Hanna masih bungkam. Mencari jawaban yang tepat untuk diberikan pada Hoon. Matanya melihat tak tentu arah. Berharap ada sesuatu yang menyelamatkannya dari situasi ini. Dan, Tuhan pun segera menjawab doanya. Ponselnya berdering, di saat yang tepat.
Rani menghubungi.
"Ponselku berdering. Tunggu sebentar," kata Hanna. Disusul tawa kikuk.
“Ada apa, Rani?”
"Hanna! Kau di mana? Aku mencarimu sejak tadi!"
"Aaaah, maaf. Aku ada urusan mendadak tadi. Ada apa?"
"Semua orang sudah menunggumu di ruang pemotretan! Kami sedang menunggumu datang. Kardus itu, kan berisi perlengkapan foto hari ini! Kenapa kau lama sekali?! Dan juga! Hoon Park! Haaah, sebenarnya dimana dia? Kenapa kalian berdua membuatku pusing! Cepat kemari!"
"Iya. Maaf. Aku segera ke sana.”
Hanna bergegas menutup telepon.
"Ayo pergi. Mereka sedang menunggu kita di ruang pemotretan."
"Tunggu sebentar! Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Jika kau ingin tahu kenapa aku ada disini— malam ini kau harus pulang ke rumah."
"Apa? Hanna.. aku tak bisa," tolak Hoon.
"Kalau begitu jangan pulang."
"Sungguh? Tidak apa-apa?”
Hanna mengangguk serta tersenyum santai.
"Untuk selamanya—jangan kembali ke rumah," ancam Hanna, dengan menjinjit kedua alisnya. Mengambil kardus yang dibawa Ji Woon. Dan, pergi terlebih dulu.
Sementara, Hoon menghela napas panjang yang kesal. Berkacak pinggang dengan satu tangan. Menggigit bibir bawahnya. Ucapan Hanna menjadi momok untuk dirinya.
“Dia benar Hanna yang aku kenal? Dia bukan alien yang sedang menyamar sebagai Hanna, kan? Haaah.. Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti itu,” racau Hoon
**
Beberapa jam sudah berlalu. Para tim pemotretan, tampak sibuk membereskan perlengkapan setelah sesi foto selesai. Sementara Hanna dan Jae Kyung sedang berdebat kecil. Untuk memilih beberapa foto Hoon bersama Ji Yin yang terpampang di layar besar seperti TV, di depan mereka.
"Nona Hanna, Aku rasa lebih baik foto yang ini?" tunjuk Jae Kyung. Memilih foto di mana Hoon tengah melingkarkan tangannya pada perut Ji Yin. Sementara Ji Yin menggenggam tangan Hoon dan menyandarkan kepalanya di d**a pria yang memeluknya dari belakang itu.
"Tidak! Lebih bagus yang ini!" tolak Hanna. Lebih memilih foto Hoon dan Ji Yin yang tidak ada kontak fisik. Hanya duduk berdampingan di sofa dengan pose masing-masing.
Jae Kyung mendesis.
"Kurang romantis. Katamu konsep kita tentang cinta? Lihat, foto yang aku pilih. Mereka terlihat sangat mesra. Pak Hoon memiringkan kepala mencoba mencuri pandang pada perempuan yang di cintainya. Sementara, Nona Ji Yin menggenggam tangan Pak Hoon seolah penuh cinta.”
Hanna mendengus kesal seraya menyunggingkan senyum.
"Penuh cinta? Mereka hanya seperti majikan tengah memeluk anak anjingnya!”
Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Hanna. Cukup kencang. Hingga membuat Jae Kyung serta Tuan Kang—sang fotografer yang didatangkan langsung dari Korea terkejut.
"Ke-kenapa kau tiba-tiba marah?" tanya Jae Kyung.
Sejenak Hanna terdiam. Kedua bola matanya berputar gugup. Menyadari kesalahannya. Terkekeh kemudian.
"Maaf.. Itu hanya pendapatku. Hehe. Ki-kita pilih foto yang Pak Jae Kyung sukai saja. Mmm.. Iya, itu bagus.”
“Ck. Ck. Ck. Kau terkadang bersikap aneh.”
Bukan karena tidak menyukai pose tersebut— Hanna bersikap seperti itu. Namun, hatinya terbakar rasa cemburu. Melihat objek foto adalah suaminya. Tidak hanya foto itu saja yang tak ia sukai. Tapi, seluruh hasil foto membuatnya geram. Membuat suhu tubuhnya meningkat. Menjadi gerah. Siapa pun tidak akan sanggup. Melihat seseorang yang di cintainya berfoto mesra dengan wanita lain. Namun, Hanna harus berusaha untuk profesional dalam bekerja. Meskipun, terkadang ia hampir lepas kendali.
"Nona Hanna.. bisa kita bicara sejenak?" sela Ji Yin yang berdiri di belakang Hanna.
Hanna pun menengok ke belakang dan mengernyit. "Bicara denganku? Ada apa?"
"Ikuti aku," ajak Ji Yin. Lalu berjalan pergi.
Dengan terpaksa Hanna mengikutinya dari belakang.
Mereka keluar dari studio pemotretan. Ji Yin terus berjalan dengan melipat tangan di d**a. Terlihat sangat arogan, meskipun ia cantik. Dengan dress pink yang mengembang di bagian bawah. Hanna terus mengikutinya tanpa bertanya apa pun. Sempat terbesit olehnya, ia akan memukul Ji Yin dari belakang. Atau.. Mungkin bisa sedikit menendangnya. Untuk memuaskan hasrat marahnya.
Pun, ia juga berpikir. Apa yang ingin Ji Yin katakan padanya. Namun, satu hal yang ia yakini— dia pasti akan membicarakan tentang Hoon.
Selama sepersekian menit, mereka terus berjalan. Menuju koridor sepi. Hanna yang makin kesal, menghentikan langkahnya.
"Berhenti. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hanna, dengan nada ketus.
Ji Yin menghentikan langkahnya. Dengan anggun, kedua kaki jenjangnya yang mengenakan heels 15cm berbalik arah menghadap Hanna. Dia tersenyum kecil, mengibaskan rambutnya yang terurai lalu maju beberapa langkah.
"Wah.. ini benar-benar kau," kata Ji Yin.
Hanna hanya mengernyitkan dahi, mendengar ucapan Ji Yin yang tak bisa di telaahnya.
"Aku tak mengerti. Kenapa mereka tergila-gila padamu," lanjut Ji Yin, dengan mendengus.
"Mereka? Siapa yang kau maksud?” tanya Hanna.
"Kau jangan terlalu polos! Atau kau berusaha merendahkan diri di depanku?!" seru Ji Yin
Hanna menyunggingkan senyum. Mendengar kalimat tidak menyenangkan dari model terkenal tersebut.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"
"Jae Kyung atau Hoon.. Pilih salah satu!" gertak Ji Yin.
Hanna diam beberapa detik.
"Jadi.. Kau sudah tahu hubunganku dengan Hoon? Dan, kau masih terus mendekatinya?”
“Kenapa memang? Aku tidak boleh dekat dengannya? Cepat pilih saja. Jae Kyung atau Hoon?!”
Hanna mendengus. “Kau pikir mereka barang yang bisa dipilih? Lagi pula, kenapa harus ada nama Jae Kyung?! Dia hanya Direktur di kantor ini!”
“Kau yakin? Hanya menganggap Jae Kyung sebatas itu? Tidak lebih?”
Hanna tiba-tiba menjadi bimbang. Harusnya ia bisa menjawabnya dengan mudah. Tapi, seolah-olah hatinya berkata lain.
“Kenapa denganku? Kenapa aku ragu dengan perasaanku sendiri? Tak mungkin aku.. Menyukai Jae Kyung?” racau Hanna dalam hati.
“Lihat.. Kau ragu, kan? Yah... Aku akui itu pilihan yang sangat sulit. Tapi.. Aku akan membantumu,” kata Ji Yin. “Pilih Jae Kyung. Dan, tinggalkan Hoon.”
Kini tatapan Hanna tajam. Mengatupkan gigi.
“Hoon adalah suamiku. Aku tak mungkin meninggalkan dia. Kecuali kita bercerai.”
“Suamimu?” Ji Yin tertawa. “Kau sangat yakin jika Hoon itu suamimu?”
Hanna kembali tak ber-ekspresi. Untuk yang satu itu, ia membenarkan kata-kata Ji Yin. Keyakinannya pada Hoon seakan memudar akhir-akhir ini.
“Kau ragu lagi, kan?”
Hanna tersenyum serta mendengus kesal.
"Tidak. Aku tidak akan ragu. Dan, aku tak akan meninggalkan Hoon asal kau tahu.”
Ji Yin mengangkat satu alisnya. Bibirnya mengerut kesal.
"Aduh.. Bagaimana ini—aku tidak akan pernah melepaskan dia untuk barang murahan sepertimu!” lanjut Hanna.
"Apa? Barang murahan? Tarik kata-katamu!"
"Tidak. Aku tidak bisa menarik kembali kata-kata jujurku."
"Cepat tarik kembali kata-katamu. Jika tidak-"
"Apa yang akan kau lakukan? Kau akan memukulku? Mengadu pada Hoon?" tantang Hanna. Perlahan berjalan mendekati Ji Yin.
Sementara, Ji Yin sedikit ketakutan dan melangkah mundur.
"Sedikit informasi saja— aku.. sangat berpengalaman di dapur. Memotong-motong ayam itu adalah keahlianku. Bagaimana? Apa kau ingin melihat keahlianku dalam menggunakan pisau?"
"A-apa?"
Sementara, Hanna terus berjalan mendekatinya dengan tatapan mengerikan.
"A-apa yang akan kau lakukan? A-aku seorang publik figur! Kau akan terlibat masalah besar jika menyakitiku!"
"Tidak masalah bagiku. Aku.. akan membuatmu tak bisa bicara lagi," gertak Hanna.
"Ka-kau gila? Jangan mendekat!"
Namun, Hanna mengabaikannya. Dia tetap berjalan mendekati Ji Yin. Saat jaraknya sudah dekat, Ji Yin menyilangkan kedua tangannya—melindungi kepalanya. dan menunduk. Membuat langkah Hanna terhenti.
"Jangan bicara omong kosong kepadaku. Sekeras apa pun kau berusaha untuk mendapatkan Hoon—percayalah itu hanya sia-sia. Dia tetap memilihku. Dan malam ini—dia akan kembali ke tempat asalnya," bisik Hanna.
Kemudian pergi meninggalkannya. Ji Yin pun segera berdiri tegak dan menghentakkan kakinya ke lantai. Berteriak kesal.
"Aku benci wanita itu!" geramnya.
Sementara, di studio foto—Rani dengan kesal menghampiri Ji Woon yang sedang berbincang dengan salah satu tim pemotretan. Menepuk bahu Ji Woon. Seketika Ji Woon berbalik.
"Kau Manager Hoon Park, kan?" tanya Rani. Dengan nada ketus.
"Oh, kau orang Indonesia? Bisa bicara bahasa Korea?" tanya Ji Woon, tersenyum.
"Kau pasti tahu jadwal pemotretan hari ini, bukan? Kenapa kau terlambat datang kemari?"
"Mmm.. Maaf untuk itu. Tapi, wah— benar kata mereka.. perempuan Indonesia memang cantiknya natural," pujinya dengan tatapan kagum.
Kata-kata Ji Woon membuat Rani gugup. "Ja-jangan mencoba merayuku! Kau tahu, karena kau datang terlambat, Direktur marah padaku!" seru Rani.
"Aaah begitu. Aduh, maafkan aku. Sungguh. Tidak. Aku serius. Bola matamu yang berwarna cokelat kehitaman. Bulu matamu yang lentik. Dan, lihat kulitmu juga bersih!" tutur Ji Woon, meraba tangan Rani.
"Kau gila! Lakukan itu pada wanita lain. Aku takkan luluh dengan rayuan laki-laki sepertimu!" bentak Rani. Kemudian berjalan pergi.
Sikap Rani membuat dahi Ji Woon berkerut keatas. "Memang dia cantik.”
Ji Woon memang tak pandai merayu. Karena itu, ia belum memiliki seorang kekasih. Selama 25 tahun ia bernapas, tak pernah sedikit pun ia memikirkan dengan siapa kisah cintanya akan berjalan. Hidupnya sibuk dengan kata belajar dan bekerja. Baginya, perempuan itu makhluk yang merepotkan. Manja. Mencintai laki-laki karena uang dan kepopulerannya saja. Namun, saat ia memuji kaum perempuan—bisa di bilang itu adalah ucapan tulus dari hatinya. Seperti yang dikatakan pada Rani tadi. Kepolosan dan kebaikan hatinya terkadang di salah artikan oleh beberapa orang.
**
Malam yang temaram terlihat menyelimuti komplek BSD. Angin yang semilir dan suara berderik dari hewan malam menambah keharmonisan malam ini. Jae Kyung pun tak ingin melewatkan momen yang seperti ini. Dia sedang duduk bersantai, di halaman belakang rumahnya. Dengan menatap lautan bintang yang menghiasi langit saat ini. Sesekali, ia meneguk minuman yang berwarna merah jambu di dalam gelas kaca yang berada di meja sampingnya.
"Hmm, pasti akan lebih menyenangkan, jika ia di sampingku saat ini," ucapnya, sembari tersenyum kecil.
Jae Kyung mengambil ponsel yang diletakkan di samping gelas. Mengusap layarnya. Fotonya dengan Hanna muncul menjadi sampul layar. Menekan angka 2. Dan, segera tersambung dengan Hanna.
"Halo,” sapa Hanna.
"Kau sedang apa?"
"Aku sedang masak. Ada apa?"
"Aaah, kebetulan sekali. Aku sedang lapar. Bagaimana jika kita makan bersama?"
"Mmm.. Maaf. Hari ini aku tak bisa. Suamiku akan pulang malam ini."
"A-aah, Benar. Kau sudah mengatakannya tadi siang. Tapi.. apa kau yakin dia akan datang?"
"Sangat yakin. Dia pasti datang. Nanti, aku akan menghubungimu kembali."
Hanna menutup telepon dengan terburu-buru, hingga Jae Kyung belum sempat mengucapkan selamat malam.
Sepulang dari kantor, ia pergi ke minimarket yang khusus menjual bahan makanan dari Korea. Lalu, segera pulang dan buru-buru memasak.
Kaki dan tangannya terus sibuk sejak tadi. Mengaduk sup ayam. Mengiris wortel. Membuat jus. Rambutnya ia gulung menjadi satu agar tak menghalangi pandangan matanya.
Beberapa makanan favorit Hoon sudah selesai dibuatnya. Di tatanya meja makan dengan begitu apik. Dia memberikan alas meja berwarna putih. Serta dihiasi dengan tempat lilin yang berwarna perak, bercabang dua yang berdiri tegak di tengah-tengah meja. Sejenak, ia berhenti dan mengusapkan tangannya pada apron yang ia kenakan. Menatap meja makan.
"Selesai," ucapnya seraya menghela napas.
Setelahnya, ia buru-buru melepaskan apron, melipatnya. Melemparkannya di sudut. Dan berlari menuju kamar. Begitu sampai di dalam kamar, ia duduk di depan meja rias. Melepaskan ikat rambutnya dan membiarkan rambut cokelatnya terurai. Lalu meraih lipstik dan memberi warna nude pada bibir mungilnya itu. Terakhir, ia menyemprotkan parfum ke udara lalu mendongakkan kepalanya. Tepat di saat berbunyi.
"Itu pasti dia," katanya.
Segera ia menyisir rambut dan berlari menuju pintu depan. Merapikan bajunya sejenak, setelah berada tepat di depan pintu. Kemudian mendorong pintu keluar.
"Selamat datang," sapa Hanna.
Hoon mengangguk samar. Senyumnya tak sebahagia yang Hanna pikir.
"Kau tidak ingin menyapaku?"
Suara seorang perempuan dari belakang Hoon, membuat alis Hanna berkerut.
Heels perempuan itu kemudian nampak menyembul ke samping Hoon. Melipat tangan di d**a. Dan, menyeringai.
Hanna pun melebarkan matanya.
"Ji Yin?"
“Selama tiga tahun ini— satu-satunya orang yang aku percaya adalah dia. Dia yang selalu mengiringi langkahku. Menjagaku, dalam setiap embusan nafasku. Saat dia berkata semua akan baik-baik saja—Aku pun selalu merasa tenang. Karena setiap dia berbicara padaku, sorot matanya menggambarkan kejujuran dan rasa tulus yang mendalam. Dan, hal itu kembali kurasakan hari ini. Saat, ia mengatakan hanya akulah perempuan yang dicintainya. Hanya aku yang ada dalam hatinya. Aku menatap kedua bola matanya—saat dia mengucapkan itu. Yang tersirat hanya lah kejujuran dan rasa tulus itu. Membuatku merasa tenang. Tapi, rasa itu dalam sekejap menghilang. Saat, ia membawa perempuan itu ke rumah ini. Rumah yang seharusnya hanya ada aku dan dia. Untuk kedua kalinya, aku menjadi ragu dan bimbang padanya. Aku tak tahu— segalanya yang diucapkannya adalah jujur atau justru kebohongan belaka."