Beautiful Boss 8

880 Words
Keesokan harinya, difia dan daniel pun masuk ke kantor seakan tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Mereka bingung harus bersikap bagaimana, takut ada yang curiga. Ya mereka semua memang sudah sepakat untuk menutupi hubungan mereka dengan dalih keprofesionalan tapi entahlah hanya mereka berdua dan tuhan yang tau alasan sebenarnya. Setengah hari telah berjalan , semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing, baik difia di sibukan dengan berkas berkas ataupun keluar meeting , begitupun dengan daniel di sibukan dengan deadline marketingnya dari difia hingga sore hari ketika jam pulang kantor entah bagaimana mereka berdua bertemu di depan lift, difia di depan lift khusus petinggi kantor dan Daniel di depan lift umum namun tetap berdampingan. Canggung? Jelas. mereka malah saling tatap tatapan sejenak dengan diam hingga difia lah yang memutuskan kontak mata mereka saat sadar beberapa karyawannya ingin masuk lift dimana Daniel berdiri. Difia pun berjalan dahulu kemudian di susul Daniel menuju parkiran kantor dan barulah daniel mencoba membuka suara setelah perdebatan batin antara dia dan hatinya ketika sudah sampai parkiran dan merasa aman untuk berbicara. " sudah mau pulang bu?" Tanya daniel sopan ketika sedikit lagi mereka pisah arah di parkiran, difia hanya berdehem dan menjawab iya. " Boleh kita bicara? Kalau pun ibu punya waktu" daniel yang biasanya pecicilan entah kenapa merasa nyali nya ciut saat ini ketika di dekat difia " Boleh,saya juga ingin bicara" Jadilah mereka ke salah satu cafe tapi lumayan jauhan dari kantor mereka agar terhindar dari mata anak anak kantor. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit karena sedikit macet , sampai lah mereka di salah satu cafe yang bergaya modern dan mereka pun memilih tempat duduk di pojokan agar mereka bisa bicara dengan bebas. " Hmmm, begini bu saya mau bicara soal pertunangan kita dll" daniel kembali membuka suara pertama ketika melihat tanda tanda difia tak akan memulai percakapan terlebih dahulu " Tidak usah panggil saya bu, anda juga lebih tua kan dari pada saya. Panggil difia saja ini sudah di luar kantor" Daniel memicingkan matanya " Tapi tidak usah sampai bilang saya tua juga kali bu, saya juga masih 29 and I am still handsome" Difia hanya berdehem dan difia piker Daniel akan calm terus tapi difia lupa siapa Daniel sebenarnya, raditya pecicilan Daniel yang akan terus begitu tingkahnya. Astaga, cuek sekali calon istriku ini. Batin daniel " Ya sudah bagaimana menurut ib - ehhh maksud saya aaa kkaammuu" sambil garuk tengkuknya yang tak gatal "Kita beraku kamu saja ya soalnya bagaimana gitu" ucap daniel sambil nyengir "Iya boleh" masih dengat flat face " Jadi bagaimana menurut kamu soal pertunangan kita dan pernikahan kita nantinya, kita harus bagaimana?" " Kita rahasiakan saja" Daniel mulai gregetan soalnya difia kalau bicara langsung to the point tidak ada basa basinya, singkat padat dan kadang tidak jelas. Hahahhaha Batin daniel " Fia bisa tidak kamu itu bicaranya sedikit panjangan, irit sekali kamu bicara. Kamu sariawan atau bagaimana?" Difia malah mengkerutkan keningnya dan hanya berdehem.. " Tuh kan berdehem lagi, bicara fia. Mana bisa terjadi kesepakatan kalau kamunya cuman hmmm iya hmm iyaaa, aku tuh bingung" ucap daniel sedikit gregetan dalam bicara. Dengan helaan nafas difia pun mulai bicara sesuai permintaan daniel " begini mau aku tuh, kita rahasiakan hubungan yang terjadi dengan kita untuk saat ini, seperti yang kamu katakan dulu di rumah saya akan tidak mengenakan jika kita tiba tiba mengumumkan hubungan kita nantinya apalagi kamu masih kategori karyawan baru di kantor, jelas pasti ada bisik bisik dari yang lain, kita bersikap sewajarnya saja jika berada di luar rumah apalagi di kantor, untuk di rumah terserah lah nanti bagaimana. Mau kamu bikin surat perjanjian atau apa seperti yang di cerita cerita  w*****d terserah saya tidak jadi masalah yang jelas kita nantinya sama sama di untungkan saja" ucap difia santai Daniel tiba tiba memberi uplouse " Amazing, baru kali ini saya lihat seorang difia dilmurat bicara panjang kali lebar" ucap daniel dengan kembali memperhatikan deretan gigi putihnya "bagaimana setuju? Atau ada yang ingin kamu tambahkan?" Ucap difia dingin " Hmm aku sih setuju setuju saja dan kita tidak usahlah buat surat perjanjian atau semacamnya kita sama tau saja lah. Untuk soal sesudah kita nikah nanti, kita bahas nanti sajalah setelah nikah. Aku juga belum kepikiran mau berbuat apa" Dan percakapan antara daniel dan difia di akhiri tatkala suara adzan magrib berkumandang dan difia pamit untuk sholat di musholah cafe, bukan berat hati sih tapi melihat difia untuk sholat membuat daniel juga tergerak hatinya untuk sholat, maluu cuyyy calon bini mau sholat masa dianya duduk santai . dengan difia berjalan di depan, Daniel pun mengikut dan menuju tempat wudhu masing-masing dan setelah itu mereka pun sholat berjamaah di musholah itu. Seulas senyum terbersit di wajah mereka berdua tanpa mereka ketahui masing masing di saat mereka sama sama keluar dari musholla Fia panggil Daniel ketika difia hendak masuk ke dalam mobilnya, dan yang di panggilpun berbalik badan. aku rasa ada yang salah denganku deh dahi difia mengekrut karena tak mengerti arah pembicaraan Daniel tapi masih setia diam. Lain kali aku yang imamin kamu sholat ya, karena aku tidak rela deh orang lain yang jadi imam kamu ucapnya serius dan difia melongo mendengar apa yang barusan Daniel ucapkan. pulang sana, nanti saja di rumah kamu lanjut pikirkan aku dan Daniel pun langsung pergi meninggalkan difia masih dengan keterkejutannya atas ucapan Daniel, dan tanpa difia tau Daniel senyum-senyum sendiri setelah mengatakan isi hati konyol nya itu. apakah jatuh hati akan secepat itu? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD