Rasa bingung bergelayut dalam benaknya, dan entah bagaimana kelak ia mengatasinya. "Ti–tidak mungkin, apa yang harus aku lakukan?" gumam Angelina pada saat itu. Angelina menyadari perasaan yang hadir untuknya begitu dalam. Meski ia merasa senang, perasaan takut dan cemas juga melampaui rasa bahagia yang hadir didalam dadanya. Bagaimana tidak takut, ia kini benar-benar di hadapkan oleh kenyataan pahit, di mana ia hanyalah seorang babu dalam keluarga itu.
Keadaan yang memanas itu seketika mencair. Cindy menarik tangan kakaknya dan membawanya pergi dari sana.
Sesampainya di ruang makan, Suriana dan Ningrum menatap heran ke arah Dika. Wajah pria muda itu tampak memerah pada saat itu, hal itu akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan..., "Nak, kamu tidak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Suriana.
Bagaskara yang menjaga kewibawaannya tampaknya hanya melirik ke arah putranya, tapi tak dapat di pungkiri, ia juga begitu penasaran dengan apa yang terjadi.
"Sepertinya ikatan yang baru saja hendak di jalin ini tak akan pernah terjadi." celetuk Dika. semua orang menatapnya heran, dan Rafli bahkan sampai terkejut mendengar ucapan pria muda itu.
"Apa maksudmu?" tanya Bagaskara dengan ekspresi wajah bingungnya.
"Coba tanyakan saja padanya." balas Dika singkat, ia juga tampak melirik ke arah Arya yang juga baru saja datang.
Semua orang menatap ke arahnya, dan Arya tampaknya memang sudah mempersiapkan diri akan hal semacam itu.
Hening seketika...
Tak ada yang mau membuka percakapan, dan tak ada yang mau menjelaskan — tentang hal yang terjadi antara mereka bertiga di dapur barusan.
"Tidak ada yang mau menjelaskan?" tanya Rafli dengan suara yang terdengar tenang, namun penuh penekanan. Apa yang dia lakukan membuat semua orang makin diam, tapi sesaat kemudian — Arya tampak menarik nafas dalam.
"Ayah, bukankah kamu sudah mendengar ucapanku sebelumnya? Dan hal itu lah yang di maksud olehnya." balas Arya dengan singkat.
"Maksudnya apa ini? Tolong jangan bicara dengan sembunyi-sembunyi begini. katakan saja terus terang, ada apa?!" Bagaskara akhirnya tampak angkat bicara dengan suara yang begitu tegas.
"Ayah, Pria yang kamu bilang mau di jodohkan dengan adikku itu ternyata menyimpan wanita di rumah ini." celetuk Dika tiba-tiba. Apa yang dikatakan pria itu membuat semua orang terkejut dan bahkan sampai menoleh ke arah Dika.
"Apa maksudmu?!" tanya sang ayah dengan suara yang terdengar sangat serius.
"Aku melihatnya secara langsung, dia mendekati seorang wanita dan mereka tampak begitu mesra. Jadi, percuma saja kita datang kesini 'kan?" tanya Dika sembari menyeringai kearah Arya.
"Rafli, apa maksudnya ini? Dan apa benar yang dikatakan putraku barusan?!" tekan Bagaskara dengan suara yang terdengar sudah mulai meninggi.
"Bagaskara, tolong tenang dulu. Aku akan mencoba menjelaskan." Rafli tampak mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun – sikap dari Arya tampaknya mengatakan hal yang sebaliknya.
"Apa yang mau kamu jelaskan? Lihat saja sendiri bagaimana sikap putramu sendiri." terang Bagaskara sembari menatap ke arah Arya.
"Arya?!" bentak sang ayah dengan nada suara yang meninggi. Pria itu begitu kesal pada putranya karena sang putra sama sekali tak ada niat untuk menjelaskan perkara yang ia perbuat.
Suasana terasa makin tegang, dan Arya akhirnya mau tak mau angkat bicara. Bukan untuk meredakan suasana, ia bukanlah tipe orang yang akan menjilat orang yang lebih kaya, atau begitu tunduk hormat pada orang yang lebih kaya.
"Ayah, aku sudah bilang padamu 'kan? aku belum menyetujui hal yang kamu katakan. Aku sama sekali tidak menerima perjodohan ini." Arya sontak langsung terang-terangan mengatakan penolakan itu. Ia sungguh tak sanggup untuk menyetujui hal yang baru saja mereka bicarakan. Ia sama sekali tak ingin hidupnya di atur oleh ayahnya. Apa yang di katakan oleh Arya akhirnya membuat semua orang langsung terkejut bukan main.
Bagaskara langsung bangkit dari duduknya dan rahang pria itu tampak mengeras. "Andai aku tahu akan jadi begini, mungkin sejak awal aku juga tidak sudi menerima sebuah usulan dari kamu, Rafli! Semua yang putramu katakan seakan menjadi sebuah hinaan yang terasa begitu menampar wajahku, dan juga merendahkan harga diriku, terutama putriku! Ayo kita pergi dari sini, tak ada gunanya kita ada di sini!" Bagaskara tampak bicara dengan nada suara yang meninggi. Ia juga tampak bangkit dari duduknya sembari menatap seluruh anggota keluarganya.
"Bagas, aku bisa jelaskan...,
"Cukup, Rafli! Jujur, aku begitu kecewa padamu, terutama pada putramu!" Bagaskara tampak lantas meninggalkan ruang makan itu, dan pada saat itu, ia benar-benar tak dapat menghentikan murkanya sang rekan bisnisnya itu.
Rafli tampak berjalan menuju ke arah Arya. Langkah kakinya tampak terlihat angkuh. Arya tampak tetap berdiri tegak di posisinya. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi situasi yang mungkin akan menimbulkan keributan atau kekacauan. Sesaat setelahnya..., Terdengar suara nyaring dari hasil benturan tangan yang menghantam wajah tampan Arya. Hal itu meninggalkan rasa perih dan bekas kemerahan. Wajah Arya bahkan sampai menoleh karena hal itu.
"Pasti dia wanita itu, 'kan? Ayah akan mengatasi semua ini dari dia!" Rafli tampak hendak menuju ke suatu tempat yang jelas-jelas Arya ketahui di mana. Tangan Arya refleks menahan lengan Ayahnya yang hendak menuju ke suatu tempat.
"Jangan berani-berani mengganggunya, Ayah! Aku kan sudah menolak pertunangan yang ayah rencanakan. Bukan karena dia! Tapi karena aku tidak mau hidupku selalu di atur! Menikah bukan transaksi Ayah! Ayah tidak bisa mengatur seluruh hidupku, bahkan soal pasanganku!" pekik Arya. Ia memang mengelak, dan semua ia lakukan agar ayahnya tak melampiaskan amarahnya pada Angelina.
"Apa kau bilang?! Arya! Semua hal yang kau katakan itu salah! Kau adalah pewaris keluarga dan seluruh isi dari rumah ini! " teriak Rafli.
Pria itu sungguh murka di saat mendengar setiap ucapan dari putranya sendiri. Rasa-rasanya, bahkan pelajaran yang baru ia berikan tak akan cukup untuk menyadarkan Arya yang mulai keras kepala dan seakan memberontak pada sang ayah.
***
Angelina yang tadi sempat mendengar pertengkaran antara Arya dan seorang tamunya akhirnya memilih mengurung diri di kamar yang ia huni di rumah besar itu. Ia takut akan terseret masalah, sedangkan ia masih harus bekerja di rumah itu.
"Ba–bagaimana ini?" gumam Angelina pada saat itu. Meski ia bertanya puluhan atau bahkan ratusan kali, seluruh pertanyaan dalam dirinya benar-benar tak akan terjawab. Dan tanpa ia sadari, badai akan segera menerjangnya, dan kini – Angelina akan segera di perlihatkan ujian sesungguhnya yang begitu nyata.
Angelina masih duduk di ranjangnya yang sederhana. Ia menatap ke arah depan dan berusaha untuk tetap tenang, meski sebenarnya itu sama sekali tak bisa membuatnya tenang.