Bad Lie

2662 Words
Ji Woon yang berdiri di belakang Hoon pun ikut terkesiap. Mulutnya ternganga. "Oh my god," gumam Ji Woon. "Nona Hanna?” panggil Jae Kyung. “Nona Hanna?” Hanna seolah tak mendengar suara Jae Kyung memanggil dirinya. Matanya terpaku menatap Hoon, yang juga terus memandang dirinya. "Hei, Hanna! Kau sedang apa?" bisik Rani, menarik baju Hanna. Setelah tarikan yang entah ke berapa—Hanna tersadar. Dan, menengok bingung ke arah Rani. "Huh? Kenapa?" "Kenapa kau berdiri? Pak Jae Kyung memanggilmu." Mata Hanna berkedip cepat. Menghela napas pendek. Mengedarkan pandangan. Seisi ruangan sedang melihat dirinya. Mulutnya membulat. "Ooh, Mmmm.. Maaf," pungkas Hanna, membungkuk. Tersenyum kikuk. "Apa ada yang ingin kau katakan?” tanya Jae Kyung. Hanna meringis. "Tidak. Tidak ada.” Hanna kemudian kembali duduk. Sementara, mata Hoon memerah. Napasnya seolah berat. Hanna meraih sebuah gelas di depannya. Di habiskan isinya dengan sekali teguk. Tangannya terlihat gemetar. Terkejut dan rasa tidak percaya bercampur menjadi satu. Hoon dan Ji Yin duduk di samping kiri dan kanan Jae Kyung. Ikut dalam rapat tersebut. Dan, selama rapat berlangsung, Hanna merendahkan kepalanya. Hanya menatap meja. Banyak pertanyaan yang berbaris dalam benaknya. Kenapa Ho berada di sini? Siapa perempuan yang bersamanya? Apa alasan Hoon tak menghubunginya? Semua pertanyaan-pertanyaan itu— menguasai pikiran Hanna. Begitu juga dengan Hoon. Dia sangat terkejut bertemu dengan Hanna di perusahaannya. Tentu, Hanna belum tahu jika Hoon adalah pemilik Dalmoon corp,. yang asli. Sedari tadi, Hoon terus mencuri pandang pada Hanna. Sementara, Hanna tak menatap Hoon sedetik pun, sejak Hoon duduk di samping Jae Kyung. “Seperti, yang aku bilang sebelumnya—ide nona Hanna sangat bagus. Dan, aku suka. Jadi, kita akan melakukan acara peluncuran parfum kita minggu depan. Dan, nona Hanna bertanggung jawab penuh atas itu. Selamat, nona Hanna.” Riuh tepuk tangan terdengar kemudian. Sementara, yang diberi selamat hanya mengangguk tanpa tersenyum. Jae Kyung dan Hanna bersepakat, jika di kawasan kantor—ia takkan memanggil Hanna dengan nama Mina. Agar tak menimbulkan berbagai spekulasi dari mereka yang tidak mengerti. “Selanjutnya, kita akan membahas konsep foto dan kapan pemotretan dimulai. Karena, 2 model kita tidak bisa terlalu lama di Indonesia.” ** 25 menit berlalu. Rapat sudah usai. Para pegawai keluar dari ruang rapat bergantian. Sedangkan, Hanna yang sudah sejak tadi ingin melarikan diri—cepat-cepat membersihkan buku dan berkasnya. Berjalan cepat dan menyibak pegawai yang lain dengan kasar. Hoon berniat menyusul Hanna. Ketika, ia di luar ruang rapat—matanya segera bergerak ke sana kemari. Memperhatikan kemurunan orang yang berjalan semburat ke berbagai arah. Kardigan abu semen dengan motif kotak—juga celana kain slim fit yang warna dan motifnya sepadan—rambut cokelat keemasan panjang bergelombang. Mata Hoon tertuju pada perempuan itu. Dia berjalan selangkah dan, “Ha-“ “Mina!” Jae Kyung lebih dulu memanggil Hanna. Sedangkan, Hoon terhenyak. Mendengar Jae Kyung menyebut nama, “Mina?” Hanna menghentikan langkah. Memutar kakinya. Menghadap Jae Kyung. “Pak Jae Kyung.. Ada apa?” “Kau tidak apa-apa? Kenapa bibirmu tiba-tiba pucat? Tadi, kau juga terlihat gemetar.” "Aah, benarkah? Mungkin karena aku hanya makan roti lapismu saja pagi ini. Hehe,” jawab Hanna, menyentuh bibirnya. "Sebentar lagi makan siang,” kata Jae Kyung. Setelah menilik jam tangan hitamnya di pergelangan tangan kiri. “Jangan sampai kau tidak makan! Lihat, tubuhmu kurus sekali.” Hanna mendengus di selingi tawa. “Omelanmu sudah seperti Ibu mertua saja.” “Haha. Bagaimana jika nanti kita makan siang bersama di kantin?" "Huh?" "Kenapa? Kau tidak mau?" "Bukan begitu. Aku takut, yang lain nanti menggunjingkan kita. Bagaimanapun kau Bos di sini." Jae Kyung mendesis. Melipat tangan di d**a. "Bukan masalah bagiku. Jadi.. Pukul 12.30 nanti, aku tunggu di kantin, yah?” Jae Kyung menepuk lembut bahu Hanna. Berulang. Lalu, berjalan pergi. Meninggalkan Hanna yang menghela napas panjang. "Dia benar-benar keras kepala,” gumam Hanna. Ketika akan memutar langkah, ia melihat Hoon berdiri menatapnya, dari kejauhan. Hoon segera berjalan ke arahnya. Tapi, di detik selanjutnya langkahnya terhenti. Karena Hanna pergi begitu saja. "Dia pasti sangat kesal padaku,” gumam Hoon. "Dia orangnya?” Ji Yin menyembul dari balik punggung Hoon. Melipat kedua tangan di d**a dengan arogan. “Dia perempuan yang sangat kau cintai itu? Perempuan yang hanya menjadi bayangan pengusikmu?” “Jaga mulutmu. Dia istriku!" tukas Hoon. Melirik Ji Yin. Kemudian berjalan pergi. Meninggalkan Ji Yin yang menyunggingkan senyum. “Tunggu saja. Semuanya, akan berubah sebentar lagi.” ** Sesampainya di ruangan— Jae Kyung mengendurkan dasi. Duduk di sofa dengan merentangkan kedua tangannya ke samping. Mencoba merilekskan diri. Di detik selanjutnya, dengan ibu jari dan telunjuk— ia mengusap pangkal hidungnya. "Kenapa dia terkejut saat melihat Hoon? Aku sangat yakin Mina itu Hanna. Tapi, apa mungkin ia mengingat Hoon sementara ia tak mengingatku? Haaah, ini semua membuat kepalaku sakit,” racau Jae Kyung. Pintu terbuka dengan kasar. Menimbulkan suara gaduh. Hoon masuk dengan wajah yang tidak ramah. "Dong Hoo.. Aku sedang ingin sendiri.” Jae Kyung belum mengetahui jika di belakangnya, Hoon tengah berdiri dengan tangan mengepal. "Siapa perempuan itu?” tanya Hoon. Jae Kyung membuka matanya. Menengok ke belakang. "Hei, adikku! Ternyata kau." Jae Kyung tersenyum dan berdiri. "Jawab pertanyaanku! Siapa perempuan itu?! Kenapa kau memanggilnya Mina?!” “Perempuan yang mana? Di sini banyak sekali perempuan.” Jae Kyung memasukkan satu tangannya, ke dalam saku celana samping. “Jangan berbelit! Cepat katakan!” Jae Kyung menghela napas panjang. "Karena memang dia Mina." "Apa?" Hoon mengerutkan kening. "Kenapa? Kau terkejut jika Mina masih hidup? Atau mungkin kau sudah tahu?” Hoon menyeringai. "Kau sangat yakin jika itu Mina? Hanya karena wajah mereka mirip, bukan berarti dia Mina." "Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau yakin jika ia bukan Mina?" "Mina atau bukan—menjauh darinya! Aku tidak ingin, dia bernasib buruk seperti Mina! Akrab dengan pembunuh sepertimu!" Jae Kyung menyunggingkan senyum. Disertai dengusan. "Aku selalu gagal memahamimu. Kenapa kau selalu memanggilku seorang pembunuh? Kenapa kau membenciku? Apa.. karena Mina memilihku— itu kejahatan menurutmu?" Hoon kembali menyeringai. "Kau! Juga ibumu—keluargamu adalah pembunuh!" pekik Hoon dengan lantang. Mengertakkan gigi. Jae Kyung tersenyum kesal, menundukkan kepalanya sejenak. Berjalan menghampiri Hoon. "Kau bisa saja mengatakan buruk tentangku! Tapi! Jangan sekali-sekali, kau mengolok-olok ibuku! Aku tahu—kenapa kau membencinya. Tapi.. dia adalah ibuku. Kau tak pantas mengatakan hal itu padanya. Kau paham?!" hardik Jae Kyung. Jae Kyung berjalan melewati adik tirinya. Dan, "Kau tidak akan pernah tahu— alasanku membenci ibumu!" tandas Hoon. Sementara keduanya berdebat, Hanna berjalan lemaa masuk ke dalam ruangannya. Duduk di kursinya. Menyandarkan kepala di bahu kursi. Rani meliriknya sejenak— kemudian mendorong kursinya, mendekati Hanna. "Hei, Hanna.. kenapa kau tiba-tiba berdiri saat Hoon Park masuk?" Pertanyaan Rani mengundang rasa penasaran yang lain. "Iya, Bu Hanna. Kenapa kau terkejut saat melihat dia? Apa kau mengenalnya? Mungkinkah, dia temanmu saat di Korea Selatan?" timpal Dave—kolega yang lain. Hanna berdeham gugup. Membetulkan posisi duduknya. "Bu-bukan seperti itu. Sebenarnya dia a-" "Hanna!" panggil Ji Woon—membuka setengah pintu ruangan Hanna. “Huh? Itu, kan Managernya Hoon Park? Kau mengenalnya? Wah, sudah jelas pasti ada sesuatu.” Rani ber-spekulasi. Membuat Hanna tertawa kikuk. “Nanti, biar aku jelaskan.” Hanna keluar dari ruangan. Rani kembali menggeser kursinya. Mulai bekerja lagi. Tak lama setelah itu, berganti Dong Hoo masuk ke dalam. Mengedarkan pandangan. “Can i help you?” tanya Dave, mendekati Dong Hoo. “Mmmm.. I’m looking-“ Dong Hoo tak melanjutkan kata-katanya. Matanya tertuju pada Rani. Ia berjalan mendekat pada meja Rani. Dan, berdeham. Membuat Rani mendongak. “Huh? Kau, kan..” “Aku Dong Hoo Baek. Anak dari So Hoo Baek dan Rumi Lee. Aku anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak pertamaku laki-laki. Dia sudah menikah dan tinggal di Pulau Jeju. Sekarang, sudah mempunyai 2 orang anak. Satu laki-laki. Satu perempuan. Kakak keduaku perempuan. Dia pengangguran dan hobinya menanam bunga sekarang. Ketiga—aku. Sekretaris Jae Kyung Choi. Pemilik perusahaan Dalmoon corp,. Ketiga, ke empat dan kelima adalah kembar. Mereka berusia 14 tahun. Dan, masih SD. Kini sedang mempersiapkan untuk masuk SMP.” Rani ternganga mendengar penjelasan super panjang dari Dong Hoo. “Wah.. Haruskah aku mendengar itu semua?” Dong Hoo terkekeh canggung. “Maaf. Kebiasaan ku.” Kini giliran Rani yang terkekeh canggung. “Ada apa kau kemari?” tanya Rani. “Kau tersesat lagi?” Dong Hoo menggeleng. “Aku mencarimu.” “Aku? Kenapa?” Dong Hoo memberikan sekaleng soda dingin yang sejak tadi dibawanya. “Ini untukku?” Dong Hoo mengangguk. “Ini juga.” Dong Hoo memberikan sekantung penuh camilan yang juga dibawanya sejak tadi. “Wah.. Kebetulan sekali. Mendengar perkenalanmu yang panjang tadi, membuat perutku lapar. Hehe. Terima kasih.” “Sama-sama.” “Kau sudah makan siang?” Dong Hoo menggeleng ragu “Ayo kita makan camilan ini bersama,” ajak Rani. Sementara, Hanna dan Ji Woon saat ini sedang berada di atap gedung. Tempat teraman di kantor. "Ada apa?” tanya Hanna dengan nada kesal. Melipat kedua tangan di d*da. Bola mata Ji Woon berputar gugup. Lalu, berlutut dan mengangkat kedua tangannya yang mengepal. "Hukum aku, Hanna! Aku akan menerima apa pun yang kau lakukan kepadaku," pinta Ji Woon. Hanna mendengus. "Kau pikir aku akan kasihan denganmu?” “Hanna-“ “Kau selalu tak menjawab semua pesanku! Kau juga selalu cepat-cepat menutup teleponku. Kau.. Bukan lagi temanku.” “No! I’m still your friend! Hukum saja aku! Please!" Hanna mendesah kesal. Memutar badan dan berjalan pergi. Lantas, dengan buru-buru Ji Woon segera berdiri, merentangkan tangan. Memblokir langkah Hanna. “Kita duduk dulu. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Okay?” ajak Ji Woon. Keduanya duduk di bangku kayu cokelat. Dengan 3 balok kayu yang tersambung. Masih di atap gedung. "Kenapa kau di sini?" tanya Hanna. "Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kenapa kau bisa di sini?" Helaan napas pendek dilakukan oleh Hanna. "Sebenarnya, sudah 7 bulan aku bekerja di sini." Ji Woon menatap Hanna dengan tercengang. "Ke-kenapa kau bisa bekerja di perusahaan ini? Apa seseorang memintamu untuk bekerja di sini?” "Aku mendapatkan pekerjaan ini dari surat kabar. Karena aku sangat bosan hanya di rumah saja. Akhirnya, aku mencoba untuk melamar di sini." "Aaaah, begitu. Hanna.. Apa mereka tahu— kalau Hoon suamimu?" "Tidak. Mereka hanya tahu kalau aku sudah menikah.” "Hanna-" "Aku tidak ingin kau menjelaskan apa pun kepadaku. Aku.. akan menunggu Hoon yang mengatakan semuanya padaku. Aku yakin dia punya alasan untuk itu semua. Bukan begitu?" Hanna menatap Ji Woon. Tersenyum. Ji Woon menatapnya dengan simpatik. "Tapi.. Aku mohon padamu. Jangan biarkan mereka tahu. Jika Hoon adalah suamimu." Hanna terkekeh. "Lucu, kan? Aku.. akan menjadi orang asing untuk suamiku sendiri." "Hanna-" "Aku paham. Jangan khawatir." Hanna memalingkan muka, mendongak. Memandang langit yang sedang berwarna biru. Tanpa awan. "Untung saja cuacanya cerah,” katanya. Di detik selanjutnya, Ponsel Hanna berdenting. Satu pesan masuk dari Jae Kyung. "Mina.. Sudah waktunya makan siang. Aku tunggu di kantin." Hanna berdiri dan meregangkan tubuh sejenak. "Ayo pergi," ajak Hanna. "Kemana?" "Surga." Hanna tersenyum. Hanna adalah seorang perempuan yang tangguh hatinya. Meskipun ia tahu—itu akan menjadi sesuatu yang berat dalam hidupnya. Tapi, dia tetap menegakkan kepalanya dan bersikap tegar. Baginya, tidak ada waktu untuk menangis. Itu hanya membuang-buang waktu. Dan, ketika semangatnya mulai menurun— karena hatinya terasa kosong, Hanna memiliki cara untuk mengatasinya. Dengan pergi ke tempat yang ia sebut 'Surga'. Surga untuk Hanna adalah— di mana ia bisa melihat berbagai macam makanan dan dapat menikmatinya. Ia selalu berdecak kagum—saat melihat makanan. Seperti anak kecil yang diberi sebatang cokelat oleh ibunya. Yah, seperti saat ini. Matanya berbinar, memandang makanan yang berbaris rapi di depannya "Wah, pasti ini semua sangat lezat." "Kau benar. Ini pasti enak," papar Ji Woon. Menunjukkan ekspresi yang sama dengan Hanna. Lagi. Ponsel Hanna berdering. Kali ini Jae Kyung meneleponnya. "Aku sudah di kantin. Kau di mana?" tanya Hanna. "Kau di sebelah mana?” "Aku sedang mengantre sekarang.” Jae Kyung yang sudah duduk di kursi dekat jendela besar—sekarang berdiri. Kepalanya bergerak layaknya radar. Dan, berhenti ketika menemukan titik koordinatnya. “Aku melihatmu dari sini. Tunggu di situ.” Jae Kyung berjalan ke arah Hanna dan Ji Woon. Sementara, Hanna masih saja mencari sosok Jae Kyung. “MINA!!” panggil Jae Kyung dengan nada tinggi. Melambaikan tangan. Hanna pun melihat ke arah Jae Kyung. Di detik selanjutnya, ia mengerutkan kening. Sepotong kejadian kembali berputar di otaknya. Kejadian di mana seorang pria melambai kepadanya dan memanggil nama Mina. Rasa sakit menjalar seketika di setiap sisi kepalanya. Hanna menunduk seraya merintih samar. Sementara, Ji Woon terkejut— mendengar nama Mina yang ditujukan untuk Hanna. Ia tercengang. Mulutnya setengah terbuka. Kemudian, berjalan mundur. Meninggalkan Hanna. “Mina.. Kau baik-baik saja?” tanya Jae Kyung, melihat Hanna kesakitan. “Mmm.. Iya. Hanya sedikit pusing.” “Kau sering sekali merasakan pusing. Apa tak sebaiknya kau pergi ke rumah sakit?” “Tidak. Nanti, juga sembuh dengan sendirinya.” “Kalau begitu, kau duduk saja. Biar aku yang mengantre.” “Jangan. Biar aku saja.” Jae Kyung mendesis. “Turuti perkataan ku.” Mau tidak mau, Hanna berjalan pergi. Mencari kursi yang masih kosong. Dan, tetap ia menuju kursi dekat jendela. Karena, hanya itu yang tersisa. Beberapa pegawai yang melihat kedekatan Hanna dan Jae Kyung pun memandangnya sinis. Sesekali berbisik. Tentu, itu sangat tidak berpengaruh pada Hanna. "Yah.. Ini sudah konsekuensiku. Terserah apa yang ada di pikiran mereka,” gumam Hanna. Memejamkan mata. Memijit pelipisnya. "Hanna..” Mendengar suara itu, Hanna membuka matanya. Ia mengenal dengan baik suara itu. Tapi, Hanna mengabaikan Hoon yang sudah berdiri di sampingnya. "HANNA!” Sekali lagi Hoon memanggil. Kali ini suaranya sedikit lebih tinggi. Hanna mendesah kesal. Dan menengok. "Apa?" tanya Hanna, ketus. "Apa yang kau lakukan di sini?" "Menurutmu, apa yang orang-orang lakukan jika pergi ke kantin? Tidur? Pertanyaan yang bodoh.” "Maksudku, apa yang kau lakukan di sini?” "Oppa!" Belum sempat Hanna menjawab, Ji Yin memanggil Hoon dengan centilnya—dari arah belakang Hoon. Membuat yang dipanggil mendesah kesal. “Kekasih tercintamu sudah datang,” sindir Hanna. Hanna melihat sinis pada Ji Yin yang tengah melingkarkan tangannya pada lengan Hoon. "Kenapa kau tidak mengajakku?" tanya Ji Yin, manja. "Lepaskan tanganmu," geram Hoon, mengertakkan gigi. "Kenapa? Aaah, karena perempuan itu." Ji Yin menunjuk Hanna dengan kepalanya. Hanna mendengus. “Nafsuku makan ku hilang karena melihat kalian.” Hanna berdiri. Saat Jae Kyung datang. "Kenapa kalian di sini?" Jae Kyung bertanya. Berdiri di belakang Hoon. Membawa 2 nampan yang berisi berbagai makanan. Hoon memejam kesal. Kemudian, Ji Yin memutar langkah. Menghadap Jae Kyung. "Selamat siang, Pak Jae Kyung," sapanya. "Kalian mau bergabung dengan kami?” "Tidak. Terima kasih," sahut Hoon. "Oppa.. Aku lapar. Kita bergabung saja dengan mereka. Lagi pula, tidak ada kursi yang kosong. Mau, ya?” Ji Yin sengaja terus bersikap manja, untuk membuat Hanna kesal dan cemburu. Dan, akhirnya mereka makan bersama. Hanna dengan malas menyendok nasi. Mengunyah pun seolah tak ber-energi. Menyandarkan kepala pada satu tangan yang bertumpu pada meja. "Apa kalian saling kenal?” tanya Jae Kyung tiba-tiba. Bergantian memandang Hoon dan Hanna. Hanna menelan ludah gugup. Punggungnya menegang. Meneguk air dari gelas kaca. "Aku tidak mengenalnya,” kata Hoon tanpa ragu. Jawaban Hoon membuat Hanna tersedak. Dengan refleks Jae Kyung memberikan Hanna selembar tisu. Dan, menepuk bahunya lembut. "Te-tentu. Bagaimana mungkin, aku bisa mengenal pesohor dunia seperti dia. Menonton TV saja tidak pernah.” "Ck.. Pelan-pelan saja makannya.” Jae Kyung tiba-tiba membelai lembut rambut Hanna. Membuat Hanna melebarkan mata. Hoon mendengus kesal. “Kenapa tiba-tiba sikapnya begitu manis padaku?” kata Hanna dalam hati. Dan, Ji Yin adalah orang yang paling bahagia melihat adegan manis itu. Ia menatap Hoon dan menyunggingkan senyum. Ia merasa, akan memenangkan pertandingan untuk mendapatkan Hoon dengan mudah. "Lalu kenapa kau menghampiri Mina barusan? Aku tak sengaja melihatnya dari kejauhan.” Hoon meletakkan sendok dan menatap Jae Kyung yang tepat di depannya. "Karena dia yang bertanggung jawab untuk peluncuran produk baru. Tentu, aku harus akrab dengannya. Bukan begitu, Nona Hanna?" ujar Hoon. Jae Kyung menatap Hoon tajam. "Namanya Hanna. Kenapa kau memanggilnya Mina? Tuan.. Jae Kyung Choi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD