Bab 11 - Jebakan di Balik Senyum

269 Words
Hari-hari berikutnya, suasana di rumah semakin menegang. Adrian semakin curiga, dan aku semakin lihai bermain di balik bayangan. Aku tahu dia mulai menyadari bahwa aku bukan lagi Nayara yang dulu. Namun aku tidak peduli. Justru itulah yang aku inginkan. Malam itu, aku sengaja mengundang beberapa investor yang selama ini menjadi duri bagi Adrian ke rumah kami, berdalih acara jamuan istri yang polos. Adrian pulang lebih awal dari biasanya dan mendapati ruang tamu penuh dengan pria-pria yang dia anggap serigala bisnis. "Apa yang kamu lakukan, Nayara?" suaranya tajam, dingin, penuh amarah yang nyaris meledak. Aku tersenyum tenang di hadapannya, memegang gelas anggur seolah tidak terjadi apa-apa. "Hanya mempererat hubungan bisnis, Tuan Adrian. Bukankah kamu yang mengajarkanku pentingnya membangun relasi?" jawabku manis. Tatapan matanya menusuk. Tapi aku tidak goyah. Di depan semua tamu, aku tetap memegang kendali, membuat Adrian terpojok di rumahnya sendiri. Aku tahu harga dirinya sedang terinjak, dan aku menikmatinya. Malam itu, setelah para tamu pulang, dia menarikku ke sudut ruangan, menahan tanganku dengan kasar. "Kamu pikir kamu sedang bermain aman, Nayara? Apa kamu lupa, kamu tinggal di rumahku, mengikuti aturanku?" bisiknya tajam di telingaku. Aku menatapnya, tanpa gentar. "Rumahmu? Atau rumah yang kau bangun dari kebohongan dan darah orang lain?" balasku pelan tapi menusuk. Dia terdiam. Ada kilatan amarah di matanya. Tapi aku tahu... dia mulai goyah. "Aku penasaran, Adrian. Sampai kapan kamu bisa mempertahankan semua topeng itu sebelum akhirnya retak?" kataku sambil tersenyum tipis. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat Adrian Erlangga tidak lagi berdiri sebagai pria yang sempurna. Aku tahu, aku baru saja menusuk ego terdalamnya. Dan aku tidak akan berhenti... sampai dia benar-benar runtuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD