Aku memulai semuanya dengan senyum manis. Aku tahu, satu-satunya cara menghadapi pria seperti Adrian Erlangga... adalah dengan menari di atas permainan yang sama.
Dan aku sudah mempersiapkan semuanya.
Hari-hariku berubah menjadi peran sempurna sebagai istri yang patuh. Setiap kali Adrian pulang, aku menyambutnya dengan senyum. Menemaninya makan malam. Bahkan berpura-pura mengkhawatirkannya saat dia terlihat kelelahan.
Dia mulai terlena.
Aku melihatnya. Di matanya yang dulu hanya berisi kebencian, kini mulai ada celah... celah yang bisa kumanfaatkan.
Di balik itu, diam-diam aku mengumpulkan informasi. Aku mendekati beberapa investor yang selama ini menjadi rival Erlangga Corp. Aku mengorek celah-celah kelemahan Adrian yang selama ini tersembunyi rapat di balik citra sempurnanya.
Aku tahu ini berbahaya. Tapi aku tidak akan berhenti. Luka yang dia tanamkan terlalu dalam untuk kubiarkan sembuh tanpa balas dendam.
Sampai suatu malam, aku berhasil menemukan dokumen merger yang selama ini dia sembunyikan dariku.
Dan isinya... lebih menyakitkan dari yang kupikirkan.
Ternyata aku hanyalah alat untuk menyelamatkan reputasinya yang nyaris runtuh karena skandal masa lalu. Pernikahan kami hanyalah tameng agar para investor tetap percaya pada citranya sebagai pewaris sempurna.
Aku tersenyum getir.
"Kamu pikir aku akan selamanya menjadi pionmu, Adrian?" bisikku sambil menatap dokumen itu.
Malam itu, aku menyimpan dokumen itu di tempat rahasia. Aku sudah siap memainkan babak baru dari permainan ini.
Aku akan membuat Adrian Erlangga jatuh. Bukan hanya dari tahtanya. Tapi dari harga dirinya.
Dan aku tidak akan berhenti... sampai dia merasakan sakit yang sama.
Aku Nayara Ayudia. Dan mulai hari ini... aku yang memegang papan catur.