Bab 13 - Pembalikan Tak Terduga

492 Words
Hari-hari setelah pertemuan itu, aku merasa ada ketegangan yang berbeda di antara kami. Adrian semakin sering menatapku dengan tatapan yang sulit k****a. Ada semacam perubahan dalam dirinya, seakan-akan dia sedang mempertimbangkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan citra dirinya. Malam itu, di ruang tamu yang tenang, Adrian akhirnya berbicara lagi. Suaranya lebih rendah dari biasanya, seolah-olah dia takut untuk mengungkapkan sesuatu yang bisa mengguncang seluruh dunia kami. "Nayara, kamu sudah tahu banyak hal yang seharusnya tidak kamu ketahui," katanya, matanya yang biasa tajam kini tampak lelah. Aku tidak menjawab, hanya menatapnya, memberi ruang untuk kata-katanya. "Selama ini, aku hanya berusaha melindungi apa yang sudah kami bangun. Tapi aku mulai menyadari, mungkin aku terlalu jauh bermain dengan api," lanjutnya, dengan nada yang tak biasa. Aku terkejut. Tidak ada lagi kebanggaan atau keangkuhan dalam suaranya. Yang ada kini adalah keraguan dan penyesalan. "Jadi, apa yang kamu ingin aku lakukan dengan semua ini, Adrian?" tanyaku dengan nada tenang. "Kamu sudah memberiku semua yang aku butuhkan, jadi jangan berpura-pura lagi." Dia menunduk, sejenak terdiam, sebelum mengangkat wajahnya dan menatapku dengan pandangan yang sangat berbeda. "Aku ingin kamu tahu, Nayara... bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar bisnis dan kekuasaan. Ada sesuatu yang lebih dalam yang aku sembunyikan." Aku terdiam. Ini bukan yang kuharapkan. Aku mengira dia akan bertahan lebih lama dalam permainan kekuasaan ini, tetapi dia malah membuka pintu untuk sesuatu yang lebih gelap. Dia melanjutkan, "Aku pernah membuat keputusan-keputusan yang salah. Keputusan yang melibatkan banyak orang, termasuk kamu." Tiba-tiba aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari diriku. Aku tahu dia sedang berusaha untuk menebus kesalahan-kesalahannya, tetapi aku juga tahu aku tidak bisa begitu saja terjebak dalam permintaan maafnya. "Apa yang ingin kamu buktikan dengan semua ini, Adrian?" tanyaku, masih dengan sikap waspada. Dia terdiam lagi, menarik napas panjang. "Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berubah. Tapi aku tahu itu tidak akan mudah... dan aku tidak bisa melakukannya tanpa kamu." Aku hanya tersenyum tipis, lebih karena rasa ingin tahu daripada apapun. "Jadi kamu ingin aku kembali ke sisi kamu? Setelah semua yang kamu lakukan?" Adrian mengangguk pelan, seolah-olah dia tahu jawaban itu tidak akan datang dengan mudah. "Aku tahu aku telah melakukan banyak kesalahan, Nayara. Tapi aku... aku tidak ingin kehilangan kamu." Suasana hening sejenak, dan aku bisa merasakan ketegangan yang menggantung di antara kami. Ini bukan tentang permainan kekuasaan lagi. Ini tentang sesuatu yang lebih pribadi, lebih dalam. Sesuatu yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan kami. Aku menatapnya, mencoba mencari tahu apakah dia benar-benar tulus. Atau apakah ini hanya bagian dari strateginya untuk memanipulasi situasi lagi. "Aku belum memutuskan apa-apa," kataku akhirnya, memecah keheningan yang berat. "Tapi ingat, Adrian... ada harga yang harus dibayar untuk setiap langkah yang kamu ambil. Termasuk untuk apa yang kamu coba tawarkan sekarang." Adrian hanya mengangguk, tidak berani menjawab lebih jauh. Tapi aku tahu, ini adalah awal dari perubahan besar. Aku hanya belum tahu apakah perubahan itu akan membawaku lebih dekat padanya... atau menjatuhkannya lebih dalam ke dalam jurang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD