Rumit

1789 Words
Beberapa macam lauk pauk sudah tersaji di atas meja makan. Jae Kyung hanya berdiri dengan melipat kedua tangannya di d**a. Melihat Hanna sibuk menyiapkan makan malam untuknya. Setelah meletakkan piring terakhir yang penuh dengan telur gulung—Hanna berkacak pinggang. Memicing ke arah Jae Kyung. "Silakan di nikmati, Tuan," sindirnya. Jae Kyung tertawa terpingkal. Berjalan ke arah Hanna, lalu duduk di kursi. Sementara, Hanna duduk di sisi kiri depannya. Menyumpit telur gulung. Mengunyahnya dalam satu suap. "Kau tak makan?" tanya Jae Kyung. "Aku sedang diet." "Aaah, begitu.. Tapi, kau tahu, kan? Aku pasti merasa sedih—kalau harus makan sendirian," dalih Jae Kyung. Memanyunkan bibir. Berpura-pura sedih. Hanna mendecak kesal. Lalu, pergi ke dapur untuk mengambil nasi. Jae Kyung tersenyum kecil. Menyumpit nasi. "Kalau berat badanku naik setelah ini. Kau harus bertanggung jawab! Temani aku lari pagi setiap hari!” Lagi-lagi, kalimat Hanna membuatnya terpingkal. "Aku paham. Sudah, ayo kita makan." "Tapi, di mana Dong Hoo? Setiap aku kemari, selalu tak melihatnya." "Aaaah, dia sedang tidur." Hanna mengangguk paham. Lalu, menyumpit sayuran dan melahapnya. Di detik selanjutnya, ia mengernyitkan hidung dan menjulurkan lidahnya. "Asin." Hanna melihat Jae Kyung tampak lahap memakannya. Membuatnya terperanga. "Kenapa?" tanya Jae Kyung, masih sibuk mengunyah. "Sayurannya tidak asin?" "Tidak, Ini enak." "Benarkah?" Hanna mengerutkan kening. Mendesis. Kemudian, mencoba hidangan lainnya. Sekali lagi ia mengerutkan hidung. Dan, membanting sumpitnya. Membuat Jae Kyung berjengit kaget. "Jangan bercanda! Katakan saja jika masakanku tidak enak! Jangan bersikap sungkan denganku.” Hanna menjadi kesal tiba-tiba. "Kenapa? Memang, masakanmu enak.” Hanna menekuk wajahnya, melihat Jae Kyung masih lahap. "Aaaah, iya. Bagaimana suamimu? Sudah ada kabar darinya?” Hanna menggeleng. Wajahnya murung seketika. Hanna sudah menceritakan masalahnya pada Jae Kyung. Tentang bagaimana dia menikah dengan Hoon. Lalu, tentang sibuknya Hoon. Tentu, Hanna tak menceritakan siapa Hoon atau pun namanya. Karena, tetap. Itu harus menjadi sebuah rahasia. "Mungkin dia memang benar-benar sibuk. Jangan khawatir. Dia pasti segera menghubungimu.” “Yah.. Semoga.” "Kau benar-benar mencintainya?" “Tentu. Hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki." "Tapi, kenapa kau tinggal di Indonesia? Sementara, suamimu bekerja di Korea? Apa tak sebaiknya kau ikut suamimu?” “Entahlah,” kata Hanna. Menggidikkan bahu. “Sebenarnya, aku tidak ingat bagaimana aku bisa di sini. Yang aku ingat hanya— ketika aku terbangun, aku berada di rumah sakit dan ada seorang pria yang mengatakan jika aku adalah istrinya." Jae Kyung terkesiap mendengar ceritanya. Dia meletakkan sumpit, mengerutkan kening. "Lalu .. Kau percaya begitu saja dengannya? " "Iya. Karena, memang aku tak ingat satu hal pun tentang diriku. Jadi, aku memutuskan untuk percaya padanya.” Bola mata Jae Kyung berputar pelan. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Sementara, Hanna melirik jam tangannya. Lalu, terkesiap. "Sudah pukul 22.00 malam! Aku belum selesai mempersiapkan berkas untuk rapat besok,” gumamnya. “Pak Jae Kyung, maaf. Aku harus segera pulang." "Huh? Kenapa terburu-buru?" "Mmmm.. Aku lupa masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan.” “Pekerjaan kantor?” “Iya.” “Hei, tenang saja. Aku Bos-mu. Aku akan memakluminya nanti.” “Hei.. Tidak bisa begitu. Pekerjaan itu tanggung jawabku. Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok.” Hanna berlari ke pintu, seraya melambai. Sedangkan, Jae Kyung mengistirahatkan dagunya di atas tangan. Di detik selanjutnya, Dong Hoo keluar dari kamar yang tak jauh dari ruang makan. "Dong Hoo, cari informasi siapa suami Hanna. Dan di rumah sakit mana ia di rawat saat di Indonesia.” "Baik. Tapi, Pak, Apa Anda yakin jika dia adalah Mina?" "Entahlah. Tapi, hatiku mengatakan jika dia memang Mina," ujarnya, menatap lurus ke depan. "Tapi, saat ini ada hal penting yang harus kau lakukan.” “Iya, pak. Aku harus melakukan apa? Mengintip rumahnya? Atau mencari tahu informasi dari sahabatnya?” Jae Kyung berdiri. "Ambilkan obat sakit perut," rintihnya, menepuk bahu Dong Hoo, dan segera berlari ke kamar mandi. Pantatnya mengeluarkan suara gaduh yang unik, disertai dengan bau menyengat seperti sampah basah. Dong Hoo mengerutkan hidung dan mengibaskan tangannya untuk menghilangkan bau. "Kalau masakannya memang tidak enak, kenapa kau harus berpura-pura memakannya.” Dong Hoo mendecakkan lidah. Menggelengkan kepalanya. ** Pukul 07.40. Hanna sudah berada di kantor. Membantu Rani dan yang lain, mempersiapkan keperluan rapat yang tertunda beberapa waktu yang lalu. Meski, jabatannya hanya seorang penerjemah— tapi, jika tak ada dirinya rapat takkan berjalan lancar. Semua berkas yang di perlukan untuk rapat maupun yang lain—dia yang menyusunnya. Hanna adalah tipe gadis yang sangat bertanggung jawab. Merasa gerah, ia mengeluarkan pita rambut dari saku blazer-nya. Pita rambut pemberian Hoon. “Aku mau beli kopi. Kalian mau?” tawar Hanna. Setelah, memeriksa semua berkas. “Aku strawberry Frappe dengan banyak krim, ya?” kata Rani. “Aku juga sama dengan Rani.” Satu koleganya yang lain ikut memesan. Seorang pria. Hanna pergi ke kantin kantor, yang juga menyediakan berbagai macam minuman. Setelah selesai dengan pesanannya, Hanna berlari kecil ke arah lift yang sudah ada beberapa orang di dalamnya. Hanna memilih berdiri paling belakang. "Selamat pagi, Mina," sapa Jae Kyung, berdiri di samping Hanna. Mendadak itu membuat Hanna kaget. Menengok ke sisi kanannya. "Pak Jae Kyung— Selamat pagi." "Pagi sekali datangmu. Semalam, bukannya kau lembur?” "Iya. Aku baru saja membantu Rani untuk mempersiapkan keperluan rapat.” Jae Kyung mengangguk. "Aaah, apa kau sudah tahu? Dalam peluncuran parfum ini, aku memakai 2 model Korea Selatan yang tengah naik daun.” Jae Kyung tiba-tiba menjelaskan. "Sungguh? Siapa? Ah, percuma saja. Aku tetap tidak tahu siapa mereka.” "Kenapa? Oh, iya. Kau tidak pernah menonton TV. Kau tidak akan tahu siapa mereka." Hanna mengangguk. "Mereka sangat tampan dan cantik! Dengar-dengar, mereka sepasang kekasih.” "Sungguh? Mereka berkencan? Wah, itu akan menjadi poin plus untuk produk kita.” “Karena itu aku memilih mereka,” kata Jae Kyung, menjentikkan jari. "Kau pintar mencari kesempatan, eh? Tema kita memang sebuah percintaan. Dengan begitu, saat pemotretan— chemistry mereka akan mudah terbentuk.” "Correct!" Jae Kyung menjetikkan jari lagi. Tak lama setelah itu, pintu lift terbuka. Hanna tiba di lantai tujuannya. Dengan cepat, Jae Kyung memberikan roti lapis keju yang terbungkus kertas putih—yang sejak tadi di bawanya. “Untukmu. Semangat untuk hari ini.” Hanna tersenyum canggung dan keluar dari lift. Dong Hoo, dan beberapa pegawai yang lain menatap keduanya heran. ** Pukul 08.30 tadi, Hoon tiba di Bandara Soekarno Hatta bersama Ji Woon. Dan, juga Ji Yin. Berbeda dengan Ji Yin yang sumringah— Hoon terus menekuk wajahnya. Tidak tersenyum sama sekali. Perwakilan dari kantor, sudah menjemput mereka. Dan, kini ketiganya tengah di perjalanan menuju kantor. Hari ini adalah hari yang sibuk untuk Hanna, Jae Kyung serta yang lain. E.L parfum akan segera di luncurkan. Kesibukan itu, setidaknya membuat Hanna lupa akan masalah yang di hadapinya karena Hoon. Pukul 09.30 tepat, beberapa pegawai yang tergabung dalam Tim Pemasaran masuk ke ruang rapat. Duduk di kursi yang sudah di sediakan. Pun Hanna dan Rani. Selanjutnya Jae Kyung dan Dong Hoo masuk. "Mari kita mulai,” kata Jae Kyung, sesaat setelah duduk di kursinya. Di awal, Kepala divisi pemasaran yang memberi sambutan. Dan, memberi tahu tujuan rapat ini diadakan. “Sebelumnya, aku sudah memberitahu pada kalian, jika harus menyumbang ide untuk peluncuran parfum ini. Aku yakin, kalian sudah membuatnya. Dan, sekarang kalian harus menjelaskan di depanku juga Pak Jae Kyung,” jelas Roy—Kepala divisi. Satu per satu dari mereka, melakukan presentasi. Mereka hanya di beri waktu 5 menit untuk menjelaskan konsep yang di usungnya. Setelah, 5 pegawai melakukan presentasi— kini giliran Hanna. Dia menelan ludah gugup. Berdiri. Dan, berjalan ke ujung meja lain yang terdapat layar proyektor pada dinding. Hanna membawa botol parfum yang berbentuk separuh hati dan berwarna kristal ungu.” "Perkenalkan, aku adalah Hanna Jang— penerjemah di kantor ini. Untuk peluncuran kali ini, target kita adalah muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Kenapa? Karena tema kita adalah tentang cinta. Seperti nama parfum ini Everlasting Love yang berarti cinta selamanya atau cinta terakhir. Tentu saja, kita tidak akan membuat peluncuran kali ini menjadi acara yang biasa. Untuk itu, Direktur kita— Pak Jae Kyung mengundang 2 artis yang sedang populer di Korea Selatan. Konsep yang aku buat adalah dengan mengadakan live musik dari band lokal. Juga, mengundang beberapa artis Ibukota. Juga, pembagian sampel gratis untuk mereka yang datang di acara peluncuran. Dan, ini aku adakan untuk umum. Jadi, siapa saja bisa datang untuk melihat langsung acara yang akan menjadi spektakuler. Juga! Para pengunjung akan mendapatkan tanda tangan dari 2 model kita. Tapi, ada syaratnya. Hanya untuk 100 pembeli pertama. Lalu, aku sudah membuat satu slogan untuk peluncuran parfum ini yaitu : Your fragrance, made me remember all the wonderful things in life. Aromamu, membuatku mengingat semua hal indah dalam hidup. Kenapa aku membuat slogan seperti itu? Karena menurutku, ketika kita menghirup beberapa aroma— entah aroma hujan, aroma udara di pagi hari dan juga aroma lainnya. Akan membuat kita ingat beberapa hal yang terjadi dalam hidup kita. Sekian presentasi dari saya. Setelah menutup presentasi, mereka yang berada di ruangan. bertepuk tangan untuk Hanna. Tidak terkecuali, Jae Kyung. "Aku setuju dengan Nona Hanna. Itu ide yang sangat bagus. Untuk itu kita harus bekerja sama dalam-“ "Pak, mereka datang," bisik Dong Hoo. Membuat kalimat Jae Kyung terhenti. "Kebetulan sekali, 2 model kita sudah tiba di sini. Sekalian saja, aku perkenalkan pada kalian.” Terlihat semua pegawai sangat antusias untuk melihat artis dari Korea tersebut. Jarang-jarang, bisa melihat orang yang biasanya hanya ada dalam TV. Begitu juga dengan Rani dan Hanna. "Hei.. aku sangat penasaran," bisik Hanna. Begitu kembali ke tempat duduknya. "Kau pasti tercengang! Dia sangat tampan." Rani ikut berbisik. Tak lama setelah itu, Pintu ruangan terdorong masuk. "Perkenalkan saya adalah Hoon Park. Atlet UFC dari Korea Selatan." Hanna terkejut, membelalakkan matanya. Langsung berdiri dari kursi. "Hoon?" katanya, mengerutkan kening. Mendadak itu membuat Hoon dan yang lain memandang Hanna. Sikap serupa ditunjukkan oleh Hoon. Dia melebarkan mata serta mengernyit. "Hanna.." katanya lirih. -Extra- “Antara aku dan Hoon.. Mana yang lebih tampan? "tanya Jae Kyung, berbalik, menghadap Hanna. Hanna tersenyum. "Lalu, jika aku bertanya— antara aku dan Mina.. Siapa yang lebih cantik? Bisakah kau menjawab?" Jae Kyung terdiam sejenak. Lalu, ia tertawa terpingkal. "Kau juga tidak bisa menjawab, kan?" Hanna tersenyum. Seiring dengan bus yang akan di tumpangi Hanna tiba. "Busnya sudah datang," kata Jae Kyung, berdiri. Satu tangannya di masukkan dalam sakunya. Hanna juga berdiri. "Kalau begitu, sampai bertemu besok." Hanna melambai kecil. Berjalan mendekati pintu bus. "Keduanya mawar. Keduanya indah—tapi, ketika salah satu aku genggam, aku akan terluka." Hanna berhenti sejenak, kemudian menghadap Jae Kyung. "Dan, ingin kau apa kan bunga itu?" "Aku akan menunggunya untuk mekar dan akan ku tawarkan kehidupan baru." "Di antara bunga itu— mana yang akan kau pilih?" "Jika bunga di depanku bisa dikatakan sebuah pilihan, maka aku akan memilihnya," jelas Jae Kyung, lalu berjalan pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD