Pagi itu aku bangun dengan hati yang dingin. Aku memandang bayangan diriku di cermin, mencoba meyakinkan diri bahwa aku bisa bersikap biasa saja di hadapan Adrian.
Tapi hatiku... kacau.
Ketika aku turun ke meja makan, dia sudah duduk di sana, dengan senyum tipisnya yang dulu bisa membuatku salah paham.
"Selamat pagi," katanya datar.
Aku membalas dengan anggukan hambar, pura-pura fokus pada sarapan yang tak lagi terasa.
"Kamu kenapa? Biasanya kamu lebih... cerewet," tanyanya sambil menatapku curiga.
Aku menatapnya tajam, tapi tetap tersenyum. "Mungkin aku sedang belajar bersikap seperti istri yang kamu inginkan, Adrian."
Dia memicingkan mata. "Kamu terdengar sarkas."
Aku mengangkat bahu. "Kamu yang bilang ini hanya permainan, kan?"
Dia mengernyit, tapi tidak bertanya lebih jauh.
Aku mengatur napas. Aku tidak boleh terbawa emosi. Aku harus sabar... sampai aku menemukan cara membalas semuanya.
Namun takdir sepertinya ingin mempercepat semuanya.
Siang itu, tanpa sengaja, aku bertemu dengan William—sahabat Adrian sekaligus pengacara keluarga Erlangga. Dia menatapku dengan tatapan iba yang membuat dadaku semakin sesak.
"Aku tahu ini bukan urusanku, Nayara. Tapi kamu harus tahu... Adrian bukan pria yang bisa kau percayai sepenuhnya," katanya pelan.
Aku tersenyum pahit. "Aku sudah tahu, William."
Dia menatapku heran. "Kamu dengar sesuatu?"
Aku mengangguk pelan. "Lebih dari yang seharusnya."
William menghela napas panjang. "Kamu akan pergi?"
Aku menatap langit yang mulai mendung. "Belum. Aku ingin melihat... sejauh mana dia bisa membohongiku."
Malam itu, aku berdiri di depan Adrian dengan senyum yang kubentuk sempurna.
"Apa kamu percaya pada karma, Adrian?" tanyaku tiba-tiba.
Dia menatapku, bingung. "Kenapa tiba-tiba?"
Aku tersenyum lebih lebar. "Karena aku ingin melihat, seberapa cepat karma akan datang padamu."
Dia terdiam. Matanya menatapku penuh teka-teki, tapi aku tidak peduli.
Aku sudah siap. Kali ini... aku yang akan menjadi pemain dalam permainan ini.
Aku Nayara Ayudia. Dan ini... giliranku untuk membalas.