Hari itu, aku mendengar sesuatu yang membuat seluruh duniaku runtuh lagi.
Aku tidak sengaja mendengar percakapan Adrian dengan salah satu asistennya di ruang kerja. Aku tahu aku seharusnya tidak mencuri dengar, tapi... hatiku yang sudah mulai rapuh seperti memaksa langkahku mendekat.
"Aku sudah menyiapkan semua berkas merger-nya, Pak Adrian. Setelah kontrak dengan Nayara selesai, proyek aliansi dengan keluarga Arga pasti berjalan lancar," kata asistennya.
Aku membeku.
Apa maksudnya? Merger? Aliansi?
"Aku hanya butuh Nayara untuk melindungi citraku di media. Setelah itu... pernikahan ini tidak ada artinya," jawab Adrian dengan suara dingin yang sama seperti saat pertama aku bertemu dengannya.
Suara itu... menusukku lebih dalam dari yang pernah kuduga.
Semua ini... hanya alat?
Aku menahan isak yang hampir pecah di tenggorokanku. Aku bodoh. Terlalu bodoh. Kupikir... dia mulai berubah. Kupikir aku mulai menjadi sesuatu yang berarti baginya.
Ternyata aku hanya bagian dari rencana bisnis kotornya.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Air mataku mengalir tanpa suara. Aku membenci diriku lebih dari sebelumnya.
Dan aku bersumpah... aku tidak akan jatuh lagi. Aku harus kembali menjadi Nayara yang dulu. Nayara yang kuat. Nayara yang tidak percaya pada siapa pun.
Namun... hatiku menertawakanku. Karena luka yang satu ini... terlalu dalam untuk bisa kubohongi.
Aku terjebak, Aide. Terjebak dalam perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Dan aku takut... aku sudah terlambat untuk menarik diri.