Telapak tangan Aira digenggam erat oleh Sabiru dibalik punggungnya. Sabiru takut Aira kabur.
Langkah Aira juga sedikit terseok sebab dipaksa mengikuti langkah Sabiru yang lebar.
Novan yang berada di belakang mereka berdua hanya bisa pasrah melihat kelakuan Sabiru pada Aira, ia sendiri masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi diantara keduanya, ia hanya bisa menemani Aira dari belakang.
Sampai di ruang makan yang Aira booking, tidak ada seorang pun disana. "Mana Marcela?". Tanya Aira.
"Gak tau" jawab Sabiru singkat.
Kemudian Sabiru menyuruh Aira dan Novan duduk. Tak lama Marcela pun datang.
"Cel, kamu dari mana?" Tanya Aira pada Marcela yang baru masuk.
"Toilet". Jawab Marcela kemudian duduk di samping Sabiru.
Novan melihat Marcela dari atas hingga bawah, kesan pertamanya cantik sih tapi...
"Ohh ya kamu sudah bertemu dengan Aira ya?". Tanya Marcela dengan gestur sangat akrab pada Sabiru.
"Sudah barusan".
"Oh ya ini siapa?". Sambil menunjuk Novan.
"Kenalin Cel, dia Novan. Dia salah satu dokter muda berbakat di rumah sakit tempat aku kerja. Dia juga sahabatku. Bolehkan sekalian aku ajak dia, kebetulan ketemu di luar". Papar Sabiru.
"Boleh dong". Jawab Marcela segera.
Novan segera mengulurkan tangannya pada Marcela untuk memperkenalkan diri "Novan". Dan Marcela juga membalasnya "Marcela".
"Ai... Kamu udah kenalan sama temannya Sabiru?". Tanya Marcela.
"Ohh sudah barusan".
Novan melirik ke arah Sabiru, seolah matanya meminta penjelasan. Semua kejadian ini membuat Novan gak habis pikir, mengapa Aira bersikap seperti itu?. Sedangkan Sabiru berakting seolah semuanya memang berjalan seperti ini.
"Ai.. Penampilan Sabiru sekarang berubah ya?". Ucap Marcela sambil tersenyum.
"Hah... Oh... Iya iya". Aira bingung harus bersikap apa?. Dia tidak bisa setenang Sabiru.
"Aira juga berubah". Celetuk Sabiru.
Aira melirik ke arah Sabiru, apa maksudnya.
"Ha ha ha benar banget, sekarang Aira terlihat seperti perempuan" Goda Marcela sambil tertawa, "Btw cantik mana aku atau Aira?" Tanya Marcela dengan menggoda.
Tanpa berpikir Sabiru langsung menjawab "Kalau kamu cantik feminim tapi kalau Aira...". Sabiru menoleh ke arah Aira.
Wajah Aira sedikit panas, ia ingin mendengarkan pujian dari Sabiru tapi...
"Dia unik". Lanjut Sabiru.
"Unik?".
Aira hanya menunduk, apa maksud unik? Aira pikir mungkin Sabiru mau bilang jelek tapi gak enak, mangkanya ia bilang unik. Aira jadi sebal, kemudian ia mengambil salah satu sushi dengan menggunakan sumpit dan dimasukkan ke dalam mulut secara utuh. Alhasil mulutnya mengembang dan belepotan.
Sabiru refleks mengambil tissue dan mengelap bibir Aira yang belepotan sambil ngomel "Pelan-pelan makannya".
Marcela melihatnya cukup terkejut, ia tahu Sabiru memang perhatian, karena dulu ia begitu tapi tindakan barusan membuat Marcela cemburu sebab yang mendapat perhatian bukanlah dirinya tapi Aira.
Novan melihat tindak tanduk Marcela yang sedikit salah tingkah, akhirnya Novan sedikit banyak bisa membaca situasi diantara mereka bertiga. Sebelumnya Novan tidak tahu ada sebuah kisah antara Marcela dan Sabiru. Namun saat makan malam ini, Novan mencium bau cinta segitiga diantara Sabiru, Aira dan Marcela.
Sepanjang makan malam, Marcela lebih banyak berbicara, Marcela terus mengungkit jalannya kehidupan waktu SMA. Mengingat kembali masa masa indah dengan Sabiru dan Aira. Hal itu pun di dukung oleh Novan yang banyak bertanya tentang kehidupan Marcela. Bagi Novan saat ini saat yang cocok untuk mengulik kehidupan Sabiru dan dua wanita cantik ini. Sedangkan Sabiru dan Aira hanya menimpali sesekali.
"Inget gak Biru, Aku pernah berangkat ke sekolah gak sarapan, terus kamu kamu pernah dimarahin petugas perpus gara-gara ketahuan bawa makanan ke perpus buat aku. Ha ha ha".
"Terus Cel, Sabiru dihukum gak?". Tanya Novan.
"Enggak, Sabiru malah bagi itu makanan ke petugasnya biar gak diusir ha ha ha lucu banget kan".
"Ohh berarti dari dulu Sabiru emang tipe cowok bucin nih". Ledek Novan.
Sabiru diam hanya sibuk memakan makanan yang ada di meja. Begitu juga dengan Aira, di telinga Aira dan Sabiru hal tersebut hanya patut dikenang saja, karena masih banyak hal lain yang menyedihkan pula.
Muka Marcela merah, ia senang sekali hari ini, karena dulu Sabiru sangat mencintainya. Sekarang ia harus mendapatkan Sabiru kembali. Di mata Marcela Sabiru adalah laki-laki perfect idaman banyak wanita. Bahkan selama di Australia dia belum pernah bertemu laki-laki yang sangat perhatian seperti Sabiru.
"Oh ya... Kita agendakan untuk liburan bareng yuk?" Ajak Marcela dengan semangat.
"Aku diajak juga gak nih?" Tanya Novan.
"Tentu boleh dong... Jadi kita pas genap 4 orang. Gimana Biru kamu mau kan?". Tanya Marcela pada Sabiru dengan penuh harapan.
"Terserah".
"Kalau kamu Ai?".
"Emmm... Lihat jadwal dulu deh".
"Aduh Aira... Kita perginya pas weekend kok. Sekolah kan libur pas weekend. Pokonya kamu harus ikut titik". Ucap Marcela.
Aira tersenyum dan mengangguk dengan terpaksa. "Udah malam nih aku pulang dulu ya". Aira sudah tidak kuat lagi mendengar kisah romantis dari mulut Marcela.
"Gue juga". Kata Sabiru.
"Biru, boleh antar aku pulang, aku gak bawa mobil. Mau naik taksi tapi masih takut". Pinta Marcela.
Aira melirik ke Sabiru yang ternyata wajahnya sedang berpikir.
"Kalau gitu biar Aira bareng aku aja". Timpal Novan.
"Ok, makasih ya Van". Aira langsung menyanggupi. Jelas sekali Marcela ingin diantar pulang oleh Sabiru, dirinya tidak mungkin semobil dengan mereka berdua, bisa bisa lubang hatinya semakin dalam.
Sabiru hanya memandang Aira dan Novan, ia juga tidak bisa apa-apa, jika ia memaksa mengantar Aira, Marcela pasti curiga.
"Ya udah, ayo". Ucap Sabiru.
000
Aira duduk bersandar di kursi mobil Novan. Pandangannya dari tadi mengarah ke luar jendela.
"Aira aku boleh tanya sesuatu gak?". Suara Novan memecah keheningan diantara mereka.
"Marcela itu mantan pacar Sabiru waktu SMA". Kata Aira.
Novan jadi kikuk, Aira langsung menjawab apa yang ingin dia ketahui dari tadi, Novan takut menyinggung perasaan Aira mangkanya Novan hati-hati saat akan berbicara tapi Aira malah memberitahukan rahasia tersebut tanpa ia minta.
"Bukan itu maksud aku Ai" Novan mencoba ngeles.
"Aku tau pikiran kamu Van". Jawab Aira lagi.
Novan menghembuskan napas berat "Terus kalian menyembunyikan hubungan kalian dari Marcela".
"Aku sahabat Marcela, aku takut dia kecewa jika mengetahui sahabatnya berpacaran dengan mantan pacarnya".
"Sudah mantan pacar Aira. Jika kalian bersahabat, tentu Marcela akan mengerti".
"Marcela masih menyukai Sabiru Van".
"Tapi yang disukai Sabiru itu kamu Aira".
"Aku gak yakin Van".
Cittsssss
Novan mengerem mobil mendadak, membuat tubuh Aira terpental ke depan meskipun sudah menggunakan safety belt.
"Novan!".
"Sorry... Sorry... Sorry". Novan sedikit panik dan bingung. "Kamu bilang apa tadi? Gak yakin sama Sabiru? Kenapa? Apa maksud kamu Ai? Kok kamu ngomong gitu?". Semua yang ingin Novan tanyakan langsung ia katakan semuanya dalam satu tarikan napas.
"Tadi aku lihat Sabiru dan Marcela sedang berciuman". Ucap Aira dengan Tenang.
"What???".
Novan seketika memukul setir mobil karena tidak senang. "Apa yang ada di pikiran Sabiru?".
Entah mengapa Novan jadi marah dan kecewa dengan sahabatnya, Sabiru. Selama ini dia lihat Sabiru sangat menyayangi Aira, begitu juga Aira sangat menyayangi Sabiru. Maka dari itu Novan sama sekali tidak pernah menikung Sabiru soal Aira, meskipun ia sangat menyukai Aira. Bahkan saat mengetahui Sabiru akan melamar Aira, Novan merelakan dengan ikhlas Sabiru mendapatkan Aira, dan berdoa semoga mereka langgeng. Tapi dia juga berjanji jika sampai Sabiru menyakiti Aira, ia tak segan-segan akan merebut Aira dari Sabiru.
"Gak usah dipikirin ya Ai... Kita serahkan semuanya pada Tuhan, ok?".
"Sok bijak kamu Van" canda Aira.
"Aka memang lebih bijak dari Sabiru, apa kamu pacaran aja sama aku". Kata tulus Novan dibungkus dengan godaan.
"Apaan sih Van". Novan benar-benar suka bercanda.
"Ha ha ha, kita pulang yuk".
"Ayuk".
000
Marcela senang sekali bisa pulang diantar oleh Sabiru, sepanjang perjalanan Marcela masih suka bercerita tentang kisah cinta antara dia dan Sabiru namun telinga Sabiru sudah panas dan jengah.
Ingin rasanya membungkam mulut Marcela dengan sandal, 'tahan tahan tahan' ucap Sabiru berkali-kali di dalam hati.
Sikapnya yang cuek apakah tidak kentara dimata Marcela, dulu memang ia mencintai Marcela tapi sekarang dia tegas menjawab tidak!.
"Cel, boleh aku minta sesuatu?".
"Ohh boleh dong Biru, apa? Kamu minta apa?". Marcela mengira Sabiru akan mengajaknya ke suatu tempat atau mengajaknya berpacaran lagi mungkin.
"Stop it". kata Sabiru dengan nada sedikit tinggi
"Hah? Apa?".
Sabiru menepikan mobilnya ke pinggir jalan, "Stop membahas dan mengungkit kisah pacaran kita waktu SMA, semua sudah selesai Marcela. Dan aku tidak mau bernostalgia untuk itu, sebab terlalu menyakitkan buat aku".
Marcela tersenyum, apakah Sabiru tidak bisa melupakan dirinya?. Ok jurus yang satu ini Sabiru tidak suka, sehingga ia harus punya jurus lain untuk mendapatkan Sabiru.
"Baiklah kalau itu mau kamu, kita membicarakan masa depan saja, boleh kan?".
"Terserah".
"Oh ya kamu kangen gak sama aku?".
"Apaan sih Cel?". Marcela mulai lagi nih.
"Soalnya aku kangen banget sama kamu. Rasanya aku buru-buru mau pulang ke Indo buat ketemu sama kamu. Setelah bertahun-tahun, aku masih sayang banget sama kamu Biru. Aku gak bisa melupakan kamu. Bagi aku kamu adalah satu-satunya orang yang gak bjsq hilang dari hati aku. Untung Aira bantuin aku buat ketemu sama kamu, kalau gak aku bakalan susah cari kamu. Apalagi setelah tahu kamu pindah rumah, dan nomor telpon kamu ganti. Sosmed juga kamu block kan?. Tapi gak papa, sekarang aku bisa ketemu lagi sama kamu udah bikin aku seneng banget kok. Kamu percaya kan sama aku?".
"Udah malam, kita pulang sekarang ya, besok pagi aku kerja". Ungkapan hati Marcela lagi-lagi ditanggapi dingin oleh Sabiru.
"Ya udah, tapi besok temani aku nonton ya". pinta Marcela.
"Besok lembur".
"Kalau lusa?".
"Lusa juga lembur".
"Kalau Sabtu?".
"Lihat jadwal dulu".