Kepercayaan Yang Pudar

1887 Words
Pukul 10.06. Ini adalah hari minggu. Rutinitas Hanna biasanya adalah menyiram tanaman. Membersihkan rumah. Mencuci. Mengepel lantai. Kegiatan mendasar dari seorang ibu rumah tangga. Namun, berbeda dengan hari ini. Pagi-pagi sekali, Jae Kyung menjemputnya. Dan, mengajak Hanna untuk bertemu dengan Dong Suk. Kini Hanna dan Dong Suk saling bertukar pandang. Dong Suk tersenyum dengan tangan di belakang punggung. Sementara, Hanna terkejut. Tersenyum canggung. Tak tahu bagaimana harus bisa ber-ekspresi. “Kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya,” kata Hanna sambil mengatupkan gigi. Bicara dengan Jae Kyung yang berdiri di sebelahnya. “Mmm.. Kejutan?” Hanna terkekeh kikuk. “Kau sudah waktunya dipukul, rupanya.” Jae Kyung tersenyum lebar. Menunjukkan sederet giginya yang bersih. “Harap maklum. Seperti itulah memang Jae Kyung. Selalu bisa membuat orang jengkel.” Hidung Hanna berkerut. Tersenyum pada Dong Suk. “Perkenalkan.. Aku Dong Suk Yoo. Ayah dari Jae Kyung.” Hanna mengernyit. “Ayah? Tapi, bukannya-“ “Aaah, maksudku.. Sahabat dari Ayahnya Jae Kyung.” “Aaah.. Begitu.” Hanna kembali terkekeh. “Tapi, aku sudah menganggapnya seperti Ayahku sendiri,” sahut Jae Kyung. “Kau ingat saat aku akan bertemu seseorang yang sangat istimewa bagiku, tempo hari itu?” Hanna mengangguk. “Pria di depanmu ini. Dia sangat istimewa bagiku.” Dong Suk tertawa. Memukul kepala Jae Kyung. “Hentikan omong kosong mu. Sampai kapan kau akan mengajaknya berdiri begitu?” “Sakit!” Hanna tertawa mendengar rengekan Jae Kyung. “Kau memang pantas dipukul!” Ketiganya kemudian duduk. Kamar hotel yang dihuni Dong Suk, sudah seperti kamar di griya tawang. Mewah dan besar. Jendela yang besar. Ranjang lebar yang cukup untuk 3 orang dewasa. Dua ruangan yang tersekat dinding. Dan, sebagian terbuka. Tanpa pintu. Satu ruang tidur. Satu lagi ruang untuk bersantai yang berisi satu sofa panjang. Satu sofa kecil. Dan, meja pendek di depan sofa. Lampu tidur yang di letakkan di atas nakas—sebelah sofa. Satu lagi lampu tidur dengan kaki panjang di sebelah jendela yang ada di kamar tidur. Jae Kyung dan Hanna duduk di sofa yang sama. “Namamu siapa?” tanya Dong Suk. “Hanna Jang.” “Sudah lama tinggal di Indonesia?” “Kata suamiku sudah 3 tahun lebih.” “Aaah.. Kau sudah menikah?” “Iya.” “Suamimu di Indonesia?” “Tidak. Suamiku di Korea Selatan.” “Lantas, kenapa kau tinggal di Negara asing?” “Mmm.. Itu, ada alasan yang tidak bisa ku jelaskan pada kalian.” Pagi ini Hanna banyak terkekeh canggung. “Apa pekerjaan suamimu?” “Itu.. Juga..” Dong Suk mengangguk. “Kau pasti sangat mencintai suamimu?” “Tentu. Jika tidak, mana mungkin aku menikah dengannya.” “Kau juga menikah di Indonesia?” “Kata suamiku, kita menikah di Korea Selatan.” “Kau ingat tanggal berapa pernikahanmu?” Hanna memutar bola matanya sangat pelan. Berpikir. “Kata suamiku, bulan April 2019.” “Tanggal berapa?” “Suamiku tak memberitahuku.” “Kau ingat kapan pertama kali bertemu suamimu?” “Di jalanan. Saat berjalan, kami tak sengaja bertabrakan. Di situlah kami akhirnya saling mengenal.” “Itu.. Kata suamimu?” Hanna terdiam beberapa detik. Kemudian, mengangguk. “Tapi.. Maaf, kenapa aku merasa sedang di interogasi?” “Aah.. Hehe. Maaf. Itu kebiasaanku. Aku selalu ingin tahu dengan orang seperti apa Jae Kyung berkawan. Kekhawatiran orang tua. Hehe.” “Aaah, begitu.” “Maaf, kalau membuatmu tidak nyaman.” “Oh, tidak apa-apa.” “Hanna.. Kau kembali ke mobil duluan, ya. Aku ingin bicara sesuatu yang penting dengan Ayahku.” “Aah, iya. Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih atas sambutan hangat mu.” Hanna berdiri setelah berpamitan. Keluar dari kamar. Berjalan dengan langkah sedikit bingung. “Kenapa.. Setelah pembicaraan itu, rasanya Hoon menjadi orang asing bagiku,” gumamnya. Sementara, Hoon dan Dong Suk terlibat pembicaraan yang serius. “Bagaimana menurutmu? Dia.. Benar Mina, kan?” “Untuk saat ini.. Kita masih bisa menduga. Tapi, dari wajahnya dia memang sangat mirip dengan Mina.” “Lalu, dari jawabannya?” “Aku menduga.. Sepertinya dia hilang ingatan. Dia tak bisa mengingat apapun tentang suaminya. Kecuali, apa yang diceritakan oleh suaminya. Rasanya.. Dia sedang disetir oleh seseorang.” Jae Kyung terkesiap. “Jadi, maksud Ayah..” “Kau harus mencari tahu—siapa suaminya.” ** Hari Senin. Hari yang paling berat bagi semua pekerja. Setelah, menikmati liburan 2 hari yang menyegarkan otak—mereka harus kembali pada kenyataan di mana pekerjaan sedang memanggilnya dengan senyum ngeri. Beberapa hari juga telah berlalu. Sejak kejadian di kantin, hubungan Hanna dan Hoon makin merenggang. Mereka tak saling menyapa—meskipun sering bertemu saat di kantor. Tak pernah menanyakan kabar, sekalipun lewat pesan di ponsel. Bahkan, Hoon tak pulang ke rumah. Yang akhirnya membuat Hanna semakin meyakini—jika hubungan Hoon dan Ji Yin bukan hanya sekedar gosip. Pun dengan Hanna yang sekarang semakin akrab dengan Jae Kyung. Masih sering makan malam bersama. Bertukar cerita lewat pesan ponsel—meski, rumah mereka berdampingan. Saat ini, Hanna sedang berjalan di lobi kantor. Membawa kardus cokelat besar, yang berisi beberapa barang. Sesekali, ia mengusap keringat seraya meletakkan kardus tersebut di lantai. "Kenapa akhir-akhir ini aku jadi tak bertenaga,” gumamnya. “Dan, juga cuacanya bertambah panas aku rasa.” Setelah meracau sendiri, Hanna kembali mengangkat kardus. Dan, berjalan ke arah lift. Diletakkan lagi kardus yang dibawanya. Menekan tombol setelah itu. Kardus yang akan diambilnya, diserobot oleh Hoon yang entah datang dari mana. Membuat Hanna mendengus kesal. “Berikan padaku.” Hoon mundur selangkah. Menggelengkan kepala. “Cepat berikan. Aku sedang sibuk sekarang!” “Kardusnya cukup berat. Aku saja yang membawanya.” “Aku tidak butuh bantuan mu.” “Kau kelihatan lelah. Jangan keras kepala. Biar aku yang membawanya.” Hanna mendengus kesal. "Keras kepala? Wah.. Sudah lama kita tak mengobrol—mulutmu berubah jahat, eh?” “Bu-bukan begitu.” "Cepat berikan padaku. Dan, pergi dari hadapanku!" pekik Hanna. “Hanna! Bicaramu kasar sekali! Aku suamimu!” "Heh? Suami? Siapa? Kau?" "Hanna-" "Katamu— kau tak mengenalku. Kenapa sekarang kau jadi suamiku? Memang, kita pernah menikah?" "Apa aku harus mengatakan semuanya pada Direkturmu? Kalau kau dan aku sudah menikah? Kemudian beritanya menyebar? Dan, karirku hancur. Apa itu yang kau inginkan?” Hanna mendengus kesal. “Selalu itu yang jadi alasanmu! Kau pernah tidak? Sedikit saja, memikirkan perasaanku? HAH?!” Pekikan suara Hanna, mengundang perhatian banyak pasang mata yang kebetulan sedang melintas di lobi. Mereka sengaja menghentikan langkah untuk melihat kejadian tersebut. Kebiasaan. Suka penasaran dengan masalah orang lain. Ji Woon yang awalnya hanya melihat dari kejauhan pun mendekati keduanya. "Hanna.. Hoon.. Bisa tidak kalian tak bertengkar? Semua orang memperhatikan kalian.” Keduanya mengedarkan pandangan. Menghela napas panjang dengan kompak. “Kita bicara di tempat lain saja,” ajak Hoon. "Tak ada lagi yang ingin ku bicarakan denganmu.” Memutar badan. Membelakangi Hoon. Berjalan pergi. Satu. Dua. Tiga. Hanna berhenti. Mendesah singkat. “Kardusnya..” Hanna kembali memutar haluan. Niatnya, ingin merampas kardus miliknya dari tangan Hoon. Alih-alih memberikan kardus Hanna— Hoon malah berjalan mundur. “Aku sedang tak ingin bermain. Cepat berikan padaku.” Hanna mengatupkan gigi dengan kesal. "Aku akan mengembalikan ini— setelah kita bicara.” “Aku tidak mau!” "Hei, calm down.. Aku tahu, satu tempat di mana kalian bisa bertengkar bebas. Bahkan, kalau perlu baku hantam.” “Ji Woon!” Bentak keduanya dengan kompak. ** Mereka bertiga berada di atap gedung, saat ini. Ji Woon sedang berjaga-jaga di pintu. Kalau-kalau nanti seseorang masuk secara tiba-tiba. Hanna berdiri dengan melipat tangan di d**a, sembari menatap Hoon yang duduk di depannya. Mata sipitnya semakin terlihat sipit, karena pendaran mentari yang sangat sempurna di pagi setengah siang ini. "Kau tak mau duduk?" tanya Hoon. "Pekerjaanku masih banyak. Jadi, cepat—Apa yang ingin kau katakan?" Hoon mendesah lirih. "Maafkan aku." "Untuk apa?" "Karena sudah membohongimu.” "Kenapa?" "Karena aku tak tahu lagi harus mengatakan apa di depan Direkturmu. Akhirnya, aku memutuskan untuk menjawab begitu,”jelasnya. “Aku tahu.. kau pasti terluka karena jawabanku. Tapi, Hanna.. percayalah. Aku-" "Bukan itu yang aku maksud. Kenapa kau tak pulang beberapa hari ini? Apa— kau lebih memilih bersama dengan gadis itu?" "Tidak.. aku-" "Apa karena dia lebih cantik dariku? Dia lebih terkenal? Uangnya banyak?" "Hanna.. Tolong. Diam. Dengar perkataanku sampai selesai.” Hoon kini berdiri. "Ya. Jelaskan sedetil mungkin. Jangan lagi kau bohong padaku.” "Pertama. Aku tidak ada hubungan apa pun dengannya. Aku bersumpah,” kata Hoon. “Dan, kedua.. Aku memang satu hotel dengannya. Tapi.. Aku tidak pernah menemuinya sama sekali. Kau bisa tanyakan itu pada Ji Woon.” “Kau pikir aku bodoh? Menanyakan hal itu pada penjaga setiamu? Lalu, bagaimana dengan pita rambut itu? Kenapa miliknya ada padamu?” "I-itu, aku juga tak tahu. Kenapa benda itu ada di dalam koperku," jelasnya. "Kenapa bisa kau tidak tahu? Dan, kenapa bisa dia membuka koper mu tanpa sepengetahuan mu.” Hanna tiba-tiba diam. Mengingat sesuatu. “Aaah.. Apa di saat itu? Sehari sebelum kau memberiku kejutan karena kepulanganmu. Aku sempat meneleponmu. Dan, mendengar teriakan seorang perempuan.” Hanna mendengus kesal. Menyadari sesuatu yang terlambat. “Dia, kan? Itu suara Ji Yin. Benar, kan?” Hoon memejam kesal. Maju selangkah. Kedua tangannya memegang pundak Hanna. "Hanna.. kita sudah empat tahun bersama. Kau pasti sudah mengenal bagaimana aku, bukan? Apa.. menurutmu aku orang seperti itu?" “Maaf, aku harus mengatakan ini. Tapi.. Akhir-akhir ini, kau seperti orang asing bagiku. Aku.. Hampir tak mengenalimu lagi.” “Hanna-“ “Kau bahkan tak menyangkal hak itu, kan? Perempuan yang berteriak saat aku telepon adalah dia.” Hoon mengambil napas dalam-dalam. Mengeluarkannya bersamaan dengan kata, “Iya. Kau benar. Itu suara Ji Yin. Tapi, aku berani bersumpah, Hanna. Aku dan dia tidak ada hubungan sama sekali.” “Hoon.. Tolong. Aku sulit untuk mempercayaimu lagi.” Hanna menyingkirkan tangan Hoon. Berbalik. Namun, Hoon menahan tangannya. Ia menarik tangan Hanna. Dan, merengkuhnya. “Tak apa.. Jika rasa percayamu sudah hilang. Tapi.. Setidaknya, rasakan pelukan tulusku untukmu. Apa.. Perasaanku selama ini padamu adalah palsu? Pikirkan baik-baik, Hanna.” Hanna diam. Memilih untuk membisu atas pertanyaan Hoon. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya— masih ada sedikit rasa percaya pada Hoon. Ia tak ingin menyangkal, jika Hoon tidak mungkin berselingkuh dengan Ji Yin. Sekalipun, Hanna tak mengenal betul suami 3 tahunnya itu—tapi, setidaknya ia yakin atas perasaan Hoon padanya. Dia sangat setia dengan Hanna. "Hanna.. tatap aku," pinta Hoon. Sesaat setelah melepaskan pelukannya. "Hanna.. aku hanya menyayangimu. Sekalipun, aku jadi tak waras nantinya. Tetap. Di hatiku hanya ada kau. Kau bisa jamin itu," ungkap Hoon. "Kau.. percaya padaku, kan?" Hanna menghela napas panjang. Mengangguk ragu. Lagi. Egonya mengalah. Karena rasa sayangnya pada Hoon. Hoon mengembangkan senyumnya. Senyum yang tak terlihat selama beberapa hari ini. Senyum yang ia berikan hanya untuk Hanna. Ia kembali memeluk Hanna dengan erat. "Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini," bisik Hoon. "Tapi, bukan berarti aku sudah memaafkan mu.” Hoon mengangguk. "Aku mengerti." Hanna pun tersenyum samar. Sebenarnya, hal itu yang juga di inginkannya. Rindu akan pelukan sang suami. "Tapi, tunggu sebentar—bukankah aku butuh kejelasan darimu?" tanya Hoon. Setelah melepas pelukannya. Melipat kedua tangan di d**a. "Tentang apa?” "Kenapa kau bisa berada di sini?" "Karena kau yang mengajakku kemari tadi." Hoon mendesis. Bola Mata Hanna berputar pelan. Sangat. "Bukan itu. Kenapa kau bisa bekerja di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD