Rosie’s Mr. B (2)

2727 Words
Dalam kurun waktu 2 tahun aku hidup di Inggris, bisa dihitung dengan tangan kiri berapa kali aku bersolek. Pertama, saat hari pertama masuk kuliah pascasarjana (aku kira orang Inggris punya standar tinggi dan sebagainya—bodoh, kau kira ini Paris?) Kedua, ketiga keempat, saat kencan pertamaku dengan berbagai pria, dan kelima—sekarang. Aku melukis sayap di sekitar mataku, memoles bibir dengan warna glossy dark red. Memakai parfumku yang cairannya ungu dan wanginya paling berahi. Kugulung ujung rambut hitamku yang kini sudah melampaui bahu, lalu menukar handuk merah dengan two-piece lingerie warna merah hati, yang selain dari tali bra-nya, benar-benar transparan dibalik rendanya yang super tipis. Dia yang membelinya, asal kau tahu saja. Aku jarang pakai yang ini, karena... Um, kalau aku bisa memberimu foto, kau pasti tahu kenapa. Yang kubayangkan, setidaknya dia akan melotot girang melihatku. Atau setidaknya tertawa sampai habis napas. Aku tidak merasa diriku cantik, tapi di cermin seluruh elemen berteriak "YA!" kepadaku. Namun yang kudapat justru nihil respon. Bahkan tidak ada ekspresi. Jadi kuambil inisiatif. Aku mulai merangkak padanya. Di hadapannya aku berlutut. Dengan senyum lebar yang bodoh, aku pegang lututnya. Mengelus-eluskan kepalaku di pangkuannya dengan manja, mirip anak anjing yang minta makan ke tuannya. Lelaki itu membalas dengan elusan lembut, sebelum kemudian dengan sengaja menjambak. Lalu diacak-acaknya rambutku yang sudah kusisir dengan rapi. Kemudian, dia menangkup wajahku. Satu-satunya sumber sinar berasal dari pintu kamar yang terbuka lebar. Di bawah remang lampu, seluruh tubuhnya bergelimang cahaya bagai emas—tubuhnya begitu memesona. Namun justru dengan kedua netra cokelatnya, ia menatapku dengan pandangan jijik; penuh hinaan. Telunjuk dan ibu jarinya mengusap pipiku, lalu dia menciumku dengan mata yang terbuka. Menegaskan ketidaktulusannya. Meskipun begitu, lidahnya mempermainkanku dalam gerakan lambat yang memabukkan. Aku mendesah, spontan membalasnya dengan lumatan; ikut bermain dan membalasnya tidak sabaran—merengkuh kepalanya, memiringkan wajahku hingga liur mulai terasa tetesannya di ujung bibirku. Oh, aku terlalu mendambakan pria ini. "Mutt," cibir lelaki itu sebelum ia meraup segenggam rambutku dan menarik mukaku untuk jatuh. Sekonyong-konyong aku jatuh dan kembali berlutut di depannya, namun langsung Ia mencopot ikat pinggang dan membuka celananya. Aku gelisah, ingin meraba punya-nya tapi pria itu menepisnya. Justru, diturunkannya tali lingerie-ku dan ia meremas-remas dadaku. Puncak-ku dipelintirnya hingga aku mengerang. Mendengar itu, ditariknya tanganku dengan kasar dan menekan telapaknya ke s**********n. Panas dan keras. Tersenyum jenaka, aku meremasnya satu kali, dan seluruh hasrat lelaki itu bangkit. "Suck," perintahnya satu kali, dan aku langsung menurut. Kuturunkan risetling celananya dalam gerakan yang begitu lambat, lalu giliran melorotkan celana dalam birunya hingga ke lutut. Lalu pelan-pelan, kugenggam pangkal dari miliknya di telapakku yang kecil, lalu mengecupnya satu kali. Aku menggigit bibir melihat jejak lipstik yang tertinggal padanya , lalu kubuka mulutku dan mulai mengemut. Pandanganku berbinar. Aku mencumbu barangnya dengan penuh cinta, seperti biasa. Menciuminya dari pangkal, mulai menjilat, memejamkan mata seraya menikmati rasa sesak yang muncul saat kupenuhi mulutku dengan miliknya, lalu mulai menggerakan kepalaku. Turun naik, sembari terus menatap matanya dalam-dalam. Menghisap dan bergerak dalam irama yang dia sukai. Ia mengelus kepalaku dan menepuknya. Tanda aku melakukan hal yang tepat. Kutambah laju ritmeku, dan badannya mulai menegang. Kutatap matanya dengan pandangan mabuk cinta, kujilat dirinya sekali lagi, lalu kuusapkan kedua buah dadaku pada miliknya. Dia mengerang. Aku lanjut menjejali mulutku dengannya lagi. Akan tetapi, matanya yang berkedut, wajahnya yang berkeringat terlihat lucu dari bawah, serta mulutnya yang menganga, sibuk merintih keenakan tanpa sadar membuatku tergelak. "You look funny from down here," candaku. Lalu balasannya adalah jambakan kencang. Di mengatupkan gigi. "And you look like a slut," desisnya. Dengan kesal, diraupnya rambutku sebanyak satu genggaman penuh, dan putuskan untuk ambil kendali. Mulai dipacunya pergerakan mulutku dengan cepat seperti alat pemuas dan aku hanya bisa menerima. Kucengkram pahanya, refleks menggoreskan kuku dan mulai memukul minta berhenti. Namun ia tidak menggubrisnya. Justru, sebagai sentuhan terakhir dari hukumannya yang singkat, ia menekankan mulutku pada barangnya dengan begitu kuat, hingga ujungnya menyentuh kerongkonganku dan aku tersedak-sedak. "Bitch." Ia bergumam. "I''-I'm sorry-" "Well you better learn something." Aku memejamkan mata dan kembali kubuat diriku mabuk dan punya obsesi dengan seks yang sinting. Sesaat kemudian, lidahku sudah terjulur keluar dan sibuk menjilat. Kuusapkan dirinya pada mulut dan pipi, tergelak sebelum kemudian membuat mulutku kembali sesak dan memuaskannya secepat yang kubisa. Putingku kembali jadi geli. Dengan tangan kanan menuntun kepalaku sembari menangkup dadaku penuh di tangan kiri. Ritmenya semakin cepat, dan cepat, diantara mulutku yang semakin basah, matanya yang mendelik, hisapan yang kuat, akhirnya ia mendesah. Helaian rambutku jatuh serempak menutupi bahu, jatuh dari cengkramannya, untuk kemudian benihnya mulai memenuhi mulutku dengan rasa asin. "Swallow," perintahnya singkat. Aku menyeka mataku yang berair; dengan anggukan penurut, kujulurkan lidah. Menampung semua c*m hingga ejakulasinya berhenti dan langsung menelan semua yang terasa lengket. Lalu membersihkan sisa-sisa yang ada dengan lidah dan rasa gembira hingga aku hanyut dan mengusapkan hasil pelepasannya di pipiku dengan senyum. Saat itulah tangannya datang mencekik. "Kubilang telan," dia menatap marah, menahan sumber pernapasanku dengan kuat, "bukan digosok." "Ma-maaf! Maaf!" raungku sambil menahan lengannya dengan pandangan mata yang benar-benar terkejut. Mata pria itu berkedut, dan ia melepaskan leherku. Setelah diizinkan bernapas, kusapu residu yang tersisa di pipi dan meraup semuanya ke mulut dengan menyedihkan. Tapi dia tetap tidak kasihan. Beruangku justru jadi sinis sembari menunduk kepadaku. Wajah tampannya mendekat, napas hangatnya terdengar masih memburu, dan bibir kami hampir bertemu, tetapi yang menempel di bibirku justru ibu jarinya—yang kemudian mengusap lipstik-ku; mengoleskan warna merah glossy-nya ke pipiku hingga menyerupai senyuman badut. Kujulurkan lidah dan tertawa, sembari ia menamparku lagi dan mendorong paksa jempol-nya yang masih ternoda warna merah ke mulutku. "You seems cockdrunk," katanya. "Slut." Dan hinaan itu membuat perutku diisi kupu-kupu. Mendadak, ia bangkit dari dipan, membuatku jatuh di telapak. Berjalan. "Diam di situ." Ia menunjukku sebelum masuk kamar mandi. "Aku mandi sebentar." "Baik." Maka, aku berlutut di tengah kamar Bear dengan riasan dan pakaian yang hancur. Akan tetapi, pembangkangan ada di nadiku. Sesaat setelah pintu kayu itu berbunyi, aku segera berlari ke belakang kitchen island, menuju wastafel dapur. Kutangkap botol air kumur herbal di samping wadah spons ScrubDaddy, lalu meludahkan semua cairan biru ke saluran pembuangan setelah berkumur satu menit penuh. Sekembalinya aku ke kamar, aku duduk di atas dipan lagi dan menghadapi cermin. Bibir berlumur lipstik merah tua berantakan, maskara luntur karena airmata, dan tubuh yang super terangsang. Oh Tuhan, aku tidak tahan lagi. Kuacak-acak rambutku agar lebih berantakan lagi. Lalu kujulurkan lidahku, dan sempurna. Kulebarkan pahaku, dan dengan jariku, aku mulai bermain. Bibir bawahku yang terlihat bengkak jadi pelengkapnya. Aku begitu basah, hingga hanya butuh beberapa saat kemudian untuk hasratku sampai di ujung tombak kepuasan. Namun itu waktu yang sama untuknya kembali dari kamar mandi, berbalut handuk putih di pinggang, dan sekonyong-konyong naik pitam melihatku menyentuh diriku sendiri. Sembari desahan yang tak kunjung putus keluar dari mulutku, aku mendongak. Wajahnya tepat di depanku. "...apa yang kubilang tadi?" Suaranya dingin. Mukanya juga marah. Makin menggoda saja. "Diam di situ," jawabku tak acuh. Mulutku terus menganga. "Ta-ahpi, kamu kelamaa-" Ia mencabut jariku dari bawah. "Maaf." Aku berucap tak ikhlas. "Tapi aku perlu puas ju-gaaah." Kututup mulutku kembali. Aku menunduk dan jari di tangan kanannya sudah setengah terbenam di dalamku. Dengan tangan yang satu, jarinya kembali merayap di bibirku, dan kini memaksa mulutku membuka dengan lebar. Namun aku tergelak dan mulai menjilatinya. Ia menggerakan jarinya. Masuk dan keluar, namun dalam kecepatan yang lambat, terlalu lambat hingga menyiksa. Ia menunduk, menghindari pandanganku yang liar, dengan jarinya yang memaksa masuk lebih dalam lagi. "Lebih cepat." Ia cuek. "Ck, ayolah, lebih cepat–" ditepisnya tanganku yang berusaha meraih jarinya, "–kumohon." Kepuasanku yang tadi hampir meledak kini berangsur-angsur hilang. Putus asa, kutanggalkan kedua tali lingerie-ku, menggapai tangannya yang bebas, dan meremas buah dadaku sendiri dengan telapaknya. Kulepaskan beberapa desahan yang bunyinya tidak masuk akal. "Puh-please-" kuremas dadaku, dan kuambil jempolnya dan membelai putingku dengannya. "Tolong aku." "Tidak bisa." Dengan murah hati ia mempercepat gerakan jarinya, tidak cukup bagiku, tapi cukup untuk membuat napasku habis. Dia sedang mempermainkanku. "You're helpless." Dan akhirnya pria itu tersenyum. "s*x addict." "Tidak-" "Ya." Tangannya bergerak, dan dalam satu detik, handuk putih yang melilit pinggangnya sudah pergi. Giliran tangannya yang melilit di pinggangku. Bara di perutku yang tadi hampir meledak kini musnah, digantikan oleh hangat. Hangat yang jauh lebih membakar rasanya. Yang kuperlukan hanya satu percik. Sentuhan terakhir, ibu jarinya kembali membelai bibir bawahku. Wajah pria yang kucintai sepenuh hati itu pun mendekat, mempertemukan bibir kami lagi untuk sejenak. Gigi yang bergemeletukan, lidah yang kembali bersua. Kenyataan bahwa saliva kami bercampur adalah bak ekstasi. Ia tahu kalau aku tahu apa yang harus kulakukan. Kuturunkan g-stringku secara sempurna, dan membuka pahaku, merentangkannya lebar-lebar di depan matanya. Mengundangnya masuk. "Yours," ujarku dengan suara berat. Mabuk akan cinta dan seks. Bear tersenyum malas. Ia kembali merobek satu bungkus kondom di tangannya, lalu mengenakannya dengan malas juga. Gadis yang sukarela mengangkang di hadapannya, toh, adalah perkara sepele. Tak sabaran, kumainkan labiaku. Namun, belum sempat aku bertindak, ia pun mendorong. Ia begitu menerima undanganku dengan senang hati; merangsek masuk ke punyaku yang terangsang secara berlebihan, dan rasanya benar-benar membakar, aku memekik sembari merengkuh punggungnya dan menancapkan kukuku. Dan tentu saja ia tidak menerimanya. Cekikan menyasar ke leherku, dan dengan gampangnya ia membanting badanku ke atas ranjang. Pompaannya semakin cepat, dan cepat, dan cepat. Thump, thump, thump. Di mataku hanya ada dia. Begitu juga dengan hatiku. Tanpa sadar mulutku menganga. "Sa-sayang—" [plak] "Kata terlarang," hardiknya. Telapaknya kemudian membelai pipi kiriku. Merah dan menyengat, dua tamparan darinya sudah bersarang di sana. Dia mengangkat kakiku dan pinggulnya memacu begitu cepat hingga dipan kami berderit. Peluh membasahi dahiku. "You love the way I f**k your pussy." Dia berujar sembari meremas dadaku, memilin puncaknya. "Don't you, b***h?"Telinganya pasti penuh dengan eranganku. "Your moans tells me everything I need to know." "Itu hanya pose," kataku, sepenuhnya dalam denial, sembari memeluk Bear dengan erat dan melilitkan kakiku di pinggangnya. "Not an invitation." "Then why did you spread your p***y for me?" tampiknya seraya menggigiti dadaku lagi. "Because—because—" I love you, gumamku kepada kesunyian dalam hati, karena kesadaranku timbul hilang, mabuk akibat gairah yang begitu membara. "You want me to." Lantas, ia tertawa kejam. "And like a good w***e, you did." Gumamanku berubah menjadi desahan, yang kemudian ia bekap karena saking nyaringnya. Kujulurkan lidah sembari meremas dadaku yang penuh bekas gigitan. Ia mengusapkan ibu jarinya ke mulutku, dan spontan, aku menjilatnya. Mengisapnya. Mulutnya turun, menciumi telapak tanganku dan kembali menikmati gunung kembar favoritnya. "You just want to be my f**k toy, don't you?" ujarnya, mendongak sembari menggigiti putingku. Aku mengerang. "I am! I am your fucktoy." Kuambil tangan kanannya, menciuminya penuh cinta, dan meremas dadaku bersamanya. Kembali mendesah dengan nada erotis. "Now you're showing your true self." Lantas, dengan satu tangan, ia menarik kedua tanganku dan menahannya di atas kepalaku. "Show me how much you love my c**k, you bitch." Seraya tubuhnya memenuhi seluruh pandanganku, miliknya terus memacu dalam kecepatan yang brutal. Bagai menuntut—tidak, menghukum sesuatu. Menghukumku. Karena sudah mempersembahkan tubuhku malam ini untuknya. Karena sudah mau merendahkan diriku sebegitunya. Karena sudah berani jatuh cinta kepadanya. Kugapai kepala Bear, dan menciuminya lagi demi melepas sedikit dahaga di intiku yang terbakar. Aku turun ke lehernya, membisikkan desahan demi desahan seraya ia memompa lebih dalam, lebih cepat. "Please..." aku memohon. "f**k your c*m into me." Dan lagi-lagi, ia menyeringai. "You wanna be my c*m dump that badly?" Seketika, aku ditarik. "Fine." Bear turun dari ranjang, dan menarik kakiku hingga ke ujung. Mencopot kondomnya secara perlahan. Kemudian, melempar tungkaiku ke atas dadanya, dan ia menampar bokongku keras-keras. Aku memekik sementara ia tak acuh; melanjutkan pacuannya. "You make such a great sound," ujarnya lagi, menampar bokongku berkali-kali hingga berwarna merah padam."Are you close?" " I am." Kupejamkan mata, berusaha menahan gelombang demi gelombang yang mendesak di bawah sana.. "Should I f**k you till you cannot walk?" Dengan angkuh, ia pun menampar pipiku. Oh, tangannya begitu halus dan wangi. "Please do, sir," ujarku lagi. Pasrah. Wajah tampannya turun, dengan seringai bengis, menatap balik pada wajahku yang sudah tidak karuan. Ia mengecupku sekali di leher, yang penuh bekas ciuman, lantas mencumbuku kembali di bibir, yang penuh coreng warna merah persis badut. Aku megap-megap. Saliva kami bercampur untuk yang kesekian kalinya. Kutarik-tarik rambutku sendiri, berusaha sekuatnya untuk menahan bendungan yang akan jebol. Namun, Bear menggapai tanganku, lantas menggenggamnya. "Lepaskan," dan itu adalah perintah. Dengan pacuan yang semakin menggila, ia mencium pipiku kuat-kuat dan kutarik satu napas yang dalam dan ia mengerang dan aku mendesah dan aku—kami, melepas. Bersama-sama. Tubuhku terangkat dari ranjang, melengkung. Pahaku bergetar. Kukuku menorehkan jejak di punggungnya untuk yang kesekian kalinya. Pelepasannya yang hangat mengucur di dalamku. Jemariku merambati punggung telanjangnya, hingga merengkuhnya penuh. Hal yang sama juga dia lakukan padaku. Dalam hembusan dan tarikan napas yang tajam, di tengah dingin malam dan lantunan nada-nada tidak senonoh, kami menyatu sepenuhnya, jiwa dan raga. Di akhir malam itu, aku terpejam dan pelan-pelan menarik napas. Muka Bear terbenam di gundukan dadaku, dan segal gerakan yang ia lakukan secara berturut-turut pun berhenti. Total. Akhirnya. "You're okay?" Aku lepas dari lamunanku dan mendapati ia menganga di antara asetku, menatapku dan menunggu jawaban. "Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Bangun, coba." Segera ia bangkit dari tindihannya, dan rasa perih serta lengket di dalam langsung menguar. Pria itu merentangkan tangan dan aku bangkit, kembali duduk di hadapannya. Dan kakiku masih melilit pinggangnya. "Bagaimana?" "Nyeri," lirihku, sengat yang begitu kuat langsung menjalar. Tanda dia–tidak, kami berdua kelewatan malam ini. Matanya masih tanpa emosi, lalu dia berkedip dua kali. "Safe word?" "Penguin." Dan aku runtuh di dekapannya. Terkesiap, aku membiarkan emosi membasuh wajahku. Terisak dan menghela napas berat, kembali jadi manusia di dalam pelukannya. Airmataku mengalir seperti hujan. Dan seperti yang dia selalu lakukan, ibu jarinya sigap mengelapnya dari kedua pipiku dan mengecup dahiku. "It's alright. It's alright." Dia berbisik pelan. Raut penuh cintanya sudah kembali. "Maafkan aku." Kurengkuh dia dengan seluruh kaki dan tanganku. "Kau cantik sekali. Aku suka riasannya." Yeah, riasan yang membuatku mirip w*************a. Tapi memang membuatku tampak berbeda, untuk sekali-kali. Kugumamkan terima kasih, sebelum airmataku jatuh lagi dan ia kembali menghapusnya. "Semua kata-kataku–" "–bohong. Aku tahu, aku tahu, kok." Berusaha mengatur napas dan mengelap peluh, aku beranjak dari dadanya. "Kamu selalu mengulangnya." "Just want to make sure." Pandangannya turun dari mata, ke leher, dan ke lingerie yang sudah melorot ke pinggang. Kukenakan kembali talinya, namun dadaku masih mencuat. Ia mencari mataku lagi, dan aku langsung tahu kalau ia akan bertanya mengapa aku memberinya effort sampai sejauh ini. "Aku ingin kamu senang." Dia terdiam, dan giliranku yang menangkup pipinya. Kutatap matanya, lamat-lamat. "Aku tidak ingin kamu sedih lagi." Air kembali ke pelupuk netraku. Mata cokelatnya yang dulu gemilang, bercahaya, sekarang hanya memancarkan awan duka yang kelabu. Korneanya bagai dipenuhi kaca selama bulan-bulan akhir ini. Aku ingin menjual hatiku. Aku mau apa saja, melakukan apa saja, agar bisa mengangkat duka yang menoreh jiwa penuh kasihnya begitu dalam. Jiwa paling indah yang pernah kucintai. "Aku bahagia." Giliran ia yang memelukku erat-erat. Tidak bisa kulihat wajahnya, namun di nada suaranya dapat kudengar senyum. "Aku bahagia, hari ini karenamu, My Rosie." Saling berbagi rengkuhan hangat, kami kembali menyatu. Kali ini, hati kami yang saling bersentuhan. ... Epilog "Miau!" Kukecup pipi Lulu sebelum memeluknya kembali. Aku kini dibalut jubah mandi, dengan sup jagung dan coklat yang tersaji di samping tempat tidur. Sementara itu, Bear mengoleskan minyak zaitun di bekas tamparannya. "Tus mejillas están tan infladas..." seoles minyak zaitun menyentuh pipi kananku, bersamaan dengan sebuah senyum jenaka di mulutnya, "...parecen una calabaza." Aku menaikkan alis. Dan justru tawanya pecah. "Pipimu menggembung. Mirip labu—" "Aku bukan labu, ih," sela diriku dengan kasar dan muka cemberut. "Pero eres mi calabacita favorita." "Aku nggak paham!" jawabku dalam bahasa Indonesia. "Miau!" erang Lulu, seolah-olah dia protes bersamaku. "Kamu labu favoritmu." "Kupukul kau." "Hm, jadi maumu apa, dong?" Dia protes sebelum kugencet pipinya dengan jempol dan telunjuk, membuat bibirnya jadi kerucut secara paksa. "Whanitha rhese." "Sayang!" jawabku, "seperti biasa." "Iya, sayang." Barulah kulepaskan gencetannya. Dibelainya bekas tamparannya yang masih merah di pipi. Dia menciumku dia sekali lagi, namun singkat karena aku langsung menjauh, masih mengelus-elus, tepat di bagian yang paling perih. "Sayang." Dia bergumam singkat. Lalu kini ia memeriksa leherku. "Masih ada bekas." "Ya, aku suka, kok-" "Rosie," potongnya segera. "Tidak sakit," kilahku. Dia mendengus. "Olesi dengan minyak." "Iyaa, sayang. Sini," ujarku lagi sembari membelai Lulu yang mulai terlelap. "Lain kali, lebih kasar lagi, ya?" "Rosie!" To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD