Pukul 08.00 kurang 5 menit difia sudah berada di kantor, dia langsung menuju ruangannya untuk mengambil materi meeting nanti. Ya kali ini difia akan meeting dengan tim divisi marketing .
" Vira, ruangan udah siap?" Tanya difia saat memanggil vira ke ruangannya
" Iya bu, semuanya sudah siap"
"Terus kamu sudah hubungi bu utami dan anggotanya untuk meeting nanti?"
"Iya bu, dari kemarin saya sudah hubungi"
"Bagus . Oh iya jadwal saya hari ini apa saja?"
" Meeting jam 9 dengan divisi marketing, pukul 14.00 kunjungan ke lokasi pembangunan apartemen di daerah A bu dan pukul 7 malam diner dengan jesslyn fernandez untuk membahas kerja sama bu"
" Batalkan dinner saya dengan jesslyn nanti malam, saya ada acara keluarga dan ganti lain hari kalau ia tidak mau ganti model saja"
"Baik bu"
Vira pun pamit kembali ke tempat kerjanya dan tak terasa waktu berjalan dengan cepat kini saat nya meeting, difia sudah berada di ruang meeting 30 menit yang lalu dari waktu meeting yang di tentukan. Ya biasanya kalau ada meeting bosnya datang belakangan tapi tidak dengan difia dia selalu datang lebih awal dan jam 9 kurang 5 menit semua sudah kumpul di ruang meeting dan tepat pukul 9 meeting di mulai.
"Baiklah kali ini kita akan membahas tentang kemajuan penjualan apartemen terbaru kita dari divisi marketing, bagaimana kemajuan kalian?" Tanya difia ketika sudah membuka acara meeting tersebut
" Baik bu, saya sebagai manager dari divisi marketing telah membagi tugas ke anggota saya dan khusus bagian promosi penjualan saya percayakan ke daniel, jadi untuk lebih jelasnya kita dengarkan presentasi dari daniel" ucap utami
Daniel yang merasa punya tanggung jawab pun akhirnya berdiri untuk mempersiapkan presentasinya di depan bu difia..
" Sebelumnya terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan nya untuk saya, baiklah saya akan mempresentasikan hasil jualan kami" Kini daniel sudah memperlihatkan power pointnya di layar lcd dan para peserta rapat beralih pandangan ke layar dan saatnya daniel memprsentasikannya, asal kalian tau kalau saat Daniel bekerja itu sangat beda dengan sikap menyebalkannya saat tidak bekerja. Aura nya sangat keluar saat ia fokus bekerja , ketampanannya akan jauh berkali kali lipat terlihat dan dia juga tergolong orang cerdas namun kadang nyeleneh saja yang membuat difia illfeel kalau di luar dari kerjaan.
"Baiklah secara kesimpulan penjualan kita bulan ini meningkat hingga 50 % dari bulan sebelumnya dengan kita menggunakan media sosial untuk mempromosikan dan juga kita gunakan media digital seperti periklanan di tv" paparnya saat kesimpulan presentasi dari daniel dan peserta rapat memberikan applouse untuk daniel termasuk difia namun bukan difia kalau langsung begitu saja setuju, difia pun memberikan pertanyaan untuk daniel.
" Begini pak daniel memang penjualan kita bulan ini meningkat tapi bagaimana kalau pesaing kita juga melakukan hal yang sama dengan cara promosi kita otomatis akan terjadi pergeseran, cara apa lagi yang akan divisi marketing lakukan"
" Ya apa yang ibu katakana betul, tidak menutup kemungkinan pesaing kita juga akan melakukan hal yang sama dengan kita makanya untuk akun sosial media kita sudah ada elsa sebagai admin di situ jadi kita bisa update terus penjualan kita, promosi kita bahkan kita bisa mengeluarkan testimoni dari para pembeli kita agar yang lain bisa lihat hasil dari orang lain, sementara ini promosi di sosial media cukup membuat kita meningkat dan sambil promosi saya akan melakukan promosi lain tapi masih tahap diskusi dengan tim saya bu"
"Baiklah saya tunggu trobosan trobosan baru lagi dari tim kalian dan sekedar info saya akan menggait model terkenal Jesslyn fernandez untuk membantu kalian dalam hal promosi, silahkan pikirkan apa yang bagus untuk kita lakukan dengan bantuan model"
Dan ketika mendengar nama jesslyn para peserta rapat kaget karena model papan atas akan turut andil dan sudah jelas itu bukan biaya yang sedikit untuk menggait model tersebut namun difia tidak mempermasalahkan biaya tersebut karena begitulah difia saat bekerja ia tak tanggung tanggung, ia all out ketika dalam bekerja dan ia sangat berbeda ketika sudah bekerja, ia bisa sangat cerewet apalagi kalau saat debat atau saat ingin memenangkan tender.
"WOW" kata itu yang berhasil keluar dari mulut para peserta rapat kecuali vira dan daniel, jelas vira sudah tau jadi tidak heran lagi tapi berbeda dengan daniel entah kenapa ia tidak tertarik sama sekali.
"Baiklah meeting hari ini cukup sampai disini selamat siang dan selamat istirahat" ucap difia dalam menutup rapat kali ini karna tepat jam makan siang mereka istirahat, difia pun langsung bergegas meninggalkan ruang rapat di susul vira di belakangnya.
Dan waktu berjalan begitu cepat tak terasa semua meeting difia sudah terlaksana hari ini, difia memijit pelipisnya tanda ia pusing, jelas karena seharian meeting dan ketika pulang ke rumah sebentar ia akan bertemu calon suaminya yang orang tuanya sudah jadwalkan hari ini, ya jadwal pertemuannya di percepat. Acara sebelumnya akan di lakukan besok malam namun di ganti malam ini karena calon mertuanya tiba tiba akan ke luar kota besok dan difia menerima info itu ketika tadi pagi dia tiba di kantor sebelum meeting.
" Pak cepetan dikit ya bisa bisa nyonya besar ngamuk kalau saya tidak bisa ikut dalam acara makan malam " sambil melirik jam di Hp nya, ya pertemuan mereka jadwalkan pukul 19.30 malam dan kini sudah pukul 7 kurang 10 menit telatse dikit tidak apa apa lah batin difia karena ya jalanan lagi macet macetnya.
"Pak bangunkan saya kalau sudah sampai rumah" kemudian difia pun memejamkan matanya karena ia sangat butuh istirahat saat ini walau hanya beberapa menit..
Mobil marcedes benz hitam sudah terparkir di halaman rumah difia pertanda sang tamu sudah datang, sebelum membuka pintu rumahnya difia menghela napas panjang dulu persiapan untuk bertemu nyonya besar dan calon mertua. Dengan langkah santai difia membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya, ya tepat di ruang tamu sudah ada mami dan papinya juga dua sepasang suami istri yang tidak jauh beda seperti kedua orang tuanya dan sudah di pastikan mereka calon mertuanya tapi tunggu dulu kok tidak ada pria yang terindikasi jadi calon suami nya sih, atau jangan jangan mereka kemari untuk membatalkan perjodohan nya lagi, yesss. Gumam difia dalam hati dan untuk mengetahui kejelasannya ia pun memberanikan diri untuk jalan mendekati ke empat orang tersebut..
"Assalamu alaikum, maaf saya terlambat" ucap nya sedikit canggung karena langsung di tatap oleh ke empat orang tersebut ketika menyadari difia datang
" Waalaikummussalam" ucap mereka berempat bersamaan dan langsung di beri senyuman hangat oleh calon mertuanya
" Astaga tata, kamu buat mami khawatir deh. Mami kira kamu kabur lagi karena di telpo-telpon tidak aktif " candaan mami difia sontak membuat yang lain ketawa
" Kamu itu jeng ada ada saja, seperti tata masih anak SMP saja harus kabur kaburan" timpal calon ibu mertuanya dan yang di omongin hanya tersenyum kecut
" Maaf semuanya tadi jalanan macet sekali dan hp tata lowbat pas mau pulang tadi "
" Ya sudah, sana ganti baju nak adit juga ke toilet sebentar " perintah mami difia dan tanpa banyak bicara difia pun menaiki anak tangga untuk naik ke kamarnya
" Ehhh nak adit, tata nya baru saja pulang. Tunggu sebentar ya nak, dianya lagi ganti baju" ucap mami difia ketika adit sudah kembali bergabung dengan mereka dan adit hanya mengiyakan ucapan calon mertuanya itu
Berselang 10 menit kini difia pun berjalan menuruni anak tangga, gugup? iya pasti karena pemikiran akan batalnya perjodohan tidak terlaksana, penasaran? Lumayan karena ia khawatir kedua orang tuanya akan menjodohkan nya dengan pria tua yang kaya,gendut dan kumisan tapi mendengar namanya adit sepertinya calon suaminya tidak jauh beda umur dengannya.
" Ehhh ta, sini duduk" ucap papi difia ketika menyadari anaknya sudah berada di dekatnya dan menyuruh difia duduk di antara ia dan istrinya
" Dit, dit, itu tata sudah datang" ucap mami daniel berbisik di kala daniel sibuk main hp dan tidak menyadari kedatangan difia dan ketika daniel mendongak dan melihat calon istrinya
Jduarrrrrr .....
" kamu"
"Bu bos"
Kata itu yang berhasil keluar dari mulut mereka berdua di kala mereka saling berpandangan
" Ehh, kalian sudah saling kenal to?" Tanya mama daniel ketika menyadari anaknya dan calon mantunya saling melotot sampai bola matanya mau keluar * heheheh just kidding guys*
Mereka berdua hanya saling mengangguk , masih berusaha menenangkan hatinya atas keterkejutan yang melanda jiwa mereka , apalagi Daniel jujr ia terpesona karena baru pertama kali melihat difia beda dari yang sebelumnya ia lihat. Biasanya yang Daniel lihat difia memakai celana kain panjang, kemeja panjang dan juga blazer tapi malam ini difia membuat Daniel pangling, difia menggunakan dress navy di bawa lutut dengan model A dan lengan seperempat, pokoknya beda dari penampilannya yang biasa Daniel lihat
" Kok bisa? Ada yang mau bicara ? Jangan saling tatap-tatapan dulu nanti saja kalau sudah nikahnya puas puasin tuh tatap tatapannya" goda mami difia dan yang di goda langsung buang muka karena malu.
" Bu difia bos saya di kantor" daniel lah yang mulai berbicara
"Serius?" Tanya para kedua orang tua masing masing dengan kompak
" Oalaahhh kenapa kita tidak sadar ya mereka satu kantor selama ini, yang papa tau bos kamu namanya difia tanpa tau nama belakangnya dan bodohnya papa juga tidak Tanya kamu kerja di mana sedangkan mas afdal selalu panggil tata jadinya keliru begini lah" ucap papa daniel sambil terkekeh ringan
" Ya sudah tidak apa-apa jadinya mereka gampang buat deketnya karena sudah satu kantor" ucap papi difia
" jadi, boleh kita mulai acara intinya?" Tanya papa daniel
Dan kedua orangtua daniel pun mengutarakan niatnya untuk menjodohkan daniel dan difia, sebelum menikah mereka akan tunangan dulu sembari saling kenal dan pertunangan mereka akan berlangsung bulan depan, awalnya mereka tidak buru buru karena ingin daniel dan difia saling kenal dulu tapi melihat mereka sudah saling kenal malah satu kantor jadinya pertunangan mereka di percepat. Daniel dan difia pun hanya pasrah saja, beribu pertanyaan yang muncul di kepala mereka berdua tapi untuk saat ini mereka pendam dulu, mungkin butuh berdua saja untuk membicarakannya.
" Jadi nak adit / daniel ini karyawan di perusahaan kita ta?" Tanya mami difia ketika sudah duduk santai sehabis makan malam.
Difia hanya mengangguk
" Kenapa nak daniel memilih kerja sebagai karyawan di perusahaan lain ketimbang di kantor papa kamu sendiri nak? Kan bisa jadi CEO juga kalau di kantor sendiri" tanya mami difia ke daniel
" Mau belajar dari bawah dulu tant, kalau langsung jadi pemimpin kan sepertinya tidak etis saja walaupun saya bisa dan memilih perusahaan tante karena kalau di perusahaan papa walau saya jadi karyawan biasa tidak menutup kemungkinan saya akan di istimewakan makanya pilih perusahaan lain biar tau rasanya jadi karyawan biasa" ucap daniel panjang lebar dan difia yang mendengarnya sedikit kagum akan sosok daniel dan pertanyaan mami nya mewakili salah satu pertanyaan yang akan difia ajukan nanti ke daniel ...
" Gitu lah mbak mas, dulu pas selesai S2 nya dia langsung kerja di salah satu perusahaan di inggris selama 3 tahun lebih tapi saya bujuk pulang akhirnya pulang juga tapi malah kerja di tempat mas lagi bukannya di perusahaan saya. daniel memang keras kepala dari dulu di suruh gantiin papanya ia selalu menolak sedangkan cuma dia harapan satu satunya di keluarga kami karena adiknya masih kuliahs tapi tenang saja kalau udah nikah nanti sama difia dia akan gantiin saya kok, masa istrinya CEO dianya hanya karyawan istrinya" ucap papi daniel sembari bercanda
" tidak apa apa juga si faisal kalau daniel mau tetap kerja di perusahaan saya hitung hitung bantu difia juga kan karena kakak difia sama istrinya sepertinya sudah betah tinggal di boston mengurus cabang di sana" ucap papi difia
" Yaa enak di kamu rugi di saya dong dal, anak laki satu satu saya malah bantuin mertuanya di banding papanya" kedua orang tua itu pun kembali tergelak tawa, beda halnya dengan daniel dan difia, mereka hanya diam menyaksikan kedua orang tua mereka saling berinteraksi, sesekali bicara kalau di tanya. Entahlah mereka sibuk dengan pikiran masing masing
" Btw kenapa ini calon pengantin malah diam diam saja, kenapa niel? Takut bicara ya karena difia bos kamu di kantor? Tenang saja kalau di kantor difia bos mu yang bisa menyuruh kamu tapi kalau di luar dia calon makmun mu kamu bebas menyuruh dia" ucap mami difia dan daniel hanya membalas dengan senyuman
" Hmmm, sebelumnya saya minta maaf tapi untuk acara pertunangan saya dengan bu difia saya mau di rahasiakan saja dari media apalagi orang kantor karena saya rasa tidak enak saja bu difia bos saya tiba tiba akan menikah dengan karyawannya, jatuhnya nanti orang berpikir negatif lagi" kini daniel mencoba membuka suara walau agak takut takut karena nanti di kira ia menyembunyikan sesuatu lagi nanti tapi malah sebaliknya difia juga menyetujui ide daniel dan mau tidak mau para kedua orang tua juga harus setuju. Dan acara perkenalan itu di akhiri dengan penetapan tanggal pertunangan dan tempat pertunangan yang akan di adakan di jogja tempat nenek daniel berada dan setelah itu kelurga daniel pun berpamitan pulang ...