat tajam. "Apapun yang aku lakukan, aku bebas disini. Karena ini rumahku. Seharusnya, akulah yang menanyakan hal itu padamu." balas Arya dengan tenang. "Hm, benar. Tapi aku kesini hanya ingin melihat apa yang dilakukan adikku sehingga ia sangat lama berada di sini. Ternyata, ia menyaksikan langsung Tuan Muda Keluarga Santoso tengah berduaan dengan seorang gadis cantik. Apa dia kekasihmu?" tanya Dika sembari menatap tajam ke arah Arya. Arja mengepalkan kedua tangannya di saat ia mendengar apa yang Dika katakan. Sebisa mungkin Arya menekan emosinya, karena – ia tak ingin mencari keributan. "Itu sama sekali bukan urusanmu. Ingat, kamu bukan siapa-siapa. Jadi jangan ikut campur urusanku. Kamu mengerti 'kan?!" tegas Arya. "Aku memang bukan siapa-siapa, tapi kamu harus ingat. Sebentar lagi, ada ikatan yang akan menjalin antara kamu dan adikku! Kamu harus ingat itu!" tekan Dika dengan suara yang mulai terdengar lain. "Persetan dengan hal itu, aku bahkan sama sekali tak pernah setuju!" ujar Arya dengan suara yang mulai menggeram. hal itu tentu di dengar oleh Cindy. Hati gadis itu seakan di hantam sesuatu yang membuatnya merasa remuk redam. "K–kak, su–sudah." pinta Cindy dengan suara yang mulai terdengar terbata-bata. Dika tentu tak langsung menurut begitu saja. Pria itu kini tampak membelalakan matanya setelah mendengar ucapan Arya. "Apa kau bilang?! Brengs*k!" teriak Dika. "Sudah, Kak." balas Cindy. Setelah menyadari kakaknya tak akan berhenti, Cindy akhirnya menarik paksa pergelangan kakanya dan membawanya pergi dari dapur. Cindy bahkan sampai menahan Isak tangis, dan – meskipun ia berusaha menahannya, ternyata tak segampang itu untuk melepaskan rasa sakit yang sempat menghantam dadanya. Airmata mengucur deras, dan Cindy berhasil membawa kakaknya keruang makan. Di saat semua orang yang ada di ruang makan melihat kedatangan mereka berdua dari dapur, mereka semua tampak terkejut melihat Cindy yang tampak menangis. "Nak, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bagaskara dengan suara yang terdengar mulai panik. * Sementara itu di dapur.. Angelina yang belum benar-benar pergi dari dalam dapur itu akhirnya mendengar semuanya. Di dekat pintu, ia mulai bercucuran airmata setelah mendengar pertengkaran kecil yang baru saja terjadi. Ada rasa sesak di dadanya setelah ia mendengar soal perjodohan yang hendak terjadi, namun di sisi lain, ada perasaan takut setelah ia menyadari... Mungkin Arya benar-benar mencintainya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD