Mina Atau Hanna, Tidak Masalah Bagiku

3795 Words
6 hari sudah berlalu. Setelah kejadian di koridor kantor tempo hari— Ketika Jae Kyung mengatakan kalau Hanna adalah Mina. Membuat pikiran Hanna tersita. Siapa sebenarnya Mina? Dan, seberapa mirip wajahnya dengan Mina? Sehingga, Bos di kantornya sampai tertipu. Pukul 18.30 saat ini. Hanna sedang duduk di ruang TV. Menggenggam ponselnya. Sesekali melirik layar ponsel. Menunggu kabar dari Sang suami—Setelah, 5 hari yang lalu Hoon mengirim pesan. "Hanna.. Maafkan, aku. Aku akan sibuk selama beberapa bulan mendatang. Sebisa mungkin, aku akan menghubungi dirimu. Jaga dirimu.” Setelah mengirim pesan itu— Hoon tidak lagi memberi kabar sampai hari ini. Panggilan Hanna juga diabaikan. Pun dengan Ji Woon. Ia selalu buru-buru menutupnya ketika Hanna meneleponnya. Menduga-duga apa yang terjadi. Hanya ada 2 kemungkinan. Pertama. Hoon benar-benar sibuk. Kedua. Hoon benar-benar sibuk dengan kekasih barunya? Hanna terkesiap dengan pemikirannya sendiri. Menggelengkan kepala dengan cepat. Juga memejam kesal. "Haaaah! Kenapa akhir-akhir ini, tidak ada yang berjalan lancar di hidupku! Tuhan.. Apa salah hamba mu!” Hanna meracau. Menengadahkan kedua tangannya. Dan, mendongak. DINGDONG! Seseorang membunyikan bel rumah Hanna. Sesaat ia mengernyit. Kemudian, mengembangkan senyum. Hingga sederet gigi rapinya terlihat. Hanna melompat girang dari sofa. Dan, berlari ke arah pintu. Membukanya dengan semangat. Saat pintu sudah terbuka, senyumnya berangsur hilang. Sempat, ia berpikir Hoon akan datang dengan kejutan lagi. Tapi, nyatanya tidak. Dahi Hanna berkerut. Menatap seseorang di depannya. Seorang pria yang mengenakan kemeja hitam dan celana model sobek. Juga semerbak parfum yang menusuk hidung. "Pak Jae Kyung?" kata Hanna. Jae Kyung tersenyum lebar. "Kau ingin meminta bantuan lagi?" Jae Kyung mengangguk malu. "Kau.. punya waktu?" Hanna mendengus di sertai tawa. Keduanya jadi lebih akrab, setelah kejadian salah paham di lobi tempo hari. ** "Kau.. adalah Mina." “Ada apa denganmu? Saya bukan Mina. Saya Hanna. Hanna Jang!” Saat pandangan Jae Kyung nanar. Genggamannya melonggar. Ketika itu lah, Hanna buru-buru menarik tangannya. Mengusap-usap pergelangan tangannya. “Sungguh? Kau bukan dia?” Hanna menghela napas pendek. “Maaf, jika kata-kataku akan mengecewakanmu. Pertama. Saya tidak mengenalmu. Kedua. Jika, saya saja tak tahu siapa Anda.. Jadi, apa mungkin saya teman Anda?” Jae Kyung mengangguk bingung. “Karena memang kalian terlalu mirip. Maafkan, saya. Saya sungguh menyesal. Tangan Anda tidak terluka?” “Tidak apa-apa. Saya pergi dulu.” Hanna bergeser ke samping. Dan, berjalan pergi meninggalkan Jae Kyung yang masih bingung. Hanna dan Rani kembali ke ruangannya. Pikiran Hanna terusik karena Jae Kyung. Duduk pun ia gelisah. Sangat penasaran, bagaimana wajah Mina. "Sebenarnya, siapa Mina? Apa mungkin pacarnya?" gumamnya. Hanna menggoyangkan kursi akrilik-nya ke kanan dan kiri. Kemudian, berhenti di sisi kanan. Menghadap Rani yang tengah sibuk dengan keyboardnya. "Rani .. Apa kau bisa menemukan seseorang bernama Mina melalui Internet?" "Hei.. Di dunia ini banyak yang bernama Mina. Nama lengkap. Tempat tinggal. Pekerjaan. Setidaknya, kita harus tahu hal itu.” Hanna mendesis. Berpikir sejenak. "Kalau begitu.. Bagaimana kau mencari Mina yang tinggal di Korea Selatan? Atau kau cari nama Direktur Dalmoon corp,.? Mungkin berhubungan dengan seorang gadis yang bernama Mina." "Jae Kyung Choi, maksudmu?" jawab Rani. "Jae Kyung.. Choi?" Hanna mengulangi perkataan Rani, dengan ragu. Rani mengangguk. "Yap. Itu nama Direktur kita." Sementara, Rani sedang mencari informasi melalui mesin pencarian di komputernya, Hanna terus menggumamkan nama tersebut. "Jae Kyung .. Jae Kyung. Tampaknya, nama itu familiar di telingaku." Di sepersekian detik kemudian telinganya berdenging seperti pagi tadi. Kepalanya terasa sakit. Sampai-sampai, Hanna mengerutkan matanya. Di dalam otaknya, memutar sebuah potongan kejadian. Di mana Hanna berdiri di depan sebuah gedung. Dan, ketika itu butiran salju turun tak begitu lebat. Di depannya, berdiri seorang pria— mengulurkan tangan dan tersenyum. Tapi, wajah pria itu terlihat samar-samar. Semakin Hanna mencoba untuk mengingat wajah pria itu, rasa sakit di kepalanya bertambah. Matanya memerah, butir air mata berada di sudut, seakan siap untuk meluncur ke bawah. Dia merasakan seperti ada sesuatu yang berat menahan dadanya, sehingga ia sulit untuk bernapas. Hanna membuka mulutnya untuk mencoba bernapas. Hingga otot di lehernya menonjol. Namun, seakan mulutnya tersumbat dan ia terengah-engah. Tangannya erat mencengkeram tepi meja. “Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba aku merasakan sakit ini?” "Ah! Hanna, aku menemukannya. Mina adalah-" Rani tidak melanjutkan kata-katanya, karena melihat temannya itu mengerang kesakitan. Rani melebarkan mata dan segera menghampiri Hanna. "Hanna! Ada apa denganmu? Hanna!" Rani berusaha menopang bahu Hanna dengan kedua tangannya. Agar tak terjatuh. Kejadian itu membuat beberapa pegawai yang satu ruangan dengan mereka, bergegas mendekati Hanna. Suara Rani hanya terdengar seperti sebuah dengungan di telinga Hanna. Hanna ingin menjawab. Namun, tak sanggup. Ia terlalu sibuk untuk mengatasi rasa sakit yang dirasakannya Setelah sepersekian menit, ia bertahan. Tubuhnya makin. Dan, Rani tak dapat lagi menopang Hanna. Ia terjatuh bersama Hanna di atas tubuhnya. ** Beberapa jam telah berlalu, Hanna masih belum membuka mata. Ia berbaring di ruang kesehatan di kantornya. Rani dengan setia berada di sampingnya. Menunggu dengan cemas. Jemarinya saling mengepal. Bertautan. Dengan bergerak gelisah. Helaan napas panjang dilakukan olehnya. "Apa.. Sebaiknya aku menghubungi suaminya? Hanna.. Malang sekali nasibmu. Jauh dari keluarga dan suami. Kondisimu malah seperti ini.” Tak lama setelah gumaman Rani, mata Hanna sayup terbuka. Perlahan. "Hanna! Syukurlah, kau sudah sadar,” pekik Rani, memegang dadanya. “Jantungku rasanya tidak karuan. Aku takut ada apa-apa denganmu.” Bibir pucat Hanna mulai bergerak. "Apa aku berada di surga? Kenapa aku melihat bidadari secantik ini," gurau Hanna. Rani mendengus. "Kau masih bisa bercanda? Berarti, kau baik-baik saja!” ucap Rani. “Kau di ruang kesehatan sekarang. Tunggu.. Biar, aku panggil Dokternya.” “Tidak perlu. Aku sudah mendengarnya. Lagi pula jaraknya hanya beberapa langkah dari ranjang itu,” cetus pemuda dengan wajah seperti karakter komik : Dokter di Perusahaan Dalmoon Corp,. Rani terkekeh. Berdiri. Mundur satu langkah. Membiarkan Dokter memeriksa Hanna. Sedangkan, yang di periksa mengedarkan pandangan dengan mata yang masih sayu. Tubuhnya masih terasa lemas, saat ia mencoba untuk bangun. “Kalau masih merasa lemas, lebih baik berbaring saja. Jangan dipaksakan,” kata Ali—nama Dokter tersebut. Hanna mengangguk. “ Kau tidak merasa pusing?" "Tidak. Hanya sedikit lemas." “Aku akan memeriksa tekanan darahmu.” Hanna mengangguk kembali. "Dokter, apa aku menderita penyakit yang berbahaya? Hari ini.. Sudah 2 kali kepalaku terasa pusing. Dan, telingaku berdengung,” tanya Hanna. “Aaah, juga, di dalam kepalaku seolah ada sebuah kejadian yang sepertinya pernah aku alami—tapi, aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.” “Apa mungkin itu ingatanmu tentang masa lalu?” tanya Ali. “Kau pernah mengalami kecelakaan?” "Sepertinya begitu. Suamiku, pernah bercerita, jika aku mengalami kecelakaan sebelum datang ke Indonesia. Tapi.. Kata suamiku—aku hanya tak bisa mengingat kenangan saat menikah dengannya. Juga, pada awalnya aku tak mengingat dirinya.” Ali mengangguk paham. Menghela napas pendek. "Kasus yang terjadi di dalam tubuhmu, biasanya dialami oleh seseorang yang telah mengalami kecelakaan dan kehilangan memori di otaknya. Disebut Amnesia." "Amnesia?" "Iya. Tapi dalam kedokteran, ada beberapa jenis Amnesia. Ada yang hanya kehilangan sebagian ingatan. Ada pula yang kehilangan hanya dalam jangka pendek. Dan, yang terakhir adalah kehilangan seluruh ingatannya. Jika, mendengar dari cerita suamimu, mungkin kau hanya kehilangan sebagian ingatanmu. Jika, aku bisa menyarankan, sebaiknya kau melakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging) di rumah sakit. Untuk memeriksa kerusakan otakmu.” Hanna mengerutkan kening. "Aku.. Amnesia?” “Apa sebaiknya kau tak menghubungimu suamimu, Hanna?” tanya Rani. “Aku rasa begitu. Nanti, aku hubungi dia.” Tak lama kemudian, ponsel Rani berdenting. Kepala bagian pemasaran mengirim pesan agar Rani segera kembali ke ruangan. “Hanna.. Kau tidur saja di sini dulu. Pak Toni mencariku. Nanti, aku kembali.” Rani terburu-buru keluar dari ruang kesehatan. Dan, tak sengaja bertabrakan dengan Dong Hoo yang saat itu tengah melintas. Dong Hoo segera menangkap bahu Rani. “Kau tidak apa-apa?” Rani mengangguk. Masih terkejut. Kemudian, berdiri tegak. “Kau.. Yang di ruang rapat tadi, kan?” “Iya..” “Bahasa Korea mu cukup lancar, ya?” Rani mengangguk singkat. “Kalau begitu, aku duluan.” Rani berjalan pergi. Saat di langkah ke-5, Dong Hoo memanggilnya. “Tunggu!” Rani menengok. Dong Hoo berlari kecil. “Apa kau bisa memberitahuku di mana kantinnya?” Rani menghela napas panjang. “Ikut aku.” Keduanya pun berjalan berdampingan. Sesekali Dong Hoo melirik ke arah Rani. “Maaf, jika merepotkan mu.” “Aku memang sedang sibuk. Tapi, daripada nanti kau jatuh pingsan karena kelaparan— haaah, bisa repot aku.” Dong Hoo terkekeh. “Tadi, kau baru keluar dari ruang kesehatan, kan?” “Iya.” “Apa kau sakit?” “Tidak. Temanku yang sakit.” “Aaah.. Teman yang bersamamu di ruang rapat tadi?” “Iya. Hanna.” Sementara, di sisi lain kantor— Jae Kyung kembali ke ruangannya. Duduk di sofa dengan lemas. Mengambil dompet dari saku celana yang belakang. Membuka lipatan dompet. Mengambil sebuah foto. Selembar foto dirinya dengan seorang gadis yang mirip dengan Hanna. 3 tahun lalu, Jae Kyung bertunangan dengan seorang wanita bernama Mina Kim. Dari kepala hingga kaki—Hanna dan Mina memang sangat mirip. Seperti saudara kembar. Dan, setelah satu tahun bertunangan—Mina mengalami kecelakaan. Sekitar pukul 20.01 ketika itu, Jae Kyung sedang berlari dengan panik di rumah sakit—mengikuti ranjang brankar yang di dorong oleh beberapa perawat. Kemeja putihnya ternoda oleh darah. Keringat membasahi pelipis dan dahinya. "Mina, sadarlah!" gumamnya berulang. Begitu tiba di depan pintu ruang operasi, perawat mencegah Jae Kyung untuk ikut masuk. "Maaf. Anda harus menunggu di luar." "Tapi aku tunangannya! Aku harus menemaninya!" "Maaf, Pak. Ini adalah protokol rumah sakit. Anda harus mematuhinya.” Jae Kyung menunduk kesal. Lalu, mengangkat kepalanya. Menatap tajam perawat perempuan itu—dengan napas menggebu. “Kalian harus selamatkan dia! Harus! Jika, tidak.. Aku akan membuat bangkrut rumah sakit ini. Paham?” Sang perawat mengangguk. Kemudian, masuk ke dalam ruang operasi. Di detik selanjutnya, Jam LED di atas pintu mulai berjalan. Tanda, jika Mina mulai di operasi. Jae Kyung mulai berjalan mondar-mandir. Bahkan, untuk pergi ke kamar mandi saja tak dilakukan olehnya. Sesekali duduk. Dengan kedua kaki yang terus bergoyang. Gugup. Berdiri. Mendekati pintu. Menjauh lagi. Berjalan ke sana kemari lagi. Mengepalkan kedua tangannya. Layaknya orang yang akan berdoa. Tak lama setelah itu, seorang wanita paruh baya—dengan heels gemerlapnya datang. "Jae Kyung .." sapa wanita itu. Jae kyung yang tengah duduk dengan kepala menunduk, kemudian mengangkat kepalanya. "Ibu?" Jae kyung berdiri. "Apa yang terjadi? Mina .. bagaimana keadaannya?" "Sekarang.. Dia sedang di operasi, bu. Aku juga belum tahu kondisinya.” "Ya Tuhan! Kenapa ini bisa terjadi?” Young Shin Hwa— Ibu Jae Kyung. Wanita yang masih memiliki kulit kencang di usianya yang tak lagi muda. Polesan make up yang selalu tebal. Rambut keriting di atas bahu. Sedikit gemuk. Selalu memakai barang dengan merek termahal. Ambisius. Sangat menyayangi Jae Kyung. Ketika mendapat kabar, jika Mina mengalami kecelakaan, ia bergegas ke rumah sakit. “Ibu, kesini sendirian?” “Iya. Pak Lee mengantarkan Ibu kemari.” Bola mata Young Shin bergerak dari atas ke bawah. Melihat kondisinya anaknya yang mengerikan. Darah Mina yang sudah mengering masih menempel di baju—juga tangannya. Mulut Young Shin ternganga. “Astaga! Jae Kyung.. Lebih baik kau membasuh tanganmu dulu. Lalu, pergi menemui Pak Lee di tempat parkir. Dalam mobil Ibu, ada kaus mu yang sengaja ibu simpan.” “Tidak. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini, sebelum tahu kabar Mina.” “Biar Ibu yang di sini. Ibu juga takkan pulang. Cepat pergi.” “Tapi-“ “Jae Kyung!” Anak tunggal Young Shin itu pun segera berjalan pergi. Setelah melakukan apa yang di perintahkan Ibunya, ia kembali. Dan, terus menunggu operasi Mina selesai bersama Sang Ibu. Hingga, 3 jam berlalu. Jam LED di atas pintu—kolom detiknya berhenti bergerak. Pintu abu stainless bergeser terbuka. Dua sisi. Dokter keluar dari balik pintu. Segera Jae Kyung dan Young Shin berdiri. Dan, mendeakti Dokter yang masih mengenakan masker. "Bagaimana kondisinya? Apa.. dia baik-baik saja?" tanya Jae Kyung, mengerutkan kening. "Operasi berjalan lancar. Dia mengalami pendarahan luar dan dalam yang cukup membuatnya dalam kondisi kritis.” Jae Kyung menutup matanya erat-erat. "Tapi.. Beruntungnya, setelah operasi semua tanda vitalnya normal.” Lantas, Jae Kyung bernapas lega. “Kalau begitu, apa kita bisa menjenguknya?” tanya Young Shin. "Mmm.. Itu.. Pasien masih harus berada di ruang ICU.” "Kenapa?” tanya Young Shin lagi. "Pasien memang sudah melewati masa kritisnya saat operasi. Tapi.. Masa kritis lainnya baru di mulai. Karena trauma di kepalanya cukup berat— pasien mengalami koma.” Jae Kyung terhenyak. Melebarkan mata. Helaan napas pendek dilakukannya. Sementara, Young Shin menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Apa tidak ada cara lain agar dia cepat pulih? Huh? Aku akan membayar berapapun yang kalian minta,” kata Jae Kyung. “Dokter.. Tolong selamatkan kekasihku.” Nada putus asa terdengar saat Jae Kyung bicara. “Kami akan terus memantaunya. Dan, juga.. Kalian berdoalah. Karena, hanya keajaiban yang bisa membangunkannya.” Itu adalah masa paling berat untuk Jae Kyung. Hari-harinya menjadi kacau. Ia seringkali bolos kerja. Perusahaan jadi kacau balau. Dan, di ambil alih sementara oleh Young Shin. Setiap kali mengingat kondisi Mina— ia terus menangis meraung. Menyalahkan diri sendiri. Jika saja.. Andai saja.. Hanya itu yang selalu di katakannya. Air matanya selalu memberontak untuk keluar dari kantung mata. Hingga dari tahun ke tahun pun, tetap saja ia masih cengeng saat mengingat Mina. Terlebih, saat Mina menghilang. Seperti saat ini, ia memejamkan mata dan bersandar di sofa. Air matanya menetes di sudut mata. Dong Hoo yang baru saja memasuki ruangan. Hanya mampu menghela napas panjang. Merasa iba pada satu-satunya sahabatnya. "Pak.. Sudah pukul 17.00. Mari kita pulang." Jae Kyung menghela napas pendek. Membuka mata dengan berat. Dan, berdiri. “Iya. Ayo kita pulang.” Pun dengan Hanna yang juga akan pulang— sedang berjalan di lobi. Pandangannya masih nanar sejak Ali mengatakan tentang amnesia tadi. “Apa mungkin aku amnesia? Jika memang begitu.. Lalu, ingatan apa yang berusaha aku ingat itu?” kata Hanna dalam hati. "Hanna.. maaf, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku ada pertemuan keluarga mendadak. Ibuku baru saja mengirim pesan,” kata Rani. Berjalan di samping Hanna. “Jangan khawatir. Aku bisa naik bus.” "Apa kau yakin?" tanya Rani, khawatir. Hanna mengangguk. "Jika sesuatu terjadi padamu—kau harus cepat meneleponku. Paham?" pungkas Rani, memeluk singkat sahabatnya. "Aku tahu. Cepat pergi." Kemudian Rani berlari kecil, begitu mereka keluar gedung. Melambaikan tangan pada Hanna. Setelahnya, Hanna meneruskan langkahnya. Melewati taman kecil dengan pohon hijau yang di bentuk sedemikian rupa—di depan kantor. Berbelok ke kanan. Sejenak berhenti. Mendongak. Menatap langit oranye merah dengan gradasi ungu violet. Mengambil napas dalam-dalam. Mengembuskannya panjang. Dari kejauhan, mobil Jae Kyung baru keluar dari gedung. Berhenti sejenak, karena akan menyeberang. Tak sengaja, Jae Kyung menoleh ke arah Hanna berdiri. "Bukannya, itu Mina?" tanya Jae Kyung. "Ha-Hanna maksud Anda?" kata Dong Hoo. "Wajahnya terlihat lemas sekali. Apa dia sakit?” “Sebenarnya, tadi siang Bu Hanna pingsan dan di bawa ke ruang kesehatan.” Jae Kyung mengernyit. "Beri tahu sopirnya, kita akan mengikuti gadis itu." "Bukankah, lebih baik jika kita memberinya tumpangan?" "Dia akan menolaknya. Ikuti saja dia." "Baik." Selanjutnya, Dong Hoo mengatakan pada sopir di sampingnya. Dong Hoo sedikit banyak, bisa berbahasa Indonesia, dibandingkan Jae Kyung. Hanna berjalan ke halte bus terdekat. Dan, seperti keinginannya— Jae Kyung mengikuti Hanna. Mobilnya berhenti agak jauh dari tempat Hanna berdiri. Tidak lama, bus yang akan ditumpangi Hanna tiba. Di dalam bus, Hanna mengenakan pelantang telinga. Memutar musik. Dan, mencoba menutup mata. Merilekskan diri. Perjalanan dari kantor menuju rumah Hanna, memakan waktu 35 menit. Itu pun, jika lalu lintas sedang tidak ada hambatan. Begitu tiba, di tempat tujuannya Hanna turun. Dari tempat ia turun bus, Hanna harus berjalan 2 kilometer untuk tiba di kawasa rumahnya. Dan, mobil Jae Kyung masih mengikutinya. Saat, Hanna berbelok ke gang yang lebih sempit dan sepi— Jae Kyung berkata, "Berhenti. Aku akan turun." "Tapi, Pak-" “Aku akan turun!” Setelah mobil berhenti, Jae Kyung turun dan berjalan agak jauh di belakang Hanna. Dan di belakangnya, Dong Hoo mengikuti di dalam mobil. Kondisi yang cukup di katakan jika Jae Kyung tengah menguntit Hanna. Di menit selanjutnya, langkah Hanna terhuyung. Jae Kyung mengernyit dan berhenti sejenak. Pun dengan Hanna. Tubuh Hanna sekejap merunduk, seolah akan jatuh pingsan. Melihat itu, Jae Kyung berjalan cepat ke arah Hanna. Saat Hanna akan jatuh ke depan, dengan gerakan refleks Jae Kyung memegang kedua lengan Hanna. "Anda, baik-baik saja?" tanya Jae Kyung. Hanna menggeleng cepat, untuk menyadarkan dirinya. Kemudian menatap Jae Kyung dengan matanya yang mulai sayu. Mengernyit. "Pak.. Jae Kyung?” Hanna meluruskan punggungnya. Mencoba berdiri dengan tenaganya. Mundur selangkah. Jae Kyung melepaskan tangannya dari lengan Hanna. "Kenapa Anda berada di sini?" lanjut Hanna. "Saya juga tinggal di sekitar sini." "Ah, iya. Benar juga. Saya hampir lupa," ujar Hanna, terkekeh. "Apa.. Anda sakit? Anda tampak pucat." "Tidak. Hanya sedikit pusing." "Lebih baik, Anda naik ke mobil saya. "Aaah, tidak usah." Hanna ragu-ragu untuk menjawab. Jae Kyung mendesis, menarik tangan Hanna. "Rumah kita bersebelahan. Anda tidak perlu merasa sungkan." Jae Kyung mengajak Hanna, mendekati mobil. Membuka pintu. Dan, mempersilakan Hanna untuk masuk. Namun, Hanna diam. Menatap mobil dan Jae Kyung bergantian. "Terima kasih. Aku anggap.. Ini balasan karena aku sudah menolong Anda pagi tadi.” Jae Kyung tak ber-ekspresi. “Jadi.. Anda yang membuatkan saya bubur?” Hanna mengangguk. Lalu, masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Hanna tertidur. Meski jarak untuk tiba di rumahnya sudah tak begitu jauh. Semua karena efek dari obat yang diberikan oleh Ali, beberapa jam yang lalu. Alih-alih membangunkan Hanna—Jae Kyung malah terus-terusan memandang gadis yang mengenakan kemeja hitam dengan rajutan bunga timbul di bagian d**a yang kiri. Juga celana jeans slim fit. Yang membuat tubuhnya terlihat kurus. Perasaan Jae Kung mengatakan, jika yang berada di sisinya saat ini adalah Mina. Bukan hanya karena wajah mereka mirip, tapi hati Jae Kyung terasa nyaman saat melihat Hanna. Ketika melewati gundukan semen, tubuh Hanna jatuh ke samping. Kepalanya tepat bersandar pada bahu Jae Kyung. Membuatnya tersenyum kecil. “Untuk beberapa menit.. Aku.. Akan menganggap mu sebagai Mina-ku.” Nona Ha-" "Sst! Biarkan dia tidur. Kau tunggu di luar mobil," perintah Jae Kyung. Dia tak ingin membangunkan Hanna. Karena Hanna terlihat sangat kelelahan. Dan sangat lelap dalam tidurnya. Kemudian, Jae Kyung mengambil ponsel dari saku celananya. Mengusap layar setelah mengetuknya. Masuk ke dalam fitur kamera. Jae Kyung melakukan selca dengan Hanna yang masih terpejam. Memiringkan kepala serta tersenyum. Suara yang ditimbulkan dari kamera membuat Hanna terbangun. Dengan segera Jae Kyung mengantongi ponselnya. Hanna mengedarkan pandangan dengan bingung. Lalu, terkesiap. “Maafkan, saya. Aaah, kenapa saya tertidur. Hehe,” Hanna terkekeh kikuk. “Seharusnya, Anda membangunkan saya.” “Tidurmu sangat pulas. Aku jadi tak tega. Maaf.” “Hei.. Harusnya saya yang meminta maaf.” Keduanya pun turun. Dari pintu yang berbeda. Hanna mengitari mobil. Berdiri di depan Jae Kyung. "Terima kasih untuk tumpangannya." "Tidak masalah.” Jae Kyung membuka pintu mobil, di saat Hanna mengatakan, "Apa .. Anda suka minum teh?" Tanpa berpikir lama, Jae Kyung menerima undangannya. Hanna merasa kurang berterima kasih, jika tak mengundangnya masuk—setelah apa yang di lakukan Jae Kyung untuknya. Setelah berada di dalam rumah, Jae Kyung duduk di sofa ruang tamu. Melihat sekeliling. Di detik selanjutnya, Hanna kembali dengan secangkir teh. "Anda tinggal sendirian di rumah ini?" "Untuk saat ini—iya." Hanna meletakkan teh di atas meja. "Untuk sementara?" "Rumah ini adalah milik suami saya." Jae Kyung melebarkan matanya. "Suami? Anda telah menikah?" "Ya. Kenapa?" Hanna terkekeh. "Mmm.. Anda masih terlihat sangat muda. Apa tidak terlalu cepat untuk menikah? Hehe.” Jae Kyung tertawa canggung. "Entahlah. Itu terjadi begitu saja." Jae Kyung mengangguk. Merapatkan bibirnya. Mengangkat cangkir. Menyeruput teh. Sekejap, ia memalingkan wajah dan mengerutkan hidung. Menjulurkan lidah. "Kenapa? Tehnya terlalu pahit? Mau aku tambahkan gula?” "Ti-tidak. Hanya masih panas." "Ah, iya. Kenapa sebelumnya Anda mengira kalau saya adalah Mina? Siapa dia?” Jae Kyung diam. Menarik keluar ponsel dalam saku celana. Menunjukkan foto Mina. Hanna terbelalak. Menutup mulutnya dengan tangan. "Wah,” katanya dengan dengusan. “Aku seperti melihat diriku sendiri. Ini adalah Mina?" Jae Kyung mengangguk. "Dia adalah tunangan saya." "Lalu, di mana dia sekarang?" Hanna bertanya, sambil melihat foto Mina dengan takjub. "Dia mengalami kecelakaan 3 tahun yabg lalu." Seketika, Hanna memandang Jae Kyung. "Aaah, begitu. Maaf.” "Tidak masalah,” kata Jae Kyung. “Suamimu jarang pulang ke rumah? Dia bekerja di Korea?” "Ya. Dia berada di Korea Selatan saat ini." Hanna menjadi gundah, bila ingat Hoon. "Kenapa? Apa Anda sedang bertengkar dengannya?" "Haaah,Tidak .." Hanna tersenyum kecil. "Hanna.. Saya ada 1 permintaan. Apa.. Saya boleh mengatakannya?" "Apa itu?" "Bisakah.. saya memanggilmu dengan nama Mina?" Hanna tak ber-ekspresi. Memandang Jae Kyung. "Mmm, jika Anda keberatan jangan-" “Silakan. “Huh?” “Kalau itu.. Membuatmu senang, lakukan saja.” Jae Kyung tersenyum. "Terima kasih." Hanna menggidikkan bahu dan tersenyum. Sementara, Jae Kyung menilik jam tangannya. “Lebih baik, saya pulang sekarang. Sudah pukul 21.00.” “Teh-nya tidak di habiskan?” Jae Kyung mengedip cepat. Tersenyum canggung. Mengangkat cangkir. Dan, minum dengan sekali teguk. Setelahnya, Jae Kyung keluar dari halaman rumah Hanna. Usai melihat Hanna menutup pagar— Jae Kyung berlari dengan kencang menuju rumahnya. Dong Hoo yang terkejut mengikutinya. “PAK!” Jae Kyung mengabaikan teriakan Dong Hoo. Ia terus berlari dengan menekan perutnya. Mencoba membuka pintu yang masih terkunci. “DONG HOO! CEPAT BUKA PINTUNYA!” Kaki Jae Kyung bergerak gelisah. Menyilang. “Pak.. Anda baik-baik saja?” “Mmmm.. Aku..” Pantatnya bergemuruh. “DONG HOO! JANGAN BANYAK BICARA! INI SUDAH MAU KELUAR!” Setelah pintu terbuka— Jae Kyung menerobos masuk. “SIAPKAN OBAT DIARE!” Lagi. Hanna memasukkan garam pada teh, alih-alih gula. ** Ini adalah yang ke-sekian kalinya—Jae Kyung selalu mengusik Hanna. Setiap hari, selalu meminta bantuan pada Hanna. Kali ini, ia meminta Hanna untuk memberitahunya, bagaimana cara menggunakan mesin penanak nasi. “Setelah mencuci beras, kau harus mengisinya air lagi. Dengan takaran setengah ruas jari. Lalu.. Masukkan wadah yang berisi berasa ke dalam sini.” Hanna memperagakannya. Sedangkan, Jae Kyung hanya mengangguk di belakangnya. “Kemudian tutup. Tancapkan kabelnya. Dan, tekan tombol Cook ini. Selesai.” “Lalu.. Bagaimana aku tahu jika nasinya sudah matang?” Hanna menghela napas. “Nanti lampunya akan berpindah pada tulisan Warm ini,” jelas Hanna. Kemudian mendesis. “Kau.. Benar-benar tak pernah masak nasi? Sekalipun?” Jae Kyung mengangguk. “Waaah. Aku beruntung sekali, punya teman yang kaya raya sepertimu.” Seiring kedekatan mereka, Jae Kying meminta agar Hanna bicara dengan santai terhadapnya. Tak perlu terlalu sopan. “Kita sudah masak nasi. Lalu, kita makan malam apa kali ini?” Jae Kyung berpura-pura berpikir. Sementara, Hanna menarik sudut bibirnya ke atas. “Kau belum masak lauknya, kan?” “Haha. Iya.” Hanna menghela napas panjang. “Apa jadinya kau tanpa aku?” Hanna meyombongkan diri. “Mungkin, aku jadi hantu yang kelaparan,” canda Jae Kyung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD