"Luka itu terus membekas meskipun telah lama, entah siapa yang sanggup menyembuhkan luka ini."
Lembar demi lembar Difia periksa hasil pekerjaan karyawannya, apalagi yang hasil laporan keuangan Difia harus lebih teliti agar tidak kecolongan seperti tahun lalu. Ada karyawannya yang berusaha memanupulasi data keuangan tapi tidak sampai akan buat perusahaan Difia bangkrut tapi yang namanya kejahatan besar atau kecil harus tetap di pertanggung jawabkan dan untungnya Difia adalah bos yang teliti jadi setelah di periksa bagian keuangan Difia periksa ulang lagi dan dapatlah ia tahun lalu hasil kejahatan karyawannya dan Difia pun langsung menyelidiki setelah benar-benar terbukti korupsi Difia pun memanggil tersangka tersebut untuk keruangannya dan yang terjadi, surat pemecatan di tangan beserta bukti-bukti hasil kejahatannya juga. Gempar lah satu perusahaan dan karyawan lain pun geleng-geleng kepala melihat hasil kerja Difia, walaupun Difia masih bisa di katakan golongan muda namun soal pekerjaan sudah tidak di ragukan lagi.
" Astaga sudah jam 8 malam ternyata, kenapa aku tidak sadar ya. Vira mungkin sudah pulang," Gerutu Difia sendiri dalam ruangannya yang kini sedang meregangkan otot-ototnya yang serasa kaku habis kerja sambil melihat jam di dinding dan keadaan di luar sudah gelap juga yang ia lihat dari balik jendela ruangannya. Difia pun merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang, setelah itu Difia pun berjalan keluar dari ruangannya.
"Benar Vira sudah pulang, wajarlah sudah pukul 8,” ucapnya ketika Difia melewati meja kerja Vira. Ya walaupun Vira sekertaris sang bos besar tapi kalau tidak ada kepentingan mendesak, Vira jarang lembur bersama bosnya. Ia di bebaskan pulang seperti karyawan biasanya pukul 17.00.
"Saya sudah di depan kantor kamu. " Begitulah bunyi pesan masuk di HP Difia saat ini dan jelas Jeremy lah pengirimnya, Difia hanya menghela napas pelan karena sebenarnya ia lelah , ingin langsung pulang tapi Jeremy tidak lelah untuk mengajaknya makan malam.
"Ehh bu Difia baru mau pulang juga bu?" tanya seseorang di saat Difia berjalan di lobby kantornya menuju pintu keluar.
"Iya." jawabnya singkat.
"Ibu tidak mau bertanya kenapa saya baru pulang jam segini?” pancing Daniel dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan sang bos cantik, toh sudah sepi juga jadi tidak akan ada yang bergosip di kantor ini, tapi Difia tetap diam dan terus melanjutkan jalannya dan hanya mengerling sejenak saat Daniel berusaha jalan di sampingnya.
“ Ya sudah kalau ibu tidak mau bertanya, berhubung saya orang baik,saya akan beri tau ibu alasan saya lembut. Jadi begini ceritanya bu, tadi ada sedikit laporan yang bu Utami minta harus saya selesaikan cepat jadinya saya lembur, begitu bu," jelas Daniel tapi yang di ajak bicara cuek bebek saja membuat Daniel diam-diam gemas pada bosnya ini.
“ Ibu tau tidak rasanya sakit gigi?” pertanyaan absurd Daniel sukses membuat Difia berhenti tepat di depan pintu keluar perusahaannya dan langsung menatap Daniel.
“ Seperti itu rasanya di cuekin sama ibu, nyiut-nyiut bagaimana gitu bu tapi di hati ini,” ucap Daniel dengan memegang dadanya dan Difia langsung membuang muka karena dia pikir Daniel akan serius bertanya tapi Difia lupa yang namanya Daniel, karyawan barunya itu akan selalu menyebalkan dan bikin naik tensi.
“ Apa hubungannya sakit gigi sama cuek?” batin Difia heran dengan tingkah karyawannya ini yang super ajaib bin aneh.
"Ohh iyaa, ibu pulang sama siapa?" Tanya Daniel ketika Difia hendak berjalan ke parkiran, tapi sebelum Difia menjawab tiba-tiba suara klakson mobil terdengar dan ketika menurunkan kaca mobilnya terlihat seseorang yang Difia coba hindari namun sayang pria itu tak menyerah.
"Hai Dif, yuk berangkat nanti restorannya tutup, " ucap Jeremy ketika menghampiri Difia dan Daniel yang sedang berdiri di halaman kantor.
“ Saya duluan. " akhirnya sepatah kata terucap juga dari bibir Difia. Difia dan Jeremy pun berjalan menuju mobil sport mewah Jeremy, yaitu sebuah Lamborghini Veneno dan Jeremy pun membuka pintu mobilnya untuk Difia. Daniel yang menyaksikan perlakuan Jeremy ke Difia entah kenapa ada yang aneh pada dirinya dan setelah itu Daniel pun memutuskan untuk pulang ke rumah nya mengendarai motor sport nya .
“ Walau akhirnya yang berhasil keluar dari mulutmu adalah kata perpisahan tapi entah kenapa rasanya ada yang beda, dan aku yakin besok-besok kita akan ketemu lagi dan bisa bicara banyak,” ucap Daniel saat terus berjalan kearah motornya.
"Itu tadi siapa Dif ?" Jeremy memecah keheningan di dalam mobilnya dengan bertanya ke Difia.
"Ohhh itu tadi salah satu karyawan," ucapnya tetap mengarahkan pandangannya ke depan tanpa melihat Jeremy.
" Kenapa bisa bareng begitu?"
"Ahh, maksudnya?" Difia pun menoleh ke Jeremy.
"Ya maksudnya kenapa kamu bisa barengan begitu sama karyawan kamu pulang, bukannya karyawan kamu pulang pukul 17.00 ya?””
"Ohhh tadi tidak sengaja ketemu di lobby, sudah ahh tidak usah tanya - tanya lagi," ucap Difia sedikit malas karena Jeremy banyak tanya seakan dia pacar yang kepergok selingkuh.
Sekitar 15 menit menempuh perjalanan kini tibalah mereka di sebuah restoran,mereka pun berjalan beriringan setelah memilih tempat duduk akhirnya mereka pun memesan menu makanan dan di akhiri berbincang santai tentang pekerjaan mereka.
" Dif sampai kapan sih kamu mau tutup hati kamu terus untuk pria lain, kamu tuh sudah usia 26 tahun apa kamu tidak tertarik apa pacaran seperti orang lain di usia yang sama dengan kamu?" setelah menyelesaikan makan malamnya Jeremy mulai membuka kembali percakapan untuk Difia.
"Stop Jer, tidak usah bahas itu lagi . kamu sudah taukan alasan saya apa," ucap Difia jengah seakan lelah kalau di tanya soal itu.
" Dif, buka dong mata kamu kejadian itu sudah 2 tahun lebih , harus nya itu sudah menjadikan kamu kuat lagi."
" Saya pulang duluan Jer." bukannya menanggapi ucapan Jeremy , Difia memilih untuk pulang dan Jeremy menahan lengan Difia yang beranjak dari kursinya.
" Sorry Dif kalau pertanyaan aku tadi melukai kamu, sebagai teman aku cuman mau lihat kamu bahagia . Sudah saya antar pulang." Difia tetap diam hingga mobil Jeremy sampai di rumah Difia.
"Dif kapan-kapan kita lunch atau dinner bareng lagi ya, ya udah istirahat sana. Good night Difia." Difia hanya tersenyum dan kemudian memasuki rumahnya.