Setelah malam itu, aku merasa ada perubahan dalam diri Adrian. Mungkin dia merasa terpojok, atau mungkin dia sedang merencanakan langkah selanjutnya. Yang jelas, aku tahu dia mulai kehilangan kendali atas dunia yang selama ini dia bangun.
Beberapa hari berlalu, dan aku mulai memperhatikan sesuatu yang berbeda. Ketika aku melewati ruang kerjanya, Adrian menatapku dengan tatapan kosong, seolah-olah ada bagian dari dirinya yang mulai retak. Aku bisa melihatnya, meski dia berusaha menutupi segalanya.
Suatu sore, di tengah kesibukannya, dia mengajakku duduk di ruang makan. Ada yang lain dalam cara dia berbicara kali ini. Tidak seperti biasanya yang selalu penuh dengan perhitungan, kali ini ada sedikit keraguan yang terdengar dalam suaranya.
"Nayara, apakah kamu merasa bahagia dengan apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan nada yang tak biasa.
Aku terkejut, tapi hanya sejenak. Aku sudah tahu, ini bukan pertanyaan biasa. Ini adalah jebakan yang dia coba pasang untuk memancing emosi.
"Tentu saja," jawabku sambil tersenyum tipis. "Bahagia dengan apa yang aku pilih. Bagaimana denganmu, Adrian? Apa kamu merasa bahagia dengan segala yang kamu lakukan untuk mempertahankan semuanya ini?" kataku, melemparkan balik pertanyaan yang lebih dalam.
Dia terdiam, matanya menatap kosong ke depan. Aku tahu aku mulai menggali celah dalam hatinya, dan aku tak akan berhenti.
Beberapa hari kemudian, Adrian mengundangku untuk makan malam bersama, dengan suasana yang lebih tenang daripada sebelumnya. Tanpa banyak bicara, aku duduk di hadapannya, menunggu apa yang akan dia lakukan.
Tiba-tiba, dia mengulurkan sebuah amplop kepadaku.
"Ada sesuatu untukmu, Nayara," katanya dengan suara rendah.
Aku membuka amplop itu dan mendapati sebuah dokumen penting yang berisi rincian bisnis yang selama ini menjadi rahasia Adrian. Tanpa berkata apa-apa, aku hanya menatapnya.
"Jadi, kamu mulai membuka pintu rahasia?" kataku pelan, namun tajam.
Adrian menarik napas panjang, kemudian menatapku dengan pandangan yang lebih dalam. "Mungkin sudah waktunya kamu tahu semuanya."
Aku tersenyum lagi. Kali ini, senyumku bukan hanya tentang kemenangan kecil, tapi tentang pemahaman yang lebih besar tentang siapa Adrian sebenarnya. Dan aku tahu, meskipun dia berusaha keras untuk mempertahankan kontrol, ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terguncang di dalam dirinya.