Good Lie

2836 Words
Jae Kyung menyeringai. "Itu adalah panggilan sayangku,” katanya. “Untuk Mina." Jae Kyung berpaling ke Hanna, sembari mengedipkan satu mata. Membuat Hanna menyemburkan kembali makanan yang di mulutnya. Tepat mengenai wajah Jae Kyung—yang akhirnya membuatnya mengerutkan wajahnya. “Astaga! Maaf!” Hanna membantu Jae Kyung membersihkan wajahnya dari sisa nasi yang tersembur dengan sempurna. Sedangkan, Hoon yang menyaksikan itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Beda lagi dengan Ji Yin yang menyipitkan mata menatap Hanna. Lebih tepatnya, melihat pita rambut Hanna. "Huh?” katanya. Kemudian mendesis. “Bukannya itu punyaku?” Ji Yin menunjuk pita rambut Hanna. Dengan refleks, Hanna memegang pita rambutnya. Hoon dan Jae Kyung kompak melihat Ji Yin dan Hanna bergantian. “Milikmu?” tanya Hanna. Ji Yin mengangguk. “Hei, Nona. Kenapa seakan-akan yang ada di dunia itu milikmu semua?!” kata Hanna. “Tapi, memang.. Itu persis seperti milikku.” Hoon menggelak ludah gugup. Napasnya seolah berat. Hari ini.. Dua kebohongannya terungkap secara terang-terangan di depan Hanna. “He-hei, Ji Yin! Pita rambut seperti itu banyak dijual di mana-mana!” sergah Hoon. Ji Yin kembali mendesis. Kemudian, menggeleng. "Tidak, aku yakin itu milikku. Pita rambut itu— hanya ada satu di Negara kita. Desainer Kang yang membuat itu untukku,” jelasnya. “Eh, tunggu. Bukannya waktu itu, aku memberikannya padamu, Hoon?" Dalam sedetik Hoon menatap marah pada Ji Yin. Ji Yin sangat pandai bersandiwara. Tidak heran, jika tahun lalu ia menyabet penghargaan aktris pendatang baru. Saat Ji Yin dan Hoon sempat berdebat di dalam mobil Hoon beberapa minggu lalu— Ji Yin sempat meletakkan pita rambut dan pembungkusnya di koper Hoon. Ketika pemilik koper turun dari mobil karena Hanna menelepon. Sengaja ia melakukan itu, untuk membuat Hoon dan Hanna bertengkar. Dan, hari ini adalah momen yang tepat. Seakan dewi fortuna berpihak padanya. "JI YIN!" pekik Hoon. Mengerutkan kening marah. “Tapi, kan.. Memang itu milikku.” Ji Yin mengerutkan bibir. Berpura-pura sedih. Hanna mendengus dengan mulut setengah terbuka. "Tidak usah berdebat. Kalau, memang ini seperti milikmu, aku berikan untukmu!" ucap Hanna. Menarik ke bawah pita rambut yang di pakainya. Namun, belum sampai terlepas—Hoon berkata, “Jangan dilepas.” Hoon menatap Hanna sejenak. “Aku belikan yang baru nanti. Yang lebih cantik. Itu jelek,” kata Hoon. Kini memandang Ji Yin. “Sungguh?” mata Ji Yin berbinar. “Wah, kalian sungguh pasangan yang romantis, ya?” puji Jae Kyung. “Sekarang kita lanjutkan makannya, ya? Aku benar-benar lapar.” Jae Kyung menyendok nasi dan mulutnya terbuka—saat Hanna berdiri. Memutari Jae Kyung, menarik tangannya. “Mau kemana?” “Kita tidak pantas menganggu keromantisan mereka berdua, kan? Lebih baik kita pergi,” ajak Hanna. “Tapi.. Aku belum selesai. Aku masih lapar,” rengek Jae Kyung. “AKU BUATKAN RAMEN NANTI!” seru Hanna. “CEPAT BERDIRI!” “Jangan repot-repot, Hanna. Masakanmu..” Jae Kyung memanyunkan bibir. Dan mengikuti langkah Hanna yang menyeretnya. Meninggalkan Hoon dan kemarahannya. Hanna terus menggandeng Jae Kyung. Dengan langkah jengkel. Sedangkan, yang di gandeng senyum-senyum melihat tangannya bertaut dengan tangan gadis yang membuatnya berdebar tak karuan, akhir-akhir ini. Hingga tiba di lobi—di mana sedang ramai tamu juga para pegawai yang semburat di berbagai titik. Menatap keduanya. Hanna yang merasa diperhatikan mulai melambatkan langkahnya. Mengernyitkan dahi. Mendesis kemudian. “Kenapa akhir-akhir ini, rasanya banyak yang menggunjingkan ku?” gumamnya. Helaan napas panjang dilakukan olehnya. Di detik selanjutnya, langkahnya berhenti. Diam sejenak. Lalu, terkesiap. Menutup mulutnya dengan tangan. Menengok dengan gugup. Jae Kyung memiringkan kepala, tersenyum dan melambai manis pada Hanna yang melebarkan mata. "Aku pasti sudah gila," gumamnya. "Apa?" kata Jae Kyung, tanpa suara. Hanna tersenyum canggung. Untuk sesaat, dia menatap tangannya yang masih menyatu dengan tangan Jae Kyung. Ini adalah saat yang paling memalukan bagi Hanna. Bahkan lebih memalukan dari insiden pita rambut sebelumnya. Jae Kyung mempererat genggamannya—saat Hanna ingin melepaskannya. Dua tangan mereka bergoyang sesaat. Tatapan Jae Kyung berubah. Dengan cepat, ia menarik tangan Hanna ke arahnya. Membuat Hanna berakhir di pelukan Jae Kyung. Menutup jarak di antara mereka. Mata Hanna kembali melebar. “P-p-pak.. Kau-“ Hanna tak melanjutkan kata-katanya. Karena gerakan mendadak dari Jae Kyung yang mengambil pita rambutnya—hingga rambutnya tergerai. “Kau lebih cantik jika rambutmu terurai.” Pernyataan Jae Kyung yang terang-terangan membuat pipi Hanna berubah semu. Jantungnya berdegup gugup. Di tambah, tatapan Jae Kyung yang terasa romantis. Ia mulai memajukan kepalanya. Bola matanya bergerak—melihat setiap detil wajah Hanna. “Astaga! Apa yang akan dia lakukan?! Apa.. Dia akan menciumku?” kata Hanna dalam hati. Semakin Jae Kyung memajukan kepalanya— Hanna pun menarik kepalanya ke belakang. Jantungnya semakin berdebar. Terpojok seperti tikus yang akan dimangsa oleh kucing. Hanna bimbang sesaat. Bingung apa yang akan dilakukannya. Apa dia harus memejamkan mata? Dan, menciptakan romansa kantor seperti di dalam drama pagi? Atau.. Dia harus pura-pura pingsan? Tapi, bagaimana jika nanti ia dibawa ke rumah sakit? Akan lebih memalukan lagi. Sementara, ia ber-spekulasi—beberapa pasang mata yang sejak tadi memperhatikannya, sudah mulai bereaksi. Saling berbisik satu sama lain. Hingga pada akhirnya, ia memilih untuk menyundul kepala Jae Kyung dengan kencang. Dan, berakhir dengan erangan sakit dari keduanya. Jae Kyung melangkah mundur. Mengusap-usap kepalanya. “Mina! Kenapa kau lakukan itu?! Sakit!” “Ma-maaf.. A-aku hanya tak ingin kau melakukan hal itu.” "Hal apa maksudmu? Aku hanya ingin mengambil kotoran di matamu!" jelas Jae Kyung. Mengerutkan kening jengkel. Hanna ternganga. Membeku sesaat. "Mmm.. Jadi.. Kau .. Tadi .." Hanna kemudian terkesiap. Mendekati Jae Kyung. "Ka-kau baik saja? Kepalamu terasa sangat sakit?” "Kau pikir?" Jae Kyung melirik kesal. Hanna meringis. “Sungguh, maafkan aku.” “Ck. Ck. Ck. Kau pasti terlalu sering menonton adegan tak jelas di drama!” “Hei.. Bukan. Aku tidak sedang memikirkan hal itu. Sungguh.” “Memang apa yang kau pikirkan?” “Ciuman.” Hanna terkejut dengan kata-katanya sendiri. Memukul mulutnya berulang kali, kemudian. Ditertawakan oleh Jae Kyung. “Lihat.. Kau sendiri yang berpikir seperti itu.” DIRINGDING. Ponsel Jae Kyung berdiring. Ditariknya dari saku celana samping. Dong Hoo menelepon. “Ada apa?” “Pak, ada E-mail dari kantor pusat yang harus segera Anda cek.” "Baik. Aku segera ke sana.” Jae Kyung menutup telepon, dan mengantongi ponselnya kembali. "Urusan kita belum selesai," katanya. Berjalan melewati Hanna dan menepuk bahunya. Hanna menghela napas panjang kemudian. ** Senja mulai menyapa. Burung-burung berkerumun dan berputar-putar dalam satu titik. Pohon-pohon hijau hampir terlihat seperti siluet. Mentari berpendar oranye dari sebelah barat. Sehingga menimbulkan warna jingga pada langit. Saat ini, Hanna berada di halte untuk menunggu bus. Duduk dengan kepala tertunduk. Sesekali meregangkan tubuh. Matanya sayu, seakan mengajak Hanna untuk mengarungi alam mimpi. Lelah dia rasakan. Sangat. Hanna menggeleng berulang kali. Untuk menjaga kesadarannya. Tapi, nyatanya ia menguap. Entah sudah yang ke berapa kali. Hari ini—sungguh menguras tenaganya. Pekerjaan yang tiba-tiba menumpuk. Beberapa insiden yang juga menguras emosi. lebih banyak dari sebelumnya. Di tambah lagi, semalam ia harus lembut mengerjakan proposal rapat. Kesempatan tidurnya hanya sekitar 3 jam saja. "Minumlah," pinta Jae Kyung. Berdiri di depan Hanna. Menyodorkan sekaleng soda dingin. Hanna mendongak dan tersenyum. “Kenapa kau selalu jadi penyelamatku.” Jae Kyung mengangkat bahunya dengan sombong. Lalu, duduk di samping Hanna. “Kepalamu.. Apa masih sakit?” tanya Hanna, meneguk soda nya. Setelah menarik pengaitnya. “Yah, sedikit. Kepalamu seperti besi.” Hanna mendecak kesal. “Kau harus ganti rugi!” lanjut Jae Kyung. “Hehe. Aku kan sudah minta maaf.” “Itu saja tidak cukup.” “Lalu?” “Panggil aku Jae Kyung. Hanya Jae Kyung.” “Aku tidak bisa.” “Kenapa?” “Kau tak lihat tadi? Semua yang berada di kantor menggunjingkan kita— mungkin hanya aku.” “Saat tidak di kantor. Panggil aku dengan namaku saja.” Hanna diam sesaat. Dan, “Baiklah. Aku juga senang punya teman yang kaya sepertimu.” Hanna terkekeh. “Wah, ternyata kau perempuan yang matrealistis, ya?” “Semua perempuan itu tidak matre. Tapi, bersikap realistis. Di dunia ini apa yang tidak butuh uang? Semua pasti memerlukan uang. Karena itu.. Laki-laki harus bekerja keras. Karena itu kodratnya. Dan, jika perempuan membantunya—berarti perempuan itu tidak ingin melihatmu susah sendiri. Yang berarti-“ “Dia sangat mencintaimu?” Hanna mengangguk. “Yap. Betul. Sebenarnya, perempuan itu sangat mudah dipahami. Kenali hatinya yang terdalam. Semua akan berjalan dengan lancar.” Jae Kyung mendesis. “Aku yakin itu lebih sulit dari rumus kimia.” “Haha. Tidak akan sulit jika kau benar-benar mencintainya.” “Kau benar juga. Wah.. Ternyata kau bisa puitis juga, ya.” “Tergantung keadaan,” kata Hanna. “Tumben sekali kau tak menawariku untuk pulang bersama?” “Sebenarnya, aku ingin mengajakmu pulang bersama. Tapi.. Ada seseorang yang harus ku temui. Seseorang yang sangat istimewa untukku.” "Kau juga punya orang seperti itu?” Jae Kyung mengangguk. "Kau tidak menanyakan siapa orang yang akan aku temui?” “Kalau kau ingin memberitahuku—pasti sudah kau sebutkan namanya tadi. Aku tidak ingin terlalu penasaran padamu.” “Tapi, aku ingin kau seperti itu.” Hanna membeku. Memandang Jae Kyung dalam diam. “Ah, iya.. Apa kau kenal dengan Hoon Park?” Hanna menggeleng. "Tapi, kenapa ketika di ruang rapat kau sepertinya sangat terkejut saat melihatnya?" "Mmmm.. itu karena dia sangat tampan. Dan, juga Apa kau ingat temanku Rani?" Jae Kyung mengangguk. "Dia penggemar berat Hoon. Setiap hari, selalu Hoon yang dibicarakannya. Kehebatan Hoon. Bagaimana tampannya Hoon. Aku jadi penasaran dengannya. Dan, ketika aku bertemu langsung dengannya—ternyata yang diceritakan Rani benar. Dia tampan.” "Hmm.. Begitu. Aku dan Hoon. Siapa yang paling tampan menurutmu?” Hanna terkekeh. "Mana mungkin, aku bisa menjawab itu. Memangnya, kau bisa menjawabnya?” “Tentu. Tanyakan saja.” “Lebih cantik mana—aku atau Mina yang asli?” Jae Kyung terdiam sejenak. Lalu, ia tertawa lantang. "Kau juga tidak bisa menjawabnya, kan?" Hanna tersenyum. Tak lama kemudian, Bus yang akan ditumpangi Hanna datang. "Busnya sudah tiba," kata Jae Kyung. Berdiri. Satu tangannya di masukkan dalam saku. Pun dengan Hanna yang ikut berdiri. “Kalau begitu, sampai besok.” Hanna melambai kecil. Berjalan selangkah—saat Jae Kyung berkata, "Keduanya mawar. Keduanya indah. Namun, ketika salah satu aku genggam—aku akan terluka." Hanna berhenti. Memutar haluan. Menghadap Jae Kyung. "Dan, ingin kau apa kan bunga itu?” "Aku akan menunggunya untuk mekar dan akan ku tawarkan kehidupan baru." "Di antara bunga itu—mana yang akan kau pilih?" "Jika bunga di depanku bisa dikatakan menjadi pilihan—maka aku akan memilihnya," papar Jae Kyung. Lalu berjalan pergi. “Sampai jumpa besok.” Jae Kyung melambai tanpa menengok. Sedangkan di tempat lain, Hoon terus melamun di dalam mobil bersama dengan Ji Woon. Sedari tadi, hanya memikirkan Hanna. Dia tahu pasti—Hanna pasti kecewa karena karena sikapnya siang ini. Pun dengan Hoon. Melihat kedekatan Hanna dengan Jae Kyung, membuatnya gelisah. Semakin dipikirkan, semakin sering ia mendesah kesal. Cukup membuat Ji Woon yang duduk di sebelah sopir merasa terganggu. Sesekali melirik Hoon melalui kaca yang tergantung di tengah. "Hoon! Kalau ini semua terasa berat bagimu—kenapa kau tidak jujur saja pada Hanna? Katakan padanya! Jika kau dan Ji Yin tidak ada hubungan apa pun!” “Tidak semudah itu. Ji Yin.. Perempuan itu tahu segalanya.” Segera Ji Woon melebarkan mata dan berbalik. "Apa?!" Pagi tadi. Saat di Bandara. Dan, saat Ji Woon sedang mengambil koper mereka—Ji Yin dan Hoon menunggu dengan berdiri agak jauh dari Ji Woon. "Oppa! Aku tidak mau, kalau tak sehotel denganmu! Apa masalahnya? Lagi pula semua sudah tahu, kalau aku kekasihmu!” "Dalam mimpimu! Ingat—kita hanya berpura-pura. Aku akan pulang menemui istriku. Tidak mungkin aku akan membawamu.” Ji Yin menyeringai. "Jadi kau bersikeras akan menemuinya? Perempuan yang membuatmu meninggalkan segalanya itu? Yang membuat kehilangan akal?!” pekik Ji Yin. “Dia istriku!” “Kau yakin dia mencintaimu?” Hoon diam. Napasnya menggebu. Menahan marah. “Jika kau pulang ke rumahnya—aku akan membeberkan semua yang aku tahu.” “Apa yang kau tahu?” “Semuanya! Aku tahu kebohonganmu pada perempuan itu! Dan, aku akan memberitahu media! Jika, Hoon yang mereka agungkan—tidak sebaik itu.” “Kau mengancam ku?” “Coba saja lakukan. Dan, lihat apa yang terjadi.” “Kau.. Sungguh tidak waras!” Itulah yang membuat Hoon, tidak bisa pulang ke rumah. Juga, bersikap buruk pada Hanna sepanjang hari. Sementara, di sisi lain hatinya—ia benar-benar ingin bertemu dengan Hanna. Ingin menceritakan segala kepalsuan itu. Tapi, Hoon terlalu takut untuk kehilangannya. Dan, jika Hoon tidak pulang malam ini— maka kecurigaan Hanna akan terbukti. Tentu, itu akan membuat Hoon lebih sulit untuk di maafkan. "Bagaimana dia tahu?" tanya Ji Woon. "Siapa lagi yang tahu tentang rahasia itu selain kau.” "Bajing*n itu! Jika saja aku tidak bekerja dengannya—dia pasti habis di tanganku!" umpat Ji Woon. "Aku.. hanya tidak ingin Hanna terluka. Karena itu—aku akan terus berbohong padanya. Jika ia tahu segalanya—maka aku akan kehilangan dia." ** Jae Kyung dan Dong Hoo berjalan masuk ke sebuah Hotel terbesar di Jakarta. Setelah Dong Hoo bertanya pada penerima tamu, diajaknya Jae Kyung naik lift. "Lantai berapa?" tanya Jae Kyung, sesaat setelah pintu lift menutup. "Lantai 8. Royal Suite Room," jawab Dong Hoo. Pintu lift bergeser. Satu sisi. Begitu, tiba di lantai tujuan. Keduanya berbelok ke kiri. Dong Hoo memimpin jalan. Berhenti di satu pintu bergaya mewah. Berwarna hitam dengan garis warna emas. Dong Hoo melangkah mundur. Membiarkan Jae Kyung mengetuk pintu. “Siapa?” Terdengar suara parau dan berat dari Sang pemilik kamar. Ini aku, Ayah.” Tak lama, pintu terdorong keluar. Jae Kyung mundur. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang seluruhnya putih, tersenyum pada Jae Kyung. Dong Suk Yoo. Adalah sahabat dari Ayah Jae Kyung. Berwajah kotak. Dengan kulit yang putih kecokelatan. Dengan bintik tua samar memenuhi dua pipinya. Matanya sipit. Lebih sipit dari Jae Kyung. Tingginya hampir sepadan dengan Jae Kyung. Sejak Jae Kyung kecil— sudah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Dong Suk. Bahkan Jae Kyung sering menginap di rumah Dong Suk. Sampai saat Ayahnya meninggal, Dong Suk lah yang pertama kali memeluknya. Dan, mengatakan jika mulai hari ini dia adalah Ayah Jae Kyung. Setidaknya, hal itu membuat hati Jae Kyung tenang. Sebelumnya, Dong Suk dan Ayah Jae Kyung telah membuat kesepakatan. Jika salah satu dari mereka telah kembali ke rumah Tuhan– maka ia harus menjaga keluarga yang ditinggalkannya. Dan, janji itu di tepati oleh Dong Suk. Dia menjaga, serta selalu ada jika dibutuhkan oleh anak angkatnya yang kelewat manja. Seperti hari ini. Dia datang ke Indonesia hanya untuk memenuhi permintaan Jae Kyung. 2 hari yang lalu, Jae Kyung menghubunginya. Ia meminta Dong Suk datang dan memeriksa kondisi tubuhnya. Dong Suk adalah seorang Kepala Dokter di sebuah rumah sakit di Seoul. Setiap Jae Kyung merasa tidak enak badan— dia selalu pergi untuk menemui Dong Suk. Jae Kyung merebahkan diri di ranjang. Sementara Dong Suk memeriksa perutnya dengan stetoskop. "Bagian ini yang sakit?” Dong Suk menekan bagian ulu hati Jae Kyung. Membuatnya mengerang kesakitan. “Iya. Itu sakit,” erangnya. “Sudah berapa lama kau merasakan ini?” "Beberapa bulan ini. Tapi, akhir-akhir ini, rasa sakitnya bertambah.” "Gastroesophageal Reflux Disease," jelas Dong Suk. Jae Kyung mengernyit. Tak mengerti apa yang dikatakan oleh Ayahnya. "Gas..tro .. Apa? Apa itu semacam merek oli?" gurau Jae Kyung. Dong Suk melirik kesal dan memukul kepalanya. "Sakit! Bagaimana bisa kau memukul seorang pasien?!” "Pasien sepertimu layak dipukuli. Hei! Apa di Negaraq ini tidak ada dokter atau rumah sakit? Kenapa kau harus membuat orang tua sepertiku, pergi sejauh ini?" omel Dong Suk. "Aku hanya merasa nyaman saja, jika Ayah yang memeriksaku. Dong Suk menghela napas panjang. "Dong Hoo.. Pria manja ini—apa akhir-akhir ini mengalami stress berlebihan? Juga pola makannya tidak teratur?” Jae Kyung segera duduk. Menatap Dong Hoo yang berdiri di dekat pintu. Memberi sinyal—5agar tidak memberitahu Dong Suk. Dong Hoo kemudian berdeham. "Ya. Pak Jae Kyung akhir-akhir ini sering mengalami insomnia. Melamun. Dan, jarang makan,” jelas Dong Hoo. Jae Kyung memejam kesal. Menghela napas pendek. "Apa karena perempuan itu? Masih karena dia?" Dong Suk menatap Jae Kyung sekarang. Sementara, Jae Kyung menundukkan kepalanya. "Zat asam dalam perutmu sangat tinggi. Faktor terbesar adalah karena pikiran. Jika kau terlalu stres, maka sakit di perutmu akan meningkat. Dan juga, kau harus menjaga pola makanmu," jelas Dong Suk. "Dokter Yoo— apa makanan terlalu asin juga dapat menyebabkan asam lambung naik?" tanya Dong Hoo. Mata Jae Kyung melebar. Menatap Dong Hoo dengan kesal. "Dong Hoo.. Apa kau tidak terlalu banyak bicara?" sahut Jae Kyung. Menggertakkan gigi. Bola mata Dong Hoo berputar pelan. Merapatkan bibirnya. "Itu juga tidak bagus,” jawab Dong Hoo. “Tapi, siapa yang sering makan makanan asin? Jae Kyung? Seingatku, dia tidak suka makanan yang asin. Membuat ramen saja, kuahnya selalu banyak.” "Iya. Memang, aku tidak suka makanan yang terlalu asin. Tapi, entah akhir-akhir ini makanan yang tidak enak pun, bagiku terasa nikmat.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD